Chap. 8

1782 Kata
Triring. Triring. Bunyi alarm pagi membangunkan sosok lelaki yang masih berada di atas kasurnya. Membangunkan manusia yang dulunya sangat rajin namun akhir-akhir ini menjadi pemalas. Lelaki dengan perawakan kurang lebih 185 cm itu terduduk dan segera mematikan alarm yang masih berbunyi di dekat telinganya. Mengusap sebentar wajah bantalnya, lelaki itu lalu melihat ke arah jam dinding. Sudah menunjukkan pukul 7 lewat 45 menit. Mendesah kasar, lelaki itu lalu melihat jendela yang sudah terbuka setengah. Yang menandakan jika Mamanya sudah masuk ke kamar dan membuka gorden di jendela. Marcel Samana Adytama. Nama yang tertera pada sebuah piala besar yang lelaki itu lewati guna masuk ke dalam kamar mandi. Marcel. Lelaki berumur 25 tahun yang sudah lulus kuliah dengan nilai yang baik dan saat ini bekerja di salah satu perusahaan. Lelaki yang berencana akan menemui gadis yang ia anggap sebagai adiknya sendiri. Tidak memiliki Kakak maupun Adik, membuat lelaki dengan perawakan besar itu sangat menginginkan adik. Namun sayangnya sang mama tidak bisa mengabulkan permintaannya karena factor umur. Menyalakan shower, Marcel memejamkan matanya ketika bulir-bulir air hangat menerpa wajah dan tubuhnya. Rasanya sangat menyegarkan guna membuat rileks kembali isi fikirannya. Lelaki yang memiliki nama keluarga Adyatama itu mengambil satu botol sampo untuk ia tuangkan ke tangan. Namun ketika akan meraihnya, Marcel lebih dulu mencium harumnya. Bibirnya mengukir senyum saat indra penciumannya begitu tajam. Wangi rambut yang biasanya Marcel temukan pada seorang gadis imut. Gadis yang selalu meminta banyak permen yupi padanya karena alasan yang sepele. Gadis yang akhir-akhir ini membuat Marcel dibuat pusing tujuh keliling. Gadis yang tak lain dan tak bukan adalah orang yang Marcel anggap sebagai adiknya. Ciama Agnida Risolv. Gadis keturunan Arab-Indonesia itu adalah adiknya yang selalu menuruti apa kata Marcel. Gadis polos yang tidak mungkin menyukai Marcel sebagai hal lain—kecuali sebagai Kakak laki-lakinya. Marcel cukup tahu diri mengingat Ciama memang tidak suka dengan para lelaki yang umur jauh lebih tua darinya. Dan Marcel dengan gadis itu terpaut 4 tahun—yang mana menurut Marcel sangat jauh­. “Abang! Udah bangun, Sayang?” Suara dari arah luar kembali menyadarkan Marcel. Lelaki itu segera menyimpan kembali botol sampo sesaat setelah menuangkannya sedikit ke atas tangan. “Udah, Mam! Aku lagi mandi!” Jawab Marcel setengah berteriak. “Kalau gitu Mama berangkat kerja, ya, Sayang! Sarapan kamu udah Mama buat. Kamu makan aja yang ada di meja, ya!” “Iya, Mam!” Raida Jaturwana. Perempuan berumur 56 tahun itu segera keluar dari kamar anaknya setelah mendapat jawaban. Menutup pintu, Raida sedikit mengernyitkan dahi melihat apa yang ada di atas kasur anaknya. Satu bungkus besar permen yupi dan juga satu buah bunga anggrek berwarna ungu muda. Raida sedang tidak salah lihat, kan? Setahunya Orien—kekasih yang akan menjadi tunangan anaknya itu—tidak menyukai bunga anggrek apalagi permen yupi. Dan lagi, bukannya Orien mengatakan bahwa Marcel tidak akan datang ke rumah gadis itu untuk bertemu dengan Papanya? Tapi kenapa Marcel mandi sepagi ini? “Ma! Udah selesai belum? Ayo berangkat! Nanti keburu macet di jalan!” Teriak sang suami dari lantai bawah. Raida segera menghapus pikiran negatifnya dan segera turun ke bawah. “Marcel mau ke mana?” Gumamnya penasaran.       ***         Selesai dengan kegiatan mandi, Marcel bergegas turun ke bawah. Menyantap sarapan buatan sang mama yang tidak pernah ada duanya di dunia. Rsaanya selalu enak dan tidak pernah bisa Marcel habiskan semuanya karena terlalu banyak pilihan. Seperti saat ini. Di meja sudah sangat banyak makanan. Ada ayam kecap, tumis udang dengan brokoli, lalu sandwich yang lengkap dengan telur ceplok di dalamya. Lalu ada salad sayur—yang Marcel yakini itu adalah milik sang mama. Dan yang terakhir ada s**u putih serta beberapa buah-buahan segar dari kebun. Drrt. Drrt. Drrt. Marcel melirik sebentar ke arah ponselnya yang bergetar. Menandakan adanya panggilan masuk. Tidak ada nama di sana, tapi Marcel cukup hapal dengan nomornya. Nomor yang akhir-akhir ini meneleponnya karena selalu ada urusan mendesak. “Ya, Sayang?” Sapa Marcel begitu panggilan terhubung. “Marcel, kamu beneran gak jadi ke sini, kan?” Marcel mengangguk seraya mnegernyit dalam. “Iya. Aku udah bilang sama kamu kemarin lewat chat, kan?” “Iya. Aku juga tahu itu. Tapi tadi Tante Raida bilang kamu kayak yang mau pergi. Aku takut kamu beneran ke sini. Soalnya Papa udah berangkat ke kantor.” Marcel terdiam sesaat. Ternyata Mamanya melihat bunga di atas kasurnya, ya? “Nggak jadi, Yen. Aku mau antar Ciama jemput Mamanya. Habis itu aku ada kumpul sama temen-temen. Gak papa, kan? Atau aku harus ke sana sekarang?” Marcel mendengar dengan jelas tawa kecil dari gadis yang ia sukai. Seseorang yang sudah bersama Marcel kurang lebih 2 tahun terakhir. Orien Herlambang. Gadis yang kini tertawa itu adalah kekasih sekaligus calon tunangan Marcel untuk beberapa minggu ke depan. “Gak usah! Kamu antar aja Ciama. Oh iya, kalau malam ke sininya gimana? Mama aku bilang Papa gak lembur hari ini. Kamu bisa?” Marcel menghela napas lirih. “Gak papa. Aku berangkat ke sana nanti malam. Perlu sama Papa atau Mama aku?” Goda Marcel. “IH! Apaan sih! Kan lamarannya nanti minggu depan!” “Siapa tahu kamu mau cepet-cepet di lamar, kan?” Goda Marcel lagi. Yang mana langsung terkekeh karena Orien langusng mneyebut nama panjangnya seraya menggerutu. “Tau, ah! Aku tutup dulu teleponnya. Jangan lupa sarapan, ya.” “Iya, Say—“ Tut. Tut. Tut. Marcel terkekeh pelan seraya menggelengkan kepalanya melihat ponselnya yang sudah mati. Lelaki yang sudah rapi dan wangi itu segera menyelesaikan sarapannya. Setelah melihat gelas s**u dan juga piringnya bersih, Marcel segera mengambil  bunga anggrek dan juga satu box besar yang isinya tak lain dan tak bukan adalah permen yupi. Melihat ke arah jam sekali lagi, Marcel lalu bergegas pergi menuju rumah adiknya. Tak butuh waktu lama bagi Marcel sampai di kediaman gadis itu. karena jalan yang cukup lenggang dan juga kecepatan mobil yang memadai, membuat bisa secepat itu sampai dan datang ke rumah Ciama. Ia membunyikan satu kali klakson mobilnya, lalu gerbang merah tua yang menjulang tinggi itu terbuka dengan sendirinya. Marcel tersenyum pada satpam rumah Ciama yang memberi salam lewat pos. Matanya meneliti rumah Ciama yang sepi. Mungkin karena Reza masih ada di rumah saudara Ciama, membuat rumah tingkat tiga itu seperti rumah kosong tak berpenghuni namun terawat. “Lho, iki Mas Marcel sudah datang? Mbok panggilkan Non Ciama dulu ya, Mas.” “Iya, Mbok. Makasih,” ujar Marcel begitu keluar dari mobil. Lelaki itu menata bajunya sebentar sebelum akhirnya berjalan memasuki rumah Ciama. Ditangannya sudah ada bunga dan juga satu box kesukaan Ciama. Box yang berisi permen manis seperti Ci— Tidak! Kenapa pikirannya malah ke arah sana? “Mas, Non Ciamanya baru selesai mandi. Mas mau tunggu saja?” Marcel mendongkak. Baru akan mendudukkan bokongnya di kursi, lelaki itu mendnegar suara dari depannya. Buru-buru Marcel kembali berdiri. Memberikan bunga pada si Mbok dan menaruh boxnya pada meja, Marcel bergegas ke atas. Lebih tepatnya ke kamar Ciama. Tanpa mengetuk, Marcel membuka pintu dengan papan berwarna hitam yag bertuliskan nama Ciama yang diukir dengan batu-batu berbagai warna. Mendongkak perlahan, Marcel langsung terdiam kaku melihat siapa yang ada di depannya saat ini. Lelaki dewasa itu membulatkan matanya dengan degup jantung yang menggila karena melihat Ciama yang hanya memakai tanktop berwarna hitam. Sial! Kenapa dirinya bereaksi berlebihan? Sebelumnya juga Ciama sering memakai pakaian renang jika berada di pantai. Kenapa sekarang rasanya tidak nyaman? Jantungnya terlalu cepat memompa dan berdetak. Sampai-sampai Marcel harus menelan ludahnya kasar. Tangannya yang tidak memegang knop pintu mengepal kuat. Berusaha menormalkan dirinya yang sudah tidak waras sama sekali. Namun sayangnya, pemandangan di depannya ini terlalu berharga untuk Marcel lewatkan. “EH?!” Pekik Ciama setelah beberapa detik berlalu seraya mengambil handuk di sofa. “Kenapa gak pakai baju?” Sialan! Otaknya ini memang tidak bisa diajak kompromi, ya? Bagaimana bisa ia berkata sefrontal itu?! “U-udah, kok. Ta-tapi cuman pakai tanktop aja. Belum pakai luaran.” Marcel menelan salivanya sekali lagi. Berusaha tetap berada di raut yang sama, perlahan Marcel menarik napas panjang. Tidak bisa. Ia tidak bisa seperti ini. Ciama hanya adiknya! Tidak lebih. “Oh.. kirain gak pakai baju sama sekali,” ucap Marcel tenang. Atau lebih tepatnya sedang menenangkan dirinya sendiri. “Kalau gitu Ciama pakai baju dulu,” ujar Ciama seraya membalikkan badan dan membuka handuk di tubuhnya. “Jangan dulu. Rambut kamu masih basah. Gak kamu keringin dulu? Hair dryer kamu di mana? Biar Kakak aja yang keringin. kamu make up.” “Eh?” Lagi dan lagi otaknya tidak sejalan dengan apa yang Marcel inginkan. Kenapa harus mengatakan hal itu? Apa mata dan mulutnya tidak bisa bersinkronasi dengan benar? Ciama sedang tidak pakai baju Marcel! Sadarlah! “Udah cepetan. Kita harus cepet. Kasian Mama kamu kalau harus nunggu di bandara makin lama, kan?” Ciama tampak tidak paham dnegan apa yang dirinya katakan. Namun gadis itu tidak menolak saat ia menarik tangan gadis itu dan membawanya agar duduk di kursi rias. “Ciama, are you okay?” Bodoh! Bukan Ciama yang seharusnya ia tanya speerti itu! Tapi dirinya sendiri yang sudah bertindak gila. Ciama sudah dewasa. Gadis itu juga pasti sudah paham dengan skinship yang mereka lakukan saat ini. Tapi kenapa Marcel malah senang? Kenapa hatinya malah terasa berbunga-bunga? Ada apa dengannya?! Mengangguk kecil, Ciama lemparkan senyum lewat kaca. Marcel ikut tersenyum tipis. Lelaki itu lalu mulai mengambil rambut Ciama yang panjang. Terasa lembut juga halus, dan yang paling penting adalah bagaimana harum rambut itu. Sama persis seperti harum rambut Marcel sekarang. Marcel tersenyum tanpa sadar. Merasa bahagia karena adiknya juga memakai shampoo yang sama dengannya. “Kamu gak berniat memotongnya lagi, kan?” Tanya Marcel dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambut Ciama. “Kenapa? Kayanya mau.” “Jangan. Kamu lebih cantik kalau panjang,” desis Marcel kesal. Tidak boleh! Ciama tidak boleh memiliki rambut pendek. Adiknya ini akan sangat cantik jika berambut panjang. “Siapa cewek yang Kakak posting dua hari yang lalu?” Marcel terdiam. Membeku di tempatnya dengan tangan yang berhenti dari aktivitas yang semula ia lakukan. Matanya menatap mata Ciama yang kini juga tengah menatapnya di kaca. Ada makna tersirat dari pancaran mata Ciama yang bisa Marcel lihat dengan sangat jelas. Pancaran kesedihan dan tidak ingin orang lain tahu. Tapi kenapa gadis itu sedih? “Kenapa?” Tanya Marcel balik. “Di postingan dua hari lalu, dia siapa? Ciama gak pernah lihat Kakak pacaran sama siapapun.” Marcel diam sesaat. Tidak banyak berkomentar dan masih menatap mata Ciama. Ia menelan salivanya kasar saat melihat Ciama yang semakin menatapnya dingin lewat kaca. “Dia Orien—“ “Aku gak tanya nama. Aku tanya dia siapa,” potong Ciama dengan nada dinginnya. “Dia—“ Ceklek. “Cia—ma?”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN