Brak
“Adel! Jangan banting pintu!”
Adel pura-pura tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan Kakak lelakinya. Gadis itu sudah lebih dulu berjalan pergi. Melewati keluarganya yang sedang berkumpul di ruang tengah.
“Dari mana kamu malam-malam gini?”
Adel menghentikan langkahnya saat melihat sosok yang tengah berada di tengah tangga. Bahkan ia tidak mendengar apa yang Papanya baru saja tanyakan. Matanya yang bulat itu menatap tajam ke arah sosok perempuan yang kini mulai mendekati dirinya.
“Del? Kenapa?” Tanya gadis itu dengan nada lembutnya. Adel mengeraskan rahangnya. Tangannya yang baru saja ia gunakan untuk memukul kekasih gadis di depannya itu mengepal kuat.
“Kenapa? Harusnya Kakak tanya sama Papa Kakak. Kenapa mau nikah sama Mama Adel!” Jawab Adel tidak masuk akal. Gadis dengan piyama ungu mudanya itu mengernyit. Tidak paham dengan apa yang Adel maksud.
“Kamu belum tidur, Yen? Udah jangan dipikirin apa kata Adel. Dia kan emang suka gak jelas kalau moodnya lagi jelek.” Gadis itu mengangguk dan ikut duduk di dekat sang papa yang menyuruhnya duduk. “Kenapa? Kok mukanya lesu?”
“Marcel katanya gak bisa ketemu Papa besok. Kalau lusa bisa, Pa?” Tanya Kakak Adel. Lebih tepatnya Kakak tiri. Orien Herlambang. Gadis yang menjadi sosok menyebalkan bagi Adel. Sosok yang sangat membuat hidup siapapun susah. Walau begitu, Adel tidak bisa melakukan sesuatu yang jahat pada Orien. Gadis itu sama dengannya. Korban broken home oleh orang-orang yang hanya berfikir sementara masalah pernikahan.
Adel langsung menghentikan langkahnya. Gadis itu terdiam beberapa saat. Memastikan apa yang ia dengar benar adanya. Tidak mungkin kan lelaki itu menyerah dan sadar begitu mudahnya?
“Gak apa-apa. Nanti Papa lihat jadwal dulu ya, Sayang. Kalau ada waktu senggang, Papa langsung temuin Marcel aja di kantornya.”
Orien mengangguk. Membuat Adel langsung mendengkus kasar. Ia yakin Marcel hanya berdiam diri di rumah karena tidak ingin menampilkan wajahnya yang buruk rupa itu di hadapan orang tuanya, kan? Ia sudah tahu tabiat lelaki semacam Marcel. Dan lagi, tidak mungkin lelaki itu langsung sadar dengan apa yang ia katakan. Dan apa katanya tadi? Marcel dan Orien akan bertunangan? Adel pastikan itu tidak akan terjadi. Demi Ciama dan juga Kakak tirinya. Marcel tidak berhak berada di dekat perempuan baik. Lelaki itu terlalu bodoh!
Ting.
CiaWel
Mamanya Cici, besok gak jadi. Ciama mau berangkat sama yang lain.
Bersyukur tuh, Del!
Gak jadi anter Ciama ke bandara.
Ah, Adel sempat lupa jika besok ia harus mengantarkan Ciama ke bandara karena Ibu gadis itu akan pulang lebih dulu. Tentu saja karena adik Ciama yang menurut Adel pantas disebut adik laknat! Kalau Adel memiliki adik semacam Reza, sudah pasti Adel tebas. Naik darah setiap hari Adel. Bisa-bisa 4 bungkus rokok bisa Adel habiskan dalam satu hari.
Sama siapa?
Kagak usah bohong. Besok gua otw rumah lo
Jam 9, kan?
CiaWel
Ish! Dibilangin gak usah juga!
Sama Kak Marcel. Katanya dia bisa.
Marcel?
Sebentar, maksud Ciama itu Marcel yang baru saja ia habisi tadi, kan?
Marcel yang mengatakan jika ia sedang sibuk dan tidak bisa menemui keluarganya?
Marcel yang mengatakan jika lelaki itu dan Kakak tirinya akan bertunangan?
Sialan!
Ternyata Marcel tidak bisa ia biarkan begitu saja.
***
Paginya, Ciama bergegas berganti pakaian setelah berendam kurang lebih setengah jam di dalam bath up. Berusaha meringankan pikirannya yang kembali berkelana mengenai postingan sosok yang bahkan tidak pernah menganggapnya hadir. Ciama tahu ia bodoh, tapi Ciama tidak bisa berhenti melakukan kebodohan itu. Seakan semuanya sudah mendarah daging dna tidak bisa dilepaskan begitu saja. Sekalipun yang menjadi korban adalah hati dan juga dirinya sendiri. Andai, Mamanya tahu jika ia kembali berlaku bodoh hanya untuk satu sosok lelaki, sudah dipastikan jika Mamanya akan segera mencarikan yang lebih baik dan berusaha menjauhkan Ciama dari orang yang tidak bisa Ciama hilangkan dari hatinya.
Memang, antara sayang dan b**o beda tipis.
“Non Cici, di bawah ada Mas Marcel. Mau Mbok panggil kemari?”
Ciama menegang. Perempuan yang baru selesai memakai tanktopnya itu melihat ke arah pintu yang beberapa kali diketuk dari luar. Ciama menolehkan kepala ke arah jam dinding. Matanya membulat menemukan angka 8 dan 6 berada tepat di jarum jam yang bergerak. Ciama merutuk dirinya yang tidur larut dan berakhir bangun terlalu siang. Ia lalu melihat ke cermin. Dirinya masih sangat b***k untuk Marcel lihat. Sebaiknya jangan—
Ceklek.
“EH?!” Pekik Ciama seraya menutupi dadanya dengan handuk yang masih berada di dekat kursi. Gadis itu menatap horor pada Marcel yang diam mematung di depan pintu.
“Kamu gak pakai baju?” Tanya Marcel tanpa filter.
“U-udah, kok. Ta-tapi cuman pakai tanktop aja. Belum pakai luaran,” jawab Ciama menahan gugup setengah mati. Dan kalian tahu apa yang Marcel sebagai responnya?
“Oh.. Kirain belum pakai baju sama sekali.” Lalu lelaki itu menutup pintu dan duduk dengan santai di sofa kamar. Mengambil remote televisi dan menyalakannya. Seakan apa yang Ciama katakan tadi tidak berpengaruh sedikitpun pada sosok Marcel. Ciama menelan kekecewaan. Memangnya Marcel akan melihatnya segala apa? Perempuan dewasa yang masih malu karena tidak memakai baju? Begitu?
“Kalau gitu Ciama pakai baju dulu,” ujar Ciama seraya membalikkan badan dan membuka handuk di tubuhnya.
“Jangan dulu. Rambut kamu masih basah. Gak kamu keringin dulu? Hair dryer kamu di mana? Biar Kakak aja yang keringin. Kamu make up.”
“Eh?” Beo Ciama tidak mengerti.
“Udah cepetan. Kita harus cepet. Kasian Mama kamu kalau harus nunggu di bandara makin lama, kan?”
Ciama tidak kembali bersuara saat Marcel bangkit dan mendekat padanya. Menarik tangannya dan membawanya agar duduk di kursi rias yang gadis itu miliki. Sejenak Ciama terdiam atas apa yang Marcel lakuakn padanya. Ini memang bukan pertama kalinya mereka melakukan skinship dengan jarak sedekat ini. Dan lagi, ini juga pertama kalinya Marcel melihat ia yag hanya berbalutkan tanktop dengan celana pendek sepaha. Dulu ketika hubungan mereka baik-baik saja juga, Marcel sudah pernah melihatnya hanya memakai baju renang saat berlibur ke salah satu pantai dekat dengan tempat kuliah Rian. Tapi kenapa jantungnya sellau bereaksi sama? Kenapa detakannya selalu tidak normal saat berada sangat dekat dengan Marcel?
“Ciama? Are you okay?” Tanya Marcel dengan nada penuh kekhawatiran. Ciama langsung tersadar dan mengangguk lemah. Lelaki yang berada di belakangnya itu tersenyum dan mengambil rambut panjang Ciama yang menjuntai indah ke bawah.
“Kamu gak berniat memotongnya lagi, kan?” Tanya Marcel dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambut Ciama. Sedangkan Ciama tengah mengeluarkan barang-barang miliknya dari laci satu persatu.
“Kenapa? Kayanya mau.”
“Jangan. Kamu lebih cantik kalau panjang,” jawab Marcel dengan wajah tanpa ekspresinya itu. lagi dan lagi Ciama berhenti sesaat. Kalimat itu sering sekali Ciama dengar dari mulut Marcel. Kalimat yang selalu melarangnya memotong rambut karena jika ia tidak menurutinya, keduanya akan berakhir bertengkar dan saling diam. Dan hal itu adalah hal yang paling Ciama benci sampai kapanpun.
“Siapa cewek yang Kakak posting dua hari yang lalu?”
Ciama bisa merasakan tubuh Marcel menegang. Lelaki itu juga berhenti menyisir rambutnya dan menatap Ciama dalam lewat cermin. Ciama tidak banyak bicara dan menatap Marcel balik. Entah keberanian darimana ia bisa mengeluarkan kalimat pertanyaan seperti itu. Namun rasanya akan sangat aneh dan menyakitkan jika ia tidak bertanya dan hubungan keduanya masih baik-bik saja. Ciama tidak mau tenggelam dalam kebodohan yang sama. Setelah semalam Rian pergi dan Gean yang menggantikanya untuk menjaga dirinya. Ciama tau apa yang harus ia lakukan. Semalaman mendapat ceramah panjang dan menyakitkan dari adik kembar Rian ternyata berefek cukup baik pada dirinya yang mulai memberanikan diri.
“Kenapa?” Tanya Marcel balik. Entah hanya perasaaan Ciama atau bukan. Tapi lelaki itu seperti mengindari pertanyaan yang Ciama lontarkan.
“Di postingan dua hari lalu, dia siapa? Ciama gak pernah lihat Kakak pacaran sama siapapun.”
Marcel diam sesaat. Tidak banyak berkomentar dan masih menatap mata Ciama. Ia menelan salivanya kasar saat melihat Ciama yang semakin menatapnya dingin lewat kaca. “Dia Orien—“
“Aku gak tanya nama. Aku tanya dia siapa,” potong Ciama dengan nada dinginnya.
“Dia—“
Ceklek.
“Cia—ma?”