Chap. 6

1342 Kata
Malam merenggut siang yang begitu ramai. Mengirimkan keheningan yang sangat mendalam bagi sosok Ciama yang kini tengah duduk di balkon. Mata gadis itu masih bengkak karena menangis seharian. Tangannya juga masih memeluk lutut seraya menatap jalan di depannya yang cukup ramai. “Mau makan dulu, Dek?” Ciama menolehkan kepala melihat siapa yang kini berdiri di depan Ciama seraya membawakan nampan berisi makan malam. Ciama tidak menawab dan kembali menatap jalan. Lelaki yang berdiri di dekat Ciama itu menghela napas. Menaruh nampan itu ke meja, lelaki yang baru saja memanggil Ciama dengan sebutan Adik itu langsung duduk di depan Ciama. Wajah pucat gadis itu masih kentara dengan pipi yang basah dan mata yang bengkak. “Mau makan yang lain aja?” “Abang Rian ngapain ke sini?” Tanya Ciama dengan suara seraknya. “Emang harus ada alasan Abang mampir ke rumah Tante Chandra?” “Abang mending pulang aja.” Yang tentu saja Rian paham artinya. Jangan kemana-mana, temenin Ciama aja di sini, adalah artian sebenarnya dari apa yang Ciama katakan. Mengulurkan tangannya, Rian mengusap kepala Ciama. “Kamu udah lihat postingan Marcel?” Ciama tidak menjawab, matanyalah yang mengelurkan jawaban. Air mata itu keluar dengan cepat. Membuat Rian mau tak mau berdiri dan merengkuh Ciama dalam dekapannya. Membiarkan Ciama kembali menangis dan menumpahkan segala keresahannya ke dalam dadanya. Membiarkan gadis itu mengeluarkan segala hal yang tidak bisa diungkapkannya lewat kata-kata. “Apa yang kurang dari Ciama? Ciama udah lakuin semuanya. Kalau emang dia gak mau anggap Ciama, kenapa 4 tahun lalu dia deketin Ciama, Bang?” Rian tidak bisa bicara lebih. Lelaki itu mengecup kepala Ciama sayang. Mengusapnya dengan lembut seraya memeluk gadis itu. “Tante Chandra gak tahu hal ini?” “Kalaupun Mama tahu, dia pasti minta Cici buang jauh harapan itu. tapi nyatanaya gak semudah itu, Bang. Dia terlalu sering berbuat baik sama Cici. Abang pasti tahu kalau dia bukan orang yang hangat, kan? Tapi kenapa dia selalu care sama Cici? Kenapa dia selalu ada buat Cici? Kalau emang dia gak mau ngasih harapan, seharusnya bukan itu yang dia kasih selama 4 tahun ke Cici!” “Marcel gak punya adik. Dia pasti—“ “Pasti anggap Cici jadi adiknya, kan? Kalau emang kaya gitu, kenapa perlakuannya lebih dari yang seharusnya? Adik-Kakak gak gitu, Bang. Hubungan Cici sama dia udah terlalu jauh.” Rian terdiam. Apa yang Ciama katakan memang benar. Sebenarnya Rian sudah merasa ada yang tidak beres semenjak melihat Marcel yang selalu ada ketika Ciama membutuhkannya. Dan hubungan keduanya juga sudah sejak Ciama kelas 3 SMA. Hal yang sangat musthail diartikan sebagai teman jika lelaki itu selalu memberi harapan pada Ciama. Belum lagi lelaki itu selalu melarang Ciama dekat dengan lelaki lain tanpa seiizinnya. Beruntungnya hal itu sudah terselesaikan dengan baik karena Rian tidak sengaja tahu hubungan keduanya. Jika berada di posisi Ciama, ia sendiri akan bingung melangkah ke arah mana. Belum lagi selama ini Marcel lah yang menjadi tumpuan Ciama ketika gadis itu senang atau sedih. “Ciama gak bisa lupain dia. Orang-orang selalu bilang buat lupain dia. Buat lepasin dia dan coba buka hati. Nyatanya itu gak bisa Ciama lupain. Orien siapa, Bang?” Tubuh Rian mendadak kaku. Orien. Lebih tepatnya Orien Herlambang. Perempuan yang menjadi kekasih Marcel saat ini—yang sebenarnya sudah lama. Hanya saja lelaki itu baru mempublikasikannya sejak kemarin siang. Perempuan yang akan Marcel jadikan tunangan sekaligus calon istrinya. Dan Ciama? “Abang?” “Kamu diem di rumah. Abang mau berangkat dulu, ya. Nanti Abang minta Gean ke sini.” “Abang mau ke mana?” “Ada urusan kantor. Lupa tadi gak dibawa ke sini.” “Malem-malem?” “Iya.” Bohong. Karena Rian tidak mungkin mneyimpan tugas kantor untuk disimpan berlama-lama. “Kamu gak apa-apa, kan diem di sini sendiri dulu?” “Gak papa. Mbok sama Pak Tasir juga ada di sini.” “Kalau gitu Abang pualng dulu, ya.”       ***         Bugh. “Sialan! Mau lo apa, hah?!” Rian menghentikan mobilnya. Lelaki itu mengedipkan matanya beberapa kali melihat siapa yang ada di sana saat ini. Sosok yang ingin ia temui dan ia habisi kini sudah lebih dulu dihabisi oleh orang lain. Dan yang menghajar sosok itu tak lain dan tak bukan adalah perempuan! “Maksudnya apa? Saya—“ Bugh. “Selain sialan, lo juga b******k ternyata!” Bugh. “Tunggu—saya tidak mengerti maksud..” “Apa alasan lo deketin temen gua, hah? Apa alasan lo kasih harapan sama dia?” “Saya gak paham sama apa yang kamu bicarakan. Dan tolong berhenti memukuli saya.” “Lo mau gua berhenti? Berhentiin juga air mata Ciama, sialan!” Rian dan Marcel sama-sama tersentak. Kedua lelaki yang berada di tempat berbeda itu sama-sama tidak menyangka jika sosok yang sejak tadi gadis itu katakan adalah Ciama. Perempuan yang baru saja Rian peluk. Perempuan yang baru saja Marcel dengar suaranya lewat sambungan telepon. Ciama Agnida Risolv. “Puas lo buat Ciama jadi korban, hah?!” Satu pukulan kembali menyerang ke arah Marcel. Namun dengan cepat lelaki itu menghindar. Menangkap lengan mungil dengan kekuatan yang tidak ada duanya. “Saya gak paham sama apa yang kamu bicarakan. Kenapa kamu membawa nama Ciama? Kenapa dia menangis? Siapa yang menyakitinya?” Rian yang masih berada di dlam mobil hanya bisa menepuk kening tidak tahu harus berkata apa. Teman satu universitasnya itu memang tidak peka sejak dulu. “LO! Lo yang buat Ciama nangis! Otak lo di mana sebenarnya, hah?!” “Saya?” Tanya Marcel seraya mneunjuk dirinya sendiri. “Gua gak tahu kenapa Ciama bisa sebodoh itu suka sama orang kaya lo.” “Saya tidak paham dengan maksud kamu, Adel.” Rian lagi-lagi tercengang. Jadi Marcel mengenali gadis itu? Adel, nama yang tidak asing di telinga Rian. Sepertinya Rian pernah mendengar nama itu. “Putusin Kak Orien sekarang juga!” “Gak bisa!” “Dan lo mau Kakak gua jadi penjahat padahal dia gak tahu apa-apa?!” Ah, ya. Rian ingat siapa Adel. Gadis seumuran Ciama yang menjadi adik tiri Orien—kekasih Marcel. Rian sebenarnya sudah tahu Marcel berpacaran dengan Orien. Namun karena Marcel yang memintanya agar tidak memberitahu siapapun, membuat Rian mau tak mau bungkam. Dan Rian kira Marcel dan Orien sudah putus karena tidak ada kabar maupun curhatan Marcel yang mengadu padanya tentang Orien. Tapi ternyata mereka masih bersama. Hal yang lagi-lagi mengejutkan bagi Rian saat melihat postingan Marcel di akun instragam lelaki itu. “Kita gak mungkin putus! Jangan bercanda, Adel! Kamu bahkan tahu kalau kita akan bertungan dalam waktu dekat, kan?” Tangan Adel mengepal. Dengan sekuat tenaga, gadis itu mengarahkan tinju tangan kirinya yang tepat mengenai pipi Marcel dan membuat lelaki itu tumbang. “Sampe lo paham sama apa yang lo rasain, gua gak akan pernah restuin lo sama Kakak gua!” Putus Adel dan berlalu begitu saja. Rian menelan salivanya melihat bagaimana Adel berjalan. Tidak ada luka satupun di wajah Adel. Gadis itu meninggalkan Marcel yang terduduk di tanah. Pergi begitu saja dengan motor ninja hitamnya. Rian yang melihat semua itu merasa sedikit puas. Setidaknya ia tidak perlu mengotori tangannya untuk memukuli Marcel. Sudah ada yang mewakilinya dan kata-kata Adel mungkin akan lebih masuk ke dalam hati Marcel. Menjalankan kembali mobilnya, Rian sekali lagi melihat Marcel yang menunduk dalam. “Sebenenya ini ada apa, sih?” Gumam Marcel seraya meringis. Pukulan Adel di rahangnya memang tidak main-main. Beruntungnya rahang tegasnya tidak sampai geser dan bengkok. Akan sangat merepotkan jika sampai Adel mengeluarkan taringnya. Tring. Ciama Agn Kak Marcel besok bisa temenin Ciama jemput Mama di bandara? You Bisa. Jam berapa? Tring. Ciama Agn Jam 9 pagi.   Marcel menghela napas. Ia membuka sebentar kalender. Mengecek apa ada kerjaan mendadak jam 9 pagi. Setelah memastikan tidak ada apapun, Marcel kembali membuka aplikasi chatting guna membalas pesan Ciama. Tring. Oyen Hrlm. Marcel, besok Papa minta jam 9 ketemu sama kamu. Kamu bisa? Marcel terdiam sesaat. Lelaki itu melihat dengan seksama apa yang ada di depannya. Ciama Agn Oke. Besok Kakak jemput di depan rumah kamu.     Oyen Hrlm Maaf, Yang. Besok kayanya aku gak bisa. Kalau lusa gimana? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN