Chap. 15

1795 Kata
“Kak, bisa tolong ambilin krimnya? Mama lagi gak bisa jauh-jauh. Nanti adonannya pecah.” “Kak?” “Ciama!” “Ah iya, Ma? Kenapa?” Tanya Ciama bingung. Matnya mengerjap beberapa kali seraya menaikkan halis. Chandra menghela napas. Ia bisa melihat bagaimana wajah Ciama yang tengah kebingungan sehabis melamun. “Ada barang yang Mama butuhin?” Chandra menghela napas lagi. Wanita itu tersenyum sebelum akhinya menggelengkan kepala pelan. “Gak ada. Kamu panggil Papa aja. Ada yang mau Mama minta. Kamu ke kamar aja sana. Muka sampe pucet banget, gitu.” “Aku gak papa, kok.” “Udah sana ke kamar aja. Jangan lupa panggilin Papa, ya!” Ciama mencebik namun tak urung mengikuti perintah sang mama. Gadis itu menatap sebentar pada Mamanya yang masih tersenyum seraya menyuruhnya pergi dengan tangan kirinya. Tidak bisa berbuat apa-apa, Ciama berlalu menuju tempat Papanya. Yang mana berada di halaman belakang. Tengah mendekor taman untuk dijadikan tempat acara besok. Pria yang memakai kaos berwarna cream itu terlihat berkeringat karena memasang lampu di sekitar pagar yang menjulang tinggi. Di sebelahnya ada Rian yang juga membantu memasang beberapa dekorasi. Sedangkan di ujung taman ada Gean—kembaran Rian yang sedang memasang meja. “Papa!” Panggil Ciama seraya melambaikan tangannya. Meminta pria itu turun ke bawah sebentar. “Kenapa?” “Dipanggil sama Mama,” jawab Ciama. Revano mengangguk lalu turun perlahan dengan bantuan tangga. Pria itu lalu meminta Rian yang berada di sebelahnya untuk menemani Ciama sebentar. “Oke, Om.” “Kalau gak bisa, panggil Gean aja. Dia free, kan? Om gak enak sama Angel.” “Iya, Om. Nanti Rian bilang sama Gean,” bisik Rian seraya mengacungkan ibu jarinya. Lelaki itu lalu ikut turun untuk memanggil adik kembarnya yang kini menghampirinya. Seakan sudah tahu jika Rian akan menghampirinya. “Kok Abang juga turun? Bang Gean ngapain lagi ke sini?” Tanya Ciama curiga. “Mau numpang tidur. Kamar kamu masih di atas, kan?” Tanya Gean tiba-tiba. Lelaki itu lalu menatap Rian dengan tatapan dinginnya seraya mengangguk. “Udah dikasih tahu sama Tante Chandra,” ucapnya tanpa suara pada Rian. “Ngapain di kamar Cici? Kan ada kamar tamu.” “Kasian, Ci. Jomblo. Gak akan mau tidur di kamar sendiri,” ledek Rian yang tentu saja langsung mendapat tatapan maut dari Gean. Lelaki itu tidak banyak bicara dan langsung menggandeng Ciama untuk masuk ke kamarnya. “Abang ngapain lagi meluk-meluk gini!” “Kamu butuh informasi tentang Marcel, kan? Abang tahu sedikit. Mau apa nggak?” Tawar Gean disertai senyum misteriusnya. Ciama yang mendengar nama Marcel disebut langsung menganguk. Tangannya ikut merangkul perut Gean hangat. “Bagian ada maunya, langsung meluk balik.” “Lagian Abang gak ada senyum-senyumnya banget. Kan nakutin. Kalau aja kaya Bang Rian, pasti Ciama juga langsung percaya. muka Abang terlalu mencurigakan tau, gak?” “Muka Marcel lebih mencurigakan,” ujar Gean dengan nada sarkas. Ciama yang masih memeluk tubuh Gean itu langsung menginjak kaki kanan Gean seraya memberenggut kesal. “Mana ada! Kak Marcel itu—“ “Abang masih bingung sama kamu, kok bisa masih suka sama Marcel. Padahal udah jelas dia mau nikah minggu depan, kan? Gak sakit hati?” “Ngapain sakit hati? Kan yang nikah Kak Marcel ini. Nanti juga jadi duda,” celetuk Ciama dengan suara yang jelas dan terkesan sangat percaya diri. Membuat Gean diam-diam meringis kecil. Selain bodoh dalam maslaah percintaan, Ciama juga ternyata sangat percaya diri dalam hal yang mustahil, ya? “Kamu doain dia jadi duda?” Tanya Gean penasaran. Ciama tentu saja mengangguk semangat. “Oh iya, dong! Kalau gak, nanti Ciama sama siapa?” Tanya Ciama dengan wajah imutnya. Gean yang melihatnya langsung bergidik ngeri. Lelaki itu menatap wajah sepupunya dengan miris. Bukannya kenapa, tapi sosok baik seperti Ciama harus banget dapet orang b******k kaya Marcel? “Kalau emang gak sakit hati, gimana kalau kamu bareng sama Abang ke nikahannya? Kebetulan Abang gak punya gandengan,” ajak Gean dengan niat yang sebenarnya hanya untuk menjahili Ciama. Ia tahu kalau Ciama tidak mungkin mau datang ke acara seperti itu. Terlebih yang menjadi pengantinnya adalah Marcel yang notabenennya adalah orang yang gadis itu sukai. Namun jika melihat dari sosok Ibu Ciama sepertinya gadis itu akan menerima tantangan sekaligus permintaan Gean. Sebab Ciama dan Chandra sama-sama orang yang nekat. “Itu sih Abang aja yang emang gak ada temen buat ke ondangan. Makanya minta sama Ciama, kan?” Ledek Ciama yang berusaha menyembunyikan hatinya yang memanas mendengar tawaran Gean. Namun ia tidak boleh menyerah dan mengalah begitu saja. Terlebih sosok Gean ini sangat menyebalkan dan akan sangat lebih menyebalkan jika lelaki ini tahu Ciama menolak keinginanya. Bisa-bisa Ciama menjadi bahan bullyannya selama setahun penuh. Sudah sakit hati karena pernikahan doi, masa Ciama juga harus mendapat ledekan dari Gean? “Ya, kan makanya Abang ajakin kamu. Mau, gak?” “Kalau mau, Abang bakal kasih apa sama Ciama?” Tanya Ciama dengan senyum miringnya. “Kamu mau apa? Abang beliin.” “Ciama mau mobil putih Abang yang baru dibeli dua hari yang lalu. Gimana, deal?” Gean membulatkan mata mendengarnya. Apa gadis ini gila meminta hal yang tentu saja tidak akan ia berikan? Tapi kalau ia membatalkan apa yang sudah ia ucapkan. Ciama pasti akan selalu meledeknya setiap ada pertemuan keluarga. Karena mulut Ciama cukup berbahaya. Belum lagi nanti banyak sekali pertanyaan tentang kapan ia menikah. Hah! Alamat habis uang jajan Gean bulan ini! “Oke. Deal! Tapi kamu jangan nangis dan gak kabur.” “Ngapain nangis? Lebay banget.” “Okay. Kita liat aja nanti. Karena Abang mau datangnya pas acara ijab kobul, jadi kamu jangan sampe ngilang, ya.” Gea melepas rangkulannya dan memasuki kamar Ciama begitu saja. Membuat gadis yang berhenti tepat di pintu kamarnya sendiri itu langsung melongo tidak paham. “Hah?! Pas ijab? Kok Abang gak bilang?! Gak mau!” “Gak bisa..” “Abang!!”       ***         Ciama menalikan dress yang akan ia pakai. Matanya menatap sosok dirinya yang kini terpantul dari kaca. Bibir Ciama mengusung senyum. Walau kenyataanya ia tidak mungkin bisa mengusung senyum itu sepanjang hari. Namun yang terpenting ia masih bisa membuat sneyum palsu jika ada orang yang menyapanya. Ia juga tidak bisa berbuat sesukanya di acara Reza. Ini adalah hari yang selalu dinantikan Reza. Dan ia tidak bisa mengambil tindakan seenaknya. Setidaknya Reza harus bahagia hari ini. Tidak penting dengan dirinya yang mungkin saja harus memendam rasa demi tercipta senyum yang indah. Ah, terkadang Ciama berfikir untuk menjahit mulutnya saja agar bisa tetap tersenyum. Rasanya terlalu sesak untuk melanjutkan hari yang cukup berat hari ini. Sebenarnya ini hari biasa yang tidak ada apa-apanya. Tapi setelah mendengar berita bahwa Marcel akan datang bersama dengan Orien, membuat Ciama merasa dilanda angin topan hari ini. Dan ia tidak punya benda untuk berpegangan agar tidak terbawa perasaaanya yang sekarang tengah terombang-ambing. Tidak. Ciama tidak bisa seperti ini. Toh, ia sendiri yang memutuskan untuk mengajak Marcel dan juga mengundang lelaki itu di acara hari ini. Tok. Tok. Tok. “Kak, kamu di dalam? Boleh Papa masuk?” Ciama buru-buru mengusap air matanya yang entah sejak kapan mengalir di pipinya. Kembali mengusung sneyum di cermin, Ciama lalu meneguhkan hati untuk tetap biasa saja. “Iya, Pa. masuk aja.” Ciama segera menarik kursi yang ada di sebelahnya dan mulai menyibukkan diri dengan melakukan acara paginya seperti biasa. Yang tak lain dan tak bukan dengan cara memakai make-up dan juga memakai skincare pagi. Pintu terbuka, membuat Ciama diam-diam melihat. Karena posisi meja rias yang berhadapan langsung dengan pintu kamarnya, Ciama jadi bisa melihat pria jangkung yang menjadi Papanya itu tengah tersenyum seraya menggelengkan kepala. Hal yang sama sekali tidak aneh di mata Ciama. Papanya memang selalu melakukan hal-hal tak terduga. Sosok Revano yang katanya tidak tahu aturan dan sangat bodoh itu Ciama akui jika berdua dengan pria itu seperti sekarang. Sosok Papanya yang sangat mencintai Mamanya sampai-sampai tidak bisa melepaskan Mamanya itu memang patut Ciama acungi jempol. Apa kebodohannya dalam percintaan juga disebabkan oleh pria itu? “Masih aja dandan. Papa kira Mama kamu doang yang akhir-akhir ini suka banget sama make-up. Ternyata anaknya juga,” ledek Revano seraya memasuki kamar anaknya. Tidak ada yang berubah dari kamar anaknya sejak 3 tahun yang lalu. Kamarnya masih berwarna pastel dengan beberapa dekorasi yang dominan berwarna biru dan juga hijau pastel. Anaknya sangat menyukai warna-warna kalem. Namun sayangnya sifat Ciama tidak ada kalem-kalemnya sama sekali. “Ya kan namanya juga cewek, Pa. kalau Papa yang lama dandannya baru aneh,” jawab Ciama apa adanya. Revano tersenyum lebar. Lelaki itu mengambil salah satu piala Ciama yang berada di rak dan memandanginya sesaat. “Kamu sekarang berapa tahun? Kok kayanya ngeliat piala kamu udah pada lama, ya?” “Kenapa emang? Papa pengen aku langsung megang perusahaan? Oh, tidak bisa! Ciama gak mau langsung kerja gitu aja. Kuliah aja bisa buat otak Ciama kepanasan, langsung turun tangan ke perusahaan? Yang bener aja!” Revano tertawa keras. Pria itu menyimpan kembali piala Ciama ke tempatnya dan beralih mengambil foto Ciama saat kecil. Dimana gadis itu tengah tertawa dengan seekor kucing yang saat ini sudah memiliki anak. Kucing abu yang tebal dengan gadis tanpa gigi depan yang saat itu baru saja copot setelah sekian lama Ciama menginginkan giginya ompong. “Kamu tetep mau sama Marcel?” Tanya Revano tanpa basa-basi. Ciama yang sedang mengoleskan krim wajah itu langsung berhenti dan menatap Revano yang masih anteng melihat foto kecilnya. “Kenapa Papa tanya itu? Papa juga udah tahu kan apa jawaban aku?” “Kalau Papa minta kamu untuk lepasin aja gimana?” Brak. Ciama dengan spontan menggebrak meja riasnya dan menatap sang papa yang menunjukkan ekspresi biasa saja. Tidak ada sama sekali ekspresi jika lelaki itu serius atau bercanda dengan ucapannya tadi. “Papa?” “Kalau memang kamu gak mau lupain dia, kamu terusin kuliah kamu di Arab. Tinggal sama Tante Rivanya di sana,” ujar Revano dengan wajah seriusnya. Pria itu menatap anak pertamanya dengan tenang. Seperti tidak ada beban sama sekali. Yang tentu saja membuat Ciama semakin marah dibuatnya. Namun, seakan tahu jika anaknya akan segera mengeluarkan amarahnya, Revano lebih dulu angkat kaki dari kamar Ciama. “Kamu tahu, Papa gak akan larang kamu sama siapapun dan suka dengan cara apapun. Tapi kamu tahu kalau Papa paling gak suka saat permintaan Papa kamu tolak.” Ciama mengepalkan tangannya kesal. “Lupakan Marcel dan menikahlah tahun depan, atau pergi lanjutkan pendidikanmu di Arab.” “Tapi—“ “Keputusan yang sederhana. Asal kamu tahu mana yang lebih baik untuk kamu nantinya. Ini terlalu simple, Sayang. Jangan sampai Papa yang buat keputusan setelah kamu wisuda nanti. Segera siap-siap. Papa tunggu kamu di bawah.” What the— Dirinya baru saja diancam oleh sang papa yang kemarin tidak apa-apa dengan hubungannya? Sebenarnya ada apa?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN