Chap. 14

1391 Kata
"Jadi, lo beneran gak bisa lepasin Marcel?" Tanya Adel dengan wajah jengahnya. Ciama menggigit bibir bawahnya sebelum mengangguk kecil. Gadis yang tengah mengaduk avocado coffeenya itu menunduk. Merasa tidak bisa menunjukkan wajahnya sekarang. Perlahan napasnya terasa sesak karena ingin menangis. Belum lagi tangannya ikut gemetar. "Gua gak bisa, Del. Lupain Kak Marcel kayak yang dibilang sama anak-anak. Rasanya terlalu sakit. Dia udah terlalu lama jaga gua dan kasih perhatian yang berharga buat gua. Rasanya terlalu sakit buat jauhin dia." Adel tidak menjawab. Perempuan dengan celana jeansnya itu mengedikan bahu. Merasa tidak tahu harus memberikan saran apa pada Ciama sekarang. Ia juga tidak bisa asal ucap dan membuat Ciama semakin dilanda rasa khawatir. "Mungkin kedengerannya berlebihan, tapi Kak Marcel tuh persis banget kayak Papa gua, Del. Dia selalu tahu apa yang baik dan buruk buat gua." "Lo tahu kalau Marcel udah kayak Papa lo, tapi lo masih merasa dia bukan kakak-kakakan lo?" "Kalaupun gua harus nunggu bertahun-tahun, rasanya gua siap." "Gila!" Ciama tersenyum seraya mendongkakan kepala melihat Adel yang nampak marah. Teman di depannya ini terlihat sekali tidak suka dengan keputusan  Ciama. Lagipula, siapa yang akan merasa bahagia saat tahu teman bodohnya tetap menjadi bodoh bahkan semakin sinting hanya karena lelaki? Dan itu juga yang Adel lakukan. Siapa yang akan merasa tenang dan bersorak mengetahui Ciama semakin bodoh? Marcel bukanlah siapa-siapa! Dan bagaimana jika Ciama tahu kalau lelaki itu akan menikah tiga minggu ke depan? Apa yang akan Ciama lakukan saat gadis itu tahu? "Lo boleh marah sama Ciama. Gak jadi masalah. Karena Bang Rian juga marah sama Ciama waktu Ciama mutusin buat tetep bertahan." "Ci, hidup lo itu bukan stuck di satu tempat! Banyak tempat lain yang harus lo kunjungi, lo jelajahi. Jangan merasa kalau pusat hidup lo cuman Marcel!" "Ciama tahu itu. Tapi Ciama gak bisa." "Apa yang buat lo gak bisa, sih?! Dia udah apa-apain, lo?" "Belumlah!" Bentak Ciama tidak terima. "Apa lo bilang tadi? Belum?" "Maksudnya... " "Lo beneran gila. Asli," Geram Adel dengan tangan yang menggebrak meja sekali. "Gimana kalau ternyata dia mau nikah? Apa yang bakal lo lakuin?" "Tungguin jadi dudalah!" Jawab  Ciama semangat. "Orang stress!" Adel mengatur napasnya yang memburu karena marah pada Ciama. Gadis itu tak lupa menyugar rambut biru tuanya ke belakang. Ia tidak tahu lagi harus memberitahu apa pada gadis bebal ini. Bagaimana bisa perempuan seenteng itu mengatakan jika ia akan menunggu lelaki sampai menjadi duda? Iya kalau jadi duda beneran. Kalau nggak?! Seneng nggak, jadi perawan tua iya! "Lo jangan b**o banget deh, Ma." "Tapi Papa Ciama bolehin, kok," ujar Ciama tanpa rasa bersalah. Gadis itu mengangkat halisnya beberapa kali ke atas membuat Adel menganga tak percaya. Mata bulat Adel juga mengerjap beberapa kali. Sebentar, telinganya tidak sedang tertutup oleh earphone atau daun yang tiba-tiba jatuh, kan? Kepala Adel menggeleng perlahan. Jadi yang gila itu bukan Ciama saja? Tapi juga Ayah gadis itu? "Lo--Ci, lo gak lagi ngelucu, kan?" Tanya Adel dengan nada gagapnya. "Lo belum pernah ketemu sama Papa?" "Kenapa jadi arah situ?" "Kalau lo udah pernah ketemu, lo gak mungkin kaget sama apa yang gua omongin, Del." Adel tidak bisa berkata-kata lagi. Gadis itu sangat terkejut bukan main. Jadi tingkah absurd dan juga slengean Ciama sampai ke arah bodoh tak lain dan tak bukan adalah gen dari Papanya? Begitu? "Adel, kalau nanti gua salah jalan dan gak bisa buat nentuin apa yang terbaik. Lo kasih saran sama gua, ya? Gua kadang suka nemuin jalan buntu." "Dan itu karena Marcel?" Ciama menyengir lebar. Memang sudah tidak waras! Menarik napas panjang, Adel lalu menatap mata Ciama. Meminta agar gadis itu juga menatapnya balik. "Lo boleh bilang gua jahat. Lo boleh bilang gua gak tahu diri atau halu sekalipun. Tapi ini yang terbaik buat lo. Jauhin Marcel. Gua gak mau pertemanan kita ancur cuman karena lelaki itu. Ci, lo bakal benci banget sama gua kalau lo tahu yang sebenarnya." "Apa, sih? Kek film aja pake ngomong kek gitu segala." Adel menarik napas panjang. Ia tidak ingin mengungkapkan apa yang sedang terjadi. Tapi ia tidak bisa menyembunyikannya terus menerus. "Kakak tiri gua yang mau nikah itu Orien. Orang yang juga bakal nikah sama Marcel."           *           Langit sore yang cerah menemani sosok lelaki jangkung yang tengah bersandar pada pilar rumahnya. Kakinya yang jenjang saling bertumpu satu sama lain dengan tangan yang menutup wajahnya. Rasa pening menjalar di kepalanya ketika otaknya mulai bekerja dengan keras. "Abang, kamu lagi apa? Kok gak masuk ke kamar? Ini udah mau maghrib, lho..." Lelaki dengan rambut tidak teraturnya itu menolehkan kepala. Melihat Mamanya yang kini tengah tersenyum manis. Sosok wanita yang sangat Marcel cintai melebihi apapun. Dan sosok wanita yang tidak bisa Marcel bohongi. "Ma, besok Mama ada acara?" Tanya Marcel dengan suara lesunya. Wanita dengan dress panjang dengan tali kecil di bagian lengan itu menatap anaknya bingung. "Besok adiknya temen Marcel ulang tahun. Mama bisa datang sama Marcel?" "Lho, kok Mama? Ya kamu ajak Orien dong, Bang. Masa Mama. Kan kamu juga sekalian mau sebar undangan nikahan kamu, kan?" Raida mengusap kepala Marcel dengan lembut. Anak lelaki satu-satunya itu langsung mencebik tidak terima. Persis sekali seperti sosok Marcel ketika kecil. Di mana saat lelaki itu enggan pergi dan ingin bersama dengan Mamanya, saat itulah wajah menggemaskan Marcel seperti sekarang muncul. Dan saat itu jugalah Raida tidak bisa menolaknya. Namun sekarang ia harus bisa. Anak lelakinya akan segera membangun rumah tangga sendiri. Tidak mungkinkan ia akan selalu mendampingi anak lelaki besarnya ini? "Iya. Tapi Marcel mau datangnya sama Mama. Habis itu baru--" "No! Kamu sama Orien sudah hampir ke jenjang yang lebih serius. Kamu gak bisa terus sama Mama. Masa nanti kalau udah nikah maunya sama Mama terus? Apa kata Orien nanti?" Goda Raida yang sebenarnya sudah menemukan titik aneh pada sorot mata Marcel. Tampak sekali jika lelaki itu enggan dan ragu untuk pergi ke sana dengan Orien. "Emangnya siapa yang adiknya ulang tahun? Rian? Dia kan gak punya adik. Kalaupun adiknya ulang tahun, dianya juga ulang tahun. Fera? Lah, dia kan adiknya. Akbar? Anak tunggal 'kan kaya kamu?" "Bukan mereka." "Terus siapa?" "Adiknya Ciama." Raida langsung terhenyak sesaat. Nama gadis yang akhir-akhir ini terasa tidak asing di telinga Raida. Sosok perempuan yang sering dibicarakan oleh pemilik butik tempat Marcel dan juga Orien membeli gaun pengantin. "Ciama? Siapa? Kok kayanya Mama pernah denger namanya?" Tanya Raida. Marcel menghela napas. Ia lupa jika Ciama tidak pernah datang ke rumahnya sekalipun. Dan gadis itu juga tidak pernah tahu siapa Mamanya secara langsung. Begitu pun dengan Raida yang jelas tidak tahu siapa Ciama yang Marcel sebutkan. Tanpa Marcel sadari, menyebutkan nama Ciama saat ini justru akan menimbulkan perpecahan besar nantinya antara sang mama dengan calon istrinya. "Ciama sepupunya Rian. Dia punya adik. Besok ulang tahun. Dan Marcel diundang." "Kok bisa kenal?" "Soalnya adiknya suka ada di rumah Rian. Jadi kenal sama Marcel." Raida membulatkan mulutnya seraya menganggukkan kepala. “Jadi di undang.” “Tapi kamu sama Ciamanya gak ada apa-apa, kan?” Tanya Raida penuh selidik. Marcel yang mendengarnya langsung memalingkan wajah. Berusaha tidak termakan ucapan Mamanya yang ad abenarnya. Ia juga tidak mungkin mengatakan pada Mamanya apa yang sebenarnyaterjadi antaranya dnegan Ciama yang Raida tanyakan. Sosok Ciama tidak boleh Mamanya ketahui. Mamanya hanya boleh tahu namanya saja. Tidak orangnya maupun bagaimana hubungannya dengan Marcel. “Kok Mama nanya gitu sama Marcel?” “Ya, kan Abang gampang deket sama cewek. Siapa tahu Abang juga deket sama Ciama. Jangan lupa, ya! Abang udah mau nikah, lho!” “Iya, Ma. Marcel inget, kok. Lagian Marcel gak ada apa-apa. Kan yang ulang tahun juga adiknya. Kenapa Mama jad curiganya sama Ciama?” Raida mengedikkan bahunya. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa  bertanya pada Marcel tentang Ciama. Raida hanya merasa ada sesuatu yang tidak beres begitu mendengar nama Ciama. Apa ia harus bertanya pada yang lain? Rasanya da yang mengganjal di hatinya. Seperti ada sesuatu yang memintanya untuk bertanya lebih. Namun bertanya apda Marcel bukanlahhal yang tepat. Melihat bagaimana reaksi lelaki itu saja, Raida sudah tahu ada yang tidak benar. “Mama nanti yang kasih tahu sama Orien buat siap-siap. Besok kamu berangkat sama Orien, ya.” “Ma…” “No! masa sama Mama terus. Cepet masuk ke kamar. Udah mulai gelap.” “Tapi Ma—“ “Gak ada tapi-tapian! Mana ada anak muda ke tempat ulang tahun sama nenek-nenek! Mama masuk ke dalam duluan, ya!” Diam-diam Raida menajamkan matanya. Ia akan cari tahu sendiri. Sebenarnya siapa Ciama?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN