Chap. 13

1503 Kata
Marcel menutup pintu mobil begitu Orien menutup gerbang rumahnya. Lelaki itu tersenyum kala melihat Orien yang melambaikan tangan disela-sela pagar rumah gadis itu. Wajah imut Orien begitu menggemaskan. Belum lagi tangan mungilnya yang kini sudah tersemat cincin tanda mereka sudah terikat dalam hubungan resmi. Marcel tidak menyangka jika mimpinya dengan Orien sejak tahun lalu terwujud di tahun ini. setelah melewati banyak rintangan, akhirnya mereka bisa bersatu dalam ikatan pernikahan yang akan diadakan kurang lebih satu bulan ke depan. “Kamu jangn senyum-senyum gitu, Bang. Mama serem liatnya,” ujar Raida seraya menatap anaknya dari kaca depan mobil. Marcel yang berada di bangku belakang hanya bisa mendengkus kecil. “Mama kaya gak pernah muda aja dulu,” ledek sang papa yang membela Marcel tentu saja. Pria itu lalu tertawa kecil melihat istrinya yang kini mencebik. “Lagian kamu sesenang itu bisa cepet nikah sama Orien? Kemaren ditanya bilangnya gak tahu terus. Sekarang udah mau nikah baru aja semangat banget. Kaya gak ada yang paling bahagia gitu, ya?” Marcel tidak menanggapi ucapan Papanya yang terlalu berlebihan menurut Marcel. Memangnya kenapa jika Marcel membutuhkan waktu untuk berfikir. Ya, walau harus memakan banyak sekali waktu. Yang penting tetap terlaksana, kan? Marcel juga sempat bingung karena sosok Ciama yang tidak henti mengintai dirinya dalam mimpi dan juga keseharian Marcel. Kalau perlu Marcel bilang, tahun kemarin benar-benar membuat Marcel bimbang. Sampai pikirannya pernah berfikir untuk memutuskan Orien saja karena gadis itu yang tiba-tiba posesif dan tidak mau setuju dengan segala keputusannya mengenai Ciama. Tahun lalu, Ciama pernah didekati oleh salah satu kakak tingkatnya di kampus, berbeda jurusan namun cukup dekat dengan Ciama karena Ayah lelaki itu dekat dengan Om Revano—ayah Ciama. Keduanya semakin dekat kala salah satu teman Ciama ternyata satu komplek dengan lelaki itu. dan Marcel yang mendengarnya jelas tidak mau hal aneh terjadi. Menurutnya Ciama telalu polos untuk tahu apa itu cinta. Ia merasa jika Ciama terlalu bodoh untuk masalah percintaan. Karena itu ia jarang menghubungi Orien dan lebih sering menghubungi Ciama untuk memastikan apa yang sudah gadis itu lakukan. Sampai ia sendiri tidak sadar jika ia marah denga apa yang Ciama lakukan saat itu. Karena Ciama lebih memilih mengacuhkan apa yang ia katakan dan mulai mendekati lelaki itu balik. Kemurkaan Marcel saat itu tidak bisa dihentikan sama sekali. Ia tidak bisa menahan rasa kesal dan juga amarah. Yang saat itu ia pikirkan tak lain dan tak bukan adalah bagaimana caranya Ciama lepas dari lelaki itu dan tidak memiliki hubungan dengan siapapun lagi. Marcel kalap. Marcel marah. Marcel kecewa dengan apa yang Ciama putuskan. Ia tidak suka jika gadis itu membantah ucapannya. Lagipula apa yang ia lakukan tidak lebih untuk melindungi Ciama yang jelas-jelas adiknya, kan? Ia tidak mau adiknya salah melangkah dan menemui jalan buntu yang berujung kesedihan. Dan sebagai Kakak yang baik, Marcel harus menuntun gadis itu untuk ke jalan yang benar, kan? Munafik. Adalah kata terpedas yang pernah Marcel dengar dari seorang Orien tahun lalu. Gadis itu sama murkanya dengan Marcel. Namun situasi dan pemikiran mereka saja yang berbeda. Jika Marcel marah karena tindakan Ciama—yang menurutnya semena-mena. Maka Orien merasa marah dan kecewa dengan Marcel karena lelaki itu lebih memprioritaskan gadis lain yang bahkan tidak memiliki sama sekali hubungan darah dengan Marcel. Kalaupun wanita lain yang berada di posisi Orien, semuanya akan sangat marah, bukan? Sosok Marcel yang biasanya hangat dan juga tidak lepas dari kata sayang itu tiba-tiba menghilang dan memilih menjaga orang yang sama sekali tidak terlibat apapun dengan Marcel. Kalau saja Ciama adalah sepupu Marcel, mungkin Orien masih bisa memaklumi dan berfikir jika itu adalah salah satu permintaan dari keluarga sepupu Marcel. Namun kenyataanya gadis itu adalah orang asing untuk mereka. Jelas saja Orien tidak bisa membiarkan hal itu semakin melebar dan meminta ketegasan pada Marcel. Siapa sosok Ciama sebenarnya. Apa hubungan gadis itu dengan mereka dan apa yang sebenarnya Marcel rasakan pada Ciama. Dan yang bisa Marcel lakukan saat itu adalah meminta waktu untuk berfikir. Ditambah dengan keinginan Papanya yang selalu meminta agar ia dan Orien segera menikah agar mereka bisa melihat penerus dari keluarga. Marcel semakin kalut dan memilih berfikir apa yang harus ia renungkan. Butuh setengah tahun untuknya meyakini jika Ciama dengannya tidak ada hubungan apa-apa. Ia dan Ciama tidak ada hubungan lebih selain adik-kakak yang ia buat dan cantumkan sendiri. Dan sejak saat itu, Marcel mulai selalu menekankan bahwa hubungannya dengan Ciama tidak lebih dari itu. Marcel tidak ingin kembali kecolongan dan merasa jika ia tidak masalah dengan hal tersebut. Dan untuk saat ini, Marcel sama sekali tidak merasa jika apa yang ia ucapkan dan selalu tekankan pada Ciama salah. Ia merasa semua sudah benar. Walau terkadang hatinya terasa sangat sakit. “Pa, Adel itu kan anaknya Mama tiri Orien. Dia kaya yang gak suka sama Papa sama Marcel. Emang tadi Papa ngeliat dia kaya gimana, sih?” Tanya Raida yang kembali teringat dengan sikap Adel yang aneh. “Ya itu sih dianya aja. Lagian kok bisa anak perempuan pulang semalem itu? Mana banyak luka  lagi. Anak kita aja yang laki-laki gak pernah kaya gitu, kan? Cewek kaya apa kaya gitu? Pasti didikan Mama tiri Orien gak sebagus didikan alm. Mamanya kan?” Raida menghela napas. Wanita itu menatap suaminya dengan jengah. “Gak baik, Pa liat orang dari tampilannya aja. Kita juga gak tahu, kan apa aja yang Orien lakuin waktu dulu? Mungkin aja yang dilakuin Adel sebagai pelampiasan?” “Mama kok bisa ngerasa kaya gitu?” Tanya Marcel yang mulai tertarik dengan apa yang Mamanya katakan. “Matanya. Kaya orang yang frustasi. Oh iya, Bang. Kamu deket sama Adel? Keliatannya dia tahu banget tentang kamu. Ada yang Abang sembunyiin dari Mama, ya?” Tanya Raida penuh selidik. “Gak usah aneh-aneh, Ma. Mama kebiasan kalau udah denger omongan orang. Suka dipikirin sampe rumah. Udahlah, Ma. Yang penting  urusannnya juga udah selesai. Emang dianya aja kali yang begajulan gitu,” ujar Papa menghentikan pertanyaan aneh Raida yang sekaligus membuat Marcel diam-diam menghela napas lega. Sebab Mamanya tidak tahu tentang Ciama dan hubungannya dengan gadis itu. semoga saja Mamnya tidak tahu sampai kapanpun.       ***           Seminggu kemudian. “Adel?” Gadis dengan kemeja biru tua yang dibiarkan terbuka itu menolehkan kepala ke belakang. Melihat siapa yang kini tengah berjalan menghampirinya. “Kenapa?” Tanya Adel pada Ciama. Gadis dengan dress selututnya itu baru saja mneghampirinya disertai dengan senyuman manis. Yang mana jelas membat Adel marah pada dirinya sendiri. Merasa gagal melindungi Ciama yang sudah bertaruh nyawa dengannya beberapa tahun yang lalu. Merasa sangat tidak berguna sudah membuat Ciama makin tenggelam pada perasaan yang sama.Hal yang membuat Adel hanya bisa mengepalkan tangannya dan menunjukkan raut wajahnya yang datar pada gadis ini. “Minggu depan Reza ulang tahun. Dan rencananya mau dirayain. Datang, ya!” “Ulang tahun? Udah gak kabur lagi lo dari rumah?” Ledek Adel dengan senyum miringnya. Ciama langsung memajukan bibirnya ke depan. “Itu, kan minggu kemarin. Adel jangan suka ngungkit, deh!” “Lagian sok-sokan banget mau kabur tapi ujungnya pulang juga waktu Om Revan pulang.”Ciama menyengir kecil. Gadis itu lalu merangkul lengan Adel dan membawa temannya itu ke kantin kampus. Berjalan berdua dengan Adel yang hanya bisa diam. “Tapi Tante Chandra tetep nanyain tentang Marcel?” “Gak. Kayanya gara-gara dikasih tahu sama Tante Riana buat gak nanya aneh-aneh sama gua.” Adel menganggukkan kepala. Tante Riana adalah saudara Ciama yang tak lain dan tak bukan adalah ibu dari Abang Rian. Wanita yang menjadi tempat Ciama curhat jika tidak ada Mama dan juga Adel yang mendengarkan. Sebenarnya bukan tidak mau, Adel memilih tidak mendengarkan karena saat ia tahu apa yang Ciama rasakan, entah kenapa rasanya ia seperti manekin yang hanya bisa menonton tanpa bisa berbuat apa-apa selain berdiri. Padahal sudah jelas jika kejadian itu ada di depan matanya. Dan ia sangat tahu siapa yang membuat Ciama kesal dan membuat gadis itu merasa sangat sedih. Dan lelaki itu adalah tunangan Kakak tirinya. ‘”Mama lo Tante Riana apa Tante Chanra, sih?” Ciama tertawa medengarnya. “Tapi, Del. Ciama mau cerita. Adel jangan marah tapi, ya?” “Pasti tentang si Marcel?” Ciama mengangguk semangat. “Tiga hari lalu, sih. Adel sih gak ke kampus. jadi aja gak sempet cerita.” “Lo kalau sama gua kenapa manja banget, sih? Geli gua dengernya. Kaya lagi bawa anak tahu, gak?” Alih-alih merasa tersindir, Ciama malah tertawa dan semakin memeluk lengan Adel. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa sangat manja pada Adel. Padahal temannya bukan hanya Adel. Tapi rasanya sangat nyaman ketika melihat Adel merasa dewasa dan memberikannya masukan. ‘”Gak papa, dong. Yang penting gua manja gak sama Marcel.” “Gua tabok lo, kalau sampe lo manja sama si b******k!” “Aneh banget sih, Adel. Kek yang gak suka gitu kalau Ciama manggil nama Marcel.” “Tabiatnya kek anjing gila.” Ciama hanya bisa menggelengkan kepala. “Terserah Adel. Oh iya, gua denger dari Papa Adel, Kakak Adel ada yang mau nikah, ya bentar lagi? Siapa? Kak Geri?” Bukan! Orang yang mau ceritain , b**o!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN