“Lagi masak mie?”
Gadis dengan piyama merah mudanya itu menolehkan kepala ke belakang melihat siapa yang baru saja bertanya padanya. Ia tersenyum dan mengangguk. Mengangkat salah satu bungkus mie instan yang baru saja akan ia masak, gadis itu lalu kembali focus memasukkan bahan-bahan yang akan ia makan bersama dengan mie buatannya.
“Lo mau?” Tanyanya pada Rifky yang tentu saja membuat lelaki itu mengernyit tidak mengerti.
“Kalau lo mau masakin ya, boleh-boleh aja.”
Ciama tertawa kecil sebelum mnegangkat ibu jarinya ke atas dan meminta Rifky mengambil mie instan lain di atas rak. Lelaki dengan umur yang sama dan bahkan tinggi yang hampir sama dengan Ciama itu lalu mengangguk dan mengambil mie instan lain sesuai dengan yang Ciama perintahkan. Memberikan bungkus mie kepada Ciama, Rifky diam-diam mengulum senyum melihat bagaimana lihainya Ciama memotong sayuran dan juga bakso sebagai bahan pelengkap.
“Lo suka pedes, kan?”
“Suka,” jawab Rifky apa adanya.
“Gua mau masukin cabe soalnya.”
“Boleh. Eh, tapi kan mienya beda?”
“Gak usah beda, deh. Samain aja. Di pancinya langsung. Kaya di drakor-drakor gitu. Lo gak masalah, kan?” Rifky tentu saja tidak menggelengkan kepala dan langsung berdiri di samping Ciama yang sibuk memotong cabai. Gadis itu tampak tidak terusik sama sekali dengan kehadiran Rifky yang sebenarnya tentu saja terkadang sangat menganggu dan membuat para perempuan malu dilihat. Sedangkan Ciama tampak santai dan anteng dengan apa yang dikerjakan. Ciama memang berbeda dengan perempuan kebanyakan. Termasuk hati gadis itu.Tterkadang Rifky jadi berfikir jika yang Ciama temui dan mendekati gadis itu pertama kali bukan Marcel melainkan dirinya, apa Ciama juga akan meneguhkan hati hanya padanya seorang? Apa gadis itu akan sangat tulus dan tidak akan membagi hati pada siapapun lagi?
“Ky? Lo kenapa?”
“Eh?” Rifky mengedipkan matanya beberapa kali. “Emang gua kenapa?”
“Dari tadi liatin gua. Ada yang aneh sama muka gua?” Tanya Ciama polos. Gadis itu lalu memegang wajahnya beberapa kali yang jelas membat Rifky langsung berdehem pelan dan tertawa.
“Gak ada apa-apa. Tadi gua lagi bengong. Eh gak taunya gua malah lagi keliatan liatin lo, ya? Elaknya dengan tangan yang mengggaruk tengkuknya tidak enak. Ciama langsung membulatkan mulutnya seraya mematikan kompor. “Udah jadi?”
“Belum. Gua mau ambil air minum dulu. Nanti kalau gua tinggal terus lo ngelamun lagi kan yang ada bahaya. Jadi gua matiin,” ujar Ciama seraya menatap Rifky dengan tatapan jahilnya. Sedangkan Rifky terkekeh mendengarnya.
“Gua aja yang ambil minum. Lo mau apa? Kalau gak salah masih ada jus jeruk kemasan yang Caca beli tadi.”
“Caca?” Beo Ciama yang merasa aneh dengan nama panggilan yang Rifky gunakan.
“Eh maksud gua Shasa. Kebiasaan manggil Caca kalau di rumah.” Ciama tertawa. “Kalau gitu gua ambil minum dulu.”
“Gua pengen soda,” pesan Ciama.
“Mana bisa! Kita kan mau makan mie. Gak baik makan mie sama soda barengan.”
Ciama mencebik kesal. Padahal niatnya untuk kaburkan selain karena ingin terhindar dari perang dunia, Ciama juga ingin makan dengan bebas tanp ada yang melarang. Ya, walau yang dikatakan Rifky benar adanya. Apalagi akhir-akhir ini maagnya sering sekali bermasalah. Ciama juga tidak bisa memaksakan kehendak jika sudah diperingatkan. Ciama juga termasuk anak yang penurut dan akan mendengarkan apa yang diperintahkan—jika ia sedang sadar tentu saja. Mungkin karena ajaran orang tuanya sejak kecil. Membuat Ciama tidak bisa menyepelekan apa yang diperintahkan selama itu baik baginya.
“s**u cokelat aja gimana? Lo suka, kan?”
“Masa s**u? Ini hampir tengah malem, Ky. Yang ada badan gua kaya bola nanti besok.”
“Gak papa. Yang penting sehat, kan? Udah terlanjur juga kalau lo mau ngecilin badan. Sekarang aja makan mie.” Ciama mencebik lagi. Gadis itu lalu mengangguk terpaksa. Dari pada mendengar ocehan Rifky tentang kesehatan yang sama persis seperti Mamanya di rumah.
“Ciama!” Teriak Shasa memanggil. Gadis yang kini tengah berdiri itu menoleh saat merasakan pelukan dari belakang tubuhnya.
“Kenapa, Sha?”
“Gua di chat sama Kak Bagas!”
“Terus?”
“Gimana sih caranya biar Kak Bagas sama gua terus? Lo kan berpengalaman banget. Belum lagi lo sama Kak Marcel awet banget, dah!”
“Awet jadi kakak adik sih, iya!” Ledek Rifky yang entah sejak kapan sudah berkumpul bersama.
“Lo jangan gitu , Ky. Gua sama Ciama tuh pejuang hati tau, gak?” Rifky memainkan bibirnya kesal, meledek apa yang baru saja Shasa katakan. Telinganya sangat anti dengan ucapan alay Shasa akhir-akhir ini.
“Tapi emang bener apa yang Rifky bilang. Gua sama Kak Marcel emang cuman sebatas itu doang awetnya,” jawab Ciama dengan nada datarnya. Merasa tertampar dengar ucapan Rifky. Memangnya apa yang bisa lakukan dengan semua kemungkinan yang sudah terjadi? Tidak ada juga, kan?
“Gua kadang bingung. Kalau yang pertama kali deketin lo dan kasih perhatian sama lo itu bukan Kak Marcel, apa lo juga bakal gitu Ci?” Tanya Shasa dengan wajah seriusnya. Membuat Rifky terhenyak sesaat. Merasa jika pertanyaan di kepalanya beberapa waktu lalu terlontarkan dengan mudah oleh Shasa.
“Gak mungkin kayanya, Sha.”
Gak mungkin ya, Ci? Jadi kalau gua yang datang duluan sebelum si b******k Marcel juga, lo gak akan sesetia itu ke gua?
***
Di tempat lain, Marcel baru saja bangkit dari sofa. Wajahnya tersenyum dengan mata yang menyipit indah. Mengatakan jika pertemuan malam ini sangat memuaskan untuknya. Tangannya yang kini terdapat jam tangan berwarna hitam itu terangkat guna berjabat tangan dengan tangan pria yang akan segera menjadi mertuanya.
“Saya kira cuman kamu saja yang datang. Saya gak tahu kalau kamu bisa seserius ini. Terima kasih, Marcel. Saya percaya kamu bisa membahagiakan anak saya.”
Marcel tersenyum dan mengangguk mantap. Tidak menampilkan keraguan dihatinya yang entah sejak kapan mulai terasa. Lelaki itu lalu mencium punggung tangan wanita yang ada di sebelah pria tadi. “Terima kasih sudah mempercayakan Marcel, Om, Tante.”
“Sebenarnya kita juga gak akan percaya sama kamu kalau bukan Orien yang semangat banget nyambut kamu. Ternyata sama orang tua kamu datangnya. Pantes aja Orien rapi banget,” kelakar Mama Orien dengan wajah yang sangat berseri. Matcel yang mendengar nama tunangannya langsung menolehkan kepala melihat gadis yang memakai dress putih tanpa lengan itu dengan tatapan memuja. “Jangan buat Orien sakit ya, Sayang. Dia cinta kamu lebih dari apapun.”
Marcel terdiam. Kedua tangannya mengepal mendengar apa yang baru saja Mama Orien pesankan padanya. Seperti ada yang menusuk jantungnya tanpa bisa cegah. Ada rasa sakit yang tidak bisa Marcel gambarkan seperti apa bentuknya. Tapi ia tidak bisa mengungkapkan. Ada rasa yang tidak seharusnya ia rasakan. Benar, yang seharusnya ia pikirkan hanya Orien, kan?
Tapi kenapa nama Ciama tiba-tiba muncul di kepalanya? Sialan!
“Kayanya sebelum bulan depan, kalian harus ngobrol dulu, deh.”
“Kenapa sama bulan depan emangnya?” Tanya Orien yang tidak mengerti dengan apa yang Raida—Mama Marcel katakan.
“Nah, ketahuan kalau Adek liatin Marcel terus, kan? Jadi gak denger,” goda Raida sengaja. Orien yang mendengarnya jelas langsung menggeleng malu. Wajahnya memerah dengan tangan yang mengibas bahwa ia tidak memperhatikan Marcel sedari tadi.
“Nggak, kok.”
“Terus kenapa bisa gak denger?”
“Kan itu—“
Ceklek.
“Adel pulang!”
Seluruh pasang mata yang sedang focus pada Orien langsung berpindah. Mereka menatap Adel yang baru saja pulang dengan luka di kening dan juga sudut bibirnya. Khas sekali dengan Adel yang terlihat begajulan. Jaket hitamnya juga terlihat sangat kotor. Mata Adel yang sedikit membiru di bagian ujungnya langsung melihat ke arah Marcel yang juga tengah menatapnya. Tangan Adel langsung mengepal melihatnya. Jadi lelaki itu belum juga sadar?
“Lho, ini adik Orien kan, ya?” Tanya Papa Marcel dengan senyum yang terlihat sekali jika ia sedang mengejek Adel yang sangat berbeda dengan Orien. Tatapan mata yang sangat Adel benci. Yang seakan mengatakan jika Adel tidak memiliki didikan yang sama dengan Orien—gadis dengan tata krama dan juga kecantikan yang tidak ada duanya. Adel tersenyum miring. Jadi Marcel memiliki otak yang lambat dan bodoh itu dari Papanya ya?
“Ah, ini Papa Marcel yang Kakak bilang?” Tanya Adel dengan wajah yang sangat mengerikan di mata Orien. “Sepertinya apa yang Kakak bilang bener. Kasian juga kalau Kakak dapet mertua kaya gini. Liat Adel aja kaya liat orang pinggiran yang dipungut. Apalagi nanti kalau tahu Kakak dulunya gimana. Kayanya bakal dipandang kaya sapi yang udah gak ada gunanya.”
“Adel!” Bentak Papa tiri Adel. Pria itu memandang Adel dengan tatapan murka. “Mauk ke kamar kamu sekarang juga!”
“Dih, ribet banget. Ini juga mau ke kamar. Oh ya, Om, jangan suka pake matanya buat hal yang gak baik. Kasian hati orang. Terus, ajarin anaknya pake otak ya, Om. Tuhan kasih otak buat dipake, lho.. buat mik—“
“Adel, masuk ke kamar kamu sekarang,” desis Kakak lelaki Adel dengan mata tajamnya. Adel langsung menghentikan ucapannya dan berjalan menjauh. Gadis itu mengetatkan giginya memandang Kakak kandungnya. Namun saat matanya melihat gelengan kepala yang lemah dari lelaki it, Adel jadi paham. Ia harus segera pergi. Meninggalkan para keluarga yang menurut Adel sangat memuakkan.
“Duh, maaf ya, Pak. Anak kami sedang sensitive. Mungkin karena tugas kuliahnya.”
Raida yang melihat Adel mulai berjalan menjauh itu mengernyitkan dahinya. Tidak mengerti dengan apa yang Adel katakan. Apa maksud dari sindiran untuk suami dan anaknya? Apa gadis itu mengetahui sesuatu?
“Oyen, bulan depan kan kita nikah.”
“Hah?” Orien membulatkan matanya.
“Kok kaget? Kan tadi kamu bilang kalau kamu setuju,” ujar Marcel yang paham dengan situasi yang mulai tidak enak.
“Masa iya aku bilang gitu?” Tanya Orien yang tidak sadar dengan keputusannya tadi.
“Tuh, bener apa kata Mama aku. Kamu pasti bengong liatin aku, ya?”
“Ish! Apaan sih!”
Marcel tertawa. Yang lainnya juga ikut menggoda Orien dan membicarakan kembali apa yang harus dipersiapkan. Niat awal yang akan pulang, tidak jadi karena tiba-tiba Papanya mendapat telepon dari pembaut gaun untuk Orien agar segera meminta ukuran yang pas.
“Nanti besok kalian langsung ke butiknya aja, ya? Biar pasti.”
“Iya, Pa.”
Mereka terus berbincang. Sampai tidak sadar jika Raida sejak tadi memperhatikan Adel yang tiba-tiba berhenti di tangga dengan tangan yang mengepal.