Ciama melajukan mobil hitam pemberian Neneknya dua tahun lalu itu dengan kecepatan di atas rata-rata. Setelah mendapat pesan dari Rian yang mengatakan akan ada bahaya saat Mamanya nanti sampai ke rumah, Ciama bergegas mengambil baju secukupnya dan juga mobil sebagai alat transportasi. Ia harus segera mengungsi atau nanti perang dunia akan segera terlaksana. Dan pastinya Ciama belum memiliki senjata atau tameng agar bisa selamat. Dan satu-satunya cara tak lain dan tak bukan tentu saja pergi melarikan diri. Semoga saja Mamanya tidak menjemputnya seperti yang pernah Papanya lakukan ketika ia menginap di rumah temannya.
Shasa. Adalah satu-satunya teman yang bisa Ciama ajak berkompromi. Belum lagi Ciama hanya tahu rumah Shasa. Sedangkan yang lain Ciama selalu lupa jalannya. Dan lagi, Ciama juga tidak punya bensin yang cukup untuk nyasar dahulu. Ia masih waras untuk meninggalkan rumah dengan mobil mogok di tengah jalan. Bisa gagal acaranya mneghindari perang dunia.
“Emang ada butuhnya doang lo ke gue,” sahut Shasa dari seberang sana yang berhasil membuat Ciama meringis mendnegarnya. Ia memang tidak menyangkal apa yang Shasa katakan padanya, belum lagi ia juga tidak keberatan dengan apa yang Shasa katakan. Ia tidak munafik dengan membantah ucapan Shasa yang 100% benar itu.
“Jangan gitu, Sha. Gua kan anak yang sangat baik hati. Lo harus kasihan sama gua.”
“Males banget kasihan sama orang macem lo. Tapi, tumben lo kabur? Bukannya Mama lo baru aja balik? Gak baik lho, Ci ninggalin Mama lo gitu aja. Kasian—“
“Iya Shasa cantik, Ciama tahu. Tapi keadaannya sangat genting sampai Ciama gak bisa bertahan di medan perang,” ujar Ciama melantur. Namun karena sudah berteman kurang lebih 3 tahun dengan sosok Ciama, Shasa jadi tahu ke mana arah pembicaraan gadis cantik yang sedang menyetir itu.
“Tapi kemungkinan bakal ada Rifky nanti malem. Gak masalah, kan?”
Sebenarnya sih Ciama tidak masalah. Lagi pula ia akan berterima kasih pada lelaki itu karena sudah mau mengantarkannya ke bandara di tengah jalan. Ia juga belum sempat memberikan ucapan terima kasih sang mama pada lelaki itu. “Gak masalah. Tumben Rifky sampe ke rumah, lo? Ada apa?”
“Mama gak akan pulang sampe rabu. Lo kan tahu gimana posesifnya Mama gua.”
“Abang lo gak ada?”
“Orang macam dia jelas aja lebih memilih kelayaban pas mama gak ada dari pada jagain adiknya!” Sungut Shasa penuh semangat. Ciama yang mendengarnya tidak bisa untuk tidak tertawa. Ada-ada saja memang teman yang satu ini. ”Jadi dia nyruh Rifky ke sini.”
Ah, fyi, Rifky dengan Shasa satu lingkup keluarga beda ayah dan ibu. Rifky adalah sepupu jauh Shasa yang sebenarnya Ciama sendiri kurang tahu bagaimana bisa Rifky dan Shasa baru tahu kalau mereka adalah sepupu jauh ketika semester 2 kuliah. Padahal mereka tinggal satu komplek dengan gang yang sama. Bumi memang sempit tapi kita yang tidak tahu saja—sebenarnya malas tahu.
“Abang lo beneran kagak ada di rumah, kan?” Tanya Ciama memastikan. Sebenarnya Shasa adalah anak yang sama dengannya. Bedanya Shasa memiliki Kakak lelaki yang biasa gadis itu sebut dengan Abang. Umurnya hampir sama dengan Rian dan juga Marcel. Hanya berbeda 1 tahun lebih tua. Dan lagi Abang Shasa ini termasuk orang yang sangat cuek. Entah untuk keluarganya atau adik perempuan satu-satunya itu. hidupnya juga lebih bebas dari Shasa. Mungkin karena sejak kecil sudah diurus oleh seorang asisten dan kurang perhatian dari orang tua, membuat lelaki itu tidak terlalu menyukai namanya keluarga dan juga rumah. Apalagi saat mengetahui jika Shasa lahir dan memiliki perhatian yang lebih dari apa yang lelaki itu dapatkan. Menimbulkan rasa iri yang terpendam sampai akhirnya memilih bersikap acuh pada Shasa sendiri.
“Gak tahu. Kayanya gak akan pulang juga. Lagian Abang kan suka kumpul sama temennya kalau lagi hari libur gini. Biasanya nginep sama temennya di villa gitu. Udah lo ke sini aja.”
Ciama menghela napas lega. Setidaknya tidak ada Abang Shasa yang menurut Ciama menyeramkan itu. Ciama masih ingat bagaiamana wajah mengerikan Abang Shasa yang menatapnya dengan leher jenjang yang diberi tato cukup besar dan sangat terlihat. Belum lagi tubuhnya yang bak tentara besar. Tinggi dan sangat atletis. Bukannya suka, Ciama malah takut jika melihat yang seperti itu.
“Oke, bentar lagi gua sampe. Sediain makanan yang banyak, ya!”
“Mau apa lo? Nanti gua minta beliin ke Rifky sekalian.”
“Eh gak usah! Kirain lo yang beli. Gak jadi gua kalau Rifky yang beli.”
“Ya elah, sama ini. udah buruan lo mau apa?”
Ciama menolak dengan tegas. Tidak enak rasanya terus membebani lelaki yang baru saja menolong Ciama itu dengan menyuruhnya membeli makanan. Lebih baik ia yang membeli saja sembari pergi ke rumah Shasa, kan? Dan lagi, ia kan hanya berniat bercanda. Kenapa Shasa malah serius seperti itu, sih?
“Gak usah ngadi-ngadi, Sha. Gua gak mau. Mending gua yang beli aja sendiri.”
“Ya udah, terserah. Gua nitip ayam pedes manisnya Mbak Junim ya?!”
“Iya. Udah dulu, gua harus focus nyetir. Bye!”
***
“Lho, Ciama?”
Ciama langsung menolehkan kepala begitu mendengar suara yang tak asing masuk ke indra pendengarnya. Gadis itu tersenyum manis kala lelaki yang kemarin membantunya itu menghampiriya dengan wajah bingungnya.
“Hai, Ky!”
“Kok lo di sini? Bukannya tadi Mama lo baru aja pulang, kan?” Tanya Rifky bingung, Ciama tersenyum kecil. Ia lalu menggeser tempat duduknya agar Rifky bisa duduk di sebelahnya dengan tenang. Di tangan lelaki itu ada banyak kantong plastic dengan merek salah satu supermarket yang terkenal di kota mereka. Yang Ciama sudah pastikan kalau isinya adalah cemilan yang diminta oleh Shasa.
“Mau ada perang dunia di rumahnya. Lo tahu, kan?” Ujar Shasa dengan halis kiri yang terangkat dan bibir yang tersenyum miring. Rifky hanya membalas dengan senyuman. Lelaki itu tidak perlu bertanya lebih detail lagi seakan sudah tahu apa maksud dari ucapan Shasa tadi. Menaruh kantung plastic ke atas meja, Rifky sesaat memandang ke arah Ciama yang anteng dengan laptop dan juga ponsel gadis itu.
“Ngerjain apaan?” Tanya Rifky penasaran.
“Oh, ini lagi ngerjain tugas minggu depan yang buat presentasi itu. Males kalau di nanti-nanti. Mumpung ada lo juga, kan? Jadi bisa nanya sama ahlinya buat resentasi,” kelakar Ciama seraya menunjukkan laptopnya yang menampilkan Microsoft power point. Rifky yang mendengarnya jelas langsung tertawa, apalagi wajah Ciama yang tengah menaikkan halis itu terlihat sangat menggemaskan di mata Rifky. Ia memang sudah tidak aneh lagi dengan julukan teman-temnanya tentangnya yang disebut sebagai ahli prsentasi. Hal itu bermula dari dirinya yang berhasil mendapatkan nilai sempurna ketika presentasi pertama kali tanpa bantuan kelompok. Yang tentu saja membuat anak-anak yang lain begitu kagum padanya. Padahal aslinya ia bisa menguasai materi juga karena menghapal.
“Oh iya, Ky.”
“Kenapa?” Rifky menaikkan halisnya dan menatap Ciama bingung.
“Kata Mama gua, makasih ya..”
Rifky tersenyum dan mengangguk kecil. “Santai aja. Lagian tadi juga gua kebetulan ada di sekitar jalan itu.”
“Tapi kan tetep gak enak kalau gua gak bilang langsung sama lo, Ky.”
“Iya, sama-sama. Btw, gimana Adek lo? Udah kagak nangis lagi, kan?” Tanya Rifky dengan kekehan di akhir. Ciama yang mendengarnya spontan mendengkus. Ia padahal sudah lupa dengan kejadian di bandara di mana Reza yang menangis bagai anak yang baru bertemu dengan ibunya setelah sekian lama. Itu sangat memalukan. Ditambah bandara sangat penuh saat itu. membuat Ciama ingin tenggelam saja rasanya. Kalau saja tidak ada Rifky di sana, sudah pasti bibir lemesnya ini akan langsung mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Reza. Beruntungnya imagenya sebagai perempuan masih terjaga dengan baik saat itu.
“Emang tadi Rifky yang anterin lo? Bukannya Kak Marcel?” Tanya Shasa. Ciama yang mendengar ucapan Shasa langsung membulatkan matanya horor. Kenapa gadis itu bisa keceplosan di waktu yang tidak tepat, sih? Pasalnya Ciama mengatakan kepada Rifky kalau ia dan Reza tadi sempat naik taxi namun mogok tengah jalan dan meminta Rifky menjemput.
“Eh, bukan taxi? Tapi Kak Marcel?” Tanya Rifky dengan mata yang menatap Ciama dengan jahil.
“Iya, gua juga taunya dari Adel. Tadinya gua mau ke rumah lo mau ambil buku catatan merah. Eh, pas gua tanya sama Adel jadi ke bandara apa nggak, Adel bilang kagak jadi. Katanya lo mau berangkat sama Kak Marcel aja,” jawab Shasa lugas tanpa ada yang terlewat sana sekali. Ciama seharsunya sudah tahu jika temannya yang satu ini cukup mengesalkan dan sangat sulit menjaga rahasia. Kenapa Ciama mau berteman dengan Shasa sih?
“Oh, gua kira taxi lo mogok,” sindir Rifky dengan wajah yang kentara sekali mengejek Ciama. Shasa yang tidak mengerti dengan maksud sepupunya hanya bisa mengedik acuh dan memakan cemilan yang Rifky bawa. Sedangkan Ciama sudah meringis tidak enak hati sejak tadi. Rifky cukup mengerti dengan wajah Ciama yang tampak tak enak. Lagi pula ia tidak keberatan kalaupun Ciama diantar oleh Marcel. Hubungan keduanya juga lebih jelas dari pada hubungannya dengan Ciama yang abu-abu, kan?
“Ci, gua tadi dapet pesen dari Adel buat jauhin sementara Kak Marcel. Emang ada apa? Lo marahan sama Kak Marcel apa sama Adel?”
“Jauhin?”
“He’em.” Shasa menganggukkan kepalanya denga lucu. Di mulut gadis itu ada sendok es krim yang tentu saja menambah kesan gemas pada siapapun yang melihat. Tak terkecuali Ciama yang kini menatap Shasa dengan raut ingin memakan gadis itu.
“Kok bisa sih lo masih jomblo, Sha?”
“Apa hubungannya?” Tanya Shasa bingung.
“Muka lo tuh gemesin,” jawab Ciama salah focus.
“Gak usah alihin pembicaran, ya!”
“Di bilang gemes malah gak mau. Ngalihin pembicaraan dari mana coba? Gua aja yang gagal focus.”
Shasa mencebik dan memanyunkan bibirnya ke depan wajah Ciama. “Udah buruan jelasin! Kenapa lo sama Kak Marcel?”
“Kepo banget sih, sama urusan orang?”
“Masalahnya lo tuh begonya sebelas dua belas sama gua. Jadi kalau nanti gua ada masalah percintaan dan ternyata sama nasibnya sama lo, gua kan bisa ambil pelajarannya. Jadi gak b**o kaya lo!”
“Emang temen sialan!” Umpat Ciama yang berhasil membuat tawa Shasa menguar.
“Jadi kenapa?”
Ciama menghela napas pelan. “Gua sebenernya gak tahu kenapa. Tapi yang pasti semenjak postingan foto di instragamnya Kak Marcel, cowok itu tuh kaya beda gitu. Gua juga gak paham sih, kenapanya. Yang pasti gua gak nyaman sama apa yang dipostingnya. Pas gua nanya, dianya sensi banget kek dapet mens!”
Shasa mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Gadis itu lalu melirik Rifky yang sejak tadi diam di sebelah Ciama. Kening Shasa mengerut menemukan mata Rifky yang biasanya melembut itu kini menatap tajam. Belum lagi tangannya yang mengepal di sisi kakinya.
Kenapa dengan lelaki itu?