Kedua mata berwarna hijau itu terus menatap ke samping dengan wajah khawatirnya. Tangannya terus memilin baju karena tak tahu harus berbuat apa. Lelaki di sebelahnya belum juga membuka suara setelah acara makan siang yang diadakannya tadi. Rasanya sakit melihat lelaki itu kembali diam dan tidak mengeluarkan kalimat apapun. Bahkan saat akan pulang dan memintanya segera masuk ke dalam mobil, lelaki itu hanya memberi klakson sebelum akhirnya pergi. “Kita sampai,” ujarnya dengan suara yang dingin. Ciaam mengeratkan tangannya pada sabuk pengaman. Rasanya sesak melihat lelaki itu kembali bersikap tidak biasa. “Aku ke dalam dulu kalau gitu. kakak mau—“ “Aku masih ada urusan,” potongnya yang berhasil membuat Ciama terdiam. Menunggu beberapa saat, Ciama kira pintu akan segera terbuka seperti bia

