Jalanan sore ini terlihat macet karena bertepatan dengan jam pulang kerja. Ayra gagal memprediksi hingga ia harus tiba di rumah setelah jam menunjukkan pukul tujuh malam.
"Assalamualaikum, Maaf, Bu. Aku.”
Ayra membelalakkan matanya seketika, kala melihat seseorang pria yang kini tengah menatap tajam dirinya. "M-mas udah pulang?” anya Ayra tergugup, tangannya bahkan sudah gemetaran karena takut.
"Pamit sama Ayah dan Ibu,” titah Evan dengan tegas.
Bukan menjawab pertanyaan sang istri, Evan malah menyuruhnya untuk segera pulang.
Ayra pun mengangguk, Ia lalu ke dapur dan pamit pada sang Ibu. "Bu, aku pamit dulu ya,” kata Ayra pelan.
“Makan dulu, Ra. Ajak suamimu,” tawar Ibu Indah.
Ayra menggeleng. “Nggak usah, Bu. Mas Evan ngajakin pulang,” tolak Ayra halus.
Ibu Indah pun mengangguk paham. "Iya udah kalau begitu.” Ibu Indah mengikuti langkah kaki Ayra yang tengah berjalan ke arah ruang tamu.
"Ayra. seperti nya suasa hati suamimu lagi nggak bagus. Kamu harus pintar-pintar ambil hatinya ya, Ra,” kata Ibu Indah kemudian mengelus rambut sang anak. "Ibu selalu berdoa semoga pernikahan kalian selalu diberikan kebahagiaan. Aamiin." Ibu Indah mendoakan dengan tulus untuk kebahagiaan anak dan menantunya itu.
"Aamiin ya robbal Alamin. Makasih ya, Bu doa nya. Aku pamit dulu assalamualaikum,” ucap Ayra.
Ibu Indah dan Ayra sudah tiba di teras depan rumah.
“Bu kami pamit pulang dulu,” pamit Evan pada mertuanya.
“Hati-hati, Mas. Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut,” pesan Ibu Indah.
Evan pun mengangguk. Dan tak lama mobil yang di kendaraan Evan pun berlalu pergi, meninggalkan kediaman mertuanya.
Hening!
Tidak ada percakapan antara keduanya saat di dalam mobil. Hingga tanpa sadar mereka sudah tiba di rumah.
Evan pergi begitu saja meninggalkan Ayra yang masih berdiam diri di dalam mobil, Ayra heran apa yang membuat sang suami begitu terlihat marah padanya, padahal Ia sedang tidak melakukan kesalahan apapun. Ah Ayra tak mau ambil pusing memikirkan suaminya itu, akhirnya Ayra memilih ikut masuk kedalam rumah.
Di sana Ayra melihat sang suami yang tengah tertidur dengan posisi telungkup di atas Sofa depan televisi. Ayra bergerak ragu-ragu untuk mendekat.
"Mas,” panggilnya lirih. "Ganti baju dulu baru tidur lagi, Mas,” ucap Ayra sambil menggoyang-goyangkan lengan sang suami dengan pelan.
Melihat tak ada pergerakan sama sekali dari sang suami pun Ayra berpikir, sepertinya suaminya itu sudah benar-benar tertidur pulas. Akhirnya Ayra pun memutuskan untuk berbalik badan.
Dan seketika tubuh Ayra jatuh tepat di atas tubuh sang suami. Ya, lengan Kokoh dan berotot itu baru saja menarik tubuhnya.
"Maaassss, lepas!" sentaknya terkejut.
Bukan Ayra tidak terima, ia hanya sedikit gugup saat merasakan posisi mereka seintim ini.
"Kenapa?" tanya Evan lalu menaikkan sebelah alis matanya.
"Aku.”
Belum sempat Ayra melanjutkan ucapannya sang suami sudah lebih dulu membungkam mulutnya. Menyatukan bibir keduanya dengan gerakan cepat dan tepat Evan pun melumat bibir bawah dan atas milik sang istri secara bergantian.
“Hmm.” Ayra pun melenguh karenanya.
"Buka mulutmu, Dek. Balas ciuman, Mas,” kata Evan saat tautan bibir keduanya terputus.
Dengan nafas yang masih ngos-ngosan Ayra pun menggelengkan kepalanya pelan. "Aku nggak bisa, Mas.” Ayra pun tampak tertunduk malu. Jujur saja ini adalah ciuman pertamanya.
Evan pun mengulum senyum. "Nggak apa-apa nanti, Mas ajarin biar kamu bisa." Pria tampan itu lalu menatap sang istri dengan tatapan mata yang sulit di artikan.
Dengan gerakan cepat Ayra mendorong pelan d**a bidang sang suami. Berharap Evan mau melepaskan pelukannya. "Mas, permisi aku mau mandi dulu. Gerah!"
Dari raut wajahnya, terlihat jelas Ayra merasa sedikit tidak nyaman atau lebih tepatnya malu dan salah tingkah.
Melihat wajah sang Istri yang terlihat kesal, Evan pun langsung melepaskan tautan tangannya pada pinggang sang istri. Daan dengan gerakan cepat itu pula Ayra berlalu pergi ke kamar mandi.
*
*
*
Sesaat setelah selesai makan malam bersama. Pasangan suami istri itu kini tengah berbaring di atas ranjang, dengan Ayra yang membelakangi tubuh sang suami, Ia masih asyik menyelami dunia maya dengan sesekali membalas beberapa chat dari sahabatnya.
Beberapa saat kemudian, satu pesan masuk dari nomor baru yang tidak dikenalnya.
“Hai, Ra. Ini gue Adit. Save no gue ya.”
“Oke siap, Dit,” balas Ayra singkat saja.
“Lagi apa, Ra? Aku ganggu kamu nggak? Kalau kapan-kapan aku ajak kamu nonton balapan mobil kayak tadi. Kamu mau nggak?” Adit bertanya panjang lebar.
Ayra baru akan menjawab pesan tersebut. Namun, tiba-tiba saja ponselnya sudah di rebut paksa oleh sang suami.
Evan lalu menaruh kasar ponsel tersebut di atas nakas, Ia lalu memicingkan matanya menatap tajam ke arah sang istri.
"Dari mana kamu tadi?" tanya Evan sedikit membentak.
Rupanya sejak tadi Evan juga ikut membaca chat yang ada di ponsel Ayra.
Awalnya Evan ngin marah saat mendapati Ayra tidak ada dirumah. Tapi, Ibu Indah berkata bahwa sang anak sedang berada di rumah sahabat nya untuk main sebentar. Evan pun mengangguk paham dan mencoba mempercayai sang istri.
Namun, rasa kesal di hatinya kembali mencuat saat membaca pesan itu. Ternyata Ayra tidak berada di rumahnya melainkan pergi bersama laki-laki lain.
"Dari mana kamu, hah?” tanya Evan sekali lagi dengan nada bicara yang sudah meninggi.
"A-aku dari rumah Mela, Mas,” ucap Ayra berdusta.
Tentu saja Ayra tak akan berani berkata jujur kemana tadi Ia pergi bersama teman-temannya.
Evan menyipitkan matanya menatap tajam sang istri. "Kamu bohongin Ibu?" tuduh Evan.
Ayra menggelengkan kepalanya takut. "Aku nggak bohongin Ibu, Mas.” Lagi, Ayra pun kembali berbohong.
"Dan sekarang kamu bohong sama Mas!” bentak Evan dengan raut wajah yang sudah memerah karena marah.
Evan memilih keluar kamar dan meninggalkan sang istri sendiri.
Salah satu sifat Evan yang tidak diketahui oleh Ayra. Pria itu mudah sekali tersulut emosi saat ada sesuatu hal yang memancing amarah nya. Daripada nanti terjadi keributan d antara mereka berdua, maka Evan pun memutuskan untuk menghindar.