Keesokan harinya.
Semalam Ayra tidur larut malam karena menunggu suaminya pulang, alhasil pagi ini ia bangun kesiangan. Ayra menggeliatkan badannya pelan, Ia lalu melihat jam di ponselnya.
"Astagfirullah, udah jam tujuh aja.” Ayra pun memekik kaget, Ia lalu melihat sekelilingnya sambil mendesah nafasnya kesal.
Keadaan sekitar masih sama seperti semalam. Ya, sejak Evan menuduh Ayra membohonginya pria itu pun pergi keluar rumah dan rupa nya tidak juga kembali hingga pagi ini. Sebenarnya kemana pria itu pergi?
Tak ingin berlarut memikirkan Evan. Ayra pun memilih untuk segera membersihkan diri dan melakukan kegiatan bersih-bersih rumah, saat akan masak Ia tak sengaja membuka tutup tudung saji di atas meja makan.
"Dek, sarapannya jangan lupa dimakan!"
Isi sebuah note yang terletak di samping sepiring nasi uduk. Rupanya sang suami sudah pulang kerumah, tapi kenapa Evan tidak membangunkannya? Setidaknya Ayra juga ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya kemarin.
“Assalamualaikum. Mas makasih sarapannya.”
Ayra mengambil handphone nya lalu mengirim pesan tersebut pada sang suami. Tak lama Ayra mendapat balasan dari sang suami.
“Waalaikumsalam. Iya, sama-sama,” balas Evan singkat saja.
“Mas masih marah sama aku?” tanya Ayra.
“Kita bahas nanti malam. Mas minta hari ini kamu jangan keluar rumah. Mas larang kamu buat pergi kemanapun,” titah Evan dengan tegas.
“Baik, Mas,” sahut Ayra patuh.
Setelah selesai dengan kegiatannya Ayra pun langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, dan karena gabut ia pun memilih menscroll akun instakilo nya.
Tak lama ponsel Ayra pun berdering.
"Assalamualaikum, ada apa Mel?" tanya Ayra di balik sambungan telepon.
"Wa'alaikumsalam, Ayra. Kita kongkow yuk!” ajak Mela. “Sekalian temenin gue ke kampus bentar.” Mela meminta tolong pada Ayra agar sahabatnya itu mau menemaninya pergi ke kampus.
Ayra pun tidak langsung menjawab, Ia terlihat berpikir sebentar. Tadi Evan melarangnya pergi kemanapun hari ini, tapi jujur Ayra mulai bosan jika harus berkurung di dalam rumah seperti ini.
“Pergi bentar nggak apa-apa kali ya. Nanti gue balik sebelum Mas Evan pulang ke rumah.”
Ayra nekad memilih pergi, dan lebih fatalnya lagi ia pergi tanpa meminta izin dulu pada sang suami.
"Oke, Lu jemput gue ya. Nanti gue share loc alamatnya,” ucap Ayra sambil membersihkan meja bekas makannya tadi.
"Siap, Bos. Setengah jam lagi gue sampai rumah Lu, Ra.” Mela berseru senang karena Ayra mau memenuhi keinginan nya.
Panggilan telepon pun terputus.
Ayra lalu masuk ke dalam kamarnya dan kembali bersiap-siap. Beberapa saat kemudian dua sahabat Ayra pun tiba di depan rumahnya. Tadi, Ayra pikir Mela akan menjemputnya dengan mobil. Tapi, ternyata tidak. Alhasil dengan terpaksa Ayra pun mengeluarkan motor matic dari dalam garasinya.
"Lama amat sih Lu, Ra,” geruru Mela kesal.
Ia sudah menunggu sahabatnya itu, sudah lebih dari lima belas menit.
Ayra pun nyengir, menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Sorry beb, bersih-bersih dulu tadi. btw ini gue naik motor sendiri?" tanya Ayra saat melihat Risa sudah duduk manis di belakang Mela.
"Iya. Nggak apa-apa ya, Ra. lu bawa motor sendiri? yang penting kita kongkow. Kuy lah gasss ayo,” ajak Mela bersemangat.
"Ayo, Ra. malah bengong sih Lu!" tegur Risa yang terlihat sudah tidak sabaran.
"Ya udah ayo jalan.” Ayra mengangguk lalu menyalakan starter motor nya.
"Aduh kok perasaan gue tiba-tiba nggak enak gini ya,” gumam Ayra cemas dalam hati.
Dua motor matic pun melaju dengan kencang, tujuan mereka yang pertama adalah datang ke kampus. Tempat dimana Mela dan Risa menuntut ilmu, ya mereka berdua adalah calon mahasiswi baru Fakultas Hukum.
"Gue tunggu sini aja deh, masak iya gue nggak kuliah ikut masuk ke dalam,” kata Ayra lalu turun dari motornya.
"Nggak apa-apa, Ra?" tanya Mela merasa tidak enak. “Janji deh gue nggak bakal lama.”
"No problem. Gue sambil duduk di warung itu deh,” ucap Ayra lalu menunjuk warung kopi yang ada di depannya.
Mela dan Risa pun mengangguk, mereka lalu izin sebentar untuk masuk ke dalam kampus.
Ayra pun dengan sabar menunggu kedua sahabatnya sambil memesan es kopi s**u di warung tersebut.
"Gini banget ya nasib gue dipaksa nikah, harusnya gue mungkin sekarang lagi seneng-seneng belajar kayak mereka," gumam Ayra dalam hati bersedih, kala melihat para mahasiswa/i yang tengah keluar masuk ke dalam kampus tersebut.
"DORRR!!!!" Risa menepuk bahu Ayra dengan keras. "Bengong aja, Lu!" ucapnya lalu tanpa basa-basi menyeruput es kopi s**u milik sahabatnya itu.
Ayra pun refleks menoleh sebentar. "Gue lagi ngeliat orang-orang yang mau kuliah, enak kali ya jadi mereka,” gurau Ayra lirih dengan pandangan mata fokus kedepan.
"Ayra, maafin gue ya gara-gara gue nih. Lu jadi di paksa nikah sama pak dokter itu,” ucap Mela lirih.
Jika mengingat kejadian itu perasaan bersalahnya muncul lagi. Ia jadi tak enak hati pada Ayra, karena ide konyolnya itu malah membuat salah satu dari sahabatnya terpaksa menikah muda.
"Nggak apa-apa Mel, udah takdir gue kali nikah.” Ucapan Ayra pun terputus.
"AYRA,” panggil Alvero dari kejauhan sambil melambaikan tangannya. Ia lalu berlari kecil menghampiri gadis tersebut. "Lu jadi kuliah di sini juga?" tanya Alvero penasaran.
Ayra pun menggelengkan kepalanya. "Nggak Al, gue cuman anterin Mela sama Risa doang,” jawab Ayra lalu menghampiri penjual kopi tersebut, tak lama Ia pun terlihat tengah membayar beberapa jajanannya tadi.
"Terus lu kuliah dimana jadinya?" tanya Alvaro saat Ayra sudah berada di sampingnya.
"Gue belum.” Ayra tidak jadi melanjutkan perkataannya, sebab sang sahabat telah lebih dulu menepuk lengannya pelan.
"Ayo, Ra. berangkat sekarang, cowok gue udah nungguin nih!" ajak Mela, Ia masih fokus memainkan ponselnya guna membalas pesan sang kekasih.
Ayra pun mengangguk. "Ya udah ayo!" ajaknya, Ia lalu berjalan pelan menuju parkiran motor nya.
"Kalian mau kemana?" tanya Alvaro kepo.
"Mau kongkow Al, di warung mbok Ijah. kangen sama soto babatnya,” jawab Risa lalu tersenyum.
Alvaro pun mengangguk-anggukan kepalanya paham. "Gue ikut kalian boleh nggak?" tanya Alvero lalu menatap tiga gadis yang ada di depannya ini secara bergantian.
"Ya udah ikut mah ikut aja Al." Mela memberikan izin sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Tapi motor gue dipinjem Bagas tadi, gue bonceng salah satu dari kalian ya?" kata Alvaro pelan.
"Ya udah sama Ayra aja lu boncengan nya,” kata Risa memberi saran.
"Jangan!!!" tolak Mela mentah-mentah. "Lu sama Risa Al, terus gue sama Ayra yang boncengan,” sanggah Mela kemudian.
Risa menggelengkan kepalanya cepat. "Jangan gue Mela dodol, kalau temen bokap gue lihat gue bonceng sama cowok bisa habis gue nanti,” tolak Risa kesal.
Ya, Risa ini memang dilarang keras oleh sang ayah untuk berpacaran. Jangan berpacaran berteman biasa dengan anak laki-laki pun Ia tak boleh. selama ini sang Ayah hanya percaya pada kedua sahabatnya Anin dan Mela. maka dari itu Risa bebas pergi kemana saja asal bersama Ayra dan Mela. jangan lupa di mana-mana banyak mata-mata sang Ayah. yang bisa saja melaporkan kegiatannya sewaktu-waktu.
Mela pun memijat keningnya yang sedikit pusing. "Sekali aja deh Ris? gue yakin mata-mata bokap lu kali ini nggak ada yang ngeliat,” ucap Mela memelas, Ia tak mungkin membiarkan Ayra yang berboncengan dengan Alvaro.
"Nggak gue nggak mau!!!" ucap Risa menolak keras, Ia tak mau jika nanti sang ayah tidak mengizinkan nya lagi keluar rumah.
"CK!!! lu gitu amat sih Ris, gue nggak mungkin nyuruh Al boncengan sama Ayra." decak Mela kesal, Ia lalu melipat kedua tangannya di d**a.
"Emang kenapa kalau Ayra boncengan sama gue, Mel?" tanya Alvaro lalu menaikkan sebelah alis matanya.
"Ya karena Ayra udah ni.” Seketika itu juga mulut Mela di bekap oleh Ayra.