aina yg sudah selesai menyuapi anak asuhnya itu makan mlm, asyik mengajaknya bermain, hingga tak terasa adzan isya sudah berkumandang,
aina membereskan mainan VANA yg sedang asik merebahkan diri di karpet busa yg terbentang di kamar mainnya,
aina kemudian menggendong VAN keluar kamar, iya menuju ruang di mana mba bunga biasa menghabiskan waktu dg setumpuk setrikaan bajunya, kamar itu memang tidak ada pintunya,
aina mengintipkan pandangannya,
mba lagi sibuk ngga, boleh ttip VANA sebentar, aku mau sholat isya dlu,
ucap aina pda temannya itu yg sedang duduk ngampar menikmati segelas teh di tangannya,
iya sus, solat aja, sini Vana sma mba bunga ya cantik,
aina kemudian menunaikan solat isya di kamarnya, setelah selesai ia kembali keluar dari kamar, menghampiri mba bunga yg sedang main dg vana,
uda sus solatnya,
udah mba,
mba jam berapa biasanya ibu pulang, kayaknya dia blm pulang ya,
tanya aina heran,
biasa itu sus, apa lg uda 4 hari dia di rumah terus, nanti yg ambil vana biasanya bapak setelah pulang dari masjid.
ooo gitu mba,
aina msh bingung sebenarnya ada apa sih sama pasangan majikannya itu,
saat aina tengah kalut dg rasa penasaran yg dri tdi sudah kembali memenuhi kepalanya,
terdengar suara dari bawah yg mengagetkannya,.
Vana,,,, turun sini sayang.
suara khas tuan haryadi memanggil putrinya turun,
tuh si bapak pulang , kata mba bunga pada aina,
iya sebentar pa, jawab aina pada suara itu,
yuk kita turun Van,.
gadis kecil itu bersemangat sekali sembari menggoyang2kan tubuhnya tak jelas,
setelah sampai di lantai bawah, aina menjumpai sosok tampan yg berdiri di dekat tangga, masih lengkap mengenakan koko, sarung & juga pecinya, sajadah masih tersampir di bahu kekar itu,
pinter makannya sus,
tanya lelaki itu pada aina,
alhamdulillah pa, jawab aina lbh tenang di bandingkan dg tadi sore.
wah, anak ayah hebat ya,
tanya tuan haryadi lagi pada putri, yg di respon dg tawa yg tak jelas arahny,
tiba2 suara garasi terbuka, menghadirkan suara khas perempuan yg tak asing bagi aiana,.ya itu suara nyonya haryadi yg mengucap salam perpisahan dg teman2nya,
tunggu sebebtar ya sus,
perintah tuan haryadi pada aina yg tidak sempat di balas karna iya dg cepat pergi untuk membuka pintu,.
saat mendapati suaminya yg membukakan pintu, nyonya haryadi sama sekali tdk terlihat, kaget atau takut , dia bahkan seperti orang yg sudah terbiasa, dia lngsung menyelonong masuk di iikuti tuan haryadi setelah menutup pintu kembali,
jadi kalo senam jam segini baru pulang?
terus pakaiannya juga bersih? rapi, seperti orang yg habis jalan2?
tanya tuan haryadi geram pada istrinya itu, suaranya sedikit berteriak hingga menghentikan langkan kaki wanita itu.
memangnya kenapa, aku dari sanggar senam lanjut ngopi dg temen2, udah lama juga kan aku di rumah terus, jawab wanita itu tak kalah kesal,
sudah menjadi kewajibanmu kan, sebagai istri & seorang ibu???
cecar tuan haryadi yang sudah mendekat pada istrinya semakin geram,
bisa ngga sih, kalo orang baru pulang itu jangan langung di ceramahin.?
teriak wanita itu semakin kuat sembari mendorong tubung suaminya itu,
karna tidak tau kalu akan di dorong dg dorongan yg cukup kuat,
tuan haryadi terhuyung, hingga tubuhnya menabrak aina yg dari tadi bingung mendengarkan suami istri itu beradu mulut,
nyonya haryadi yg seperti tak punya rasa bersalah langsung masuk ke dlm kamarnya, dg menutupnya dg kencang,
hati aina bergetar hebat, iya merasa sangat takut & juga malu, karna tidak sengaja menyaksikan perdebatan suami istri itu,
tuan haryadi menghela nafas panjang & menghepaskannya kasar, ada begitu banyak beban tergambar jelas di raut wajah tampan itu, iya berdiri menengok aina yg sudah lbh dulu berdiri, tp iya terus menundukan pandangannya, tuan haryadi melihat ada ketakutak pada gadis belia yg saat ini berdiri di sebelah anak tangga, tangan aina msh menggenggam erat tangan VANA yg tetap dg tawa khasnya,
kamu tidak apa2 sus?
tanya tuan haryadi sedikit khawatir,
tidak papa ko pa,
jawaban aina dg wajah yg tetap tertunduk,
sukurlah kalo kamu tidak papa, sini vana sama ayah ya nak.
ketika tangan lelaki itu ingin meraih putrinya dari genggaman aiana, iya kaget karna ada darah yg menetes ke lantai, darah itu bersal dari kening aina yg tdk sengaja terbentur pinggiran anak tangga,
kamu berdarah sus. suara itu mengagetkan aina yg bahkan tak sadar kalau dirinya terluka, lelaki itu berpaling & berjalan menuju kotek p3k yg tergantung di dinding, sementara aina msh syok & ketakutan
obati dlu lukamu sus,? kalo tidak nanti bisa infeksi,
aina reflek menarik kotak p3k yg di genggang tuannya itu,
saya akab obati di atas pak.,
jawab aina singkat, ia terlihat sedikit berlari menaiki anak tangga,
meninggalkan tuannya yg di penuhi dg perasaan yg tidak bisa di gambarkan