setelah memanaskan makanan VANA, yg di temani mba bunga yg juga sedang menyiapkan maka malam utk majikannya itu.
tiba2 suara berat, merdu, yg sudah tak asing bagi aina menyadarkan mereka berdua.
ibu kemana mba?
tanya suara itu pada mba bunga, aina yg tidak tau kemana perginya nyonyah rumah itu hanya diam saja,
ibu kan pergi senam pa.
jawab mba bunga singkat,
selalu saja begitu, entah kapan dia akan berubah, bukannya diam di rumah menunggu suami pulang, malah sibuk dg diri sendiri,
wanita egois.
umpat laki2 itu yg membuat aina kaget bukan main, ada begitu pertanyaan dlm hatinya,
apa sebenarnya yg terjadi dg keluarga ini. batin aina bingung, berbeda dg mba bunga yg sudah paham akan seluk beluk keluarga haryadi ini,
sus, udah siap?
tanya tuan haryadi membuyarkan segudang tanya yg bersliweran di kepalanya.
sudah pa.?
cantik kamu makan dlu sma suster ya,
nanti setelah habis iysa kita main lagi,
ucap suara lelaki gagah itu pada putrinya, lalu menyerahkan VANA pada aina,
aina yg mengulurkan tangannya utk mengambil vana dari pelukan ayahnya, tersenyum simpul, memperlihatkan lesung ppit yg cukup dalam di pipi sebelah kanannya,
yuk sayang, kita naik keatas.
kata aina pada vana, yg di sambut dg uluran tangan vana yg begitu antusias,
mba bunga mengekori aina ke lantai dua utk membantunya membawakan mkann & air utk aina,
sedangkan tuan haryadi msh terpaku menatap bayangan dua asisten rumah tangganya itu hilang dari pandangannya,
iya heran kenapa perempuan semuda aina mau bekerja jadi bebysister,
karna kebanyakan perempuan seumuran aina ya maunya kerja dg pekerjaan yg cukuo bebas & menyenangkan bgi kebanyakan gadis se-usianya, apalagi aina di dukung penampilan yg cukup menarik, meski dlm penampilan yg sederhana,
bukan hanya itu iaa juga cukup heran kenapa putrinya meski tidak bisa bicara mengekspresikan kalo dia sangat menyukai aina