bc

CINTA PEMBAWA PETAKA

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
BE
sensitive
tragedy
bxg
small town
secrets
affair
like
intro-logo
Uraian

Zahra bersahabat dengan Andri sejak kecil hingga saat dewasa tumbuh cinta di hati Zahra. Namun, Andri lebih memilih wanita lain yang dijodohkan oleh kedua orang tuanya, mengetahui hal itu membuat Zahra sakit hati dan berniat merebut Andri  dengan cara mencelakai istrinya, tetapi justru berakhir tragis.

chap-preview
Pratinjau gratis
MULAI MENYADARI
Seorang gadis tampak terlihat sedang bingung, sejak tadi dirinya tidak berhenti berjalan mondar-mandir hingga membuat Ibunya merasa bingung. “Zahra! Berhenti. Ibu pusing liatnya,” ucap seorang wanita dengan wajah kesal. "Nggak usah diliat,” jawab Zahra seraya menoleh ke arah Ibunya yang baru saja datang. Marni heran mendapat jawaban seperti itu. Dia lalu menatap tajam ke arah Zahra hingga membuat gadis yang menggunakan pakaian santai serta riasan tipis langsung menundukkan wajah setelah menyadari kesalahannya. “Siapa yang mengajari kamu berkata kasar? Ibu tidak suka.” “Maaf Bu, aku tidak sengaja.” Zahra menyesali perkataannya beberapa saat lalu. “Ibu maafkan, tetapi jangan diulangi lagi.” Marni tentu tidak suka dengan cara bicara Zahra yang dinilai tidak sopan. Zahra langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti membuat Marni tersenyum kecil, tetapi kini rasa penasaran muncul mengingat kembali bagaimana Zahra terlihat cemas bahkan seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia lantas menghampirinya demi menemukan jawaban dari rasa ingin tahu yang ada dalam hatinya saat ini. “Kamu sedang memikirkan apa?” Marni menyentuh bahunya dengan tatapan penuh tanya. “Bagaimana pendapat Ibu tentang Andri?” Tiba-tiba Zahra melontarkan pertanyaan yang membuat Marni tampak bingung. “Kenapa bertanya hal itu? Kamu ini aneh. Tentu saja Andri baik, lagian kalian sudah bersahabat sejak kecil,” ujar Marni dengan tatapan heran. Zahra membalik badannya hingga keduanya saling berhadapan, tentu saja saat ini dia sedang mencari jawaban tentang perasaan yang kini membuat dirinya sendiri bingung. “Iya aku tahu, tetapi bukan itu maksudnya,” jawab Zahra dengan sedikit kesal. “Lalu apa? Sudah jangan membuat Ibu pusing. Lebih baik kamu tidur,” titah Marni. “Ah ... Ibu,” Zahra yang merasa kesal bergegas melangkah pergi dari sana. Sebenarnya dia kecewa karena tidak bisa mendapat jawaban apa pun dari Ibunya. Marni hanya menatap kepergian putrinya itu dengan raut wajah bingung, terlebih dia tidak mengerti sama sekali apa yang sebenarnya di maksud dari pertanyaan Zahra beberapa saat lalu. Tidak mau ambil pusing dia lalu melangkah pergi menuju kamarnya. Zahra masih belum bisa tertidur padahal sudah sangat larut sekali, entah mengapa sehari ini dia tidak berhenti memikirkan Andri. Bahkan setiap kali mereka bertemu Zahra merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, sambil menatap foto pria yang selalu menemani hari-harinya dari kecil hingga keduanya tumbuh dewasa bahkan sudah banyak hal dilalui mereka. Sekarang Zahra menyadari kalau apa yang dia rasakan adalah cinta. Iya, dia jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Dengan senyum mengembang diujung bibir yang berwarna merah serta terlukis kebahagian di wajah cantiknya, menandakan kalau saat ini dirinya tengah bahagia, lalu merebahkan diri sambil memeluk foto dalam dekapannya. ** Keesokan harinya, Zahra sudah merias dirinya dengan sangat cantik, senyum terus mengembang diujung bibirnya sampai Marni sangat heran melihat hal itu. “Sepertinya anak Ibu sedang bahagia,” ujar Marni sambil memberikan sebuah kotak makan. “Tentu saja, oh. iya, Apa Andri sudah datang?” tanya Zahra sambil memasukkan bekal ke dalam tasnya. “Sudah, tuh.” Marni menunjuk ke arah pintu depan. Zahra semakin bahagia saat tahu ketika Andri seperti biasa menjemput dirinya kerja, tanpa menunggu lama dia berpamitan lalu berlari menuju pintu depan di mana Andri sudah menunggunya. “Andri!” Pria bertubuh tinggi itu lalu membalik saat mendengar namanya disebut, senyum langsung mengembang di bibirnya membuat jantung Zahra kembali berdetak semakin kencang sampai membuatnya diam terpaku. “Ara, ayo.” Andri melambaikan tangannya tepat di hadapan wajah Zahra hingga membuat gadis itu tersadar. “Iya.” Wajahnya langsung merah merona saat ketahuan melamun, demi menutupi rasa malu dia segera menarik tangan Andri. Andri hanya terkekeh geli melihat tingkah Zahra seperti itu tentunya bukan hal yang aneh jika setiap kali malu dia akan salah tingkah, tidak menunggu waktu lama keduanya langsung melangkah pergi menuju motor yang terparkir di depan halaman rumah. Karena tempat kerja keduanya satu arah jadi setiap hari Andri menjemput Zahra untuk berangkat bersama, tetapi hati ini. Zahra merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Dia ingin sekali waktu berhenti sejenak agar bisa lebih lama berduaan bersama dengan Andri. “Ra, nanti aku gak bisa jemput. Kamu pulang sendiri nggak apa-apa?” Andri baru ingat kalau sore ini dia ada pekerjaan tambahan dari Wa Haji sampai lupa memberitahukan hal itu terlebih dahulu. “Gak mau, Aku nanti menunggu kamu jemput saja,” ucap Zahra sedikit kesal. Karena sudah terbiasa hingga membuat Zahra merasa marah saat mendengar itu, terlebih dia berpikir kalau Andri hanya mencari alasan saja agar tidak repot jika harus menjemput dirinya lagi. Sejak awal Andri memang sudah menduga jika Zahra pasti akan menolak. “Jangan gitu, aku takut pulang malam. Kamu duluan saja,” jawab Andri yang masih fokus mengendarai motornya. “Turunkan aku di depan,” pinta Zahra dengan nada kesal. “Apa?” Andri seketika kaget saat mendengar permintaan Zahra. “Kamu nggak dengar? Aku bilang berhenti.” Zahra semakin marah bahkan sekarang menaikkan nada bicaranya membuat Andri langsung mematikan mesin motornya. Sambil memasang raut wajah penuh kemarahan Zahra turun dari motor, tentu saja hal itu membuat Andri tampak bingung dengan tingkahnya. Karena ini untuk pertama kali semenjak mengenal Zahra yang sikapnya begitu sangat aneh. “Kamu berangkat saja sendiri, aku mau pulang,” ucap Zahra sambil memalingkan wajahnya. Semua ini dilakukan olehnya demi mendapatkan perhatian dari Andri karena dia sangat yakin kalau tidak akan mungkin Andri tega meninggalkannya sendirian. “Jangan begitu, aku kan sudah kasih tahu alasannya. Lagian hanya hari ini saja,” jawab Andri mencoba memberikan penjelasan. “Ya sudah.” Zahra semakin marah mendengar jawaban itu. Sejenak Andri memijat pelipisnya sambil menatap heran kearah Zahra yang masih memalingkan wajahnya, sungguh kali ini dia semakin dibuat bingung dengan tingkah sahabatnya itu. Tapi dia juga tidak mungkin membiarkan Zahra marah terlebih selama ini dialah yang selalu di sampingnya. “Aku minta maaf, udah jangan marah lagi.” Andri turun dari motor sambil membujuk Zahra. Ternyata niat Zahra berhasil untuk mencari perhatian dari Andri hingga membuat dia yakin kalau pria yang berdiri di hadapannya sekarang, juga memiliki perasaan yang sama. “Siapa yang marah?” Zahra berusaha mengelak walau jauh di dalam hatinya merasa bahagia, tetapi dia berusaha menyembunyikan di hadapan Andri. “Masih nggak mau mengaku? Aku kenal sekali siapa kamu, Ra.” “Kalau kamu tahu, tidak mungkin mengatakan hal tadi,” ucap Zahra sambil melirik kearah Andri. “Memang apa yang salah? Itu juga karena pekerjaan,” ucap Andri. "Nggak usah dibahas. Ayo, nanti kita telat," ajak Zahra. Dia tidak mau memperpanjang perdebatan diantara mereka berdua. Namun, hari ini. Dirinya begitu bahagia karena sudah berhasil menarik perhatian Andri yang membuat hatinya begitu sangat bahagia.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook