Malam nan sunyi, rumah mewah pak Hartawan dihiasi oleh cahaya remang. Waktu hampir tengah malam, Sasfa menaiki tangga namun wajahnya menyiratkan sebuah rasa kecewa. "Huh, kok bisa, roti habis, buah habis, tapi perutku laper banget." Efek dari kehamilan yang pertama, nafsu makannya naik seketika. Sasfa kembali memasuki kamar, lalu mencoba merebahkan diri, berharap harapan akan seporsi makanan perlahan teralihkan. Di sampingnya, Andra begitu lelap kedua tangannya memeluk guling. Tatapan Sasfa lekat, terbersit kesedihan di dalam jiwa. "Andai, aku punya suami normal, pasti kami sedang bersuka cita merayakan calon bayi untuk pertama kali. Dari pakaian, kamar, bahkan nama bisa dipersiapkan sejak dini. Tapi Andra? dia bahkan tidak menyukai anak kecil." Mengusap bagian perut, keberanian it

