ANDRA Menghilang

1187 Kata
Esok hari, Sasfa telah bersiap dengan kemeja lengan pendek juga rok span sebatas lutut, ia hendak pergi ke kantor seperti biasanya. Bertemu Bastian di ujung tangga, keduanya turun ke lantai satu secara bersamaan. "Nanti siang kita rapat di Sunan Hotels, sekalian makan siang bersama klien dari Singapura. Semua data udah beres kan?" "Iya Kak," Sasfa menyahut. "Oh iya, kamu cantik banget pagi ini." Sampainya di lantai satu, Bastian mengerling manja ke arahnya, tidak dipungkiri, senyumnya yang tampan itu mampu menggetarkan hati Sasfa yang dingin. Bastian juga memberi perhatian lain, contohnya ketika ia menarik sebuah kursi untuk ditempati Sasfa. "Kak, kita udah sepakat kan, hubungan kita tidak perlu dilanjutkan. Aku ingin fokus pada Andra dulu. Kata mama, jika putra bungsunya sembuh aku boleh meminta apapun." Ucapnya lembut, jauh di dalam hati, sosok Bastian lebih menarik jika dilihat dari mata perempuan normal. Namun yang Sasfa lakukan kepada Andra, ialah atas usulan dari ibu mertua. "Memang apa yang ingin kamu minta?" potong Bastian menelisik. "Aku, ingin terlepas dari ikatan ini." "Kamu yakin? padahal adikku itu cukup tampan di usianya 25 tahun. Apa yang membuatmu ingin pergi?" Mereka mulai sarapan tanpa menunggu anggota keluarga lain. "Begini Kak, andai Andra sembuh, ia pasti butuh penyesuaian lagi, rasanya kurang sreg aja." Sasfa tidak memiliki ketertarikan sama sekali. Sebenarnya, Andra itu sangat tampan, hanya saja, ekspresinya yang kekanakan membuatnya tidak macho sedikitpun. Sembari menyuap, Sasfa mencuri pandang pada Bastian yang duduk di depannya. Perasaan suka itu masih ada, namun berbenturan dengan kenyataan, impian untuk bersanding telah hancur berkeping-keping. Cincin berhias permata di jari manis Bastian menjadi sekat, mengingatkan Sasfa agar melangkah mundur, menjauhi sang kakak ipar. Dari arah belakang, bu Lusi mengejar-ngejar Andra yang terus saja memberontak. Andra menyelip di bawah meja, berpegangan erat di sebelah kaki Sasfa. "Dimana dia? kemana larinya?" tanya bu Lusi napasnya tersengal. "Andra kenapa Ma?" Mencoba memahami situasinya, Sasfa tidak langsung mengungkap tempat persembunyian Andra di bawah sana. "Ini lho, Mama cuma nyuruh dia makan, tapi katanya ga mau! padahal dia juga harus segera minum obat." Bu Lusi membawa piring di tangan, pun segera meminta bik Surti menuju lantai atas. Pikirnya, mungkin Andra sedang bersembunyi di dalam kamar. Di bawah meja, Andra mengusap betis Sasfa yang jenjang, gerakannya lembut, naik dan turun membuat Sasfa menahan geli. "Eum... begini Ma, tadi Andra lari keluar, kayaknya dia sembunyi di taman bunga. Sayang sekali, jika aku tidak ada janji rapat mungkin aku bisa membantu Mama menangkapnya," cetus Sasfa berdusta. "Oh gitu ya, ga apa Nak, kamu punya tanggung jawab besar di kantor. Ya udah, Mama lanjut cari Andra dulu." Sejurus kemudian, bu Lusi telah menghilang dari pandangan. Atensi Sasfa beralih pada Andra yang mempermainkan hellsnya di bawah meja. "Keluar Ndra! mama udah pergi," Pemuda yang suka mengenakan kaos karakter superhero menyembulkan wajah di dekatnya. "Hehehe... seru juga ngerjain mama," ucapnya lalu benar-benar keluar. "Duduk dulu!" titah Sasfa memerintah. "Apa sih? kamu juga galak kayak mama.... nyebelin!!" Mau tak mau, Andra menurut, menempati kursi di samping istrinya. "Kenapa ga mau makan? kasihan mama lho, dia selalu mengutamakan kamu, denger sendiri kan, habis ini kudu minum obat?" ujarnya menasehati. Duduk di sisinya, Andra malah sibuk memainkan kedua ujung telunjuk yang saling ditabrakkan. Kupingnya masih normal namun ia hanya membalas acuh. "Andra!!" ucap Sasfa meninggikan suaranya, pria itu menoleh disertai rasa takut. "Ta-tapi nanti mama bohong lagi. Kayak tadi malam. Aku ga suka," lenguhnya mengiba. "Tadi malam? memang apa yang mama berikan?" Andra mendekati telinga Sasfa, kemudian membisikkan sesuatu yang menyangkut privasinya. Netra Sasfa membola, sebab ia terkejut dengan apa yang diucapkan oleh suaminya. Andra kembali duduk, raut wajahnya berubah kemerahan, bercampur antara takut dan rasa malu. "Kamu serius Ndra? emang bisa? maksudku, kamu ga bohong?" cecar Sasfa. Pemuda itu mengangguk cepat, sembari tersenyum tipis. Belum usai pembicaraan mereka, Andra segera pergi, kembali ke taman belakang guna menghindari mama Lusi. "Fa? Andra bilang apa?" sahut Bastian yang dilanda penasaran sejak tadi. "Eh, itu Kak, eng--ngak ada, hanya masalah kecil. Tidak perlu kita bahas," senyum palsu terlukis di wajahnya. Yang pasti, Sasfa tidak menyangka bahwa Andra mengatakan hal demikian. Ia pikir, respon Andra tidak sama dengan pria seusianya, ternyata yang ia pikirkan salah besar. ".... Semalam, mama memberiku secangkir jamu, dan setelah itu tubuhku panas seperti terbakar... kamu tau Fa tiba-tiba, bagian bawahku mengeras.... iya.. sangat keras.. benda itu berdiri cukup lama, aku sempat bingung bagaimana agar membuatnya tidur kembali....." **--** Sejak peristiwa malam itu, Sasfa menjadi was-was jika berada di kamar yang sama bersama Andra. Meski tuntutan ibu mertua tidak salah, namun dengan kondisi Andra seperti sekarang membuat Sasfa tidak punya minat. Malam ini, Sasfa baru kembali dari rumahnya. Memarkir kendaraan roda dua, lantas kakinya melangkah melewati pintu utama. Duduk di atas sofa, punggungnya bersandar begitu lelah. Benaknya terngiang dengan tuntutan ayahnya, permintaannya sangat sulit ia penuhi. "Nak, mertuamu kan kaya raya, tolong pinjamkan uang pada mereka, adikmu si Mita ingin menikah dengan pesta yang mewah," pinta pak Santoso beberapa menit yang lalu. Kening Sasfa berdenyut, perlakuan mama mertua memang baik, namun Sasfa tidak memiliki keberanian sebesar itu. Niatnya mengunjungi rumah berharap mendapat ketenangan, akan tetapi justru sebaliknya, pak Santoso agaknya sengaja, ingin mengambil keuntungan dari posisi Sasfa sebagai menantu konglomerat. "Teh dulu Non," bik Surti menyapa hangat, meletakkan gelas di depan Sasfa. "Makasih Bi, rumah sepi, pada kemana?" tanyanya menimpali. "Nyonya ada acara sosialita, kalau Andra....." jawabnya menggantung, ada keraguan dari sorot mata si bibi. "Andra kemana Bik?" Sasfa menoleh cepat, kendaraan hitam yang dipakai Andra sehari-hari terparkir di luar sana. "Dia pergi? dengan siapa? kemana?" Sasfa panik, sebagai istri, ia ditugasi mengawasi Andra ketika berada di dalma rumah, ibu mertua mewanti-wanti agar sang putra kesayangan tidak keluyuran seorang diri. "Itu Non, tadi tuan Bastian kekeuh mengajak Andra pergi. Saya udah mencegah mati-matian, agar menunggu non Sasfa pulang. Tapi tuan Bastian tidak mau dengar." Semula duduk tenang, Sasfa terlonjak sampai hampir melompat. "Kenapa ga ngabarin aku sih Bik? kalau mama tau bisa marah dia!!" Beralih pada ponselnya, gadis manis dengan dua lesung pipi menggulir layar kontak, amarahnya tertahan, berharap Bastian tidak membuat Andra di dalam kesulitan. "Halo Kak? kalian dimana? lalu Andra?" "Hei, santai Sayang.... suamimu aman bersamaku. Kami lagi bersenang-senang. Harusnya kamu ikut tadi." Riuh suara musik menggema, ditambah hiruk-pikuk tawa beberapa orang menguar di sekeliling Bastian. "Kak, jangan macam-macam! jika tidak mama bisa marah!" Sasfa bangkit, gegas mencari kunci motor. "Mama marah? ah sudah biasa, kamu juga lihat kan kemarin?" "Kak, jawab aku! kemana kalian pergi?" sentaknya hampir habis kesabaran. "Kamu rindu ya? aku ada di Monsta Club. Datang aja Fa, kita bisa minum-minum nanti!" Panggilan selesai, ditutup dengan tawa puas di ujung jawaban Bastian baru saja. "Aku harus pergi Bik," menyambar tas di atas meja, tujuannya ialah membawa Andra kembali pulang dalam keadaan selamat. "Non, sebaiknya jangan, saya yakin, tuan Bastian tidak berani menyakiti Andra, kita tunggu saja di rumah." Cekalan tangan bik Surti menahannya, pikirnya paham, di dalam klub biasanya didominasi para pria, si bibi takut andai Sasfa sampai celaka. "Tidak bisa Bik, aku harus pergi. Jika mama sampai, tolong jangan katakan yang sebenarnya ya. Pokoknya aku ga mau kalau mama dan Bastian bertengkar lagi, Bibik boleh berbohong tentang apa saja. Mengerti Bik?" "Tapi Non?" "Tidak ada tapi... ini urgent!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN