MONSTA CLUB
Tempat itu terasa asing, sebuah klub dengan dentuman musik terdengar nyaring. Sasfa masuk setelah melewati pintu pemeriksaan. Dua penjaga memindai tampilan kasual pun menatap sangsi.
"Kamu tersesat?" tanya seorang pria bertubuh tambun. Pasalnya, para wanita biasanya memakai pakaian serba minim nan seksi ketika memasuki tempat tersebut.
Berbeda dengan Sasfa, celana jeans panjang dipadu kemeja lengan pendek terlihat sederhana.
"Saya ingin mencari kaka ipar, izinkan saya masuk," pintanya menahan jengkel.
"Punya member id? ini klub mahal Nona, tidak sembarang orang bisa masuk!" kedua pria bersejajar menghalangi langkah Sasfa.
Hampir kehabisan ide, Sasfa mengeluarkan dompetnya, menunjukkan kartu identitas milik Andra yang sengaja ia simpan.
"Kalian kenal pria ini kan? perhatikan nama belakangnya!"
Mata salah satu petugas menyipit, nama Hartawan tersemat di belakang, membuat keduanya kemudian saling pandang.
"Itu adiknya Bastian Hartawan," bisik si kurus pada temannya.
Mereka segera menyingkir, guna memberi jalan kepada Sasfa.
Sampai di dalam, sorot matanya berpindah cepat, di antara kerumunan orang membuatnya kesulitan menemukan target.
Langkahnya berpindah cepat, pada sudut ruangan Bastian dan teman-teman tertawa keras, alangkah syok Sasfa, mendapati Andra berdiri di atas meja sambil memegang sebuah botol di satu tangan. Pemuda itu berjoget, dan menyanyi tanpa rasa malu.
"Kak, apa yang kamu lakukan?" Sasfa menarik lengan Bastian, meminta konfirmasi.
"Kami bersenang-senang Sayang, lihat! adikku tidak sepolos kelihatannya, hahaha...."
Bastian setengah mabuk, meraih pinggang Sasfa kemudian memeluk erat. Bibirnya bergerilya di area leher, berusaha mendaratkan kecupan mesra di setiap sisi.
"Kak, lepasin!!" kedua tangan Sasfa mendorongnya.
"Jangan jual malah Sayang, ini yang kamu inginkan bukan? hmm, di luar ada banyak kamar kosong, ayo kita ambil salah satu,"
Usahanya tidak berhenti, Bastian hampir gila, memikirkan nasibnya setiap hari. Sebagai anak angkat keluarga Hartawan, ia ingin membuat Andra terpuruk dengan cara merebut Sasfa.
"Kak lepasin, aku kemari untuk menjemput Andra....." ujung kukunya terpaksa mencakar, sebab tenaga Sasfa tidak sanggup menandingi kekuatan Bastian yang terus-menerus mendekapnya penuh nafsu.
Tidak disangka, Andra yang berdiri di atas meja menyaksikan semua itu, ketika tangan istrinya diseret paksa oleh Bastian yang ingin membawanya untuk menyambangi salah satu kamar.
Amarah Andra bangkit seketika.
Lompatan Andra mendarat di lantai dengan sempura, langkahnya tegas demi menjangkau Sasfa yang semakin terancam oleh agresifitas Bastian.
Emosi Andra memuncak, meraih kemeja Bastian lantas memukul wajahnya begitu keras. Bastian tersungkur, mendarat pada lantai sembari memegangi ujung bibirnya yang berdarah.
"SIALANN!! BERANI MEMUKULKU HAH?"
Tidak terima dengan penyerangan adiknya, Bastian bangkit untuk membalas. Terjadilah adegan saling pukul di tengah keramaian klub malam itu.
Untungnya security cepat tanggap, mereka pun memisahkan Andra dan Bastian.
"Udah kita pulang aja," Sasfa menahan bahu Andra, menuntunnya agar menjauh.
"Tapi dia jahat Fa! Bastian harus dihukum!"
"Stop Andra! dengerin aku! kamu juga salah, kenapa nurut diajak Bastian ke tempat ini? sudah ku bilang, agar menungguku di rumah."
Biasanya, Andra selalu ditemani pak sopir kemana ingin pergi. Sasfa hanya pamit sebentar untuk mengunjungi orang tuanya tadi sore. Namun ternyata, Bastian mengambil kesempatan itu guna mengerjai Andra.
Mereka pergi lebih dulu, tidak memperdulikan makian Bastian di belakang sana.
"Jika mama tau, maka aku yang kena semprot! kamu beneran ceroboh Ndra!! sengaja? ingin aku dimarahi mama??"
Sepanjang lorong Sasfa terus memarahinya, sementara Andra turut menyesal pun memasang mimik muka masam.
"Ma--af Fa... Bastian bilang akan mengajakku ke pesta," lirihnya sembari berjalan gontai.
Tangannya merangkul pundak Sasfa, langkahnya juga bergantung pada arahan dari istrinya itu.
"Dan kamu percaya?" pekik Sasfa membalas.
"Dia bilang, aku harus mengikuti keinginannya, sebagai bukti bahwa aku telah dewasa," Andra tertawa di tengah rasa kesal, entah berapa banyak yang dia minum tadi.
Sasfa menoleh sesaat, batinnya menyelip rasa heran, "Pukulan Andra kuat juga ternyata, padahal jika tidak mabok, Andra terlihat lembek tidak berdaya."
Sasfa mendengus kesal, beberapa kali menegakkan punggung Andra, berusaha agar mereka berdua tidak terhuyung secara bersamaan.
"Duuh, Andraa!! perhatikan jalanmu! berat tauk!"
Melihat kondisinya yang seperti ini, Sasfa jadi khawatir, andai mereka pulang lalu diketahui mama Lusi, bisa-bisa dia syok. Oleh sebab itu, Sasfa mencari solusi lain, yaitu memesan sebuah kamar yang letaknya tersebar sepanjang lorong.
Kebetulan ia bertemu seorang petugas, Sasfa menjelaskan bahwa ia dan suaminya hendak menginap untuk malam ini.
Pelayan tersebut memudahkan segala urusan, ia menunjuk sebuah kamar yang letaknya paling ujung.
"Makasih ya Mas," ucap Sasfa, di sampingnya, sosok Andra limbung, hampir jatuh, untung Sasfa menahan sekuat tenaga.
"Kami menyediakan fasilitas tambahan Mbak, seperti kond0m, atau makan malam?" tawar si mas sebelum pergi.
"Astaga!! Mas pikir kami mau ngapain?" jerit Sasfa geram.
"Hehe.. maaf Mbak, saya hanya menjalankan tugas," pungkasnya kemudian berlalu.
Sasfa dan Andra masuk, pintu dikunci, lanjut merebahkan Andra di atas ranjang.
Kamar itu ukurannya tidak terlalu besar, ada tv juga AC sebagai pelengkapnya. Sasfa duduk di pinggiran, menekuri ponselnya yang bergetar terus sejak tadi.
"Mama, aku akan mencari alasan tepat, agar mama tidak khawatir,"
Sasfa mengirim pesan, berisi penjelasan bahwa ia dan Andra sedang menikmati film di bioskop. Bu Lusi percaya, lantas membiarkan putra dan sang menantu menikmati waktu bersama.
"Huftt..." lenguh Sasfa lega.
Memperhatikan Andra yang sedang lelap, pikir Sasfa melayang jauh dan kembali pada momen tadi pagi.
Ucapan Andra terngiang di benaknya, membuat batin Sasfa penasaran luar biasa.
"Katanya, bagian bawahnya mengeras. Apa iya? memang milik Andra bisa bangun? tapi sifatnya itu kan mirip anak kecil?"
Kedua tangannya bergerak, mumpung ada waktu berdua, mereka juga berada jauh dari rumah. Sasfa membuka deretan kancing kemeja Andra satu-persatu.
Tangannya gemetaran, was-was andai tiba-tiba Andra membuka mata, lalu mempertanyakan apa yang ia perbuat di tengah kesunyian malam.
"Sorry ya Ndra! aku penasaran soalnya," gumamnya lirih.
Matanya melebar, bibirnya berdecak kagum, di balik pakaian sederhana yang Andra kenakan, bagian perutnya tergambar garis kotak-kotak yang luar biasa memukau.
Maklum saja, meski tinggal satu kamar, namun Sasfa tidak pernah memperhatikan tubuh Andra secara detail.
"Apa dia hobi olahraga juga? cukup keren jika mengingat aktivitasnya sebagai pria rumahan."
Tidak berhenti sampai di situ, atensi Sasfa pun terbagi, pada pusaka Andra yang masih dibungkus rapat.
"Apa salah jika aku pegang?" jantungnya berdebar-debar, instingnya takut, bercampur canggung.
"Ah, ku elus dari luar, tidak pa-pa kan ya...."
Awalnya, Sasfa hanya menyenggol menggunakan punggung tangan, dan memang benar, pusaka keramat mendadak bangkit, terlihat dari permukaan luar yang semakin sesak.
"Wow, bisa ternyata."
Tanpa sadar, hasrat dalam diri Sasfa perlahan bangkit, parasnya yang tampan, begitu tenang dalam situasi seperti ini. Pikiran Sasfa bekerja cepat, di usaha kedua, kelima jari mengusap pelan sehingga tongkat itu benar-benar terasa pada genggaman tangannya.
"Be--sar dan keras.... jadi ingin mencobanya, tapi...."
Terbersit keraguan, namun segera ia tepis sebagai bentuk perlawanan diri.
"Memang kenapa? kami kan suami istri, tidak ada salahnya mencoba kan?"
Sasfa segera naik ke atas ranjang, ia menindih Andra di bawah kungkungannya. M3lucuti helaian pakaian hingga tidak bersisa, Sasfa menggesek sebentar, gairah dalam dirinya pun perlahan naik.
"Ahh, rasanya tetep kurang..."
Terlanjur basah, Sasfa segera melesakkan pusaka keramat ke tempat seharusnya, bibirnya merintih tatkala dinding pertahanan amat sulit ia tembus. Aktivitasnya berhenti sejenak, sementara Andra yang terganggu mulai menggeliat.
Sasfa tidak pantang menyerah, keinginan itu membuncah, disertai desiran darahnya naik ke ubun-ubun.
"Pokoknya harus masuk!!"
Di hentakan terakhir, usahanya membuahkan hasil. Pusaka keramat terasa sesak menyumpal ke area sensitifnya.
"Ahhhh..... luar biasa...."
Lega, peluhnya bercucuran, bersamaan hawa panas menyeruak di dalam jiwa.
Sasfa bergerak sedikit demi sedikit, rasa perih berganti kenikmatan ketika titik sensitifnya bersinggungan.
"Uuhh..... sshh... ahh.."
Permainan itu ia nikmati seorang sendiri, sementara Andra masih memejam, mimpinya indah ditengah ketidak berdayaan manakala Sasfa menguasai bagian tubuhnya.