Pagi Berikutnya...
Sasfa dan Andra pulang sekitar pukul 6 pagi, Andra sempat bingung karena pakaiannya terlempar ke segala arah waktu ia terbangun di kamar penginapan. Namun Sasfa meyakinkan bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan, semua terjadi karena Andra mabuk.
"Mama ga akan marah kan Fa?" bisiknya ketika langkah mereka hampir mencapai pintu. Sasfa melirik sekilas kemudian mengangguk kecil.
"Asal kamu cerita seperti yang ku bilang, semua pasti aman!"
Rahasia penyatuan panas sengaja ia tutupi, Sasfa sendiri masih tidak menyangka, bahwa ia melakukan hal itu tadi malam. Seolah menyingkirkan segenap rasa malunya, dengan penuh percaya diri, Sasfa menguasai suaminya yang tengah hilang kesadaran.
Di dalam rumah, bu Lusi selesai menyiapkan sarapan untuk keluarga, ia buru-buru berlari ketika putra bungsu menampakkan wujudnya.
"Kalian dari mana? kenapa semalam tidak pulang? ini, pipi Andra kenapa memar begini?"
Mereka ditodong dengan banyak pertanyaan. Andra bungkam, sementara Sasfa berusaha tenang agar tidak terlihat panik.
"Fa? Andra habis berantem? kamu ga becus menjaganya hah? lain kali jangan membawa dia pergi!! Mama TIDAK SUKA!!"
Makian itu ia tujukan kepada Sasfa, bu Lusi meneliti tampilan Andra dari ujung kaki hingga kepala.
"Maaf Ma, lain kali tidak akan kami ulangi," lirih Sasfa mengalah.
Pikirnya, daripada ribet menjelaskan kelakuan Bastian, Sasfa akan mencari bukti dulu agar tuduhan itu tidak disangkal sang kakak ipar. Bastian bersalah, membawa Andra yang polos ke klub, sampai terjadi insiden pemukulan.
"Aku ga pa-pa Ma, sekarang mau mandi dulu. Badan lengket semua." Andra membauhi jaket yang ia kenakan, aromanya sangat mengganggu, perpaduan antara asap rokok juga minuman keras.
Menit Berlalu....
Sasfa dan Andra berada di kamarnya, diam-diam Sasfa mencuri pandang ketika suaminya berganti pakaian, benaknya kembali teringat pada kejadian tadi malam. Ketika ia meliuk-liuk di atas tubuh Andra, serta kenikmatan yang ia dapat saat pusaka besar menancap pada tempatnya, begitu candu hingga Sasfa berpikir ingin mengulanginya.
Merasakan keanehan, Andra pun mendekat ke arahnya, sorot matanya menyimpan tanya, ia lalu memberanikan diri untuk mencari kebenaran.
"Eum.... Fa, boleh aku tanya sesuatu?" ucapnya berdiri di depan Sasfa.
"Apa? tanyakan saja!" balasnya penuh kewaspadaan.
"Tadi malam, aku seperti mendengar sesuatu... dan dalam bayanganku, kamu seperti......."
"Seperti apa?" kening Sasfa berkerut.
"Seperti sedang olahraga di atasku... lalu bibirmu berucap berisik, entah kesakitan atau sedang takut, bahkan menjerit juga, ada apa Fa?"
Respon Sasfa seketika panik, wajahnya membuang pandangan ke sisi lain. "Eugh... itu.... ka--mu pasti cuma mimpi. Mana ada aku begitu?"
"Masa sih? tapi berasa nyata kok... kamu juga memijat area bawahku..." kekeuh Andra.
"Iihh.... kata siapa? itu mimpi Ndra! kamu kan mabuk, salah siapa? makanya lain kali jangan asal nurut sama Bastian!! untung aku cepat datang jika tidak?"
Mata mereka saling mengunci pandang. Sesaat kemudian, ketegangan di wajah Andra memudar, berganti oleh rasa bersalah.
"Iya-iya, ku pikir Bastian tidak mungkin jahat, dia kan kakakku."
Percaya dengan jawaban istrinya, langkah Andra perlahan mundur. Sasfa mengusap dadanya lega. Hembusan napasnya sedikit berat. "Syukurlah....."
****
Di Tempat Lain, Pada Suatu Malam.
Vivian bersama rekan satu geng duduk di ruang apartemen, sebuah botol kosong diputar pada permukaan meja, mereka bersorak sembari menyanyikan yel-yel yang telah mereka buat.
Botol hijau berhenti, mengarah pada posisi Vivian, yang artinya ia harus siap menerima jatah hukuman.
"Woilah, baru juga mulai, pliss jangan suruh gue minum! menjelang pernikahan tubuh gue kudu terlihat bagus!" ujarnya bercampur sesal.
"Santai Beb, kali ini Intan punya ide lain," Chika menaik turunkan kedua alisnya, rekan lain ikut tertawa lebar.
"Ide lain? apa itu?" Vivian menyapu pandangan ke semua para gadis yang hadir, Intan yang disebut-sebut segera bangkit lalu berjalan menuju pintu.
"Tarraaaa!!" Intan kembali bersama seorang pria tampan, masih muda dan bodynya kekar menggoda.
"Maksud lo apa Tan?" Vivian benar-benar bingung.
"Jadi, hukuman permainan kali ini adalah lo harus tidur bareng Rian, gimana? seru kan?" decaknya tanpa rasa bersalah.
"Hah, gila lo! gue bentar lagi merried, masa kudu tidur sama pria lain? bisa ngamuk nanti si Bastian!"
Mendapat adanya penolakan, Chika dan Merlin segera mencekal bahu Vivian, mereka menyeretnya memasuki salah satu kamar yang ada.
"Bastian ga bakal tau! jadi santai aja deh Vi! lagian, biasanya lo juga minum-minum bareng cowo lain. Ga ada bedanya kan?"
Sesaat kemudian, Rian, satu-satunya pemuda yang hadir pun didorong agar menempati kamar yang sama.
Daun pintu digedor keras dari dalam, Vivian meneriaki temannya satu-persatu, ia bahkan rela membayar berapapun asal diberi kebebasan.
Intan paling bersemangat, menempelkan kupingnya pada permukaan pintu, tawanya puas, sebab berhasil mengerjai Vivian yang selalu bersikap angkuh.
"Diih, jangan ke-GR-an Vi!! kami memintamu tidur sekamar bersama berondong cakep! bukan untuk bercinta ya! Tapi, andai kalian khilaf juga kami ga keberatan kok, hahaha... dijamin, rahasiamu bakalan aman!"
Para gadis melakukan tos kemenangan, mereka adalah model dari agensi yang sama. Sejak lama Chika dan Intan memendam amarah pada Vivian. Pertama kali mengenal, Vivian seringkali memamerkan perhiasan juga barang mewah yang belikan oleh Bastian. Hal itu memicu perasaan iri.
Padahal, di antara persaingan para model, sangat sulit menjalin kepercayaan bersama para pengusaha, terlebih, Vivian berhasil memenangkan hati Bastian, CEO terkenal dengan karirnya mentereng, secara diam-diam para sahabat merencanakan niat buruk.
"Yes, biar aku tebak, gadis itu tak akan sanggup menolak pesona Rian!" pekik Icha antusias.
"Belum tentu Beb, gimana kalau mereka melakukan negosiasi, lalu Rian bersedia melepas mangsanya? rugi dong, padahal gue udah membayar banyak!" timpal Merlin.
"Ga bakal! kalian tau? tadi gue udah campuri obat sesuai dosis, dijamin ga sampai sepuluh menit, Vivian bakal teler, lalu... BOOM!"
"Hahaha......" para gadis tertawa puas.
Dan benar saja, mereka bertiga berjongkok di depan pintu, dari dalam sana, terdengar erangan keras menguar dari bibir Vivian. Chika mengeluarkan ponsel lanjut merekam desahan berat bercampur jerit ken1kmatan.
"Wow, luar biasa ya, kalau Bastian tau, kira-kira apa yang akan dia lakukan?" Intan menyeringai.
"Entahlah, mungkin mengakhiri hubungan mereka, kalau gitu, siapa yang layak menjadi gantinya?"
Ketiganya saling pandang, lagi-lagi tawa mereka pecah, mereka begitu heboh, saling berebut demi memenangkan atensi Bastian kelak.
Meninggalkan apartemen mewah milik Intan, keadaan di luar masih diselimuti hawa gelap. Sepanjang kakinya melangkah, Vivian amat menyesali pertemanan yang ia jalin bersama ketiga gadis centil itu.
"Sialan! semoga Bastian tidak mengetahui kejadian hari ini. Jika tidak, maka habislah riwayatku!"
Kepalanya pusing efek obat yang dicampur ke dalam minuman oleh Chika sebelumnya, kaki jenjangnya gontai, sementara kedua tangan berpegangan di dinding guna menyesuaikan keseimbangan.
Sampai juga pada lantai basement, Vivian menggeram di depan kemudi, ia masih tidak nyangka dengan kelakuan para sahabat.
"Awas kalian! akan ku pastikan karir kalian hancur! tapi untuk sekarang, gue harus mencari kepastian mengenai pernikahan. Ku dengar, om Hartawan masih ada di Bandung. Jangan sampai pernikahan yang sudah tersusun malah ditunda."
Batinnya gusar, satu tahun lamanya Vivian dan sang kekasih menjalin hubungan dekat. Sejauh ini, Bastian menolak ajakan tidur bersama oleh wanita cantik tersebut. Bastian merasa perlu memastikan masa depannya terlebih dahulu, barulah ia mantap menjadikan sang model sebagai pelabuhan terakhir.
Jalanan kota cukup lengang, beberapa orang memulai aktivitas namun ada juga yang bahkan masih bersantai. Melirik arloji mahal merk ternama, jarum jam menunjuk pukul lima pagi, yang artinya terlalu awal untuk ia berkunjung ke rumah mewah sang kekasih.
"Persetan!! pokoknya kami harus segera menikah. Dengan bantuan uang dari Bastian, maka akan memudahkanku menjaga image."
Pintu pagar masih tertutup rapat, Vivian turun lantas membuka sendiri dengan mendorongnya sekuat tenaga.
"Vivian?" seru Sasfa ketika membuka pintu utama, kebetulan ia sedang berkutat di dapur, ketika suara bel nyaring terdengar.
"Hai Fa, sedang sibuk kah? tante Lusi ada? kalau Bastian? apa dia sudah bangun?"
Hidung Sasfa menghirup aroma tidak sedap dari sosok tamunya, pun perlahan mundur.
"Bukankah ini terlalu pagi? rambutmu juga acak-acakan!" selorohnya agak kesal.
"Oh ini," Vivian membaui tubuhnya sendiri, senyum simpul menguar di bibirnya. "Aku dari pesta semalam, karena rindu, makanya langsung kemari."
Ia lalu duduk tanpa disuruh, matanya gusar, menyapu pandangan ke setiap sisi.
"Minimal mandi dulu, pakai baju yang rapi Vi. Bukan malah pakai mini dress semacam itu! ga sopan tau ga!!"
"Diih, kok lo ngatur sih, ga usah sibuk deh Fa! nantinya gue juga bakal jadi menantu di rumah ini. Daripada berisik, mending panggilin Bastian!"
Jawaban kasar diiringi tatapan sinis, sejak pernikahan Andra berhembus, Vivian memang tidak pernah suka terhadap calon iparnya.
Yang dicari menampakkan diri, Bastian menuruni anak tangga begitu mendengar derit pagar terbuka.
"Kamu sampai di jam segini?" tanyanya tak kalah heran.
"Hehe, hay Beb, aku tuh kangen berat, jadi ga sanggup menunggu lagi."
Vivian sontak menghambur ke pelukan Bastian, hal itu memicu perasaan iri di benak Sasfa.
"Beb, pernikahan kita di akhir bulan, tapi kok rasanya lama banget, bisa dicepetin ga sih?" ujarnya cemas.
Merasakan Bastian sebagai tambang emas, Vivian ingin agar mereka segera terikat secara sah, agama dan negara. Banyak keuntungan yang akan ia dapat, oleh sebab itu Vivian tak mau sampai terlepas dari Bastian.
"Untuk itu, aku ada kabar buruk Sayang," raut wajah Bastian perlahan redup, menuntun pacarnya supaya kembali duduk.
"Why?" mata mereka saling mengunci pandang.
"Nenekku sakit, papa juga belum pulang sampai sekarang, jadi menurutku, mana mungkin kita bersenang-senang sementara anggota kelurga sedang bersedih?" lirihnya mencoba menjelaskan, pikir Bastian, pacarnya pasti mengerti akan situasi ini.
"Beb? kamu serius? mengorbankan hubungan kita karena nenek?" napasnya memburu, seiring dengan hatinya yang memanas.
"Hanya ditunda, bukan dibatalkan,"
"GA BISA!! justru aku kemari ingin minta dipercepat. Kamu tuh sebenernya sayang ga sih sama aku?"
Bastian mengusap wajahnya namun Vivian menepis kasar.
"Jangan ngambek dong, tentu saja sayang....."
"Bohong!! kita tetep nikah pada tanggal itu. Aku ga mau nerima alasan apapun. TITIK!!"
Perdebatan berlangsung, diam-diam, Sasfa tersenyum di dalam hati. Ia memang menolak keinginan Bastian untuk menjadi selingkuhan, akan tetapi cara bicara Vivian yang angkuh sungguh membuatnya geram.