"SSIIALLLL!" Vivian melangkah sembari menggerutu. Keputusan Bastian untuk menunda pernikahan membuat nasibnya berada di ujung tanduk.
"Pokoknya aku harus bisa menjebak Bastian, gimanapun caranya! jangan sampai dia tau kalau aku udah ga perawan gara-gara dipaksa sekamar ama Rian. Kurang ajar itu Merlin dan teman-teman. Mereka juga harus mendapat balasan nanti!"
Hari ini seperti biasa, Vivian melakukan pemotretan sebuah produk kecantikan. Parasnya cantik juga tinggi badan ideal membuat namanya terus disebut di kalangan para pebisnis.
Tiba saat break, duduk di depan cermin, seorang staf memperbaiki makeup juga tatanan rambutnya yang panjang.
Dari arah belakang, muncul Merlin, sahabat yang menyimpan iri sekaligus sengaja menjebaknya beberapa hari yang lalu.
"Lo di sini?" bentak Vivian seketika bangkit dari kursinya. Tatapan nyalang ia tujukan ke arah Merlin.
"Iya, kok kaget gitu sih? ga tau ya? ini hari terakhir lo syuting, sedang gue baru diajak gabung." Balasnya sinis. Ia bahkan melipat kedua tangan di depan dad4, dagunya naik, menampilkan kepercayaan diri yang meningkat.
"What? ga salah? tapi gue bintang utamanya!" kekeuh Vivian.
Merlin menarik ujung bibirnya, "Coba tanyakan pada manager lo!! apakah kontrak lo berhasil diperbaharui atau ga?" imbuhnya setengah mengejek.
"Lo pasti bercanda!"
Vivian gusar, lantas mencari ponsel guna memastikan info yang disampaikan oleh Merlin.
"Sorry Vi. Pak Doni enggan menyetujui permintaan kita," suara sang manager melemah berada di tempat berbeda.
"Maksud lo apa? kontrak kita selesai? denger ya Ras! dua hari lalu gue masih ngobrol sama pak Doni, semua baik-baik aja kok. Kenapa mendadak jadi begini?"
"Entahlah Vi, akupun tidak tau. Coba kamu temui sendiri. Lalu bujuk dia."
Vivian meremat telepon genggam, raut wajahnya memancarkan kekecewaan.
"Gimana? masih kurang jelas? akui saja Vi, roda kehidupan itu berputar, saat ini lo kehilangan pekerjaan, tapi besok, bisa jadi lo kehilangan pacar," ejek Merlin mirip sebuah ancaman.
"Elo! ini pasti ulah lo kan? PENGECUT!"
"Hahaha.. gua hanya sedang berjuang, demi memperoleh apa yang seharusnya gue peroleh." Merlin mengikis jarak, otot wajahnya mengeras. Perlahan, Vivian mundur hingga tertahan oleh meja rias.
"Apa mau lo sebenarnya? bukankah kita bersahabat?" tanya Vivian miris. Pasalnya, mereka berempat selalu dekat, bahkan sering berbagi uang ketika berbelanja brand mahal.
"Sahabat lo bilang? lo bergabung paling akhir di antara kita, tapi mendadak lo menjadi paling menonjol, menggeser gue, Chika dan Intan. Lo pasti pakai jurus rayuan maut kan?"
"Hah, lo ngomong apa sih Lin, gue ga paham. Lagian rezeki orang kan beda-beda," bantahnya cepat.
"Ciih!! lo itu sok kecantikan, iya-iya, lo punya body bagus, sampai berhasil memikat CEO tampan Bastian Hartawan, oleh sebab itu, gue ga suka!"
Merlin meraih sebuah pensil alis di dekatnya, lantas menunjuk dagu Vivian melalui ujungnya yang runcing.
"Apaan si lo Lin! singkirkan benda itu!" pekik Vivian panik.
Kebetulan, di dalam ruang makeup begitu sepi, hanya ada dua sahabat yang kini menjadi rival.
Vivian bergidik ngeri, pikirnya yakin bahwa Merlin nyaris gila. Tatapannya amat geram, andai ia gerakkan benda itu lalu menancap di lehernya, maka bisa saja nyawa Vivian melayang pada saat itu juga.
"Lin, ga ada gunanya lo lukai gue, yang ada malahan nama baik lo bakal tercemar!" peringat Vivian. Kedua tangannya berpegang pada sisi meja.
"Hm, bener juga lo!" wajah Merlin menyeringai, perlahan menjauhkan pensil alis dari wajah Vivian.
Ini seperti hari sial bagi Vivian, buru-buru mengemasi tasnya kemudian meninggalkan ruang makeup. Amarahnya terbakar, langkahnya tergesa diikuti jantungnya berdebar-debar.
"Merlin sialan! jadi benar kan, selama ini dia adalah musuh dalam selimut."
Tap Tap Tap
Kaki jenjangnya menjejak area utama, di sana hanya ada beberapa pegawai.
"Permisi," panggilnya pada salah seorang.
"Iya Kak?" pria kurus berdiri dihadapannya.
"Dimana pak Doni? apa beliau sudah datang?"
"Maaf Kak, setau saya belum. Atau ada rapat di luar?" Si pria mengedarkan pandangan, keraguan yang ia miliki terlihat meyakinkan.
"Oke, thanks!"
Vivian bergegas, menuju area parkir kemudian duduk tenang pada kursi depan kendaraan warna merah.
******
Sekian lama menunggu, Vivian berhasil meminta waktu kepada sang atasan untuk berjumpa secara pribadi di dalam sebuah restoran. Menempati ruang paling pojok, ia juga membenahi tampilan mini dress motif bunga, tak lupa menyemprot parfum ke semua sisi tubuhnya.
"Sudah lama menunggu?" suara berat pak Doni kemudian duduk di depannya. Sebuah meja berbentuk persegi menjadi sekat, Vivian mengulas senyum manis, demi memenangkan hati sang Sutradara.
Mereka membahas banyak hal, terutama terkait kontrak Vivian yang harusnya bisa diperpanjang.
"Pak, iklan skincare rilisan terbaru melibatkan banyak investor, terutama luar negeri, saya mohon, berikan kontrak itu kepada saya, bukan Merlin," ucapnya meminta.
Paras cantik itu memasang wajah melas, matanya sayu seolah begitu manja.
"Bagaimana ya Vi, tadinya saya berpikir demikian, namun sesuatu terjadi, sehingga di detik terakhir saya lebih memilih Merlin. Tapi kenapa kamu keberatan? bukankah dia sahabatmu?"
Pria tambun dengan setelan jas berbahan katun menelisik tampilannya, atensinya tertarik pada betis putih nan jenjang milik sang model.
"Pak, sebentar lagi saya menikah, selain butuh banyak biaya, saya mau agar calon suami saya tetap bangga. Jika tiba-tiba ketenaran saya digeser saya takut....." Ucapnya terhenti, seiring kepercayaan dirinya menciut.
"Takut jika Bastian berpaling?" tebak pak Doni.
"Nah itu, Bapak pasti mengerti nasib saya kan, tolong Pak, kembalikan pekerjaan itu untuk saya."
Vivian meraih jemari pak Doni yang bertumpu di atas meja, mengusapnya lembut, berharap pria paruh baya itu segera luluh. Bagi Vivian, karir adalah segalanya.
"Lalu, harus ku apakan si Merlin itu? apa kamu ga kasihan sama sekali?" kening pak Doni berkerut. Agaknya ia mengerti, persahabatan hanyalah sebatas basa-basi, seakrab apapun mereka, jika berada di balik layar tetaplah menjadi rival.
"Pindahkan saja dia Pak. Ke kantor Bapak yang lain misalnya?"
Si pria tambun agak ragu, mengusap janggutnya perlahan, sembari menimbang keinginan wanita di depannya.
Sementara Vivian mengingat pesan sang manager tadi pagi, agar memberi sedikit rayuan kepada pria yang memiliki wewenang paling besar di depannya.
"Pak, saya ingin memberi penawaran, andai Bapak mau......"
Vivian berpindah tempat duduk, kini ia dan pak Doni saling sejajar, kaki mereka bahkan saling bersentuhan.
"Bapak boleh datang ke apartemen saya malam ini," bisikan itu mampu menggetarkan jiwa si pria paruh baya, bibirnya terdiam, sedang angannya berkelana semakin liar.
Vivian mengusap area pah4, semakin naik, lalu kembali turin dengan ritme perlahan. Kerlingan matanya manja, seolah menjadi pemanggil gairah yang sengaja ia tawarkan.
"Kamu yakin? ku kira kamu wanita baik-baik, ternyata...."
"Bukan gitu Pak, saya hanya menjaga kesetiaan terhadap Bastian, tapi Bapak merupakan pria berpengaruh, jadi tidak ada salahnya."
Pak Doni tersenyum miring, tangannya merayap di pinggang Vivian, seolah menyetujui ajakan untuk berkencan.
"Oke, mari bertemu malam ini. Sebenarnya sudah lama aku mengagumi kemolekan tubuhmu. Pasti rasanya sangat nikmat."
Kesepakatan terjadi, Vivian semakin terdesak, pikirnya berkata tidak masalah, namanya juga usaha. Nama tenar sangat berarti baginya, terlebih sikap Merlin si pengkhianat itu sudah keterlaluan.
"Tak apa, demi karir tetap di atas. Nanti jika aku dan Bastian sudah menikah, aku akan minta Bastian membeli perusahaan iklan milik pak Doni, sehingga pria jelek ini bisa ku tendang ke jalanan," gumamnya membatin.