Duduk tenang di depan kemudi, Sasfa tidak mendapat jawaban pasti mengenai masa lalu Devi. Gadis licik dengan pekerjaan sebagai guru lukis itu pandai berbelit demi menutupi rahasia keluarga. "Sial! ingin menghentikan rencana pernikahan juga percuma. Devi sangat keras kepala, aku ga mau mama menderita gara-gara kehadirannya." Baru setengah jalan, ponselnya berdering keras, nama mama mertua terpampang di depan layar, Sasfa menepi kendaraan lalu menjawab panggilan itu. "Ada apa Ma? aku udah menyampaikan apa yang Mama katakan pada Devi. Seperti dugaan kita. Devi sama sekali tidak senang dengan model perhiasan biasa. Dia menggerutu, berharap diberi yang jauh lebih mahal." Terangnya menggebu. "Lupain Devi Fa. Tadi pagi Andra pergi, udah dua jam belum kembali." "Hah, kok bisa, pamitnya kem

