Tamu
Menikah adalah bersatunya dua insan, dua prinsif, dua hati, dua cinta, dan dua keluarga. Namun, pernikahan tanpa cinta bukanlah suatu hal yang diinginkan. Siapa pun pasti ingin menikah dengan orang yang dicintai.
Lelaki bermata sipit itu menatap lalu lalang kendaraan dengan tatapan nanar. Bajunya yang serba hitam, sudah kotor dengan tanah merah di bagian lengan serta d**a dan kaki.
Giginya saling beradu, tangannya mengepal dengan tatapan yang tajam. Matanya memerah akibat menangis dan menumpahkan semua rasa kesal nan sesal. Hatinya sudah retak, pecah, bahkan hancur hingga berkeping-keping dan berserakan.
Kehilangan bukanlah hal yang diinginkan, tetapi hal itu adalah hukum alam yang tidak akan pernah bisa diubah. Bibirnya bergetar menyebut nama seseorang dengan rasa sesak yang terus saja berkecamuk dalam jiwa.
Lantas, ia menendang dinding. Kemudian tangannya hampir saja meninju kaca jika tak segera di cegah oleh seseorang. Ia menoleh, tampak sosok pria paruh baya tengah menatapnya datar, lalu mengempaskan tangannya.
“Kamu jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan, Nak,” ujar wanita paruh baya memakai gamis cokelat lengkap dengan jilbab instan berwarna senada, lalu berdiri di samping sang putra dan mengelus bahunya pelan.
Hanan menghela napas kasar, lalu memalingkan wajah dan kembali menatap lalu lalang kendaraan dari jendela kamarnya yang berada di atas. Dadanya naik turun, pertanda emosi tengah menguasai diri.
“Nak ... ikhlaskan. Itu bukan murni kesalahan kamu,” nasehat Arya sang papah.
“Benar, Nak. Semuanya murni hanya kecelakaan,” imbuh Maya membenarkan perkataan suaminya.
Lelaki bermata sipit itu menunduk pasrah, matanya tak lagi memerah. Hatinya sedikit tenang, setelah mendengarkan perkataan kedua orang tuanya. Benar, itu hanya kecelakaan yang tidak disengaja. Namun, hatinya terus saja menyalahkan diri sendiri. Bahwa hal itu terjadi karena kecerobohannya.
Andai kata, waktu bisa diputar kembali. Ia tak ingin menjadi seperti ini. Andai saja, ia waktu itu berhati-hati dan bisa menahan emosi, ia takkan selemah dan serapuh ini.
Sudah tiga bulan kejadian itu berlalu, tetapi hatinya masih belum bisa menerima semua yang terjadi. Kehendak-Nya seakan menunjukan bahwa dirinya yang bersalah dalam hal ini.
Selama itu pula, ia terus saja mengurung diri di kamar. Kantor yang semula diurusnya, kini telah di titipkan pada orang kepercayaan sampai rasa hatinya benar-benar merasa tenang kembali.
“Hanan ... coba pikirkan, bagaimana amsa depanmu nanti. Apa kamu akan terus-terusan seperti ini?” tanya Maya kemudia membawa Hanan sang putra ke dalam pelukannya.
Sedewasa apapun, jika tengah di landa masalah hati, maka takkan bisa ada yang kuat dan pelukan serta pundak Ibu adalah tempat ternyaman untuk menumpahkan segalanya.
“Iya, Nak. Kamu kembali ke kantor, kasian karyawan kalau kamu terus-terusan seperti ini,” ujar Arya kemudian melenggang pergi.
***
Bibir Hanan tersenyum melihat bangunan sepuluh lantai di hadapannya. Netranya masih mengamati bangunan tersebut dengan tangan yang sudah masuk ke dalam saku celana. Kemudian, ia mengedarkan pandangan. Menatap lalu lalang para karyawan yang telah ia tinggalkan tiga bulan yang lalu.
Sang ibunda benar, ia tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Ia masih punya masa depan yang harus di perjuangkan. Ia masih punya mimpi yang harus di wujudkan.
Sejak satu minggu saat ia hampir meninju kaca jendela, ia terus berusaha agar menghilangkan rasa sesak di hati hingga sampai ke hari ini ia berhasil mendapatkan ketenangan dan bisa kembali bekerja di kantor.
Hari pertama memasuki area para karyawan kembali. Rasanya seperti permen warna-warni, nano-nano. Ada bahagia, sedih, haru, juga nervous. Entah mengapa, rasanya seperti menjadi karyawan baru setelah lama meninggalkan dunia perkantoran.
Semua orang yang berada di dalam ruangan, segera berdiri tatkala melihat sosok pria berpakaian formal setelan jas hitam. Mereka langsung tersenyum, lalu menunduk bak menyambut raja.
Kedatangan Hanan di kantor, membuat heboh dunia perbisnisan. Mengingat nama Hanan adalah salah satu pengusaha yang sudah berhasil menguasai setengah Benua Asia. Namun, sejak kejadian tiga bulan yang lalu membuatnya harus berdiam diri di rumah untuk mencari ketenangan hingga bisnisnya menurun.
Para karyawan terus membincangkan, bertanya dan bertanya pad rekan kerja mereka. Apa dan kenapa Hanan sang pemilik perusahaan yang masih muda kini kembali ke dunia perbisnisan setelah berhenti beberapa bulan. Namun, di antara mereka juga ada yang kegirangan. Mengingat ketampanan yang Hanan miliki, membuat para kaum hawa terus terpesona dan ingin selalu bisa memandang wajahnya.
“Pagi ... Pak!” sapa salah seorang karyawan saat melihat bos mudanya melintasi ruang kerja.
Hanan hanya tersenyum sembari menunduk, lalu kembali melanjutkan langkah menuju ruang pribadinya. Sikap ramahnya tak pudar, meski telah beberapa bulan hiatus. Ia tetap menampilkan senyumnya tanpa ada orang yang tahu, apa masalah yang tengah ia alami selain kedua orang tuanya.
Ruangan besar berwarna silver, lengkap dengan beberapa hiasan alam di dinding. Ruangan yang terdapat dinding kaca itu langsung menyambut orang yang masuk ke dalamnya dengan panorama keindahan Kota Jakarta.
Aroma jeruk menyeruak tatkala masuk ke dalam. Ruangan itu sengaja diberi aroma jeruk karena Hanan sangat suka dengan aroma buah orange tersebut.
Kaki jenjangnya ia bawa ke arah meja kerja, lalu mengedarkan pandangan mengamati benda-benda yang berada di ruangan tersebut. Semuanya masih sama, seperti sebelum dirinya hiatus dari kantor.
Bibirnya tertarik ke samping, lalu terkekeh dan kembali menampilkan ekspresi datar saat mendengar suara ketukan pintu.
“Iya, masuk!”
“Permisi, Pak. Ada yang mau bertemu dengan Bapak,” ujar wanita memakai pakaian formal sama sepertinya.
“Suruh tunggu di ruang temu!”
“Baik, Pak. Saya permisi,” pamitnya, lalu ke luar ruangan.
Suara dering ponsel berbunyi membuat fokusnya teralihkan dan menatap benda pipih berwarna hitam di atas meja. Tertera nama sang papah saat ia mendekat ke arah benda tersebut. Buru-buru ia mengangkatnya.
“Hallo! Assalamualaikum ... iya, Pah? Sekarang? Oh, iya-iya. Wa’alaikumsalaam!” ucap Hanan setelah telepon terputus.
Ia mendengkus kesal saat mendengar berita dari Arya sang papah. Ingin menolak pun, rasanya percuma. Ia tidak tega jika melihat kedua orang tuanya bersedih. Biarlah untuk saat ini, semua berjalan sesuai keinginan orang tuanya.
Setelah bertemu dengan clien yang sekertarisnya maksud, Hanan bergegas pulang. Papahnya sudah menunggu sejak tadi, ia tak ingin membuat kedua orang tuanya menunggu lagi.
Mobil sedan putihnya melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang, pikirannya sudah melanglang buana. Bagaimana jika kedua orang tuanya meminta hal yang belum pernah ia pikirkan persiapannya dalam waktu dekat.
Netranya menangkap mobil hitam sudah terparkir manis di depan rumah. Namun, hal itu ia hiraukan dan segera melangkah masuk ke dalam rumah berlantai dua tersebut.
“Assalamualaikum!” ucapnya saat memasuki rumah.
Semua orang yang berada di dalam ruangan menoleh, lalu tersenyum saat melihat orang yang sedari tadi mereka tunggu sudah berdiri di ambang pintu.
Bibir Hanan terkatup rapat tak bisa berkata-kata dengan mata menatap nanar ke arah kedua orang tuanya. Seolah meminta jawaban, ‘Mereka siapa?’