Cemburu?

1213 Kata
Gadis itu terlihat menunduk, tangannya memeluk erat gelas. Perkataan sang suami barusan, membuatnya menjadi lebih canggung lagi. Apa maksudnya? “Kenapa diam? Tidak mau membuka gamis?” tanya Hanan, menelisik gerak-gerik Hana dari belakang tubuh gadis tersebut. Hana menggeleng, debar jantung seperti sudah menjadi langganan sejak akad kemarin. Sepertinya dia harus segera periksa ke dokter mengenai kesehatan jantungnya. Jika tidak, akan terus seperti ini. “Kalau tidak mau buka gamis sendiri, biar saya yang buka.” Tanpa aba-aba, Hanan mulai meraih ujung resleting gamis milik sang istri, membuat gadis itu sontak memejamkan mata, menunduk, semakin mengeratkan pegangan pada gelas. Sementara Hanan, lelaki itu justru terlihat biasa saja. Dengan perlahan, dia mulai menarik resleting sampai ke ujung, tepat di pinggang. Matanya mulai menelisik punggung putih Hana, mulus sekali. Tak dia dapati apa yang dia cari. Tangannya terulur untuk sedikit membuka gamis agar punggung Hana bisa terlihat lebih jelas. “Eh!” Hana terlonjak saat merasakan gamisnya sedikit tersingkap, membuat hawa dingin menusuk kulit bagian punggung. Dia berbalik badan, tangan kanannya tetap memegang gelas, tangan kirinya berusaha menutup resleting. Tak bisa, resleting itu terlalu jauh di bawah, tepat bagian pinggang. Tatapan Hana seolah tak ingin jika kulitnya dilihat oleh siapa pun. Apalagi, oleh laki-laki. Dia belum siap jikalau pun itu suami. Namun, apa yang harus dia katakan? “Ah, emm ....” Hana bergeming, menunduk. Kini, posisinya sudah menghadap kanan, sedangkan Hana berada di samping kanan. “Berbalik lagi.” Hana mendongak, menatap Hanan dengan bingung. Seperti banyak getaran yang hadir dalam relung di sana, membuat dia menjadi salah tingkah. “Saya mau lihat lukamu. Cepat berbalik badan,” titah Hanan dengan nada dingin, datar sekali wajar pria itu. Sama sekali tak menunjukkan ketertarikan pada wanita di depannya. Padahal Hana gadis yang cantik. Tak ada respons, Hana terus bergeming. Membuat Hanan mau tidak mau, harus dia yang beranjak dari tempat duduk dan kembali duduk di belakang Hana. Kali ini, dia berada di tengah-tengah kasur, bukan lagi di tepi ranjang. “Sebentar,” ucap Hanan, pelan. Perlahan, dia membuka kain yang menutupi punggung Hana. Tampak lebam sudah tersemat di sana. Sejenak matanya seperti enggan teralih pada apapun, menatap lekat punggung itu. Tampak mulus dan putih sekali. Lebam itu membuat kulit Hana menjadi biru kemerahan. Hanan mengulurkan tangan begitu saja, menyentuh luka itu dengan pelan. Merabanya, terasa sedikit kasar. Dia menelan ludah, lalu menatap Hana yang masih saja bergeming. Tanpa Hanan ketahui, Hana tengah menggigit bibir bawah. Merasakan nyeri saat luka itu Hanan sentuh. Namun, sentuhan Hanan membuat nyeri itu terkalahkan, berganti dengan desiran halus yang hadir dalam hati. “Sakit?” tanya Hanan sembari mengusap pelan luka tersebut. Hana mengangguk pelan. Dia tidak bernai mengeluarkan suara sepatah kata pun. Hanan kembali menarik resleting, punggung Hana kembali tertutup rapi. Gamis putih itu membuat Hana semakin terlihat cantik nan manis, bak bidadari dari kayangan. Lelaki itu beranjak dari tempat duduk, menuruni ranjang. Kemudian, melangkah tanpa sepatah kata. Membuat Hana mendongak, menatap punggungnya. Ingin bertanya, tetapi sungkan. “Mas ....” Panggilan lembut itu membuat Hanan berhenti melangkah, menoleh ke belakang. Kemudian, berbalik badan dan menatap Hana yang masih duduk di tepi ranjang. “Mau ke mana?” tanya Hana, ragu. “Cari tukang urut.” “Paman Ali tukang urut dan pijat, Mas. Hubungi beliau saja.” “Tidurlah dahulu, esok pagi dia akan ke sini. Saya mau beli sesuatu dulu.” “Baiklah, hati-hati.” Hanan mengangguk, lalu berbalik badan. Menarik knop pintu dan ke luar begitu saja. Meninggalkan Hana yang masih bergeming dengan degup jantung yang abnormal. *** Malam sudah berganti, mentari telah menyapa. Para karyawan pun, sudah kembali pada rutinitas masing-masing. Bekerja sesuai keahlian yang dipunya. Lelaki bercelana cokelat dipadu dengan sweater hitam itu berjalan sedikit tergesa-gesa. Pasalnya, dia mendengar jikalau ponakannya itu terpeleset di kamar mandi. Dengan langkah lebar, akhirnya dia sampai di halaman hotel. Gegas, dia langsung berlari kecil ke arah lift. Karena kamar yang akan dituju, berada pada lantai tiga. Beruntung, dia sudah sering memijat urut di hotel ini. Tidak perlu lagi meminta izin di lobi. Dia hanya perlu menyapa, tersenyum. Kemudian, menjawab pertanyaan mereka yang hanya basa-basi semata. “Mau urut, Pakm?” Dia tersenyum, mengiakan pertanyaan dari salah satu karyawan hotel. Tak menunggu waktu lama, lift sudah membawanya pada lantai tiga. Dia segera berlari kecil menuju kamar yang telah disebutkan. Dua ratus tiga belas. “Assalamu’alaikum!” ucapnya sedikit mengeraskan suara dengan tangan beberapa kali menekan bel. Sesaat bergeming, menunggu penghuni apartemen ke luar. Beberapa menit, tetapi tak ada juga jawaban. Dia mengedarkan pandangan, memastikan tidak salah kamar. “Nomornya betul. Dua ratus tiga belas,” ucapnya sembari berkacak pinggang, mengedarkan pandangan kembali. “Ke mana mereka?” “Paman Ali!” Pemilik nama itu menoleh, tersenyum. Kemudian, mengulurkan tangan pada pemuda berpakaian casual tersebut, tersenyum. “Sudah lama di sini?” “Baru beberapa menit yang lalu, Nan. Coba ceritakan, kenapa Hana bisa terpeleset seperti itu?” tanya Ali, menunjukkan ekspresi khawatir. Tak sungkan lagi, dia dan Hanan telah dekat saat pemuda itu melamar ponakannya. Pemikiran mereka yang hampir seiras, membuat keduanya lebih cepat akrab. Akan tetapi, karena sikap dingin Hanan, membuat hubungan itu tidak terlalu hangat. Biasa saja. Tidak dekat dan tidak jauh. “Ceritanya panjang. Mari, Paman. Masuk saja,” ajak Hanan kemudian mengeluarkan kartu, menempelkannya pada dinding yang sudah ditempeli pendeteksi keamanan. Pintu terbuka lebar, keduanya langsung masuk. Ruangan serba putih tampak jelas memanjakkan mata beserta barang-barang mewah lainnya. Apartemen itu memang didesain khusus untuk pengantin baru, Hanan dan Hana. Pihak kedua mempelai yang seorang pengusaha, tentulah tidak sulit jika hanya untuk memesan satua apartemen sesuai harapan saja. “Di mana Hana?” “Di kamar, Paman. Ayok!” Kali ini, Hanan berjalan terlebih dahulu. Menjadi penuntun jalan untuk Ali. Mata bening itu tengah terpejam, sesaat sebelum mendengar suara pintu terbuka. Dia berusaha duduk, tatkala melihat dua lelaki tak asing lagi baginya. “Sudah, Han. Jangan duduk dulu,” cegah Ali, membuat Hana mengikuti ucapannya. Ali tersenyum, duduk di tepi ranjang. Mengulurkan tangan, mengecek suhu tubuh sang ponakan. Normal. Tidak demam seperti biasanya. “Hana ini sering sekali terpeleset. Kadang kaki yang menjadi korban. Saya sampai bosan mengurut dia terus saat itu. Dulu, saat kecil. Sekarang sudah dewasa tidak lagi.” Ali tersenyum, menatap Hana yang juga sudah tersenyum tipis. Mengingat masa lalu, memang menyenangkan. “Apa yang sakit, Han?” “Punggung,” seloroh Hanan, memotong suara Hana yang akan menjawab. Ali beralih menatap pemuda yang tengah berdiri di samping Hana. Tersenyum, dia paham situasi ini. “Coba kamu tengkurap, Han. Biar paman bisa lihat luka kamu.” Hana mengangguk, lalu berusaha berbalik badan. Namun, sayang. Nyeri di bagian punggung membuatnya tak bisa bergerak sedikit pun. Melihat istrinya kesusahan, Hanan segera membantu. Membuat Hana kembali merasakan getaran itu. Tangan kekar Hanan, terasa kokoh saat mengangkat tubuhnya. “Terima kasih,” ucap Hana, berusaha menyembunyikan rasa malu. Sementara itu, Ali tengah menatap keduana dengan sirat akan makna. Tangannya terulur, berniat membuka resleting gamis Hana agar bisa melihat punggung gadis itu. “Eh, mau apa Paman!” Hanan menghadang resleting dengan tangan kanannya, membuat tangan Ali mengudara. “Kenapa?” “Paman kan laki-laki, kenapa mau lihat punggung Hana?” tanya Hanan dengan polosnya. Gelak tawa terdengar, Ali menggeleng pelan. Menahan tawa itu agar tidak lagi terdengar. “Kamu kenapa, Hanan? Cemburu?” “Hah? E-enggak!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN