Menyudahi

1135 Kata
Hanan mendengkus kesal, memalingkan wajah. Hidungnya kembang kempis menahan amarah. Sorot matanya sudah menjadi tajam sejak beberapa saat lalu. “Sejak pristiwa itu.” Seketika Maya dan Arya mengusap wajah dengan kasar, menghela napas dalam. Mereka pikir, Hanan hanya kecanduan obat penenang saja. Itu tidak masalah, tetapi jika alkohol? Walau bukan sepenuhnya salah Hanan, tetapi tetap saja itu bukanlah hal yang dibenarkan di dalam agama. Maya mendekat ke arah sang putra, menatap Hanan dengan lekat, mengusap lengan lelaki itu agar sedikit lebih tenang. Namun, Hanan tetap pada posisi yang sama. Enggan menatap kedua orang tuanya sekali pun. “Kenapa kamu lakukan itu, Han?” tanya Maya, dengan mata yang sudah mulai mengembun. Hanan tak mengindahkan pertanyaan sang ibunda, dia sibuk mengatur napas yang mulai tersengal-sengal akibat menahan emosi dalam dads. Peristiwa itu sangat menyiksanya, membuat dia harus melakukan sesuatu di luar batas perkiraan. “Kenapa, Han?” desak Maya, lagi. Dia tetap setia menatap lekat putranya. “Karena peristiwa itu sangat mengganggu, Bu! Aku bukan robot yang bisa tenang begitu saja. Berbagai cara sudah aku coba, tetapi tidak ada manfaatnya. Aku selalu gelisah. Berbagai macam obat dari psikiater sudah aku minum, tetapo reaksinya hanya sesaat. Aku harus apa? Aku bisa apa, Bu?!” Hanan sedikit meninggikan suaranya, sejujurnya dia sudah mulai lelah dengan kehidupan yang harus dia jalani. Empat bulan yang dia lalui, bukanlah hal yang mudah. Lihatlah, selain mental dan kesehatannya yang terganggu, bisnisnya juga sama. Sementara itu, air mata resmi membasahi pipi. Maya mengusapnya dengan pelan, menatap sendu sang putra. Meraih tangan Hanan dan menggenggamnya. Sementara Arya, tetap bergeming menyaksikan itu semua. Dia belum bisa menerima kebiasaan buruk Hanan. Selama ini, dikeluarganya tidak pernah ada yang minum minuman keras. Keluarganya memang bukan orang alim atau ulama, tetapi syariat islam sangat dijunjung tinggi. Belajar di pengajian, amalkan. Kedua orang tuanya juga mendidik dia dengan disiplin, tidak pernah membiarkan dia memakan atau meminum apa yang tidak dihalalkan-Nya. Begitu juga dengan didikan dia pada Hanan. Namun, hari ini, dia telah merasa gagal dalam mendidik seorang putra. “Lihat ibu, Nan.” Maya berkata lembut sekali, membuat Hanan menoleh secara perlahan. Karena walau bagaimana pun, ibu tetaplah ibu. Kelembutannya mampu meluluhkah kekerasan yang ada pada anak. Hanan menunduk dalam, membiarkan sang ibunda menatapnya juga menggenggam tangannya. Sungguh, sorot mata itu sangat melukai hatinya. Dia tidak pernah berniat untuk mengecewakan sang ibunda, tetapo keadaanlah yang memaksanya. “Hanan ... mendongak. Lihat ibu,” pinta Maya, suaranya sedikit serak akibat menangis tadi. Hanan mendongak. Raut wajah Maya terlihat layu, sorot mata yang sendu. Namun, senyuman itu tetap ada menghiasi wajah yang mulai menua. Di belakang sang ibunda, tampak jelas sang papa. Helaan napas akhirnya terdengar dari mulutnya. “Maaf ...,” lirihnya, menunduk kembali. Di dunia luar mungkin dia bisa menjadi jagoan, dipandang dengan penuh kekaguman. Namun, di rumah ini dia tetaplah menjadi seorang putra. Dan seorang putra, wajib menghormati kedua orang tua. “Nak ... ibu tau, kamu pasti masih tersiksa. Ibu hafal watak kamu, walau kamu berusaha menyembunyikan sekeras apapun itu. Namun, Han ... kamu pasti tau, agama kita melarang minuman itu. Jadi, ibu minta ... kamu berhenti mengonsumsinya.” “Nggak bisa, Bu. Aku nggak bisa lepas dari minuman itu. Karena hanya dengan minuman itu aku bisa merasakan ketenangan, tidur nyenyak yang selama ini hilang.” “Tapi caranya tidak seperti itu, Han!” sela Arya, mulai mendekat ke arah sang putra dan istrinya. “Kamu bisa berobat ke psikiater luar negri, ke benua apapun. Tapi jangan minum minuman keras!” “Papah mungkin bisa berkata seperti itu karena tidak merasakan apa yang aku alami! Tapi aku yang merasakan, berat, Pah!” “Papah tau, kamu merasa kehilangan, sakit hati, dan merasa bersalah. Tapi, apapun alasannya, agama kita tidak menghalalkan minuman itu!” “Papah egois! Tidak pernah memikirkan perasaanku!” “Justru karena papah peduli sama kamu, Hanan!” Arya hendak memukul Hanan, tetapi tangannya mengudara tatkala istrinya-maya sudah berdiri melindungi Hanan. “Papah sama Hanan akan berantem lagi? Sampai kapan? Masalah nggak akan pernah selesai, kalau kalian main otot,” ucap Maya, menatap Hanan dan Arya secara bergantian. Sang suami langsung melafalkan istighfar beberapa kali, mengusap wajah dengan kasar, menghela napas panjang. “Hanan, betul apa kata papahmu. Apapun alasannya, agama kita tidak pernah menghalalkan minuman itu. Jadi, ibu minta kamu berhenti mengonsumsinya.” “Sudah aku katakan, aku tidak bisa lepas, Bu!” Hanan mulai tersulut, dia benar-benar tidak habis pikir dengan keegoisan kedua orang tuanya. “Jadi, kamu tidak bisa meninggalkannya, Hanan?” tanya Maya, menatap intens putranya kali ini, meminta jawaban. Hanan menggeleng tanpa ragu. “Tidak.” “Berarti kamu tidak sayang sama ibu!” Maya berniat pergi meninggalkan ruangan, tetapi tangannya dicegah. Hanan bersimpuh di hadapan tubuhnya, menunduk. Meminta maaf, dan berjanji tidak akan pernah mengonsumsi minuman itu lagi. “Hanan janji, Bu ....” Nada suara Hanan melunak, dia paling tidak bisa melihat ibunya bersedih. Lebih baik dia tidak bisa mendapatkan ketenangan, dari pada melihat ibunda berdiam diri di kamar dan mogok makan. “Bangunlah ....” Maya meraih tubuh sang putra, di dekapnya dengan erat. “Berobatlah, Nak. Janga kau gantungkan dengan minuman yang bisa merusak tubuhmu.” “Iya, Bu. Kalau gitu, aku berangkat kerja dulu.” “Baiklah. Besok ibu akan atur jadwal dengan psikiater ternama. Kamu harus ambil cuti.” Hanan mendongak, ingin protes. “Jangan protes. Berangkat kerja dan hati-hati di jalan. Ingat, saat ini kamu sudah mempunyai istri yang wajib kamu nafkahi.” Hanan menghela napas, mengangguk. Dan berlalu dari ruangan, melangkah menuju keluar dengan pikiran yang masih tertinggal di sana. Apa dia sanggup meninggalkan hal yang selama ini menenangkannya demi sang ibunda? “Mas Hanan!” Mendadak seseorang memanggilnya, dia berbalik badan. Tampak gadis bergamis biru muda dipadu jilbab senada sudah berlari kecil ke arahnya. “Ini ... berkas-berkas Mas Han-an ketinggalan. Siapa tau ... penting,” ucapnya, dengan napas tersengal-sengal, menyerahkan beberapa dokumen. Dia menemukan itu di atas nakas setelah mandi dan mengganti pakaian, matanya tang sengaja menangkap benda tersebut. Menyadari itu dokumen penting, segera dia turun ke bawah. Beruntung, kedua mertuanya mengatakan Hanan baru saja keluar ruamh. Dia berlari kecil mengejar sampai parkiran. “Terima kasih,” ucap Hanan, menerima dokumen tersebut dan berbalik badan. “Mas ....” “Apa lagi?” tanya Hanan, masih dengan posisi yang sama, membelakangi sang istri. “Emm ... salim,” jawab Hana, sedikit ragu. Malu lebih tepatnya. Hana menghela napas sesaat, lalu berbalik badan. Mengulurkan tangan dan langsung disambut hangat oleh Hana. “Sudah, saya mau berangkat kerja.” “Eh, Mas ....” “Apa lagi?” Suasana hati Hanan sedangi tidak baik, gadis itu meminta apa lagi? Hana tersenyum, lalu mengetuk keningnya dengan telunjuk. Membuat Hanan bertanya-tanya, apa maksudnya? “Cium kening istrimu, Hanan,” celetuk Maya yang sudah berdiri di teras rumah bersama sang suami, membuat Hanan terbelalak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN