“Kenzo Deanara Gantari, lo pasti udah gak waras!”
Si empunya nama terus menggumamkan kata yang sama, secara berulang-ulang. Dia pikir tidak akan bisa mengakhiri ciuman yang dicurinya dari Kei, untungnya Dean masih memiliki setitik rasa malu yang membuatnya berhasil kembali ke dalam kenyataan. Ya, dia buru-buru melepaskan ciumannya saat sadar tangannya mulai bergerak menelusuri tubuh sahabatnya.
“Gue pasti udah gila!” Rintihnya begitu putus asa.
“Predator sialan! Gue benar-benar pecundang gak tahu diri.”
Sudah hampir satu jam dia menggila seperti itu, tatapannya dipenuhi rasa bersalah sekaligus menginginkan lebih. Dean takut perbuatannya itu akan diketahui Kei, tapi jauh di dalam hatinya dia tidak menyesali perbuatannya. Dia menikmati setiap detik yang berlalu, selama bibir mereka bersatu. Namun, saat senyuman mulai terkembang di wajahnya, Dean lekas memukul kepalanya kuat-kuat. Saat ini, dia seperti orang yang memiliki kepribadian ganda, sebentar-sebentar tersenyum lalu detik berikutnya sudah memaki diri sendiri.
“Harusnya lo malu!” Dia lagi-lagi memaki diri sendiri.
Tanpa disadari olehnya, orang yang menjadi alasan bagi kegilaan Dean, ternyata sudah bangun. Memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, bukan itu saja, perutnya pun terasa sangat tidak nyaman. Kei benar-benar harus berhenti minum mulai sekarang, jika dia ingin hidup lebih lama.
“Aih! Kaget gue!”
Pria yang duduk di ujung sofa tampak terkejut saat Kei menggerakkan kakinya. Ekspresi Dean persis seperti seseorang yang baru saja melihat hantu. Namun, dengan cekatan pria itu membantu Kei untuk duduk.
“Lo, udah gak mabuk?” Tanya Dean tanpa bisa fokus menatap lawan bicaranya.
Kei mengangguk, “Emm...,” gumamnya masih memegangi kepala, “D, udah berapa lama aku di sini? Enggak, terjadi hal yang aneh-aneh, kan?” Tanyanya bertubi-tubi.
“A–aneh? Enggak kok.”
Dean lagi-lagi tidak bisa menyembunyikan kepanikannya. Dan Kei tidak sebuta itu sampai tidak bisa melihat sahabatnya salah tingkah begini.
“Terjadi sesuatu, iya, kan?!” Kei kembali bertanya, kali ini dengan ssedikit mendesak.
“Terjadi apaan? Orang enggak terjadi apa-apa.”
Kalau saja kepala Kei tidak sakit dan perutnya baik-baik saja, sudah dapat dia pastikan Dean akan menceritakan segala yang terjadi jika tidak mau kepalanya lepas dari tubuhnya. Namun, untuk saat ini, Kei harus menahan rasa penasarannya, dia butuh sesuatu untuk menghilangkan pengar yang dirasakannya.
“Ah, sial! Aku harus mulai berhenti minum. Alkohol membuatku hilang akal, aku bisa cepat mati kalau begini terus.” Kei meringis sambil terus mengumpat kebiasaan buruknya.
“Sumpah aku dukung keputusanmu barusan. Lebih baik berhenti minum-minuman seperti ini, demi keselamatan kamu sendiri. Kalaupun mau minum, jangan pernah minum sendirian atau ditemani orang asing. Mengerti!”
“Aku enggak memperkosa kamu, kan, D?”
Si empunya nama semakin gelagapan, bulir-bulir keringat sebesar biji jagung muncul di pelipisnya. Dean tidak pandai berbohong, tubuh pria itu akan langsung memberikan sinyal kalau dirinya sedang berbohong. Entah dari tatapan matanya yang tidak bisa fokus, mimik wajah yang selalu berubah-ubah dipenuhi kecemasan, hingga berkeringat dingin seperti sekarang ini.
“Enggaklah... Kei enggak ada sejarahnya lelaki diperkosa perempuan.”
“Ya, kali aja aku kebablasan dan kamu enggak bisa nolak juga.”
Tepat sasaran! Dean nyaris mati membeku, saking kagetnya mendengar ucapan Kei. Jangan-jangan wanita itu mengingat segala perbuatan Dean padanya. Sial! Kalau memang itu yang terjadi, ya tinggal tunggu waktu yang tepat sampai Kei mengakhiri hidup Dean dengan tangannya sendiri.
“Kei, cukup! Enggak ada yang terjadi, lo diam di sini biar gue buatin teh chamomile.”
Kecurigaan Kei semakin membeludak saat Dean meninggikan suaranya, pria itu pun langsung bangkit dari duduknya menuju dapur. Gerakan tubuhnya jelas mengatakan, sudah terjadi sesuatu saat tadi Kei mabuk. Kei pun mulai harap-harap cemas, jika dia sampai melakukan hal-hal aneh pada Dean, maka rencananya akan kacau balau. Keadaan masih canggung saat Dean kembali dengan segelas besar teh chamomile di tangannya.
“Kei...,” panggil Dean, sesaat setelah dia menyerahkan teh yang dibuatnya.
“Apa?” sahut sahabatnya sembari menyeruput teh yang selalu Dean buatkan setiap kali dirinya habis minum-minuman beralkohol.
Dean merawat dan menjaganya dengan sangat baik sejak mereka saling mengenal. Dan selama itu pula, mereka hampir tidak pernah merasakan yang namanya canggung saat menghabiskan waktu bersama. Namun, belakangan ini keadaan seolah berbalik. Ya, mereka jadi lebih sering merasa canggung satu sama lain. Apalagi saat Mayang, yang tak lain adalah teman satu tim mereka, sedang tidak bisa menghabiskan waktu bersama, maka kecanggungan dengan cepat menguasai keduanya. Situasi yang seperti inilah yang selalu Kei hindari. Sebab dia bisa kapan saja melupakan persahabatan mereka, Kei berusaha keras agar dia tidak terikat dalam hubungan apa pun. Berteman dekat dengan Dean dan Mayang saja, Kei sudah melanggar aturan yang dia tetapkan selama ini. Jadi mulai sekarang dia tidak mau, perasaannya mengambil alih segala keputusannya. Kei tidak bisa membiarkan dirinya jatuh cinta, atau mempersilahkan seseorang untuk masuk mengisi hatinya. Cinta, pernikahan, anak, semua itu adalah sumber dari segala rasa sakit. Dan Kei tidak membutuhkan sesuatu yang akan membuatnya kembali sakit hati. Hal itu tidak akan terjadi, selama dia bisa menguasai pikiran dan tubuhnya.
“Mau ngomong apaan, kenapa malah jadi diam?”
“Cuma lagi mikir aja. Kamu pernah mikir kayak gini gak, kalau seandainya kita gak pernah jadi teman, kira-kira saat mabuk kamu bakal pergi ke mana, ya? Apa aku bakal tetap khawatir kayak gini kalau kita bukan teman?”
Kei mengeratkan genggamannya pada mug, berpura-pura meminum isinya sesantai mungkin. Tak lupa dia selingi dengan tawa renyah untuk menanggapi pertanyaan pria di sisinya.
“Mungkin aku bakal pergi ke hotel bersama pria yang tidak pernah kukenal, dan terbangun di sana dalam keadaan bugil.”
“Dasar perempuan Iblis!”
Dean memaki dalam hati saat mendengar jawaban Kei. Bagaimana dia bisa tertawa dan berbicara sesantai itu saat dirinya tahu bahwa Dean mencintainya. Benar kata pepatah, seorang pria akan tiada karena cintanya. Saat ini, Dean merasa dirinya akan segera tiada, karena Kei tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang pria, Kei tidak pernah membiarkan Dean masuk ke dalam hatinya.
“Kamu enggak mungkin mengkhawatirkan aku, kalau kita tidak pernah saling mengenal. Mengingat sejak pertama kali bertemu sampai sekarang, kita itu selalu bertengkar. Kita ini lambang sahabat sekaligus musuh bebuyutan. Jadi berhenti main-main, jangan bicara omong kosong lagi, mengerti.”
“Kamu benar-benar Iblis, kau sadar itu?” Dean menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, lalu tertawa terbahak-bahak.
Tidak ada yang lucu dalam percakapan ini, bisa dikatakan saat ini mereka sedang berperang. Entah kenapa Dean hanya bisa tertawa untuk meluapkan emosi yang memenuhi hatinya. Apa selama ini Dean hanya lelucon di mata Kei? Satu kali saja, apa wanita itu tidak pernah menginginkan hubungan mereka lebih dari sekadar sahabat?
“Dibandingkan dengan semua orang di dunia ini, kamu satu-satunya yang paling mengenalku. Akan kuanggap itu sebagai pujian.”
Bahkan dalam mimpi terburuknya pun, Kenzo Deanara Gantari tidak pernah membayangkan bahwa ini adalah kali terakhir baginya dapat menatap wajah wanita yang sangat dia cintai. Padahal hari ini berjalan seperti biasa, mereka bersenang-senang bersama, membahas banyak hal secara acak, bertengkar hebat, lalu menertawakan kekonyolan yang mereka perbuat sesudahnya. Ya, itu satu hari yang menyenangkan, persis seperti semua hari yang Dean habiskan selama mengenalnya. Keitari Tanwira, tahu betul cara untuk diingat, dia begitu andal membuat Dean begitu mencintainya. Dan gadis itu, akhirnya memilih pergi dengan segala kisah cinta yang belum sempat mereka mulai.