Bab 1 : Sekarang, Cium Aku!
“D, cepat buatin gue kopi. Semenjak minum kopi buatan lo, kopi sachet yang biasa gue minum jadi enggak enak. Kopi orang kaya memang lain. Rasa dan wanginya itu, lho... mantap jiwa.”
Si empunya rumah langsung disambut perintah, sesaat setelah dia membukakan pintu, untuk tamu tak diundang, yang sedari tadi menggedor-gedor rumahnya tengah malam buta begini.
“Buatin gue kopi mahal yang waktu itu, oke? Andai semua orang tahu kalo lo bikinin gue kopi, teh, bahkan sampai masakin gue bekal hampir setiap hari. Gue pasti bikin seluruh perempuan di kampus iri, kan? Gue benar-benar beruntung punya sohib gak cuma ganteng dan pinter aja, tapi juga jago masak dan punya lisensi barista. Sumpah, lo keren banget.”
Dia tersenyum begitu lembut, menyambut wanita berpakaian minim yang baru saja memerintahnya. Dalam hati tersemat rasa bangga saat kedua jempol wanita itu terangkat, dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.
“Hari ini aku enggak nyasar. Aku hebat, kan?!” dia meracau, sebelum tubuhnya ambruk ke dalam dekapan pria yang berdiri di hadapannya.
“Kamu memang enggak pernah nyasar kalau lagi mabuk begini, bahkan biasanya kamu malah sudah tidur di kasurku. Entah bagaimana caranya kamu masuk, yang pasti tingkah mabukmu tidak pernah gagal membuatku terkejut. Sekarang biar kuantar kamu pulang, ya, Kei.” Sahutnya sembari memapah si empunya nama.
“Aku sudah di rumah. Memangnya mau kamu antar ke mana lagi? Cepat buatkan aku kopi.”
Ini pukul satu malam, tapi dia justru minta dibuatkan kopi, Keitari Tanwira benar-benar perempuan tidak waras. Baginya, melihat tingkah aneh Kei bukanlah hal baru lagi. Akan tetapi, dia tidak pernah bisa berhenti merasa terkejut dengan segala yang bisa wanita itu lakukan.
“Kenzo Deanara, kamu selalu mengejekku Gendut Sadis, tapi kenapa akhir-akhir ini kamu malah jadi aneh? Kenapa kamu bersikap seperti tertarik padaku, bukan sebagai teman, tapi sebagai seorang pria. Bodoh! Kamu tahu, bercandamu itu gak lucu. Kalo gue jadi berharap lebih gimana, Bodoh?! Gue udah mati-matian jaga sikap di depan lo, gue gak mau macem-macemin lo. Di mata gue, lo itu simbol keperawanan yang sesungguhnya. Jadi kalo bisa, jangan menggoda gue lagi, mengerti?!”
Kei semakin meracau ke mana-mana, bahkan bahasa yang digunakannya pun sudah berubah. Dia mulai berbicara dengan bahasa, elo-gue. Persis seperti yang biasa dia gunakan setiap kali merasa kesal pada Dean. Ya, si empunya nama sudah hafal betul tingkah laku wanita yang baru dipapahnya untuk duduk di sofa.
“Oi! Senyumnya biasa aja kali. Kenapa lo jadi hobi banget pamerin senyuman begitu, sih?”
“Tunggu di sini, aku bakal buatin teh chamomile. Setelah mabuknya hilang, baru kuantar pulang.”
Kei menahan lengan Dean yang hendak pergi untuk membuatkan teh pereda mabuk, seperti yang tadi pria itu ucapkan. Tak tunggu waktu lama, Kei dengan cepat bangkit dari duduknya, dia berniat mencium pria jangkung di hadapannya. Namun, setelah beberapa kali melompat Kei tetap tidak bisa menggapai wajah Dean.
“Ayolah, satu kali saja!” Kei menggerutu karena Dean terus menjaga jarak.
"Dan besok, kamu bakal sangat menyesali perbuatanmu ini."
Dengan cepat dia menyahuti sembari mendorong kening Kei, hingga gadis itu kembali duduk seperti semula. Setiap kali minum alkohol, dia pasti akan menggila seperti ini. Kalau saja Dean kalah cepat, atau Kei memiliki postur tubuh yang sedikit lebih tinggi lagi, mungkin tadi dia sudah berhasil mencium Dean. Entah dia harus bersyukur atau kecewa karena Kei terlalu pendek, jadi wanita itu tidak bisa menggapainya.
“Kalo lo pelit dan gak mau dicium, mending jangan senyum-senyum di depan gue kayak tadi, dasar Lembek Sialan!”
Kali ini Kei berteriak begitu frustrasi. Bahkan sampai mengentak-entakkan kakinya. Ini bukan kali pertama Dean melihat sahabatnya lepas kendali. Dia sudah sangat sering menghadapi Kei yang sedang mabuk, berulang kali dibuat tidak bisa berkata-kata karena tingkah ajaibnya. Dan sejauh ini Dean merasa tidak ada yang bisa menandingi kegilaan seorang Keitari. Karena kegilaan itu pulalah, yang menjadikannya Keitari yang Dean kenal. Keitari sahabat karibnya serta Keitari yang Dean cintai. Baginya Kei yang mabuk adalah kebebasan mutlak. Namun, disaat bersamaan ini adalah sisi paling rapuh dalam kehidupan Kei.
“Cium aku saat kamu sudah sadar. Aku gak mau kamu melupakannya, karena aku mau ciuman itu menjadi bukti bahwa hubungan kita bukan lagi rekan satu tim, atau dua orang yang bersahabat. Tapi, lebih dari semua itu.” Dean berucap dengan lembut sebelum meninggalkan Kei yang masih mengomel tidak jelas.
Sebenarnya dia bisa saja memanfaatkan hal ini, Dean pernah memikirkannya lebih dari satu kali, tapi dia lekas menepis pikiran kotornya itu. Kalau Dean mengambil keuntungan saat Kei mabuk, lantas apa bedanya dia dengan para lelaki yang Kei temui di club malam? Bahkan Dean bakal jadi orang yang lebih buruk daripada mereka. Tidak! Dean tidak mau menjadi seorang pecundang seperti itu. Jauh di dalam alam bawah sadarnya, Dean yakin kalau Kei sudah mempercayai dirinya. Dan itu terbukti dengan Kei selalu datang ke sini saat dia mabuk. Bukankah itu tandanya bahwa Dean memberikan kenyamanan serta rasa aman bagi Kei? Jadi dia harus bisa menjaga kepercayaan itu. Dean harus bisa melindungi Kei, terutama dari sisi liarnya sendiri.
Setelah selesai membuatkan teh chamomile, Dean langsung bergegas menuju ruang tengah. Semakin cepat Kei sadar semakin cepat pula Dean terlepas dari godaan yang wanita itu berikan. Namun, setibanya dia di ruang tengah, Dean tidak bisa menemukan Kei di tempat terakhir kali dia meninggalkannya. Dean meletakkan cangkir teh di meja, matanya jelalatan mencari sosok pembuat onar yang tidak pernah bisa Dean tolak kehadirannya.
“Kei...,” panggilnya mulai berkeliling, “kamu ada di mana?”
Tidak ada jawaban. Gadis itu seperti lenyap begitu saja. Setiap ruangan di rumahnya sudah Dean sambangi, tapi tidak membuahkan hasil. Keitari tidak ada di mana-mana, setidaknya itulah yang Dean pikirkan. Faktanya seorang wanita mabuk tidak mungkin menguap begitu saja tanpa jejak. Kei hanyalah manusia biasa. Dia bukan seorang ahli sihir, yang bisa menghilang hanya dengan menjentikkan jari, apalagi seorang jelmaan Jin. Kei masih ada di rumah ini. Dean yakin seratus persen, gadis itu sedang bersembunyi di suatu tempat yang tidak pernah Dean bayangkan sebelumnya.
“Kei, cepat keluar.”
Itu adalah teriakan Dean yang entah sudah ke berapa kalinya. Dia mulai putus asa mencari keberadaan Kei. Dengan kasar dia menarik kursi di meja makan, lalu mendudukkan dirinya. Dean menyerah. Mencari Kei sama sulitnya dengan mencari jarum dalam tumpukkan jerami.
“Terserahlah. Dia tiba-tiba menghilang, jangan-jangan beneran diculik SETAAANN...!!! Kaget gue!”
Dean berteriak dan memberontak saat kakinya ditarik seseorang dari kolong meja. Dia pikir salah satu hantu baru saja muncul, karena merasa tidak terima dia tuduh menculik makhluk aneh seperti Kei, makanya menarik kaki Dean. Namun, dia lekas sadar, yang memegang kakinya adalah tangan manusia.
“D..., laper....”
Suara parau Kei berhasil menyelamatkan dirinya dari tendangan Dean. Pria itu lekas berjongkok dan dengan cepat dia berusaha menarik keluar sahabatnya dari kolong meja.
“Astaga Kei! Gue hampir mati berdiri saking kagetnya, gimana kalo tadi gue gak sengaja nendang muka cantik lo?! Nangis berhari-hari gue, Kei. Pupus harapan gue jadi Ayang elo! Ayo, cepat keluar. Bener-bener lo, ya Kei.”
Si empunya nama tertawa, tidak sadar akan bahaya yang tadi sudah ada di depan mata. Saat Dean berhasil meraih dan membawanya keluar dari kolong meja, Kei langsung melingkarkan tangannya pada leher Dean. Ya, bukan memapah seperti tadi, kali ini bahasa tubuh Kei mengatakan dirinya ingin digendong oleh Dean, dan mau tidak mau pria jangkung itu harus melakukannya. Dia tidak punya pilihan lain, meskipun menggendong tubuh berisi Kei sama dengan mencederai otot-otot kesayangannya. Berat badan Kei mungkin tujuh puluh hingga delapan puluh kilo, dan menggendong seseorang seberat itu dengan gaya pengantin baru, jelas bukan keputusan yang tepat.
“Untung gue sayang ke lo, Kei. Kalo enggak udah gue biarin lo tidur di kolong meja.”
Bukan hanya Kei yang tadi mengubah gaya bicaranya, Dean pun sudah menggunakan bahasa yang begitu santai sejak beberapa saat lalu. Sepertinya dia sudah kehilangan kesabaran untuk menghadapi tingkah ajaib Kei. Meskipun sejak tadi mengomel, raut wajahnya menggambarkan betapa dia senang bisa menggendong wanita yang dicintainya. Senyuman Dean semakin bertambah lebar saat Kei mencium pipinya. Satu kecupan berhasil wanita itu curi dari Dean, tepat setelah dia meletakkan tubuh Kei di atas sofa.
“Tahan Dean... Tahan!!!”
Dia menjambak rambutnya sendiri dan terus menerus menggumamkan kata itu. Berusaha mempertahankan satu-satunya tameng yang dia miliki. Saat ini, matanya tidak bisa lepas dari bibir ranum Kei, dia benar-benar ingin mengecupnya sekali saja. Dean ingin mencuri satu kecupan manis, seperti yang Kei lakukan. Dia ingin menyesap manis dan lembutnya bibir berwarna peach di hadapannya. Haruskah dia mencuri satu kecupan itu? Lantas akan dia bawa ke mana prinsipnya selama ini?
“Tertangkap! Sekarang, ayo cium aku!”
Seiring dengan seruan itu, kedua tangan Kei sudah mencengkeram kerah baju Dean. Menarik pria itu mendekat lalu menciumnya dengan lembut. Aroma khas alkohol menyerbak sesaat setelah bibir mereka bertemu. Tepat disaat bersamaan, pertahanan Dean runtuh hingga berkeping-keping. Kei mungkin yang mengawali ciuman, tapi Dean yang mengambil alih segala yang terjadi setelahnya. Dan Dean sungguh tidak ingin menyudahi ciuman ini.