Perjanjian
"Jadi, kapan nikah?" Aidan Blackstone bertanya kepada putra sulungnya, Aleron Blackstone atau yang biasa dipanggil Ale. Meski usia Ale baru 22 tahun, tapi ia sudah merongrong putranya itu untuk segera menikah.
Aleron melirik sekilas sang ayah, tidak menjawab dan tetap melanjutkan makannya. Sejujurnya Aleron merasa risih jika sang ayah sudah mulai membahas masalah pernikahan, karena dirinya sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu. Ia sudah merasa nyaman dengan kesendiriannya. Lagipula kesibukannya sebagai spesialis bedah sekaligus direktur di Rumah Sakit Marina sudah menyita hampir seluruh waktunya.
"Apa tidak ada satupun gadis yang mau menikah denganmu? Menyedihkan sekali." Aidan masih terus memojokkan sang putra.
Alde, Aldev, Alden, Aaro dan Alea terkikik geli melihat kakak sulung mereka mendapat teror dari sang ayah, sementara sang kakak sepertinya hanya memilih diam untuk menghindari perdebatan dengan ayah mereka. Meski di luar Aleron terkenal sebagai pemuda yang dingin dan tidak berperasaan, tapi jika untuk melawan sang ayah, yang benar saja, dirinya belum bergerak pun, Aidan Blackstone pasti sudah bisa membaca jalan pikirannya. Aish! memiliki ayah seperti itu memang terkadang menyebalkan, gerutunya dalam hati.
Aleron meletakkan sendoknya. Selera makannya benar-benar hilang. Sejak usianya menginjak 20 tahun, sang ayah tak hentihentinya merongrong dirinya untuk segera menikah. Berbagai alasan yang coba ia kemukakan, selalu berhasil disanggah sang ayah dengan telak. Ale mengembuskan napas keras merasakan tekanan yang membuatnya tak nyaman itu. Membayangkan dirinya harus menuruti kebawelan seorang wanita dan berbagi segala kenyamanannya dengan entah siapa nanti yang akan menjadi istrinya, membuatnya berjengit ngeri.
"Kenapa?" Aidan Blackstone belum mau menyerah, "jangan katakan kalau kau penyuka sesama jenis, karena jika benar begitu, saat itu juga kau akan ditendang dari keluarga Blackstone!"
"Kanda, sudahlah ... biarkan Ale menyelesaikan sarapannya dulu, lagipula usianya juga baru 22 tahun." Sang istri menegur.
Aidan mendengus keras, "Dinda ... saat aku seusianya, aku sudah memiliki tiga anak! Dan kamu, di usia 22 tahun sudah memiliki lima anak!"
"Mungkin Ale belum menemukan gadis yang tepat, menikah kan tidak sekedar bertemu siapa saja lalu diajak nikah, Kanda," Carmila Blackstone memberi pengertian kepada sang suami dengan begitu sabarnya.
"Yah memang, aku beruntung sekali bisa menemukanmu," Aidan terkekeh seraya menowel pipi sang istri tercinta, membuat keenam putra-putrinya terkikik geli. Yah, memang seperti ini tabiat seorang Aidan Blackstone, m***m, tidak tahu situasi dan kondisi, keras kepala, jail tapi sangat mencintainya keluarga terutama istrinya, Carmila.
Aleron menatap sang bunda dengan penuh cinta dan bangga. Belum pernah ia menemui wanita secantik dan sebaik bundanya. Itulah mengapa sampai saat ini dirinya masih betah sendiri dan sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mencari pasangan. Selain itu juga karena Alea, adik perempuan satu-satunya sulit sekali untuk ditaklukkan. Alea memiliki standar yang tidak umum untuk calon kakak-kakak iparnya. Dia sudah sesumbar akan membully kakak ipar yang tidak sesuai dengan standartnya. Aleron tahu, Alea tidak main-main dengan ucapannya. Adiknya yang manis itu bisa berubah menjadi sangat menyebalkan jika sudah menyangkut urusan menjaga kakak-kakaknya dari terkaman singa betina.
"Ale belum menemukan yang secantik dan sebaik Bunda." Akhirnya Ale bersuara.
Aidan yang semula menekuri sarapannya, mendongak menatap sang putra dengan ekspresi terkejut, tak menyangka dengan jawaban putranya itu. Apa dia menaruh hati pada bundanya sendiri? Anak kurang ajar! Langkahi dulu mayat ayahmu ini?! Aidan mencengkeram gelas di tangannya dengan kuat.
Pyaaar!!
Gelas dalam genggaman Aidan pecah berkeping. Wajahnya berubah keruh karena amarahnya mulai bangkit. Begitulah Aidan, saking cintanya terhadap sang istri, terkadang akal sehatnya tidak berfungsi lagi. Bagaimana mungkin ada seorang ayah cemburu pada putranya sendiri.
Aleron yang sudah hafal dengan sifat sang ayah hanya menghela napas, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh kemarahan sang ayah. Dirinya sudah terlalu terbiasa dengan sikap berlebihan sang ayah.
"Kanda... jangan seperti anak-anak begini!" Carmila membersihkan serpihan gelas yang pecah. "Awhh..." Ia mengaduh saat sebuah beling kecil menggores ujung jari telunjuknya.
Mendengar istrinya mengaduh, Aidan pun tersentak. Ia pun segera menarik tangan sang istri dan memeriksanya. Seketika dirinya langsung panik melihat darah mulai merembes dari ujung jari telunjuk sang istri. Dirinya paling tidak suka melihat istrinya terluka, meskipun itu hanya berupa goresan kecil. "Bodoh! Biar aku saja yang membersihkan pecahan gelas sialan itu!" ia mengomeli sang istri.
"Hanya tergores sedikit, Kanda..."
"Tetap tidak boleh! Ayo kuobati...!" Aidan menyeret istri tercinta ke dalam klinik di rumahnya.
"Tidak perlu... Kanda... ini hanya luka kecil." Sia-sia penolakan Carmila karena tubuh mungilnya dengan mudah dibopong oleh sang suami.
Ale hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap berlebihan sang ayah. Ia melirik kelima adiknya yang juga terlihat sedang menahan tawa melihat tingkah ayah mereka. Sejak dulu selalu seperti ini, ayahnya terlalu over protect, over possesive dan over over yang lain jika menyangkut bundanya. Jangankan tergores, bundanya tersedak saja, ayahnya bisa mengamuk dan memecat koki di rumahnya karena memasak makanan yang membuat istrinya tersedak. Lihat, di mana lebay-nya, kan?
***
Aleron baru saja tiba di rumah sakit, ketika seorang perawat menghampiri dan menyampaikan pesan dari dokter jaga di IGD bahwa ada pasien yang mengalami pendarahan hebat di kepala dan membutuhkan penanganan dengan segera.
"Kalau begitu siapkan kamar operasinya!" perintah Aleron dengan wajah datar dan dingin, tanpa tersenyum sedikit pun.
"Kami masih menunggu keluarga pasien membayar DP biaya operasi Dok, tapi sampai saat ini belum ada kepastian."
"Lalu?" Ale bertanya dengan nada dingin.
"Sepertinya mereka belum mendapatkan dananya, pihak keluarga masih menunggu konfirmasi dari perusahaan tempat pasien bekerja, sehingga operasi belum bisa dilaksanakan."
Aleron berdecak tak suka mendengar jawaban perawat itu, "Sejak kapan aku menetapkan peraturan seperti itu?!"
"Ehh, bukankah itu salah satu prosedur persetujuan operasi, Dok?"
"Tidak untukku! Siapkan kamar operasi sekarang juga!"
"Ba-baik, dok."
Aleron masuk ke dalam ruang kerjanya. Setelah meletakkan tas dan melepas jasnya, ia pun bergegas meninggalkan kantornya menuju kamar bedah. Sebelum ke luar, ia terlebih dulu mengganti pakaiannya dengan pakaian hijau untuk pembedahan di dalam kamar pribadinya yang menjadi satu dengan kantornya. Nanti, ia akan memanggil seluruh staf administrasi dan manager rumah sakit ini untuk membahas peraturan rumah sakit. Namun saat ini ada yang lebih penting, pasiennya. Dirinya paling tidak suka jika rumah sakit hanya dijadikan sebagai tempat bisnis. Tujuannya menjadi dokter bedah pun juga bukan karena materi. Murni karena hobi yang membutuhkan sarana untuk menyalurkannya.
Aleron berjalan ke ruang operasi dengan kepala sedikit terangkat. Dia hanya mengangguk singkat, ketika ada rekan sejawat atau staf yang menyapanya. Angkuh? Mungkin gayanya seperti itu, tapi sesungguhnya Aleron mewarisi kebaikan hati dari sang bunda. Hanya saja tidak banyak yang mengetahuinya. Salah satu contoh kebaikan Ale adalah dirinya selalu membebaskan biaya jasanya untuk tindakan operasi pasien yang kurang mampu. Dan Aleron akan marah besar jika di rumah sakitnya ada pasien terlantar dengan alasan miskin ataupun tidak mampu.
Ale mengabaikan tatapan memuja atau kagum para wanita yang berpapasan dengannya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan mereka semua. Baginya wanita tercantik di dunia ini hanya satu, yaitu Bundanya. Ale sangat mengagumi kecantikan, kebaikan, dan kesabaran sang Bunda. Dia adalah istri dan ibu terbaik di dunia. Belum pernah sekalipun Ale mendengar sang Bunda mengeluh dalam mengurus suami dan ke-enam anaknya. Beruntung sekali sang Ayah bisa mendapatkan wanita seperti itu. Ahh, andai saja ada wanita seperti Bundanya, ia tidak akan berpikir dua kali untuk menikahinya, tapi sayang Bunda memang tiada duanya.
Aleron membersihkan diri di dalam clean room, sebelum memasuki kamar operasi. Di sana sudah berkumpul beberapa tenaga medis yang akan mendampingi dan membantunya melakukan selama operasi berlangsung. Semua laki-laki, tentu saja. Aleron selalu menolak dengan tegas jika ada wanita dalam tim-nya.
Sebelum melakukan pembedahan, terlebih dahulu Aleron mempelajari laporan medis dan hasil CT scan pasien. Tidak membutuhkan waktu yang lama. Ia bisa segera mengetahui masalahnya dalam beberapa menit saja. Ia mengangguk mantap kepada tim-nya sebelum masuk ke dalam kamar operasi.
***
Ale merenung di ruang kerjanya di rumah sakit. Baru saja manager rumah sakit datang menemuinya dan mengatakan jika keluarga dari pasien yang baru saja ia operasi beberapa jam yang lalu, bermaksud membayar seluruh tagihan rumah sakit dengan kedua ginjalnya. Pihak keluarga bersedia menukar kedua
ginjalnya asalkan pasien mendapat perawatan yang baik di rumah sakit ini. Jujur, Aleron merasa sangat tersinggung dengan sikap keluarga pasien. Jika memang mereka tidak mampu, bukankah sebaiknya mengurus surat keterangan tidak mampu? Rumah sakit akan membebaskan seluruh biaya jika memang mereka termasuk keluarga miskin. Tapi apa ini? Apa mereka sudah tidak waras? Menawarkan kedua ginjal sama dengan menawarkan nyawa. Marah, Aleron memerintahkan manager rumah sakit untuk memanggil pihak keluarga agar menemuinya saat ini juga!
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" jawab Aleron saat mendengar ketukan di pintu ruang kerjanya.
Pintu terbuka. Seorang gadis belia masuk sambil menundukkan wajah. Aleron mengernyitkan dahi melihatnya. "Ada keperluan apa?" Aleron bertanya tegas. Ia tidak suka ada penggemar yang suka berpura-pura salah masuk ruangan hanya demi melihat ketampanannya.
Gadis itu mendongak, menatap Aleron bingung. Tadi salah seorang staf rumah sakit, mengatakan jika ia diminta menemui direktur? Apa dirinya salah masuk ruangan? Tapi tulisan di meja itu jelas, bahwa di sini memang ruangan direktur. Apa lelaki muda itu direkturnya?
"Eh, saya ingin menemui direktur?" Gadis itu bertanya ragu.
"Iya, katakan ada apa?" Aleron bertanya tak sabar.
"Ahh, mereka meminta saya menemui direktur." Nyali sang gadis menciut. Sambutam yang ia terima sungguh jauh dari dugaan. Ia berpikir bahwa sang direktur akan menerimanya dengan baik meskipun tidak ramah. Tapi apa yang ia dapatkan saat ini? Sama sekali tidak ada senyum dan wajah yang ramah.
"Kau, keluarga pak Tama?"
"I-iya." Gadis itu menunduk semakin dalam. Ia takut, bagaimana jika dirinya melunasi biaya operasi sekarang juga? Bagaimana jika ginjalnya ditolak?
"Siapa namamu?"
Gadis itu mendongak. Pandangannya bertemu dengan tatapan tajam Aleron. Ia berkedip beberapa kali sebelum menjawab gugup, "Ehh, Shera Tama..."
Shera? Nama yang cantik, batin Ale.
"Aku dengar kau ingin membayar tagihan rumah sakit dengan ginjalmu?" Aleron memandang Shera dengan penuh intimidasi.
Shera mengangguk gugup, "ma-maafkan saya, perusahaan kontraktor tempat ayah saya bekerja, tidak bersedia membayar tunjangan kesehatan Ayah..." Shera menunduk, takut. Dalam hatinya terus merapalkan do'a semoga direktur rumah sakit itu bersedia menerima ginjalnya. Ia tidak tau lagi harus dengan cara apa membayar tagihan rumah sakit yang sudah ratusan juta.
Aleron bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Shera. Wajahnya kaku tanpa ekspresi. Ia maju mendekati gadis bernama Shera itu dan menikmati ekspresi gugup dan tubuhnya yang gemetar ketakutan.
"Jika aku menolak, bagaimana?" Aleron bertanya dengan nada dingin. Entah atas dasar apa dirinya menanyakan hal itu. Biasanya ia tak ingin berlama-lama dengan siapa pun selain keluarganya. Jika ada pasien meminta keringanan biaya pun, ia hanya menyetujuinya melalui sang manager rumah sakit. Tapi dari awal melihat wajah lugu dan lucu ini, hatinya pun tergerak untuk sedikit mempermainkannya. Lumayan, untuk hiburan.
Shera mendongak menatap Aleron yang menjulang tinggi di hadapannya. "Sa-saya... jika tidak bisa membayar dengan ginjal, bi-bisakah menci-cicilnya?" Shera menggigit bibir bawahnya, takut. Sang direktur rumah sakit sama sekali tidak menunjukkan persetujuannya.
"Intinya sama," jawab Aleron, "kau tetap akan jadi tawananku." Aleron tersenyum sinis.
Shera berkedip beberapa kali, mencoba mencerna maksud perkataan direktur sekaligus dokter muda itu, tapi ia masih tidak mengerti maksud dari perkataan sang dokter.
Aleron menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Shera. Desiran halus ia rasakan begitu jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti saja. Terlalu dekat, membuat sang gadis mundur beberapa langkah, menghindari intimidasinya.
"Jika kau membayar dengan ginjalmu, aku tidak akan mengambil ginjal itu sekarang, jadi selama itu kau masih berada dalam kuasaku." Aleron tersenyum setan, "dan jika kau mencicil, kau pun berada dalam kuasaku sampai saat nanti hutangmu lunas." Aleron berkata seraya terus melangkah maju mendekati Shera yang terus melangkah mundur, menghindarinya.
Shera menatap sang direktur gugup, ia terus berjalan mundur menghindar. Direktur muda itu sangat menakutkan. Wajahnya tampan dan rupawan, tapi aura yang dipancarkan membuat tubuhnya menggigil. Punggungnya menabrak dinding. Ia tak bisa menghindar lagi. Matanya membelalak saat Aleron semakin
memperpendek jarak di antara mereka.
"Dan itu artinya." Aleron berdiri tepat di hadapan Shera. Ia membungkukan badan dan berbisik di telinga gadis malang itu, "kau menjadi tawananku."
***