Shera larut dalam pikirannya sendiri, tak mendengar Ale yang beberapa kali mengajaknya berbicara. Ia masih memikirkan tante Henara. Ada rasa iba di hatinya untuk wanita baik hati itu. Selain lumpuh, tante Henara pun tidak memiliki anak. Menurut penjelasan Ale, dulu tante Henara mengalami kecelakaan saat hamil 7 bulan, terpeleset di tangga dan mengalami pendarahan hebat. Bayinya meninggal dalam kandungan. Selain kehilangan buah hati tercinta, beliau pun mengalami kelumpuhan dan dinyatakan tidak bisa lagi hamil. Beruntung tante memiliki suami yang sangat menyayangi dan sangat setia mendampinginya dalam kondisi apapun. Sudah ratusan kali tante meminta Om Bian untuk menikah lagi, tapi Om Bian tetap tidak ingin meninggalkan sang istri di saat susahnya. Seperti janji mereka saat menikah, susah senang ditanggung bersama.
"Kenapa diam?" Ale bertanya karena sejak pamit dari rumah Om Bian tadi, Shera terlihat murung. Kenapa lagi sekarang? Ia paling tidak suka melihat wajah murung Shera, suasana jadi tidak nyaman.
Shera menggeleng pelan, "tidak apa."
"Katakan ada apa!" Ale menaikkan nada suaranya, "kau kubayar untuk menuruti semua perintahku, katakan!"
Shera menghela napas, "saya hanya teringat tante Henara."
"Apa yang kau pikirkan tentang Tante?"
Shera menunduk menyembunyikan air matanya. Pasti dokter Ale akan mengatainya cengeng, jika tahu dirinya menangis. "Ka- kasiaan," jawabnya serak.
"Hmm," Ale mengusap kepala Shera, "sudah jangan menangis." Ale berkata lembut.
Shera menoleh seketika. Terkejut sekaligus tak percaya. Dokter patung itu berkata lembut padanya? Tidak ada nada sinis dan katakata keji? Tumben sekali.
"Apa?!" Bentak Ale, setelah menyadari sikap bodohnya. "Sudah, jangan menangis lagi! Hidungmu jadi merah seperti badut."
Shera memutar bola mata dan menghela napas keras. Baru juga dirinya merasa Ale sudah berubah, ternyata sama saja! Mulutnya tetap sadis.
***
Ale membuka pintu kamar perawatan ayah Shera, dan membiarkan Shera masuk lebih dahulu. Ia menyusul di belakang Shera setelah menutup pintu. Baru beberapa langkah ia berjalan, tubuhnya menabrak Shera yang tiba-tiba saja behenti. Beruntung ia bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga tidak sampai jatuh. Kedua tangannya menahan pinggang Shera agar tidak terjerembab ke lantai.
"Kenapa berhenti mendadak?!"
Bukannya menjawab, Shera malah diam mematung. Sesaat ia mengira salah masuk ruangan. Tapi begitu melirik ke arah ranjang, memang benar ini kamar perawatan ayahnya. Lalu, mengapa banyak sekali orang di dalam sana. Shera memperhatikan wajah mereka satu per satu. Ia mencelos. Keluarga patung? Mereka datang kemari untuk apa? Shera beringsut mundur dan bersembunyi di balik tubuh Ale. Ia takut pada semua Blackstone yang menatapnya tajam, termasuk wanita paruh baya yang duduk di samping Bunda Carmila, entah siapa dia, Shera belum pernah melihatnya.
"Ada apa?!" Ale heran. Ia mendongak untuk melihat apa yang membuat Shera takut. s**t! Bukan hanya terkejut, ia benarbenar shock melihat seluruh keluarganya sedang duduk di ruang tunggu dalam kamar perawatan ayah Shera. Ck! Untuk apa mereka kemari?
"Kalian sudah datang?" Carmila berdiri menyambut kedatangan Ale juga Shera.
Ale menghampiri sang Bunda dan mencium tangan serta kedua pipinya. "Kenapa semua berkumpul di sini?" Ale bertanya dengan nada datar. Pandangannya tertuju pada sang Ayah yang sama sekali tidak melihat ke arahnya.
"Kita semua mau menjenguk ayah Shera." Carmila menjawab lembut, "maaf, tadi Bunda tidak tahu kamu datang ke kantor." Carmila tersipu.
"Kenapa Bunda tidak mengundurkan diri saja, jika pada akhirnya di kantor kerjaan Bunda hanya untuk menuruti kegilaan Ayah?" Ale berkata jengah sambil merangkul pundak sang Bunda.
"Anak kurang ajar! Kau pikir Ayahmu ini tidak dengar! Dan, lepaskan tanganmu dari tubuh istriku!" Aidan mengumpat keras.
Shera langsung kembali bersembunyi ke belakang punggung Ale, melihat Aidan melotot sambil berteriak.
"Kanda, sudah, ini rumah sakit!" Carmila mengingatkan. Ia kemudian menghadap putra sulungnya,
"Bunda minta maaf, jika membuatmu merasa tidak nyaman, tapi kamu tahu sendiri bagaimana ayahmu. Jika Bunda mengundurkan diri, ayahmu bisa kalap dan memecat semua pegawainya atau seperti dulu, dia berusaha memindahkan kantornya ke rumah, mempersulit semua pegawainya?"
"Ck! Ayah memang selalu berlebihan!" Ale berdecak kesal.
Carmila tersenyum sambil melirik ke belakang punggung Ale, "jangan begitu, nanti suatu saat kamu akan mengerti."
"Mana gadis bernama Shera itu?" Tiba-tiba saja wanita paruh baya itu mendekati Ale, Shera dan Carmila.
Shera terkejut dan semakin merapat ke punggung Ale.
"Nenek membuat dia takut." Ale berkata pelan.
Marina, nenek Aleron membelalak heran, "kenapa takut, Nenek cuma kepingin lihat gadis yang sudah berhasil bikin cucu nenek kewer-kewer."
Ale membuang napas, "bukan seperti itu, Nek."
Carmila menarik lembut tangan Shera, "Shera, ini Nenek Marina." Carmila memperkenalkan Shera.
Marina mengamati Shera dari atas ke bawah, "cocok sekali, Nenek setuju." Marina langsung memeluk Shera dan menepuknepuk punggung gadis itu. Setelah melepas pelukannya, Marina menyeret Shera agar duduk di sofa bersama yang lain.
Shera menatap Ale memelas, meminta pertolongan, tapi apa daya, Ale sendiri pun telah digeret untuk duduk bersama di sana. Semua Blackstone menatap Shera dan Ale bergantian. Shera menunduk dalam, tidak berani menatap mereka. Hanya Bunda dan satu lelaki paruh baya itu yang terlihat bersahabat dan hangat, yang lainnya sama seperti sebelumnya, memasang wajah patung.
"Jadi, kapan kalian menikah?" Aidan Blackstone bertanya tanpa basa-basi.
Shera mendongak, terkejut. Apa tadi? Menikah?
"Kanda, jangan seperti itu." Carmila menegur suaminya. Aidan terkekeh geli melirik sang istri dan menariknya ke atas pangkuannya. Carmila terlihat pasrah saja mengikuti kemauan suaminya. Ia duduk tenang di atas pangkuan sang suami sambil menatap Shera, "Shera, apa Ale sudah mengatakan sesuatu hal yang penting padamu?"
Shera menatap Bunda Aleron sambil berkedip beberapa kali, ia tak mengerti ke mana arah pembicaraan Bunda Carmila.
"Maksud Bunda..."
"Belum." Aleron menjawab datar, memotong ucapan sang Bunda.
"Shera, apa kamu mau menikah dengan cucu nenek, Aleron?" Nenek Marina pun sama saja seperti putranya, to the point.
"Tentu saja tidak!" Shera menjawab langsung, "maaf, maksud saya... eh... saya belum terpikirkan menikah." Shera meralat jawabannya karena merasa kurang sopan.
Aidan menyeringai lebar ke arah putra mahkotanya. Sementara si kembar menyamarkan tawanya menjadi batuk atau berdeham keras. Aaro, meringkik seperti kuda, Alea menutup wajahnya dengan bantal dan yang lain tersenyum simpul.
Harga diri Ale jatuh di hadapan seluruh keluarganya. Ditolak di hadapan banyak orang, sungguh memalukan!
"Kamu tidak suka sama cucu Nenek?" Marina bertanya kecewa.
Shera menunduk, "maaf."
Ale menggeram kesal melihat seluruh Blackstone menertawainya diam-diam. Ia melihat pesan masuk di ponselnya yang baru saja bergetar. Firasat Ale benar, ternyata peneror yang sama.
Masih mau disebut jantan? menaklukan satu betina saja, tak sanggup?! Hahahaha...
Ale melirik sang Ayah datar. Sungguh menjengkelkan melihat Aidan Blackstone menyeringai ke arahnya. Pandangannya beralih pada sang Bunda yang terlihat menunduk, kecewa. Apa ia sudah mengecewakan Bundanya? Itu adalah hal terakhir yang ingin Ale lakukan. Sang Bunda sangat berarti baginya, kebahagiaan Bunda, kebahagiaannya juga. Baiklah, demi sang Bunda.
"Shera, menikahlah denganku!" Ale menatap Shera tajam, berharap Shera bisa menangkap nada perintah pada ucapannya.
Shera menoleh dan membelalak, kaget. Bukan hanya Shera, semua keluarga Blackstone saat ini menatap Ale, terkejut.
"Menikahlah denganku!" Ale mengulang dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi.
Shera berkedip beberapa kali, mencoba mencerna maksud dari pertanyaan Ale. Apa dokter Aleron sedang melamarnya? Tapi kenapa wajahnya kaku dan matanya mendelik begitu? Apa seperti itu ekspresi pria yang sedang melamar seorang gadis?
Ale mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Shera, "Ini perintah!"
Shera membelalak. "Tapi..." Shera tidak jadi melanjutkan ucapannya, karena Ale memberi isyarat dengan mata yang menunjuk ke ruang ayah Shera. Ia terkesiap mengingat perjanjiannya dengan Dokter Aleron.
"Baiklah." jawab Shera pasrah.
***
Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja di rumah sakit itu, tepatnya di ruang perawatan kelas super VIP I, telah dilangsungkan pernikahan antara dokter Aleron Blackstone dan Shera Tama. Mereka berdua tidak dapat mengelak karena begitu Shera mengiyakan lamaran Ale, Aidan Blackstone, Ayah Ale langsung menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, beberapa orang masuk ke dalam ruangan. Antara lain, penghulu, wali hakim dan banyak saksi. Dalam beberapa menit, status Shera sudah berubah menjadi istri Aleron Blackstone.
Aidan dan Marina terlihat saling ber-tos ria begitu pernikahan Ale dan Shera disahkan. Kedua manusia itu adalah orang yang paling antusias dalam mempersiapkan pernikahan Aleron.
"Selamat ya, Sayang." Carmila memeluk Shera yang masih terlihat shock.
Aidan menghampiri pasangan pengantin baru sambil menyerahkan sebuah amplop panjang berwarna coklat.
"Selamat menjadi pria sejati!" ujar Aidan sambil menepuk pundak putra sulungnya. Ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Aleron dengan penuh arti sebelum berlalu meninggalkan putranya itu.
Bergantian lima anaknya juga mengucapkan selamat kepada Aleron juga Shera yang bersembunyi di lengan Ale.
"Terima kasih." jawab Ale datar.
"Perhatian semuanya..." suara Marina menarik perhatian mereka semua. "Resepsi pernikahan akan digelar sabtu besok di ballroom hotel Marina, Nenek minta semua mengosongkan jadwal kalian."
Ale menghela napas keras, ia menatap Bundanya yang terlihat bahagia. "Baiklah." Ale mengangguk.
***