Shera merasakan sesuatu yang basah menempel di dahinya. Ia membuka mata perlahan, pusing. Tangannya terangkat meraba keningnya. Shera mengambil sesuatu yang lembab itu dari atas dahinya. Handuk basah? Kenapa ada di jidat sih? Shera bangun dan duduk sambil memegangi kepalanya yang masih terasa berputar. Pergerakannya yang tiba-tiba membangunkan seseorang yang bersimpuh di lantai dengan kepala disandarkan di tepi ranjang. Shera sendiri merasa tekejut. Siapa?
"Kamu sudah bangun?" Seorang wanita muda yang sangat cantik menyapanya.
Shera menatap wanita itu heran, "di-di mana ini? Bagaimana saya bisa berada di sini?"
Wanita itu tersenyum lembut pada Shera, "semalam kamu demam." Wanita itu mengulurkan tangan dan menempelkannya di kening Shera, "sepertinya demammu sudah turun." Ia tersenyum lembut.
Shera tertegun. Wanita ini perhatian sekali padanya, tidak hanya baik dan ramah, dia juga cantik.
"Si-siapa anda?" Shera bertanya, "eh maaf." Ia buru-buru menambahkan.
Belum sempat wanita itu menjawab, pintu menjeblak terbuka. Dia berjalan angkuh masuk ke dalam kamar. Siapa lagi kalau bukan Aleron. Wajahnya tetap sama, datar dan tanpa ekspresi. Ia berhenti tepat di sebelah sang Bunda. "Ini rumahku, terpaksa aku membawamu pulang! Kau tidur seperti kerbau, sulit sekali dibangunkan!" Ale menatap tajam Shera, tidak ada senyum, tidak ada sikap ramah sama sekali.
"Ale, bersikaplah yang baik." tegur sang Bunda, "ah iya, Shera... hmm namamu Shera bukan?"
Shera mengangguk.
"Kamu ingin dibawakan sarapan ke kamar atau bergabung dengan kami di meja makan?" Carmila bertanya dengan ramah.
"Ehh... sa..."
"Biar dia gabung di meja makan saja! Menyusahkan jika membawa sarapan ke kamar!" ujar Ale kejam.
"Ehh i-iya eh kak? tante?" Shera bingung harus memanggil wanita cantik itu apa? Shera tidak tahu, apa dia kakaknya dokter Aleron atau jangan-jangan calon istrinya? Kasian sekali nasib wanita itu.
Carmila tertawa renyah, "panggil saja Bunda..."
"Bunda...?" Shera membelalak. Kenapa wanita muda itu minta dipanggil bunda? Apa dia bundanya dokter Aleron? Tidak mungkin! Selain terlihat masih muda, wanita baik dan ramah itu sama sekali tak pantas untuk menjadi ibu seorang lelaki patung.
"Maaf, aku belum memperkenalkan diri," Carmila mengulurkan tangan, "Carmila, Bunda Aleron."
Shera menganga, tak percaya. Bunda? Ia menerima uluran tangan Carmila dengan wajah cengo.
Carmila tersenyum, "Ya sudah, Bunda tinggal dulu ya..." Carmila berlalu meninggalkan mereka berdua.
Shera menatap kepergian Carmila tanpa berkedip dan dengan mulut yang masih menganga. Cantik sekali. Bunda? Ya Tuhan, siapa yang menyangka dokter patung itu memiliki ibu sebaik dan secantik bundanya. Shera menepuk-nepuk pipinya pelan. Ini nyata ataukah mimpi?
Ale yang semula berdiri, melangkah menuju sofa di samping jendela yang menghadap ke halaman samping. Ia menoleh ke arah Shera. Gadis itu terlihat masih shock. "Tutup mulutmu yang bau itu!" Ale mendengus pelan, "belum mandi dan gosok gigi, jangan buka mulut sembarangan!"
Ucapan Aleron sukses membuyarkan lamunan Shera. Ia melirik Aleron dengan kesal sambil mengepalkan tangan yang rasanya sudah gatal ingin menonjok mulut berbisa itu!
"Cepat mandi dan ganti bajumu, ahh... jangan lupa gosok gigi!"
***
Shera mengikuti Aleron berjalan menuju ruang makan. Menurut Aleron, semua keluarganya sudah menunggu di sana. Shera mengamati setiap ruangan yang dilewatinya. Terkadang ia berdecak kagum, menyaksikan keindahan dan kemewahan kediaman Blackstone atau bahkan menjerit ngeri saat melewati ular phyton yang dilepas bebas di lantai. Shera menarik kemeja Aleron dan memeluk lengannya, takut.
"Dok, itu ular betulan atau mainan?" Shera berjengit takut.
"Tanyakan sendiri padanya~ular," jawab Aleron datar.
Shera merapatkan pelukannya di lengan Aleron, karena ular itu mulai bergerak. "Dok, ularnya hidup ... dia berjalan mendekati saya." Suara Shera gemetar.
"Kau bodoh atau bagaimana? Ular tidak bisa berjalan!" Aleron cuek.
"Dia merambat ehh maksudnya ngesot mengikuti saya, dok." Shera benar-benar ketakutan.
"Dia cuma mau berkenalan." Aleron menjawab sekenanya. Ia menikmati ketakutan Shera, tapi dalam hati saja.
Shera menyembunyikan wajahnya di lengan Ale. Ia ikut saja ke mana Ale melangkah, tanpa melihat jalan dan arah.
"Kalian sudah datang?" suata ramah itu membuat Shera menoleh. Ternyata mereka sudah sampai di ruang makan. Shera tak sempat mengagumi keindahan ruang makan bergaya minimalis, namun sangat luas itu. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ular itu semakin mendekat padanya.
Carmila menghampiri Shera. Ia memegang tangan Shera untuk menunjukan tempat di mana Shera harus duduk. Alangkah terkejut Carmila, ketika merasakan tangan Shera yang sedingin es. "Shera, kamu baik?" Carmila bertanya khawatir.
Aleron menoleh dan melihat Shera, ketika mendengar pertanyaan sang Bunda. Ia mencelos. Tadinya ia mengira Shera tidak setakut itu. Ale merasakan desiran di hatinya melihat wajah Shera sepucat mayat.
"Aldebaran Blackstone! Masukan ularmu sekarang juga!" bentak Ale.
Alde terkejut mendengar teriakan kakak sulungnya. Ia tahu jika sang kakak sudah memanggil nama lengkapnya, itu artinya dia benar-benar marah.
"Ular?" Carmila menunduk melihat ular milik salah satu putra kembarnya menggelesir mendekati Shera. "Alde! Bunda sudah memintamu untuk tidak mengeluarkan dia?! Kita sedang ada tamu!" Carmila berkata pelan namun tegas.
"Maaf, Bunda... Alde lupa..."
"Ini sudah kesekian kalinya kamu lalai menjaga ularmu!" Carmila menatap tajam sang putra. Meski menatap tajam, tapi sama sekali tidak menakutkan. Menurut Aidan malah terlihat menggemaskan. "Kanda! Bisakah tolong cincang ular itu, sepertinya Cheeta milik Alea akan senang sekali sarapan dengannya. Carmila berkata kesal. Ia menuntun Shera untuk duduk dan memberinya segelas air putih.
"As you wish, my lady..," jawab kanda sambil tersenyum setan. Pria yang dipanggil 'Kanda' oleh Bunda Aleron, segera bangkit dari duduknya. Ke-enam anaknya hanya bisa pasrah, jika sudah Bundanya yang memberi perintah, karena semustahil apapun itu, sang ayah akan melakukannya dengan senang hati.
Belum sempat Shera menghela napas lega, ia kembali dibuat terkejut saat ayah Aleron mengeluarkan beberapa pisau lipat dari saku celananya. Dia seperti sedang menimbang, pisau mana yang hendak digunakan.
"Pakai ini, Ayah." Seorang pemuda yang memakai seragam SMA mengeluarkan pisau lipat yang berukuran sedikit lebih besar dari saku celananya. Sang Ayah melirik sebentar, kemudian menggeleng.
"Kurang panjang, Aa," jawab sang Ayah.
"Coba ini, Ayah." Gadis satu-satunya di keluarga ini mengeluarkan sebuah pisau lipat yang terbuat dari perak dari dalam tas sekolahnya. Sang Ayah mengangguk dan menerimanya.
Wajah Shera yang semula mulai berwarna, kembali pias. Keluarga apa ini? Mengapa semua harus ke mana-mana membawa pisau? Belum lagi wajah mereka yang sama-sama datar dan tanpa ekspresi. Hanya sang Bunda yang terlihat ramah dan murah senyum. Shera membelalakkan matanya ketika sang Ayah mengayunkan pisau lipat ke arah kepala si ular.
"Jangan di sini!" Bunda Aleron berteriak.
Terlambat! Pisau perak sudah menancap di kepala sang ular. Shera merasa pusing dan mual tak terkira. Perlahan pandangannya mulai gelap dan semakin gelap hingga ia tak sadar lagi apa yang terjadi kemudian. Tubuhnya roboh. Beruntung Aleron yang berada tak jauh darinya segera menangkap tubuh Shera agar tidak ambruk ke lantai.
"Shera!" Aleron menepuk-nepuk pipi Shera. Tanpa banyak bicara, Ale mengangkat tubuh Shera dan membawanya ke ruang keluarga. Carmila mengikuti di belakangnya sambil menangis. Ale meletakan tubuh Shera di sofa panjang. Sang Bunda menghampiri sambil membawa kotak P3K.
Sementara di ruang makan. Aidan, Alde dan keempat anaknya yang lain melakukan tos bersama dalam diam sambil tersenyum penuh arti. Rencana mereka berhasil. Aidan Blackstone hanya ingin menguji seberapa besar perasaan yang dimiliki putra sulungnya terhadap sang gadis. Dan, ia sudah tau jawabannya. Alde bahkan rela mengorbankan ularnya demi keberhasilan rencana mereka.
"Jangan sampai Bunda tahu!" Aidan memperingatkan sebelum menyusul sang istri ke ruang keluarga. Seringai setan masih tersungging di wajahnya.