Jakarta, Indonesia.
Kembali ke satu minggu yang lalu, dimana Aliza baru mendorong Izma.
Setelah tanpa sengaja mendorong Izma jatuh sampai terguling-guling di tangga. Aliza terkejut, tubuhnya bergetar. Dia sangat ketakutan melihat Izma berguling-guling di tangga dan akhirnya sampai di dasar lantai dengan kondisi luka parah dan bersimbah darah.
Aliza bukannya menolong Izma, dia malah berlari saking takutnya. Dia ingin segera pulang ke Indonesia karena takut Azam mengetahui tindakannya, tetapi sebelum itu Aliza merusak CCTV yang ada di apartemen milik Izma.
Dengan segera Aliza memesan tiket penerbangan paling awal dan terbang kembali ke Indonesia. Di dalam perjalanan bahkan Aliza tidak bisa berpikiran jernih, dia bergetar, seluruh tubuhnya benar-benar tidak bisa lagi diajak bekerja sama. Dia terus membayangkan kejadian tadi, kejadian di mana wanita yang menjadi madu-nya tergeletak bersimbah darah dengan luka yang begitu parah.
Beberapa jam di perjalanan Aliza bahkan terus mengingat kejadian itu. Sehingga tumbuhnya terus-terusan bergetar tiada henti. Wanita itu benar-benar dirasuki sebuah ketakutan yang teramat dalam. Pertama dia merasa takut karena Azam ada di sana, dan takut suaminya tahu tentang kejadian itu. Dan yang kedua, dia takut Izma mati, jika sampai Izma mati maka dia akan segera dipenjara karena perbuatannya.
Walaupun Aliza begitu membenci Izma, tetapi tetap saja Aliza bukan seorang pembunuh. Karena itu adalah kejadian yang tidak dia sengaja, tidak sengaja dia lakukan. Dan tidak sengaja dia dorong begitu saja. Tetapi tiba-tiba saja dia merasa lega karena mungkin wanita yang menjadi saingannya akan segera mati.
Tetapi di balik kerasa leganya tiba-tiba kembali rasa ketakutan. Aura kecemasan dan Aura dingin yang menyelimuti tubuhnya. Membuat dia benar-benar gelisah dan tak bisa berkata apapun selain resah. Wanita itu kini berubah menjadi seorang wanita yang jahat, dan tidak berperasaan, dia membiarkan wanita terluka sendirian, seolah-olah dia itu sengaja melakukannya, supaya wanita yang terjatuh di hadapannya cepat meninggal.
Tetapi sesungguhnya bukan itu yang dia inginkan, dia hanya takut takut ada orang yang melihat dan takut Ada petugas keamanan yang memergoki nya, karena itu dia pulang secepatnya.
Butuh berapa jam untuk sampai di bandara, di dalam pesawatpun dia benar-benar tidak bisa memejamkan matanya, dan sampailah dia di bandara dengan segera dia mencari keberadaan taksi dan meluncur segera ke rumahnya.
Aliza benar-benar ketakutan saat ini. dia masih ingat darah yang dia lihat, keluar dari telinga, mulut, hidung, dan dari kakinya Izma. Aliza mengira bahwa kini Izma sudah meninggal. Dia benar-benar merasakan sebuah perasaan yang campur aduk antara lega dan takut. Lega karena wanita itu akan mati, tapi takut karena perbuatannya di ketahui orang lain.
Wanita itu sangat berharap bahwa tidak ada yang mengetahui kejadian itu, dan tidak ada yang akan menuntut apapun kepadanya, dia sudah merusak CCTV dan tidak ada barang bukti lain lagi. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ternyata itu adalah telepon dari Azam. Aliza sungguh ketakutan, dia tidak mau mengangkat telepon dari suaminya.
Tetapi jika dia tidak mengangkat telepon dari suaminya, maka Azam akan curiga kepadanya. Kini Aliza sudah sampai di rumah, dan dia duduk di kasur dengan tubuh yang bergetar. Akhirnya dia memberanikan diri untuk mengangkat dan menerima telepon dari Azam.
"Hallo pa," sapa aliza kepada Azam.
"Ma, sekarang kamu di mana? tanya Azam dengan suara yang bergetar, dia benar-benar ingin mengetahui dimana Aliza.
"Mama sedang di kamar Pa, Mama nggak enak badan, ada apa, pa?" ucap Aliza berkelit, dia berbohong kepada Azam. Padahal kini Aliza baru saja sampai di Indonesia. Sepertinya Azam sudah kembali ke apartemen dan melihat kondisi apartemen yang berantakan, dan izma yang menghilang.
"Izma hilang, seseorang telah masuk ke rumahnya, rumahnya berantakan dan sekarang Izma tidak tahu berada di mana. Bisakah kamu membantu aku, mencari keberadaannya?" ucap Azam dengan tubuh yang bergetar menghubungi Aliza. Berharap Aliza bisa membantunya untuk mencari Izma.
Azam memang bodoh meminta bantuan kepada Aliza Azam berpikir Aliza adalah seorang perempuan berhati malaikat, karena membiarkan suaminya menikah kembali, tetapi di balik semua senyum dan tawa Aliza di depan Azam, terpendam sebuah rasa kebencian terhadap Izma.
"A, apa?"
"Izma hilang Ma, bantu Papa cari dia!" Ucap Azam kepada Aliza.
"Mama harus bantu mencari di mana Pa, Mama, tidak tahu Papa di mana sekarang." Aliza kembali berkelit dia sebenarnya bergetar dan bingung harus menjawab apa, tetapi Aliza mengatur nafasnya agar suaranya tidak terdengar bergetar.
"Tolong kamu urus Rumah Sakit saja kalo begitu, perintahkan beberapa Direktur untuk mengurus rumah sakit. Sementara Papa tidak ada. Sebelum Izma di temukan Papa tidak akan pulang Ma," ucap Azam sambil memejamkan matanya. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana selain mencari keberadaan Izma di New York.
Dia hanya bisa mempercayakan semuanya kepada Aliza. Agar Liza bisa memerintahkan beberapa Direktur untuk mengurus semua kebutuhan atau pekerjaannya di Rumah Sakit.
"Baiklah Pa, Mama akan segera memerintahkan Direktur utama untuk menggantikan Papa, sementara waktu," ucap Aliza dengan pelan. Lalu Azam pun mengangguk.
"Terima kasih banyak Mama, kalau begitu jaga diri Mama disana. Baik-baik ya. Papa tidak akan pulang sebelum Izma ditemukan," ucap Azam sambil menutup teleponnya lalu sambungan telepon itu pun terputus.
Tiba-tiba Aliza tersenyum begitu bahagia mendengar bahwa Izma hilang. Aliza berpikir mungkin ada seseorang yang telah membawa Izma ke Rumah Sakit, tanpa bilang kepada Azam terlebih dahulu.
Aliza begitu senang dengan kondisi itu, tetapi juga merasa kecewa kenapa Izma tidak mati saja. Padahal kalau Izma mati semuanya tidak akan terbongkar. Kini Alisa hanya bisa berharap bahwa madu-nya itu tidak di temukan sama sekali oleh suaminya.
Jika memang sudah terbukti bahwa Izma masih hidup, maka Aliza tidak akan bisa selamat dari Azam. Karena Azam pasti akan memberikan sebuah hukuman padanya, dan bisa saja Azam menceraikannya karena kejadian ini. Wanita itu sungguh takut mendengar kata perceraian dari suaminya.
Aliza sudah mencintai Azam begitu dalam, karena itu dia begitu membenci kehadiran Izma dalam rumah tangganya. Membuat hatinya Tersakiti. Istri mana yang rela dan ikhlas suaminya menikah lagi, dengan seorang wanita yang bahkan lebih cantik darinya. Kebencian Aliza kepada Izma itu memang wajar. Tetapi perlakuan Aliza kepada Izma itu tidak wajar karena itu membahayakan nyawa seorang manusia.
Kini Aliza harus berpikir keras untuk rencananya ke depan, jika suatu saat Izma ditemukan maka dia tidak bisa diam saja dan membiarkan Izma berbicara kepada Azam. Jika Izma di temukan Aliza harus segera membungkam mulut Izma. Hanya itulah yang ada dalam pikiran Aliza untuk saat ini.
***
TBC