“Ayolah, jangan pasang tampang lugu. Kamu bukan wanita baik-baik, Gab. Nggak usah sok jual mahal, kamu juga suka kan?” Seru Roger yang menyoroti Gaby dengan tatapan nakal, senyum seringainya pun membuat kesan sangar pada wajah tampannya. Biasanya aura maskulin itu begitu mendebarkan hati Gaby, namun kali ini di luar kebiasaan, Gaby sama sekali tidak bisa menikmati permainan yang hendak digiring pria itu.
Air muka Gaby terlihat muak mendengar kata-kata yang meremehkannya. Ia tak menampik bahwa pergaulannya selama ini bebas, namun bukan berarti hidupnya hanya diprioritaskan pada urusan kenikmatan duniawi semata. Gaby menggertakkan gigi, mengepalkan tangan sekuat mungkin, ia perlu segera menyingkirka benalu di hadapannya sebelum pria itu semakin merusaknya. “Makan saja nafsumu sendiri! Mulai sekarang kita putus!” Gertak Gaby seraya menendak kuat ke arah bawah perut Roger, serangan tak terduga yang di luar prediksi itu pun berhasil melumpuhkan Roger yang langsung mengerang kesakitan dan terkulai di lantai. Gaby memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur, berlari kencang tanpa berminat menoleh ke belakang ataupun sekedar bersimpati pada pria yang baru beberapa detik berstatus sebagai mantannya.
“Gaby... Kembali... Jangan tinggalkan aku!” Pekik Roger yang belum sanggup berdiri pasca ambruk oleh tendangan telak yang mengenai aset berharganya itu. Sayangnya ia harus menerima kenyataan bahwa wanita yang selama ini ia andalkan untuk hidup itu telah pergi, menyudahi hubungan yang terlanjur membuat hidupnya nyaman.
“Aaaarrggghhh!” Pekik Roger, kolaburasi antara rasa sakit fisik dan luka batinnya akibat putus cinta.
⚫⚫⚫
Keheningan mendominasi ruangan bersuhu dingin dan luas itu, meskipun ada tiga orang di dalamnya, namun tak satupun yang berniat memecah ketegangan. Sepasang mata teduh milik Tristan terus mengawasi gerak-gerik dokter Bekti yang sedang memasangkan selang infus. Tatapan itu beralih pada tubuh pria paruh baya yang terbaring tak berdaya di atas ranjang king size. Tristan tak bisa menyembunyikan kecemasannya, wajah tuan besarnya yang pucat pasi itu begitu meresahkan, terlebih satu-satunya orang yang paling berhak mengatur penanganan terbaik untuk pria tua itu belum juga sampai. Mau tidak mau, Tristan harus mengambil alih peranan penting itu demi keselamatan tuan Herawan, bos besarnya.
“Gimana dokter? Apa kita perlu bawa ke rumah sakit saja?” Tanya Tristan pelan begitu ia mendekat pada dokter Bekti yang sudah membereskan urusan infus.
Dokter tua itu membetulkan kacamatanya seraya menatap dengan mimik serius ke arah Tristan. Helaan nafas berat terdengar memberatkan dirinya untuk bicara, “Tindakan yang paling baik memang hanya bisa dilakukan di rumah sakit, tapi kita sama-sama tahu, tuan Herawan ini susah sekali dibujuk untuk dirawat di sana.” Keluh dokter Bekti.
Tristan menatap lekat tuan Herawan yang sadarkan diri dan pasti bisa mendengar permbicaraan mereka, namun wajah tua itu bertingkah seakan tidak tahu apapun. Tristan reflek menggelengkan kepalanya, merasa tak punya banyak kapasitas untuk turut campur namun juga tak sanggup melihat kondisi tuan besarnya yang seperti sengaja membiarkan dirinya tersiksa penyakit dan ingin mati pelan-pelan.
“Saya akan coba bicarakan dengan nona muda ketika dia kembali. Atau kalau dokter masih punya waktu, bisakah menunggu nona Gaby sebentar lagi? Saya rasa dia sebentar lagi akan sampai. Mungkin kalau dokter yang menyampaikan kepada nona, hatinya bisa tergugah dan membujuk tuan besar untuk dirawat di rumah sakit.” Ujar Tristan pelan, merasa itulah jalan keluar terbaik untuk saat ini.
Dokter Bekti tampak diam berpikir sesaat, kemudian anggukan kepalanya terlihat mantap.
“Baiklah, saya tunggu nona Gaby di sini.”
Tristan tersenyum sumingrah, “Terima kasih dokter, kalau begitu saya keluar sebentar, mau minta Bi Ijah buatkan minuman dulu. Sampai lupa belum sempat kasih dokter minum, maaf ya.” Tristan tersenyum canggung, kepanikannya tadi sewaktu mengurus Herawan yang mendadak kumat vertigo hingga tak sadarkan diri. Untung saja setelah dokter Bekti sampai tidak begitu lama, Herawan pun siuman.
Baru saja Tristan membalikkan badannya, suara Herawan yang lirih dan lemah itu mendesiskan namanya. “Tris... Tan....” Panggil Herawan terbata-bata, hanya sanggup bersuara sepatah kata itu saja.
Tristan yang peka pun mendengar suara itu meskipun sayup. Ia menoleh ke belakang, lalu bergegas menghampiri Herawan yang rebahan. “Ya tuan besar, apa ada yang anda perlukan?” Tanya Tristan begitu sigap, mencondongkan tubuhnya agar lebih leluasa mendengar bisikan bosnya.
Herawan menatap Tristan dengan sepasang mata berkaca-kaca, dari raut wajahnya saja tampak tak berdaya, tidak ada semangat untuk berjuang hidup. “Kamu jangan pergi, aku mau bicara serius.” Ungkap Herawan tertatih.
Tristan menoleh ke samping, meminta maaf pada dokter Bekti lantaran ia harus mengurungkan niatnya mengambilkan minuman. Dokter Bekti pun mengangguk, seolah paham bahasa isyarat yang mereka lakukan. Tristan kembali fokus pada Herawan, tak tega membiarkan pria tua itu menunggu responnya terlalu lama. “Saya di sini, tuan besar. Apa yang ingin anda bicarakan?”
Mulut Herawan sedikit terbuka, tampak hendak mengucapkan sesuatu namun muncul keraguan yang tersorot jelas dari sinar matanya. Pria tua itu menatap Tristan dan dokter Bekti secara bergantian, kemudian berusaha menggerakkan wajahnya hingga leluasa menatap ke arah pintu kamarnya yang masih tertutup. “Gaby... Apa dia belum pulang?”
Tristan menggeleng lemah, belum juga menjawab dengan kata-kata tetapi Herawan sudah bisa mengartikannya. Pria tua itu menghela nafas kasar, gurat wajah kecewanya terlihat jelas, bukan sekedar kekecewaan semata, di usianya yang memasuki masa senja, ia masih terbebani tanggung jawab kepada anak gadisnya yang masih melajang dan berkelakuan sedikit liar. Sedih, kesal dan bingung, entah harus berbuat apa lagi agar putrinya bisa berubah lebih baik, setidaknya mau mendengarkan nasihatnya.
“Saya sudah menghubungi nona, sebentar lagi pasti nona sudah sampai. Tuan besar jangan cemas, nona Gaby terdengar sangat panik saat saya mengabarinya.” Ungkap Tristan, menyampaikan apa adanya.
Satu tangan Herawan terjulur hendak menyentuh Tristan, gestur itupun disadari Tristan yang cukup peka. Pria muda itu lebih inisiatif meraih tangan tuan besarnya, melupakan sejenak perbedaan status di antara mereka yang begitu mencolok. Tristan hanya seorang supir pengganti mendiang ayahnya, keluarga mereka sudah menjadi asisten di rumah Herawan sejak masih muda, bahkan kedua orangtua Tristan bisa saling mengenal dan jatuh cinta pun berkat bekerja di kediaman Herawan. Karena fisik yang mulai melemah dan asma ayah Tristan yang sering kambuh, akhirnya Tristan yang berinisiatif mengganti posisi ayahnya sebagai supir Herawan. Meskipun keputusan itu harus mengorbankan cita-citanya melanjutkan kuliah, apa daya Tristan tak mungkin tutup mata melihat ayah dan ibunya yang sudah rapuh itu tetap mengabdi pada keluarga Herawan Widjaja hingga tutup usia hanya karena hutang budi. Terpaksa dia lah yang tahu diri dan menggantikan posisi ayahnya menjadi supir pribadi Herawan agar ayah dan ibunya mau mendengarkan permintaannya untuk berhenti kerja dan menghabiskan masa tua di kampung halaman mereka.
Herawan menggenggam tangan Tristan, sorot matanya tajam melirik pada anak muda di dekatnya. Bibirnya mulai terbuka, ia yakin dengan apa yang akan diucapkannya. “Tristan... Aku punya satu permintaan, anggaplah ini permintaan terakhirku. Aku mau kamu menikahi putriku, Gaby Widjaja.”
Tristan terperanjat kaget, tangan yang semula ia biarkan digenggam erat oleh Herawan pun reflek ditariknya. Permohonan tuan besarnya terlalu mengejutkan, sulit bagi Tristan untuk menerima kenyataan. “Apa? Menikahi nona Gaby?”
⚪⚫⚪⚫