Terjerat Perjodohan

1398 Kata
Suasana yang semula sudah mulai mencair ketegangannya, kini kembali membungkam tiga pria yang diam dengan pikiran masing-masing. Tristan berulang kali menggelengkan kepalanya, berharap apa yang ia dengar hanya hasil lamunan, tetapi suara Herawan yang kembali terdengar menyadarkan bahwa ini memang kenyataan dan ia terpojokkan oleh dilemanya sekarang. “Ya, Gaby sudah dewasa, aku tidak bisa tenang kalau belum lihat dia menikah. Tapi sifatnya terlalu liar, aku takut kalau pria yang mendekatinya bukan pria baik-baik. Kamu... Aku sangat mengenal keluargamu, bibit bebet bobotmu aku tahu semua. Hanya dengan menikahkan kamu dengan Gaby, matipun aku bisa tenang.” Ujar Herawan memperjelas kehendaknya yang egois. Hanya memandang sisi kecocokan dari dirinya saja, tanpa mempertimbangkan perasaan serta persetujuan yang bersangkutan. Tristan menundukkan kepalanya, bingung memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyuarakan penolakan tanpa menyinggung perasaan Herawan. Meski ia tahu agaknya hal itu mustahil, tidak mungkin ada yang berbesar hati menerima penolakan, terlebih di saat orang itu sudah menaruh harapan besar kepadanya. Belum ada satu katapun yang terlontar, Tristan baru sanggup mengangkat wajah dan menatap lekat pada pria tua berkepala separuh beruban itu. “Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Kamu tidak setuju menikah dengan putriku? Apa Gaby tidak pantas buat kamu?” Tuding Herawan dengan air muka tampak sangat menyedihkan. “Bukan begitu tuan besar, justru saya yang merasa minder. Saya tidak pantas untuk nona muda, saya hanya....” Belum sempat Tristan menyelesaikan kata-katanya, Herawan sudah memotong pembicaraannya. “Hanya anak pembantu? Aku tahu itu yang ada dalam pikiranmu, terlalu menganggap dirimu rendah padahal aku sama sekali tidak menilaimu begitu.” Herawan berhenti bicara, wajahnya mengerut seraya memegangi pelipis. Vertigo itu kembali menyerangnya setiap kali ia berpikir berat tentang Gaby. Tristan dan dokter Bekti sontak terkejut, dengan sigap tangan Tristan membetulkan posisi rebahan Herawan yang sedikit melorot dari tumpukan bantal yang sengaja disusun tinggi. Ketika kumat, memang seperti itulah penanganan yang bisa dilakukan untuk meringankan rasa sakitnya, sudah berulang kali pula Herawan jatuh pingsan karena vertigo akut itu. Dan dia selalu menolak ketika Gaby atau Tristan membujuknya ke rumah sakit. “Sudahlah, tua bangka seperti aku memang sudah tak lama lagi waktunya. Aku tidak pernah menyesali kehidupanku, tapi yang aku sesalkan hanyalah kegagalanku mendidik seorang anak. Mungkin aku terlalu memanjakan dia, sampai dia benar-benar tidak punya tujuan hidup. Kuliah saja berantakan.” Lirih Herawan yang kembali menyoroti Tristan dengan tatapan penuh harap. Dokter Bekti hanya menjadi penonton pasif, ia sudah cukup lama menjadi dokter keluarga Herawan. Sifat penghuni rumah ini mulai dari pembantu sampai tuan rumah pun cukup dikenalinya. Dokter Bekti pun tahu betul bagaimana peringai Gaby yang sangat sulit diatur, pembangkang dan kerap berselisih paham dengan ayahnya. Menikahkan seorang wanita keras kepala dan egois itu kepada seorang pria baik, patuh, perhatian dan lembut seperti Tristan, sama seperti menyatukan dua kubu magnet yang saling tarik menarik. Sifat yang kontras itu semestinya bisa melengkapi kekurangan masing-masing, namun dengan catatan jika keduanya mempunyai perasaan yang sama. “Tuan besar lebih baik istirahat dulu, fokus pada pemulihan. Jangan terus menyalahkan diri sendiri, anda adalah ayah yang baik dan sayang pada nona Gaby.” Ujar Tristan mencoba menghibur dan mengalihkan topik pembicaraan mereka tentang perjodohan itu. Lebih baik ia menjadi pendengar yang baik seperti biasanya, ketika Herawan berkeluh kesah tentang sikap Gaby yang memang keterlaluan. Sebisa mungkin ia akan berkelit dan membuat Herawan lupa dengan pembicaraan sebelumnya. Herawan mendelik, “Kamu mau menghindar dari permintaanku tadi? Aku tidak suka mendengar penolakan, kamu tahu betul itu kan?” Tristan menghela nafas kasar, Herawan masih cukup kuat untuk mendesaknya memberi jawaban yang tentu saja bisa ditebak jelas. Itulah sebabnya Herawan mengultimatum terlebih dulu bahwa ia paling benci mendengar penolakan. “Tuan besar, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada anda dan nona muda, saya sungguh merasa tidak pantas menjadi pendamping nona muda. Akan lebih baik jika tuan besar mengenalkan pria dari kalangan yang sepadan, pengusaha muda yang sukses dan lebih cocok untuk menjadi menantu sekaligus mengelola perusahaan anda. Saya rasa mereka jauh lebih baik ketimbang saya.” Herawan tersenyum miring, alasan penolakan yang terdengar realistis namun juga terlalu muluk. “Aku sudah bilang kamu jangan merendahkan dirimu. Di luar sana memang banyak pria yang jauh lebih baik dari kamu, tapi yang aku percaya dan aku nilai pantas hanya kamu.” Tristan merasa tersanjung mendengar pujian itu, bisa menjadi orang kepercayaan seseorang membuatnya merasa sangat dihargai. Herawan memang pria yang baik, namun tetap saja tidak cukup meyakinkan Tristan untuk berani menerima tawaran perjodohan itu. Perbincangan serius itu terjeda ketika pinta kamar dibuka dari luar, tiga pasang mata yang ada di dalam sontak memandang ke arahnya. Orang yang muncul dari balik pintu sudah bisa ditebak, dan hati Tristan berdegup kencang saat melihat Gaby. Ia pun tak mengerti mengapa hatinya bereaksi berlebihan, padahal biasanya ia bersikap hormat dan tak berani berpikir berlebihan tentang nona cantik itu. ‘Apa aku sakit? Kenapa jantungku secepat ini?’ Tanya Tristan gusar dalam hati, pasalnya semakin Gaby mendekat, ia kian serba salah harus bersikap bagaimana. Reflek ia berdiri dan mundur beberapa langkah saat Gaby sampai di sisi ranjang. Tristan sengaja menciptakan jarak, berharap debaran jantungnya yang berlebihan itu segera mereda. Gaby menatap lekat ayahnya yang tampak tak berdaya, antara hendak marah, sedih serta rasa takut kehilangan. Seburuk apapun hubungannya dengan pria yang menjadikannya ada di dunia ini, Gaby tetap tak bisa memungkiri bahwa hanya ayahnya lah satu-satunya keluarga yang masih tersisa untuknya. Dan ia belum siap untuk kemungkinan terburuk yang membuat ia harus kehilangan pria tua itu. “Sudah berapa kali aku bilang, papa tuh jangan keras kepala. Kalau memang harus dirawat di rumah sakit, ya jangan ditunda lagi. Papa takut apa sih di sana? Dokter Bekti kan ada, semakin cepat ditangani, peluang papa sembuh makin besar. Iya kan dok?” Tanya Gaby yang kini berpaling melihat ke arah dokter Bekti, berusaha mencari sekutu untuk membujuk ayahnya. Dokter Bekti tersenyum tipis seraya mengangguk setuju. “Yang dikatakan nona Gaby memang benar.” Jawabnya singkat. Herawan menjulurkan tangannya, berharap mendapatkan respon dari putrinya. Namun Gaby justru tercengang melihat hal yang tidak biasa itu, firasatnya berkata buruk, Herawan seperti menunjukkan pertanda itu. Meskipun merasa janggal, tetapi ia tak kuasa menolak keinginan pria tua itu untuk menyentuhnya. Gaby meraih tangan tua itu, merasakan panas dari genggaman tangan yang terasa sedikit aneh namun menenangkan. Herawan tersenyum tipis menatap Gaby yang terlihat sedih. Ia bisa merasakannya walau tak terucap lewat kata-kata, ekspresi cemas itu begitu kentara terlihat dari wajah putih merona putrinya. “Putriku Gaby, papa memang tersiksa sama rasa sakit ini. Tapi pikiran papa jauh lebih sakit... Memikirkan kamu.” Lirih Herawan bersiap menyampaikan kehendaknya yang tak terbantahkan. Sementara itu Tristan semakin grogi, dua tangannya mengepal kencang dan ia tak sanggup mendengarkan apa kelanjutan yang akan disampaikan Herawan. Harga dirinya berada di ujung tanduk, dipertaruhkan dengan penolakan keras yang pasti akan diteriakkan oleh Gaby. “Pa, sudahlah... Aku nggak perlu dipikirkan, aku bisa urus diriku sendiri. Kalau hanya bikin papa tambah sakit, lebih baik nggak usah anggap aku ada saja, pa.” Gerutu Gaby, tak senang mendengar keluhan ayahnya yang mengaitkan dirinya sebagai penyebab. Herawan tersenyum seringai, sekilas ia melirik pada Tristan yang berdiri di belakang Gaby dengan pandangan yang menunduk, menyembunyikan rasa rendah dirinya. “Kamu sayang papa nggak? Kamu masih ingin lihat papa hidup?” Gaby berdecak kesal, “Kenapa masih harus ditanyakan sih? Ya jelas sayang lah, papa satu-satunya orang terdekatku. Makanya papa jangan menolak dibawa ke rumah sakit, kita berangkat malam ini juga, dengarkan semua saran dokter Bekti demi kesembuhan papa.” Tekad bulat Gaby yang sudah mengkode dokter Bekti dengan tatapan pun terhalang begitu ia merasakan tarikan dari tangan Herawan yang masih menggenggam tangannya. Gaby melihat ke arah ayahnya, cemas, entah apa lagi yang diinginkan pria tua itu. “Papa mau ke rumah sakit dan janji akan serius berobat tapi dengan satu syarat. Jika kamu memang sayang papa, kamu tidak boleh membantah.” Kecam Herawan, meskipun dengan suara lirih namun tetap terlihat tegas. Sepasang mata lentik Gaby menyipit, belum pernah ia ditodong persyaratan dan ini terlihat sangat serius. Ia memang sering cekcok dengan ayahnya, tetapi kali berbeda, Herawan seperti mengajukan permohonan terakhir yang membuat Gaby bisa merasakan penyesalan seumur hidup apabila menolaknya. “Apa maumu, pa?” Herawan menarik senyum tipis, saatnya ia mengatakan apa yang menjadi kehendaknya. “Papa mau menikahkan kamu dengan Tristan, secepatnya!” “Apa?” Pekik Gaby lantang, shock mendengar permintaan tak masuk akal itu. Tristan merasa sesak ketika pekikan Gaby melengking nyaring, meskipun sudah bisa menebak bagaimana reaksi wanita itu, namun Tristan tak menyangka eksekusinya justru lebih menyakitkan. ‘Aku harus bagaimana sekarang? Perjodohan ini mustahil, kami tidak akan bahagia jika sungguh dipaksakan.’ Lirih Tristan membatin dengan memendam kegusarannya. ⚫⚪⚫⚪
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN