BAB 5

1055 Kata
Ya Salaaam! Mataku membulat saat menyadari siapa yang datang. Vania, ngapain dia pagi buta sudah ke sini. Padahal aku sudah bilang, jangan hubungi aku. Jangan ketemu. Kenapa masih ngeyel. Astaga, aku menepuk jidatku. Aku baru ingat jika nomornya masih kublokir. Semalam aku ketiduran gara-gara pura-pura tidur, menunggu Namira tidur. Saat terbangun, hari sudah pagi. Dan ponselku pun sudah berpindah tempat. Di dapur! Ternyata Namira telah duluan membawa dua ponsel itu. Mana berani aku mengambilnya. Kecuali ada pesan masuk atau telepon masuk. Lagi pula, aku terlanjur bilang pada Namira kalau aku tidak ke kantor karena cuti. Jadi, dia sudah tak percaya jika aku berbohong mengecek ponsel karena urusan pekerjaan. “Aku kasih tahu ya, dia itu sudah bosan padamu." Vania menunjuk-nunjuk muka Namira. Kurang ajar sekali dia. "Buktinya? Dia milih menghabiskan waktu denganku, dibanding denganmu!” lanjut Vania jumawa. Namira yang selama ini lembut pun, menampakkan raut muka bengisnya. Keduanya seperti siap hendak adu kekuatan. “Stop! Vania. Keluar kamu dari sini!” Hardikku sambil berjalan mendekat. Sebenarnya, aku malu pada tetangga. Sepagi ini, rumahku sudah gaduh. Kedua perempuan itu sontak menoleh ke arahku begitu mendengar suaraku. “Urus tuh selingkuhanmu,” bisik Namira tepat di telingaku. Ibu dari dua anakku ini sepertinya khawatir kalau anak-anak mendengar sesuatu yang tak baik dari kami. Dia langsung berbalik arah masuk ke dalam rumah seolah tak mau tahu dan tak ingin mencampuri urusanku. “Tapi, selangkah kamu keluar dari rumah ini dengannya, tak kubiarkan kamu kembali,” bisik Namira lagi dengan penuh penekanan, sebelum benar-benar pergi menjauh dariku. Aku melotot, berusaha mencerna kata-katanya, sekaligus menahan geram pada kelancangan Vania yang nekat datang ke rumahku. Lalu aku harus bagaimana? Disuruh mengurus, tapi tak boleh pergi. Pelik! Namira telah pergi meninggalkanku. Sementara, Vania menatap tajam kepadaku penuh kebencian. Sungguh berbeda dengan sikapnya saat sebelum petaka ini terjadi. Aku hanya bisa memijit keningku. Pening rasa kepala. “Kamu dengar kata-kataku tidak? Keluar atau kupanggilkan satpam!” ujarku dengan nada mengancam, namun dengan suara yang hanya Vania yang mendengar. Aku terpaksa menirukan intonasi suara Namira karena khawatir anak-anak mendengarnya. “Mana janjimu? Bahkan nomorku sudah kaublokir. Nomor barumu tidak bisa dihubungi,” sahut Vania dengan berani. Bahkan, sepagi ini ucapannya demikian lantang dan panjang, mirip gerbong kereta. Aku hanya takut jika ada tetangga yang mendengarnya. Nanti aku dipikir punya selingkuhan. Bisa-bisa jadi berita gosip sekompleks. “Surat pemecatanku sudah keluar,” ujar Vania sambil mengeluarkan secarik amplop dari tas slempangnya. Tangannya mengulur menunjukkan surat itu padaku. Apa? Vania dipecat? Lagi-lagi aku tak dapat menutupi kekagetanku. Hatiku mulai risau. Jangan-jangan selanjutnya aku pun dipecat. Pasti ini gara-gara Burhan. Dia pasti telah melaporkan pada Pak Taufan dan Pak Hanafi tentang kedekatanku dengan Vania. Semoga hanya Vania yang dipecat. Tak mungkin Burhan tega padaku. Aku sudah lama bersahabat dengannya. Semoga Pak Hanafi tidak mengubah keputusannya. Para petinggi di kantor hanya menurunkan jabatanku sebagai staf. Tapi, tidak memecatku. “Mulai bulan depan, kamu harus tanggung biaya hidupku. Karena gara-gara kamu, aku dipecat. Jika tidak, akan aku sebarkan foto-foto kita, seperti kamu menyebarkan di statusmu,” ancam Vania sambil melenggang meninggalkanku, sebelum aku sempat mengucapkan apapun padanya. Apa? Menanggung biaya hidupnya? Kayak gundikku saja? Bahkan aku tak menikmati apapun dengannya. Kami hanya sekedar teman ngobrol. Itu pun aku yang mentraktirnya. Masak sekarang aku harus mengurusi biaya hidupnya. Tidak masuk akal! Aku menghembuskan nafasku dengan kasar. Saat masuk rumah, anak-anak sudah pindah di depan tivi. Dafa main lego. Sementara Dafi duduk di sebelah Dafa sambil membuka-buka bukunya. Aku sendiri langsung ke meja makan. Teringat nasi gorengku yang masih setengah. Baru hendak duduk, Namira sudah komentar, “Jadi, kamu akan menanggung biaya hidupnya? Hebat bener.” “Aku yang membuat dia dipecat,” ujarku pendek. Sebenarnya aku sudah tak berselera menghabiskan makanku. Tapi, karena masih setengah, dan pasti Namira akan mengamuk jika membiarkan makanan mubadzir, terpaksa aku menghabiskannya. “Bukan kamu. Kalian berdua!” sahut Namira. Telunjuknya yang semula menunjukku, berpindah mengetuk-ngetuk meja makan. Tak pernah sebelumnya Namira berani menujuk mukaku dengan telunjuknya. Malang benar nasibku. Karena nila setitik, rusak s**u sebelangga. “Tapi, kalau aku tidak memposting, maka tidak akan terjadi...” Aku mencoba beralasan. Aku tidak selingkuh. Itu hanya kesalahan kecil, salah memposting foto. “Oke, bela terus dia. Lebih baik kamu keluar dari sini dan hidup bersamanya. Dari pada kamu di rumah ini, tapi otakmu memikirkannya,” ujar Namira sambil berlalu dari hadapanku. Astaga! Namira mengusirku? Apa maksudnya ini? Apa dia benar-benar mau minta pisah dariku. Ya Salaam. Ini kan masalah kecil. Kenapa jadi rumit. Aku tidak selingkuh! Hanya mencoba dekat saja. Hanya nyaman saling berbagi. Kenapa semua jadi menuduhku selingkuh? Heran! Lagi pula, kalau aku sampai diusir, memang mereka bisa bertahan hidup? Mau makan apa? “Aku mau kerja,” ujar Namira. Perempuan itu kini sedang menggosok pakaian sambil mengawasi anak-anak bermain. Sementara, aku duduk di karpet memangku Dafi. Anak umur setahun ini masih saja memainkan buku-buku bergambar yang berbahan kardus tebal. Namira berujar sambil tatapan matanya menerawang. Astaga! Kenapa menakutkan begini. Apa dia sadar dengan apa yang diucapkannya. Kalau dia mau kerja, trus anak-anak sama siapa? Siapa yang mengasuh mereka? Anak-anakku masih kecil-kecil semua. Deg! Tiba-tiba mataku membulat. Kenapa dia tiba-tiba mau kerja? Apa dia dapat membaca pikiranku? Apa dia benar-benar mau berpisah denganku. Bisa gawat kalau dia benar-benar kerja. Dia akan seenaknya kapan saja minta pisah dariku. Dulu aku memang yang memintanya tidak bekerja saat dia hamil Dafa. Aku ingin Namira fokus pada keluarga dan anak-anak. Lagipula, aku tak suka hidup dengan pembantu. Aku ingin anak-anak dipegang langsung oleh ibunya. “Memang kamu mau kerja apa? Cari kerja sekarang susah,” sahutku. Bukan aku meremehkan. Dia sudah empat tahun tidak kerja. Kegiatannya hanya mengurus rumah. Tentu ia tidak bisa bersaing dengan lulusan baru, seperti Vania. “Ya apa saja. Yang penting aku bisa dapat uang dan halal,” ujarnya. “Nggak usah neko-neko. Cukup aku saja yang bekerja. Aku bisa menafkahi kalian,” balasku jumawa. Dia melirikku sekilas, lalu meletakkan setrikaan setelah memutar suhunya ke ukuran terkecil. Perempuan itu berjalan menuju rak buku yang ada di sebelahku. Lalu ia mengangsurkan sebuah amplop padaku. Kubolak-balik amplop berwarna putih itu. Keningku berkerut saat membaca tulisan yang tertera di sana. Surat ini dari kantorku. Mengapa ada di sini? Siapa yang mengantar surat itu? Segera kubuka amplopnya. Dadaku bergemuruh. Surat dengan logo kantorku. Semoga berita baik yang kudapatkan. Tapi, mendadak tenagaku terasa lemas. Apa yang kutakutkan menjadi kenyataan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN