“Iya. Iya. Nanti kita lihat saja. Kalau masih berani, kok ya kebangetan,” sahut Namira lemah.
“Ya, sudah. Sudah siang. Waktunya masak. Aku pulang dulu,” ujar Widya sambil mengajak anaknya pulang.
Namira pun mengajak anak-anaknya pulang. Hari sudah mulai panas. Matahari sudah meninggi. Sepanjang jalan, Namira memikirkan baik-baik ucapan sahabatnya itu.
****
Akhirnya Namira benar-benar bekerja setelah sesuai janjinya, Reno tak kunjung mendapatkan panggilan kerja. Mereka tak lagi dapat menunggu. Keuangan keluarga mulai menjerit. s**u anak-anak dan diapers tak dapat menunggu bulan depan. Apalagi tagihan listrik, gas, air galon dan juga beras yang tak dapat ditunda.
“Dandannya nggak usah cantik-cantik,” komentar Reno saat melihat Namira merapikan diri di depan cermin. Lelaki itu mengamati dandanan istrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Pukul lima pagi Namira sudah selesai memasak. Makan siang untuk Reno dan anak-anak sudah siap. Makanan Dafi sudah ditempatkan tersendiri, tinggal dipanaskan sebelum memberikannya. s**u-s**u Dafi sudah dimasukkan ke dalam botol-botol. Tugas Reno tinggal menambahkan air hangat sesuai takaran. Baju, diapers dan semua perlengkapan bayi pun sudah disiapkan hingga nanti Namira pulang kerja.
“Iya. Aku cuma pake bedak saja. Biar nggak kusam kena matahari. Sama lipstick warna narural biar nggak pucet kayak mayit,” sahut Namira.
Wanita itu tahu betul sebenarnya suaminya itu belum merelakan dirinya pergi. Tapi, bagaimana lagi, dapur harus tetap ngepul. Nggak mungkin menunggu sampai Reno bekerja, sementara gaji Reno saja selama ini habis tak bersisa untuk cicilan, tidak ada tabungan.
Jam setengah enam pagi, dua anak Namira sudah bangun dan mandi. Namira meninggalkan anak-anak dalam kondisi perut kenyang. Reno tak mau repot-repot harus memandikan dan menyuapi di pagi hari. Cukup siang saja tugasnya. Itupun semua sudah tahu beres.
“Ponselmu diaktifin. Nanti siapa tahu aku perlu apa-apa,” ujar Reno sesaat sebelum Namira meninggalkan rumah. Dia mulai cemas, melebihi saat dia wawancara kerja dahulu.
Ini adalah kali pertama Reno harus ditinggal bertiga dengan anak-anak tanpa Namira. Bagi Reno, bertiga saja dengan anak-anak seperti suasana hendak pergi berperang. Lebih baik dia disuruh melobi klien dibanding mengasuh dua bocah tanpa asisten seperti ini.
“Iya. Nanti telpon saja. Kapan saja,” ujar Namira berusaha menenangkan suaminya. Kepala Namira menggeleng. Senyum tipis terulas dibibir melihat tingkah suaminya. Bikin anak semangat, tapi, mengasuhnya malas.
"Sesekali memang Mas Reno harus tahu pengorbanan istri di rumah," guman Namira dalam hati. Antara tega dan tidak tega meninggalkan anak-anak dengan ayahnya dalam waktu yang cukup lama, namun, segera dia meyakinkan diri, kalau semua ini juga untuk kebaikan keluarga mereka.
Saat wawancara, Namira sudah mengatakan pada Haris kalau dia tetap akan memprioritaskan perannya sebagai ibu rumah tangga. Dan Haris, yang diam-diam sebenarnya menyukai Namira, mengerti itu. Makanya saat negosiasi gaji, Namira pun tak minta gaji yang tinggi. Cukuplah untuk menyambung hidup.
Namira tak terlalu memikirkan cicilan. Jika nggak mampu membayar cicilannya, biarlah mobil itu dilepas ganti motor saja. Toh, saat ini Reno juga sedang tak menggunakan mobil karena masih di rumah.
Haris sendiri bukan orang baru bagi Namira. Selain mantan atasannya di kantor, Haris juga kakak kelasnya saat kuliah. Jadi, Haris sengaja memberikan pekerjaan pada Namira saat adik kelasnya ini menanyakan padanya apakah dia tahu lowongan pekerjaan yang cocok untuknya.
Sejak dulu kerjaan Namira bagus, cekatan dan rapi. Meskipun sekarang Namira sudah mengatakan beberapa keterbatasannya, terutama karena memiliki dua anak. Tentu, Haris tak keberatan. Apalagi, itu adalah perusahaan milik keluarganya.
Sepeninggal Namira, Reno segera mengunci pintu depan. Dafa dan Dafi segera disuruh duduk manis di atas karpet. Dia lalu menyalakan smart tivi yang terhubung dengan chanel anak-anak. Reno ingin bersantai dengan ponselnya mumpung Namira tidak di rumah. Selama Namira di rumah, dia harus menjaga image nya untuk tidak memegang ponsel, kecuali untuk hal yang penting dan mendesak.
“Ayah, adik ek-ek!” seru Dafa sambil memencet hidungnya. Bocah tiga tahun itu mencium bau tidak sedap dari adiknya. Biasanya begitu tercium aroma yang khas dari adiknya, bundanya sudah mengangkat sang adik ke toilet.
“Ayah!” Dafa kembali mengguncang-guncang bahu Reno yang masih asyik dengan ponselnya.
“Iya. Biarin selesain dulu,” ujar Reno malas. Pandangannya tak lepas dari ponselnya karena dia sedang mencari lowongan pekerjaan. Belum genap dua minggu rasanya sudah jenuh di rumah. Dan sekarang, baru satu jam bersama anak-anak, rasanya jam berputar begitu lambatnya.
“Ayah...! lihat! Ek-ek nya adik di karpet!” tunjuk Dafa ke arah adiknya yang sedang duduk.
Dafi yang sedang ditunjuk kakaknya, merasa dipanggil, malah merangkak mendekat. Karena gerakannya, cairan berwarna k*ning di pahanya ikut mengalir dan menimpa karpet berbulu tebal di ruang tengah. Aroma tak sedap serta merta menguar di seluruh ruangan.
“Adik! Diam di situ!” hardik Reno sambil melotot, berusaha untuk menghentikan Dafi yang merangkak. Kotoran basah itu turut mengikuti kemana Dafi bergerak. Bocah yang masih belajar berjalan itu berhenti merangkak dan duduk di karpet.
Reno membuang asal ponsel yang sedari tadi menyita pikirannya. Sedetik kemudian, pandangan Reno menjadi sendu! Setelah menacak rambutanya kasar, Reno mengusap wajahnya dengan kesal. Dia harus membersihkan karpet yang sudah terkena kotoran. Hal yang selama ini sangat enggan dilakukannya. Biasanya urusan beginian adalah urusan Namira.
“Ayah, sih. Dafa kasih tahu nggak percaya,” ujar anak sulungnya menyalahkan. Padahal Dafi sudah hafal kebiasaan bundanya saat di rumah.
Reno akhirnya harus membersihkan karpet sebelum digulung dan dibawa ke laundry. Tak hanya karpet, lantai dari ruang tengah ke toilet pun harus dipel. Semua karena kecerobohan Reno tak segera mengecek dan membawa Dafi ke toilet saat dia pertama mau pup.
Setelah selesai bersih-bersih, badan Reno terasa lelah. Dia meletakkan Dafi ke atas kasur, karena karpetnya sudah di gulung. Belum sepuluh menit, tiba-tiba Dafi merengek rewel.
“Kenapa lagi sih, Dik?” tanya Reno gusar. Matanya menatap gusar pada putri bungsunya yang belum genap berumur satu tahun itu.
Dia ingin merebah sebentar. Tapi tangis Dafi bukannya berhenti malah semakin meraung-raung.
Karena risih dengan tangisannya, terpaksa Reno mengangkat Dafi untuk digendong. Tapi, bocah itu tak kunjung diam. Padahal Reno sudah mengingat-ingat, saat anak bungsunya itu rewel, biasanya digendong istrinya segera diam. Ini malah tangisnya semakin kencang.
Reno semakin frustasi.
“Adik haus tuh, Yah! Minta minum!” Sang putra sulung mendekat. Ia sudah hafal bahasa isyarat adiknya. Biasanya jika rewel, bundanya akan memberikan s**u, dan tak lama, adiknya akan tertidur.
Astaga! Reno menepuk jidatnya. Ia baru ingat kalau sejak Namira pergi, Reno belum memberi s**u ke anak-anak. Padahal Namira sudah menulis pesan apa yang harus di kerjakannya dan pesan itu ditempel di depan pintu kulkas. Tepat jam dinding menunjukkan angka sepuluh, seharusnya dia sudah memberikan s**u pada anak-anak dan mengajaknya tidur.
Astaga, masih jam sepuluh! Lagi-lagi Reno mengacak rambutnya dengan kasar. Bukan karena dia terlambat menyiapkan s**u, tapi dia merasa kenapa waktu berjalan lama sekali?
Segera Reno ke dapur untuk membuatkan s**u dua buah hatinya. s**u untuk Dafa di gelas plastik yang bertutup dan s**u untuk Dafi di botol.
Usai menuang air panas ke dalam botol, Reno segera menggenggam badan botol itu untuk di kocok.
PYARRR
“Kenapa, Yah?” Dafa sudah lari dari kamar ke dapur saat mendengar bunyi sesuatu terjatuh.
Matanya membesar saat melihat botol minum adiknya yang terguling di lantai dengan tumpahan cairan warna putih di sekitarnya.
“Awas panas!” seru Reno memberi kode anaknya agar menjauh.
Rupanya dia lupa mencampur dengan air dingin agar suhu air untuk mencampur s**u itu hangat. Hingga saat ia hendak mengocok, telapak tangan Reno kepanasan dan tak tahan memegang botol panas itu. Refleks Reno melepaskan botol itu dari genggaman tangannya.
Huff. Botol dan s**u itu berceceran di lantai. Reno menghembuskan nafasnya kasar.
Rumitnya ngurus anak! Reno semakin frustasi.
“Kak, jagain adiknya dulu. Ayah mau ngepel,” ujar Reno tak bertenaga. Seharian sudah harus dua kali mengepel lantai. Padahal ini baru jam sepuluh pagi!
Baru Reno akan merebah untuk menidurkan anak-anaknya, saat bel pintu depan berbunyi.
Dafa dan Dafi yang matanya hampir terpejam, terbuka lagi.
Reno menepuk jidatnya dengan kesal. Perjuangannya menidurkan dua buah hatinya sia-sia. itu artinya, dia batal untuk sekedar istirahat.
“Ayo yah, kita lihat tamunya,” ujar Dafa sambil berlari turun dari kasur.
Reno terpaksa menggendong Dafi yang juga batal tidur.
Baru langkahnya sampai di ambang pintu kamar, d**a Reno bergemuruh. Lelaki itu sudah bisa melihat siapa yang berdiri di teras dari balik tirai jendela yang menerawang dari dalam rumah. Matanya seketika melebar. Jantungnya berdetak lebih kencang.
“Nenek!” teriak Dafa sembari membuka pintu. Bocah tiga tahun itu menyapa neneknya dengan girang.
Matilah aku, batin Reno. Bagaimana kalau sampai mertuanya tahu dia kini pengangguran? Pasti Mertuanya itu akan mencecarnya kenapa dia di rumah, sementara istrinya tidak ada. Apalagi ibu mertuanya itu tinggalnya tak jauh dari rumahnya. Kemungkinan besok lagi, besok lagi akan datang. Apa yang harus dikatakannya?
Kebohongan hanya akan melahirkan kebohongan yang baru bukan?