"Hahaha."
Tawa dua insan tersebut pecah saat mereka sedang berada di dalam mobil yang sedang dilajukan oleh salah seorang di antara dua insan tersebut.
"Istri kamu tuh ya mas bodoh banget. Hahah."
"Dia gak bodoh. Hanya saja dia sangat percaya sama aku."
"Sama aja. Hahah."
"Udah dong sayang jangan tertawa terus. Nanti muncul kerutan di wajah kamu lho."
"Ih enggak lah. Aku kan selalu perawatan. Memangnya istri kamu?"
"Hush udah jangan bahas dia terus. Kasihan nanti dia keselek."
"Memang faktanya kok. Masa iya di sekujur tubuhnya penuh sama stretchmark. Seharusnya dia itu peduli dong sama tubuhnya. Ke dokter kek konsultasi gimana cara untuk menghilangkan stretchmark. Masa gitu aja gak punya uang."
"Dia kan kampungan. Semakin hari aku benar-benar semakin gak betah tinggal sama dia. Penampilannya itu. Benar-benar membuat aku ingin muntah aja. Mandi juga sekarang cepat banget. Masa mandi cuma sepuluh menit. Mandi apa coba? Gimana gak bau?"
"Hahah kamu sih dulu ninggalin aku demi dia. Coba aja kamu tetap sama aku. Pasti kamu bakalan hidup bahagia karena punya istri seperti aku."
"Iya sayang kamu benar juga. Tapi kan aku meninggalkan kamu dulu karena kamu juga ketahuan selingkuh."
"Itu kan khilaf mas. Lagian kamu pacaran sama aku gak pernah ajak aku jalan-jalan. Ya aku selingkuh jadinya."
"Udahlah gak usah bahas masa lalu. Yang penting sekarang kita udah sama-sama lagi. Aku bahagia banget bisa bertemu dengan kamu lagi."
Wanita tersebut tersenyum.
"Iya dong. Kamu mau lagi gak?" tanya wanita tersebut sembari memainkan matanya.
"Kamu tahu aja apa yang aku mau."
...........
"Mama, adik pipis!" teriak Adit.
Elina yang sedang mencuci piring pun bergegas menghampiri kedua anaknya.
"Ya Allah Arin pipis. Adit, boleh bantu mama ambilkan celana adik kamu di lemarinya? Sekalian tas mama yang isinya perlengkapan adik?" tanya Elina.
Adit pun mengangguk.
"Iya ma. Sebentar Adit ambil ya ma," ucap Adit lalu mengerjakan apa yang disuruh oleh Elina.
Setelah selesai mengurus Arin, Elina kembali menitipkan Arin pada Adit.
"Jagain adiknya ya nak. Mama masih cuci piring di belakang. Sebentar lagi selesai kok. Setelah ini kita ke toko ya nak," ucap Elina.
Adit pun mengangguk. Elina lalu kembali ke belakang untuk mengerjakan pekerjaannya.
Adit, anak kecil berusia delapan tahun itu tampak begitu sabar menjaga sang adik.
"Arin jangan ngompol lagi ya dek. Kasihan mama. Sejak adik lahir dan papa menjadi sopir online, mama harus mengerjakan semuanya sendiri. Adik gak boleh rewel ya. Diam di sini sama abang," ucap Adit bak orang dewasa yang sedang menasihati sang adik.
..........
Elina bersama kedua buah hatinya saat ini sedang berada di toko pakaian mereka. Sembari Elina beres-beres di toko, Adit dengan setia menjaga adiknya.
Setelah selesai beres-beres toko, tak lama beberapa pelanggan pun datang dan Elina pun mulai sibuk mengurusi pelanggannya.
Elina mengurus tokonya sendiri tanpa dibantu oleh siapa pun. Ia melakukan semua itu untuk mengirit pengeluaran karena ia harus membantu sang suami untuk membayar cicilan mobil mereka.
Adit, bocah kecil itu memang tidak bisa membantu sang ibu untuk mengurus toko. Namun ia berusaha dengan baik untuk bisa membantu sang ibu menjaga Arin layaknya abang yang sesungguhnya.
Di saat sedang mengurus pelanggan, salah seorang pelanggan tiba-tiba membahas hal yang tak pernah Elina bayangkan.
"Bu Elina ini sekarang beda ya,"
"Beda gimana bu?" tanya Elina.
"Dulu badannya bagus banget. Langsing gitu tapi sekarang agak berisi. Terus maaf ya bu. Saya lihat ibu juga kayak kurang terurus deh sejak punya anak kedua."
Glek!
Elina menelan salivanya sendiri dengan susah payah.
"Maaf nih bu. Saya juga lihatnya begitu. Saran aja bu, sesibuk apa pun ibu. Diusahakan deh bu untuk mengurus diri. Bukan apa-apa, takutnya perubahan ini bisa menjadi alasan atas hadirnya orang ketiga ke dalam pernikahan ibu. Saya cuma mengingatkan ibu aja nih," ucap pelanggan yang lainnya.
Elina terdiam sejenak. Ia lalu melihat dirinya sendiri. Elina baru menyadari bahwa memang benar tentang apa yang pelanggannya katakan jika saat ini dirinya terlihat sangat jauh berbeda dengan dirinya yang sebelumnya. Elina yang dulu sangatlah cantik dan berpakaian modis. Namun Elina yang sekarang tampak tidak peduli dengan penampilan sama sekali.
"Suami saya gak akan seperti itu bu. Dia sangat mencintai saya," ucap Elina.
"Gak ada yang tahu bu. Mas Arhan kan ganteng bu. Dia juga kan bawa mobil. Ya walau untuk cari uang. Tapi kan godaan di luar siapa yang tahu bu?"
"Benar bu. Laki-laki mau sealim apa pun kalau terus digoda ya bakal kena bu."
"Hati-hati aja bu. Zaman sekarang pelakor semakin menjadi-jadi."
'Ya Allah tolong jaga pernikahan aku dengan suamiku. Jauhkanlah pernikahan kami dari orang ketiga yang berusaha untuk menghancurkan pernikahan kami.' ucap Elina di dalam hatinya.
Seorang pelanggan wanita lalu mengusap punggung Elina.
"Sudah bu jangan terlalu dipikirkan. Didoakan saja yang baik-baik ya. In Syaa Allah suami bu Elina setia ya."
Elina pun mengangguk.
"Terima kasih bu," ucap Elina.
..........
Malam harinya,
Sampai saat ini Elina masih terus saja teringat dengan ucapan para pelanggan di tokonya tentang penampilan dirinya dan orang ketiga.
'Ucapan mereka ada benarnya juga. Sejak Arin lahir aku benar-benar tidak peduli dengan diriku dan penampilanku. Bahkan berat badanku naik dua lima belas kilo. Baju lamaku juga udah gak ada lagi yang muat. Terus juga selama enam bulan ini mas Arhan gak pernah meminta haknya ke aku. Apa benar jika memang ada orang ketiga di dalam pernikahan aku?' ucap Elina di dalam hatinya.
Tok Tok Tok
Elina segera membuka pintu setelah mendengar suara ketukan. Arhan baru saja pulang.
"Aku mau langsung tidur ya," ucap Arhan.
"Mas sebentar," ucap Elina menahan Arhan.
"Kenapa?" tanya Arhan.
"Akhir-akhir ini aku merasa kalau kamu itu berubah," ucap Elina.
"Itu hanya perasaan kamu aja," ucap Arhan cuek.
"Enggak mas. Itu bukan sekedar perasaanku aja. Tapi aku memang merasa bahwa sikap kamu ke aku itu beda sekarang. Kamu kenapa sih, mas? Kenapa kamu seperti ini? Belakangan kamu juga selalu aja pulang malam-malam banget kayak gini," ucap Elina.
"Apa sih? Kamu curiga sama aku?" tanya Arhan.
"Aku gak curiga. Aku cuma ingin tahu aja kenapa kamu berubah sama aku? Kalau memang aku ada salah sama kamu, kamu bisa katakan ke aku apa salah aku. Jangan kayak gini," ucap Elina.
"Kamu mau tahu apa salah kamu? Sehingga aku menjadi cuek seperti ini sama kamu?" tanya Arhan.
Elina diam sejenak. Ia lalu mengangguk dengan ragu.
"Ikut aku," ucap Arhan lalu menarik tangan Elina.
............