Pagi Yang Buruk

1265 Kata
Arhan saat ini sedang sarapan pagi sendirian di meja makan sementara Elina sedang memberi makan putri dan putra mereka di tempat yang tidak jauh dari meja makan tersebut. Adit mendadak menghampiri Arhan yang sedang menikmati makanannya sendiri tanpa menoleh ke anak dan istrinya. Elina juga tak lagi membahas masalah kemarin karena dia tidak ingin anak-anaknya melihat pertengkarannya dengan sang suami. "Pa, nanti papa boleh kan sekalian antar aku ke sekolah? Mama kasihan pa. Mama kan sibuk urus rumah, adik dan toko. Mama pasti capek," ucap Adit. "Gak bisa. Papa buru-buru," ucap Arhan dengan ketus. "Tapi kan papa kerjanya bebas pa. Gak ada terlambat. Masa papa gak bisa anterin aku. Kan searah juga pa," ucap Adit. Brak! Arhan menggebrak meja makan. "Kalau papa bilang gak bisa ya gak bisa! Bandel banget sih! Kamu biasanya juga naik sepeda. Udah sana naik sepeda aja!" bentak Arhan. Adit benar-benar terkejut dibentak seperti itu oleh Arhan. Wajah Adit terlihat ketakutan. Ia lalu menghampiri ibunya. Elina segera memeluk Adit dan menenangkannya. "Gak apa-apa ya sayang. Mungkin papa sedang capek. Adit pergi naik sepeda aja ya nak," ucap Elina. Adit pun mengangguk. "I-iya ma. Adit pergi ya ma," ucap Adit dengan ketakutan lalu menyalim tangan Elina. Setelah menyalim tangan Elina, Adit bersiap untuk pergi dan tidak menyalim tangan Arhan. "Adit, papa juga disalim sayang. Gak boleh seperti itu," ucap Elina. Namun Adit menggeleng lemah dan masih takut. "Dasar anak gak punya sopan santun! Kamu itu bagaimana sih mendidik anak? Gak becus sama sekali!" seru Arhan. Adit menutup telinganya dengan kedua tangannya. Ia lalu berlari ke luar rumah dan segera pergi ke sekolah karena tak ingin mendengar amarah papanya lagi. Sementara Adit pergi, Arin justru menangis karena suara Arhan yang begitu keras saat berbicara. Elina lalu segera membawa Arin ke kamar. Setelah itu ia menghampiri Arhan. "Kalau kamu marah sama aku, cukup sama aku aja! Jangan libatkan Adit dan Arin ke dalam masalah kita! Mereka itu masih kecil! Mereka gak tahu apa-apa!" ucap Elina dengan lantang. "Oh sudah mulai berani kamu ya membentak aku. Sudah merasa hebat?" tanya Arhan. "Jaga bicara kamu ya! Aku seperti ini juga karena kamu yang memulainya! Kamu kenapa sih mas? Kenapa kamu berubah? Apa karena sudah ada wanita lain di hidup kamu makanya kamu seperti ini sama aku? Iya?!" balas Elina. "Tutup mulut kamu! Aku ini pria terhormat! Aku tidak mungkin berselingkuh!" seru Arhan. "Lalu jika memang kamu tidak selingkuh, kenapa kamu bersikap seperti ini? Kamu berubah mas! Kami tidak mengenal mas Arhan yang dulu," ucap Elina. "Aku capek ya kamu tuduh seperti ini. Kalau aku mau selingkuh, mungkin dari dulu saat aku masih bekerja di pabrik aku sudah selingkuh dengan anak bos yang suka sama aku. Kamu ingat kan dengan Cici? Dia suka sama aku tapi aku tetap setiap sama kamu. Lalu apa mungkin jika sekarang aku selingkuh?" tanya Arhan. Deg! Elina langsung terdiam. "Argh udahlah. Aku capek. Aku mau kerja aja. Capek aku terus-terusan dicurigai sama kamu," ucap Arhan. Arhan lalu pergi begitu saja tanpa mempedulikan Elina. Elina masih mematung di tempat mencerna ucapan Arhan tadi. 'Tapi memang dulu anak bos di pabrik tempat kerjanya mas Arhan pernah suka sama mas Arhan makanya mas Arhan resign dari pabrik karena dia mau menjaga perasaan aku. Tapi kalau memang mas Arhan gak selingkuh, lalu apa yang membuat dia berubah seperti ini?' ucap Elina bertanya-tanya di dalam hatinya. ........... Adit baru saja pulang sekolah. Sepanjang jalan mengayuh sepeda, Adit masih terus memikirkan kejadian pagi tadi di mana ia dibentak oleh Arhan hanya karena ingin diantar oleh Arhan. 'Papa kenapa seperti itu ya? Padahal biasanya papa gak pernah bentak aku. Dia sangat menyayangi aku karena aku putra satu-satunya yang dia miliki. Tapi kenapa tadi papa aneh? Apa aku ada salah ya sama papa? Makanya papa menjadi seperti itu?' ucap Adit di dalam hatinya. Adit pun tiba di rumah. Ia memasuki rumah seraya mengucap salam dan mencari ibunya. Ternyata Elina sedang duduk di depan meja rias di kamarnya. Adit yang melihat pintu kamar ibunya terbuka dan menemukan ibunya di sana pun mengetuk pintu kamar ibunya. Tok Tok Tok "Mama," panggil Adit seraya memasuki kamar orang tuanya. Elina lalu menoleh ke belakang saat mendengar suara Adit yang memanggil dirinya. Adit lalu menghampiri Elina dan menyalim tangan ibunya. Elina tersenyum. "Kamu baru saja pulang?" tanya Elina. Adit pun mengangguk. "Iya ma. Mama sedang apa?" tanya Adit. Elina tersenyum dengan senyuman yang tidak dapat didefinisikan. "Mama kenapa? Mama sedang sedih ya?" tanya Adit. Elina kembali tersenyum untuk menutupi suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja. "Enggak kok nak. Mama baik-baik aja. Adit ganti baju ya. Setelah ini kita akan ke toko," ucap Elina. Adit pun mengangguk. "Mama sudah makan?" tanya Adit. "Sudah kok nak," ucap Elina berbohong. Adit pun mengangguk. "Ya udah kalau gitu Adit ganti baju ya ma. Setelah itu kita ke toko," ucap Adit. Elina pun mengangguk. Adit lalu pergi ke kamarnya. "Maafin mama, dit. Mama terpaksa berbohong. Mama sakit hati dihina oleh papa kamu karena tubuh mama semakin membengkak. Mama harus diet supaya mama bisa memiliki tubuh mama yang dulu lagi. Mama ingin pernikahan mama dan papa bisa kembali seperti dulu lagi yang penuh dengan kebahagiaan. Jadi mulai saat ini aku harus kurangi makan aku," gumam Elina. ........... Di tempat yang berbeda, Anita, ibunya Arhan saat ini sedang di perjalanan menuju ke rumah Elina dan Arhan. Tak butuh waktu lama, ia pun tiba di rumah Arhan karena jarak rumah mereka memang tidak terlalu jauh dengan rumah Anita. "Kayaknya Elina masih di rumah. Dia belum pergi ke toko. Itu motornya masih ada," gumam Anita. Ia lalu mengetuk pintu rumah tersebut. Tok Tok Tok "Elina, ini ibu nak. Kamu di dalam kan?" ucap Anita sedikit berteriak. Ceklek! Pintu pun terbuka. "Nenek. Adit kangen banget sama nenek," ucap Adit lalu memeluk Anita. Anita tersenyum memeluk cucunya. "Mama kamu mana?" tanya Anita. "Oh mama ada di kamar nek. Siap-siap mau ke toko," ucap Adit. "Oh kalian mau ke toko ya. Arin mana?" tanya Anita. "Sama mama. Oh iya nek tadi pagi Adit dimarahi sama papa. Adit sedih banget," ucap Adit. "Lho kok bisa kamu dimarahi sama papa kamu? Bukannya papa kamu gak pernah marah ya?" tanya Anita. "Ibu. Kapan datangnya bu? Maaf ya bu Elina gak tahu kalau ibu datang," ucap Elina. Elina lalu menghampiri Anita seraya menuntun Arin. Elina menyalim tangan Anita. "Baru saja kok nak. Kamu mau ke toko ya?" tanya Anita. Elina pun mengangguk. "Iya bu. Tapi kalau ibu datang, kita di rumah aja bu. Aku gak perlu buka toko," ucap Elina. "Gak apa-apa nak kita ngobrol di toko aja. Sekalian ibu bantu kamu jagain Arin. Kamu pasti repot. Kalian kan juga butuh uang untuk membayar cicilan mobil," ucap Anita. "Makasih banyak ya bu," ucap Elina. Anita pun mengangguk. "Oh iya lin, tadi katanya Adit dimarahi sama Arhan ya? Memangnya kenapa? Arhan kan selama ini gak pernah memarahi anaknya," ucap Anita. Deg! Elina terdiam sejenak. Ia menunduk dan menggigit bibir bawahnya. "Padahal Adit cuma minta diantar sama papa ke sekolah. Tapi ayah marah," ucap Adit. Mata Elina membulat mendengar ucapan Adit. "Adit, gak boleh mengadu ke nenek. Gak baik nak," ucap Elina. "Lho kok papa kamu marah sih sama kamu karena kamu minta diantar sama dia? Biasanya juga dia yang menawari kamu untuk pergi bareng kan kalau samaan waktu perginya?" tanya Anita. "Gak tahu nek. Papa sekarang berubah," ucap Adit. "Hmm mungkin mas Arhan sedang capek bu," ucap Elina. Anita menatap Elina dengan tatapan menyelidik. "Kamu yakin gak ada yang kamu sembunyikan dari ibu? Kalau memang ada, kamu cerita sama ibu nak. Walaupun Arhan itu anak ibu, kalau dia salah maka ibu akan tetap menegur dia. Kamu jangan takut," ucap Anita. ............
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN