Raditya Herlambang

1027 Kata

Happy reading. Beberapa tahun lalu. Sinar matahari sore menerobos masuk melalui celah gorden kamar, menyinari butiran debu yang menari di udara. Raditya Herlambang duduk di tepi tempat tidur, menatap kakinya yang terbalut celana kain longgar. Tidak ada lagi gips, tidak ada lagi perban yang melilit kepala, namun ingatan tentang dentuman logam dan pecahan kaca itu masih sering mampir tanpa diundang. Sudah tiga bulan sejak dokter menyatakan ia pulih sepenuhnya secara fisik. Namun, bagi Radit, pulih adalah kata yang relatif. "Ternyata, aku masih bisa hidup." Radit berdiri perlahan. Tangannya sempat meraba nakas, mencari tumpuan yang sebenarnya sudah tidak ia butuhkan lagi. Ia menarik napas panjang, merasakan paru-parunya mengembang bebas sebuah kemewahan yang sempat dirampas darinya saat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN