Saling menyalahkan

1221 Kata
Happy reading. "Kemana Maya, kenapa ditelpon nggak? Apa sesibuk itu dengan pria muda yang menjadi simpanan nya?" Layar ponsel Reno kembali meredup, menyisakan pantulan wajahnya yang mulai dihiasi gurat kekesalan. Sudah lima kali ia menekan tombol panggil, dan lima kali pula ia hanya disambut oleh nada sambung yang panjang sebelum akhirnya terputus secara otomatis. Reno melirik jam dinding di rumahnya. Pukul 20.00. Sudah satu Minggu lebih Maya masih berada di Bandung, dan sampai saat ini wanita yang masih menjadi istrinya belum menampakkan wajahnya di rumah ini. Sepertinya, memang ia harus mengambil sikap lebih tegas kepada Maya setelah istrinya pulang ke rumah. Reno mencoba sekali lagi. Ia menempelkan ponsel ke telinga, berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya yang mulai sepi. Namun, tetap saja ia tidak mendapatkan kabar dari Maya istrinya yang entah saat ini sedang berada dimana. "Maya, kamu di mana? Mau pulang kapan? Tolong angkat voice note ini." Pikirannya mulai berkelana ke arah yang tidak-tidak. Apakah Maya memang sudah tidak ingin pulang ke rumah, atau hanya sekedar memberitahu kepadanya kalau memang sudah tidak ingin melanjutkan pernikahan mereka. "Sial! Semakin lama semakin membuatku tidak habis pikir dengan kelakuan Maya, kenapa harus seperti ini akhir dari pernikahan yang aku rasakan." "Mas Reno. Ada kabar penting, Mbak Maya sudah di Jakarta. Sekarang sedang berada di hotel Kaisar bersama pria muda itu," kata Laras dalam pesan singkatnya. "Hotel kaisar? Aku harus datang secepatnya, sebelum Maya dan pria itu pergi," kata Reno pelan. Ia menyambar kunci mobil dan jaketnya dengan tergesa. Sepanjang jalan menuju hotel tersebut, jarinya tak berhenti mencoba menghubungi nomor yang sama. Setiap kali suara operator muncul memberitahu bahwa "nomor yang Anda tuju tidak menjawab," kekesalan Reno naik satu level. "Mungkin Maya sedang bersenang-senang dengan pria muda itu," gumamnya menenangkan diri sendiri. Reno memacu mobilnya membelah jalanan kota yang mulai lengang. Di balik kemudi, ia terus melirik layar ponsel yang terpasang di dashboard. Masih hening. Maya seolah-olah menghilang ditelan bumi, meninggalkan Reno dalam labirin spekulasi yang melelahkan. Ban mobil Reno mencicit pelan saat ia mengerem mendadak di dekat taman kompleks, hanya beberapa ratus meter setelah mencapai pagar rumah mereka. Langkahnya terhenti bukan karena masalah mesin, melainkan karena siluet familiar yang tertangkap lampu sorot mobilnya. Di bawah temaram lampu taman yang kuning pucat, Reno melihat istrinya. Maya saat ini tidak sedang berada di dalam hotel, melainkan duduk di sebuah bangku kayu panjang dengan seorang pria yang tidak Reno kenali. Dari kejauhan, suasana di antara mereka tampak begitu intim dan intens. Maya duduk condong ke arah pria itu, bahunya tampak bergetar pelan. Pria itu memegang tangan Maya, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari dalam gerakan yang sangat menenangkan. "Jadi, selama ini pria itu yang membuat Maya nyaman. Pantas saja selalu ingin pergi ke Bandung, ternyata ada seseorang yang menjadi pilihan hatinya." Tanpa sepatah kata pun, Reno memutar tubuhnya. Ia perlahan menjauh, meninggalkan taman dimana ia melihat bukti perselingkuhan Maya dengan pria muda yang selama ini menjadi pria idaman lain istrinya. ​Reno tidak menoleh lagi. Takut ketika ia melihat lebih banyak kemesraan Anatar Maya dan pria itu pertahanannya akan runtuh seketika. ​Ia merogoh saku celananya, mencari keberadaan ponsel miliknya. Reno ingin menghubungi Laras, ia ingin malam ini tidur di hotel untuk menghindari Maya yang kemungkinan akan pulang malam ini. "Ras, aku malam ini di hotel Seruni." Ting. Tidak lama kemudian, satu pesan masuk ke dalam ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Laras yang menjawab pesan yang Reno kirimkan beberapa detik lalu. "Aku datang Mas Reno ke hotel Seruni, aku tahu kamu saat ini sedang sedih. Dan, aku selalu ada untukmu." ​*** Lampu teras rumah belum menyala saat Maya menginjakkan kaki di halaman. Ia melirik jam tangan pukul 10 malam. Biasanya, Reno sudah duduk di ruang tengah dengan laptop. Namun, saat ini rumah terlihat sepi. Maya memutar kunci, pintu terbuka dengan derit halus yang terasa lebih nyaring dari biasanya. "Mas? Aku pulang," panggilnya lembut. Hanya suara jam dinding yang menyambutnya. Maya mengerutkan kening, jemarinya meraba dinding dan menekan sakelar lampu. Cahaya putih seketika membanjiri ruangan, menyingkap pemandangan yang menurutnya sangat berbeda. "Mas Reno, belum pulang? Laras juga nggak ada. Kemana mereka berdua?" Maya melangkahkan kakinya menuju kamar Laras, untung saja kamar adiknya yang berada di lantai dua tidak terkunci. Membuat ia bisa masuk tanpa harus menunggu Karas pulang. "Kamar Laras, kenapa bau parfum pria?" Semakin Maya masuk ke dalam kamar Laras, semakin terasa wangi parfum pria. Maya merasakan parfum pria di dalam kamar Laras seperti tidak asing baginya, ia tahu betul parfum maskulin apa yang berada di dalam kamar Laras. "Ini parfum Mas Reno, mau apa Mas Reno ada di kamar Laras? Bahkan, di ranjang ini tercium aroma Mas Reno." Maya semakin penasaran, ia lalu berinisiatif untuk mengecek lemari pakaian Laras. Dan, lagi-lagi tidak terkunci. Entah mengapa Karas seperti sedang memberikan akses kepada Maya agar bisa membuka lemari pakaian milik Laras. Degh. "Loh, ini piyama milik Mas Reno kenapa ada di sini. Terus celana boxer yang biasa Mas Reno pakai ketika mau tidur juga ada, apa Laras lupa kalau ini semua milik Mas Reno?" Maya lalu mengambil ponsel miliknya, menghubungi Reno untuk memberikan penjelasan kepadanya mengenai pakaian yang ada di dalam lemari Laras. Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, silahkan anda menghubungi kembali beberapa menit lagi. "Nomernya nggak aktif? Tumben sekali Mas Reno menonaktifkan ponsel?" kata Maya curiga. Maya lalu menghubungi Laras, panggilan yang sama terdengar di telinga Maya. "Mereka kompak sekali? Apa yang terjadi dengan mereka berdua?" Maya melangkah keluar kamar, kemudian matanya tertuju pada monitor kecil di sudut meja yang terhubung dengan sistem CCTV rumah. Dengan tangan gemetar, ia mengakses rekaman cctv selama ia tidak ada di rumah. ​Maya mulai memutar ulang rekaman. Ia melihat satu demi satu rekaman cctv satu Minggu penuh tanpa dirinya. ​Ia melihat Laras sedang berjalan menuju ruang makan, gerakan jalan Laras seakan mengisyaratkan bahwa Laras akan menemui Reno yang berada di ruang tersebut. Degh. ​Kamera dengan kualitas high definition itu menangkap setiap gerak-gerik Laras dengan adegan dewasa yang sebelumnya ia tidak pernah lihat. Di layar itu, Laras tampak seperti seorang wanita yang penuh gairah, yang tidak mempedulikan siapa pria yang berada di depannya, melakukan hal-hal yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan Laras lakukan di bawah atap rumahnya. "Laras, menggoda Mas Reno?" ​Maya tertawa getir, tawa yang terdengar seperti isak tangis. Ia mengejek CCTV itu karena telah merekam pengkhianatan Reno dengan Laras, setiap sudut ruangan mereka jelajahi. Dan, mereka berdua melakukan berbagai gaya dalam seharian. "Kalian telah berselingkuh dibelakang ku selama ini, mengapa aku nggak menyadari kedekatan mereka berdua?" ​Ia melihat rekaman kembali, di hari kedua Reno pulang lebih awal. Suaminya berdiri merentangkan kedua tangannya, laku memeluk tubuh Laras dan mengendongnya sampai ke atas. Adegan itu sama persis seperti apa yang pernah ia tonton di salah satu film romantis. Dan ternyata sekarang ia menonton adegan tersebut dengan nyata. ​"Aku meremehkan mereka berdua, ternyata selama ini mereka bermain licik," bisik Maya sambil menyentuh layar monitor yang dingin. ​Rekaman berakhir pada adegan Reno membuka baju Laras tepat di depan ruang keluarga, adegan itu semakin membuat Maya yakin jika mereka sudah melakukan perselingkuhan sejak lama. "Pantas saja mereka begitu akrab akhir-akhir ini, jadi mereka itu berdua telah berselingkuh." Maya tidak memungkiri jika apa yang dilakukan oleh Reno m adalah buah hasil yang ia lakukan selama ini bersama Dion, tapi mengapa harus dengan Laras. Adik kandungnya sendiri. "Mengapa harus Laras, mengapa harus adikku yang kamu incar?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN