Sentuhan Laras

1140 Kata
Happy reading. Di tempat lain. "Kamu terlambat sepuluh menit," bisik Reno di sela napasnya yang memburu, bibirnya masih nyaris bersentuhan dengan bibir Laras. "Sepuluh menit itu terasa seperti sepuluh tahun." Laras tertawa kecil, suara yang terdengar merdu di telinga Reno. Ia menarik kerah kaos Reno, memaksa pria itu untuk kembali merapatkan tubuh mereka. "Aku di sini sekarang, Mas Reno. Jangan berani-berani melepaskanku." Reno mengangkat Laras ke atas meja kayu besar di ruang makan yang baru saja dipasang. Di bawah sorotan lampu gantung yang artistik, keintiman mereka terasa begitu elektrik. Reno membenamkan wajahnya di leher Laras, menghirup aroma parfum Laras yang bercampur dengan kehangatan tubuhnya. "Semakin hari kamu terlihat semakin seksi, Ras. Aku benar-benar sudah tergila-gila denganmu," bisik Reno. "Mas Reno, kenapa sekarang frontal banget. Laras, jadi malu." Laras memeluk kepala Reno, mengelus rambut pria itu dengan penuh kasih sayang. Kehangatan intim yang mereka bagi malam ini bukan hanya sekadar pertemuan fisik, melainkan sebuah perayaan atas keteguhan hati mereka selama ini. Di atas meja kayu, di ruang tengah rumah mereka. Hanya mereka berdua tanpa ada gangguan yang membuat mereka berhenti menikmati sentuhan terlarang antara Laras dan Reno. "Mas Reno, Dede bayi mau lebih dari biasanya." "Siap! Sayang, Malam ini akan ada sebuah kejutan untuk kamu dan Dede bayi." Reno tidak membiarkan momen itu berhenti di ruangan itu saja. Dengan gerakan yang tangkas namun penuh kehati-hatian, ia menggendong Laras, membawa wanita itu menuju lift yang berada tepat di samping kanan bagian rumah. Setiap langkah Reno terasa mantap, seolah ia sedang mengukuhkan kepemilikannya atas wanita yang saat ini ada di dalam pelukannya. Begitu sampai di lantai atas, Reno mendorong pintu kamar utama dengan bahunya. Kamar itu adalah satu-satunya ruangan yang sudah tertata sempurna, kontras dengan kekacauan di lantai bawah. Reno membaringkan Laras di atas tempat tidur dengan sangat perlahan. Cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela besar dari lantai ke langit-langit memberikan siluet yang dramatis pada tubuh mereka. Tanpa lampu kamar yang menyala, suasana terasa jauh lebih intim dan jujur. "Aku suka jika kamu selalu meminta lebih dulu dengan alih-alih anak kita," gumam Reno sambil merangkak naik, menyejajarkan tubuhnya dengan Laras. "Malam ini kesempatan kita untuk lebih dekat lagi, dan menikmati malam ini tanpa ada gangguan." Keintiman mereka berlanjut dengan ritme yang lebih dalam. Jika di ruangan tadi adalah ledakan emosi, di sini, di atas ranjang mereka, segalanya menjadi lebih tentang penjelajahan dan pemujaan. Reno menciumi setiap jengkal kulit Laras, mulai dari jemari tangannya hingga ke bahunya, seolah ingin menghapus setiap sisa rasa kesepian yang pernah ada. Laras tidak diam saja, ia membalas dengan tarikan napas yang dalam, jemarinya mencengkeram sprei satin yang dingin, kontras dengan suhu tubuh mereka yang kian memanas. "Mas Reno, aku suka sentuhanmu." "Aku lebih suka desahanmu, Ras." *** Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di balik celah gorden, menciptakan garis-garis emas di atas sprei abu-abu. Laras mengerang pelan, kelopak matanya terasa berat seolah masih ada sisa-sisa mimpi yang tertinggal di sana. Perlahan, ia membuka mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah hangatnya bantal dan aroma maskulin milik Reno. Laras menoleh sedikit ke samping, dan di sanalah ia menemukan Reno. Pria itu tidak sedang tidur, Reno berbaring menyamping dengan satu tangan menyangga kepala, menatap Laras dengan tatapan yang sulit diartikan namun sangat dalam. Ada senyum tipis, hampir tak terlihat, yang menghiasi bibirnya. "Pagi, sayang." suara Reno terdengar berat dan serak khas orang bangun tidur, namun penuh kelembutan. Laras mengerjap, refleks menarik selimut sedikit lebih tinggi hingga menutupi dagunya. "Sejak kapan kamu bangun, Mas?" tanyanya dengan suara parau. "Sejak setengah jam yang lalu," jawab Reno santai, jarinya terulur untuk merapikan sehelai rambut yang menutupi mata Laras. Laras mencoba membuang muka, tapi Reno tetap bergeming, tidak mengalihkan pandangannya barang sedetik pun. Di ruangan yang tenang itu, detak jantung Laras terasa lebih nyaring dari suara burung di luar jendela. Tatapan Reno bukan sekadar menatap, pria itu seolah sedang membaca setiap baris cerita di wajah Laras, menghargai setiap detik ketenangan sebelum dunia luar mulai menuntut perhatian mereka. "Berhenti menatapku seperti itu, Mas Reno. Aku belum cuci muka," gumam Laras, meski ia tidak benar-benar menjauh. Reno tertawa kecil, suara rendahnya menggetarkan udara di antara mereka. "Kamu akan selalu cantik dimataku, Ras." "Mas Reno, lagi gombalin aku ya." "Ehm, nggak juga. Tapi, memang kamu selalu cantik dimataku." Momen hangat itu mendadak buyar saat mata Reno beralih ke nakas di belakang Laras. Senyum tipisnya memudar, digantikan oleh kerutan tipis di dahi. "Laras," suaranya tak lagi selembut tadi. "Itu apa?" Laras menoleh, mengikuti arah pandang Reno. Di atas nakas, terselip sebuah buku diari berwarna biru. Di dalam buku tersebut ada beberapa foto yang sengaja Laras simpan sebagai bukti untuk ia berikan kepada Reno. "Ada beberapa bukti yang ingin aku berikan sama Mas Reno, pasti Mas Reno suka." "Bukti? Untuk aku?" Beo Reno. "Mas Reno, aku nggak akan basa-basi lagi," suara Laras bergetar, namun tegas. "Ini soal Mbak Maya." ​Gerakan tangan Reno terhenti. Alisnya bertaut. "Maya? Bukti apa tentang Maya?" ​"Dia di Bandung bukan untuk kerja, tapi untuk bertemu dengan seorang pria muda dan pria itu Dion teman sesama model." ​Tawa kecil Reno terdengar hambar. "Dion? Model pria yang pernah datang di pernikahan aku sama Maya? Ras, kamu pasti salah lihat. Mereka sudah nggak pernah kontak lagi." ​Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Laras mengeluarkan beberapa foto itu dan meletakkannya di atas tangan Reno. Dengan tangan gemetar, ia mendorongnya ke arah Reno. ​"Lihat sendiri. Aku mau Mas Reno yang memutuskan cepat tentang masalah perselingkuhan Mbak Maya dengan pria itu, makanya aku kasih bukti ini." ​Reno ragu sejenak, lalu membukanya. Foto pertama menunjukkan Maya dan Dion keluar dari sebuah butik mewah, tangan mereka bertautan mesra. Foto kedua, mereka duduk di pojok gelap sebuah restoran, wajah Maya bersandar di bahu Dion dengan senyum yang tidak pernah Reno lihat lagi di rumah. ​Dan foto terakhir yang membuat Reno tidak percaya, foto diambil di lobi sebuah hotel, beberapa Minggu lalu. Saat itu, Maya pamit pada Reno untuk pergi ke Bandung dan ternyata Maya bersama dengan Dion berjalan masuk ke dalam hotel. "Maya, jadi benar kamu berselingkuh dibelakangku." Tangannya yang memegang lembaran kertas itu mulai gemetar hebat. Matanya menatap nanar pada bukti digital yang tercetak jelas tanggal, waktu, dan pengkhianatan yang tak terbantahkan. ​"Aku minta maaf harus memberikan ini semua padamu, Mas Reno." bisik Laras, matanya berkaca-kaca melihat kehancuran di wajah sahabatnya. "Tapi kamu berhak mendapatkan kebenaran ini, kamu berhak atas hidup yang lebih jujur." ​Reno diam seribu bahasa. Sebuah kebohongan sudah ada di depan matanya, perselingkuhan Maya dengan Dion ternyata sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu, bahkan sebelum ia mulai terperangkap dengan sentuhan Laras. Reno mengira, bahwa ia sudah melakukan kesalahan telah berselingkuh dibelakang Maya. Namun, ternyata ia salah besar. Maya, bahkan berselingkuh dibelakangnya sebelum ia terperangkap dalam sentuhan Laras. "Laras, bulan depan kita menikah. Setelah Maya pulang dari Bandung, aku akan menceraikannya." "Yes, akhirnya. Aku menikah dengan Mas Reno, dan mereka akan bercerai secepatnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN