Maya berulah kembali.

1358 Kata
Happy reading. Hujan rintik di luar seolah menjadi latar musik yang tenang saat Maya berdiri di depan pintu kayu berwarna gelap itu. Begitu pintu terbuka, aroma cat baru yang bercampur dengan wangi maskulin khas Dion menyambutnya. Dion berdiri di sana, tampak sedikit lebih lelah namun matanya langsung berbinar begitu melihat sosok yang ia nantikan. Tanpa kata-kata, ia menarik Maya masuk ke dalam kehangatan rumah barunya. Rumah itu masih sepi, beberapa kardus masih tertumpuk di sudut ruangan, namun bagi Maya, kehadiran Dion sudah cukup untuk mengisi seluruh sudut yang kosong. Dion menutup pintu, lalu berbalik dan menatap Maya dengan intensitas yang seolah ingin merengkuh setiap detik waktu yang hilang selama mereka terpisah. "Akhirnya kamu di sini," bisik Dion lirih. Maya tersenyum, menyandarkan punggungnya di pintu yang tertutup. "Rumah ini bagus, Dion. Kamu pintar sekali memilih interior rumah ini." Dion mendekat, menghapus jarak di antara mereka. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Maya, menariknya lembut hingga mereka bersentuhan. Kehangatan tubuh Dion merambat pelan, meruntuhkan sisa-sisa rasa rindu yang menyesakkan d**a Maya selama jauh Dion. Cup. "Dion, jangan disitu. Aku nggak mau Reno melihat bekas ciumanmu," bisik Maya. "Lalu, kalau bukan ditempat ini. Dimana lagi aku menciumi mu, Babe." "Di sini, tempat yang paling aman tanpa ada yang tahu." Sentuhan itu tidak terburu-buru. Dion mengusap pipi Maya dengan ibu jarinya, menatap setiap inci wajah wanita itu seolah sedang menghafal kembali sebuah mahakarya. Maya memejamkan mata, menikmati sentuhan Dion yang begitu tulus kepadanya. "Ah, Dion. Nikmat sekali," Maya mendesah pelan. "Aku yakin, setelah ini kamu akan lebih menikmati sentuhan yang sudah lama aku ingin persembahkan untukmu." Mereka berpindah ke sofa tunggal di tengah ruangan yang belum sepenuhnya tertata. Di sana, dalam remang cahaya lampu kuning yang hangat, mereka saling bercerita lewat sentuhan. Pelukan yang erat, bisikan rindu yang tenggelam di ceruk leher, dan tautan jemari yang seolah tak ingin lepas lagi. "Babe, semakin lama kamu itu semakin membuatku tergila-gila." "Kamu, yang membuat aku tergila-gila Dion. Sampai aku melupakan Reno begitu saja," jawab Maya. Di rumah baru ini, di antara dinding-dinding yang masih polos, mereka menemukan kembali kenyamanan yang paling hakiki. Tidak ada lagi jarak, hanya ada detak jantung yang beradu dalam harmoni keintiman yang damai. Dion melepaskan pelukannya perlahan, namun jemarinya tetap bertautan erat dengan tangan Maya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum yang menyimpan kejutan kecil yang sejak tadi ingin ia tunjukkan. "Ada satu tempat lagi yang ingin aku pelihatkan padamu," bisik Dion. "Bagian favoritku dari rumah ini." Ia menuntun Maya melewati pintu kaca geser besar di bagian belakang ruang tengah. Begitu pintu terbuka, udara malam yang sejuk menyentuh kulit mereka, membawa aroma air yang segar dan suara gemericik yang menenangkan. Di hadapan mereka, sebuah kolam renang minimalis membentang dengan air yang tampak berkilau kebiruan berkat pantulan lampu-lampu kecil di dasarnya. Uap tipis naik dari permukaan air, menandakan bahwa Dion telah menyiapkan pemanas agar airnya tetap hangat bagi Maya. "Kamu ingat kan, dulu kita selalu memimpikan punya tempat setenang ini?" tanya Dion sambil berdiri di tepi kolam, menatap pantulan bulan di permukaan air. Maya terpaku, takjub dengan betapa privat dan damainya suasana di sana. Dion melangkah ke belakang Maya, melingkarkan lengannya di bahu wanita itu untuk melindunginya dari angin malam. Ia mengecup pelipis Maya dengan lembut, sebuah gerakan yang penuh dengan proteksi dan kasih sayang. "Di sini, kita bisa melupakan dunia luar sebentar," gumam Dion. "Hanya ada aku, kamu, dan ketenangan ini."q Maya menyandarkan kepalanya pada Dion, merasakan detak jantung pria itu yang tenang. Di bawah langit malam dan di sisi air yang hangat, rasa rindu mereka tidak lagi terasa menyesakkan, melainkan telah melebur menjadi sebuah kenyamanan yang utuh. Dion kemudian bangkit berdiri tanpa melepas tatapannya dari Maya. Ia melepas kemeja tipisnya, membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai kayu di tepi kolam, lalu mengulurkan tangan kepada Maya. "Ayo! Aku mau menikmati malam ini sama kamu di kolam renang ya g sengaja aku buat untukmu, Babe." Sebuah ajakan yang penuh dengan undangan untuk tenggelam lebih dalam ke dalam ketenangan itu. Maya menyambut tangan itu. Dengan gerakan perlahan dan penuh ritme, mereka turun ke dalam air yang suhunya telah diatur dengan sempurna. Sensasi hangat menyelimuti kulit mereka, kontras dengan udara malam yang mulai mendingin. "Air ini hangat, aku kira dingin." "No, ini sengaja aku buat untukmu. Air hangat yang akan membuatmu lebih relaks," jawab Dion. Di tengah kolam yang tenang, Dion menarik Maya masuk ke dalam dekapannya. Air yang setinggi d**a membuat tubuh mereka terasa ringan, seolah gravitasi tak lagi punya kuasa. Maya melingkarkan lengannya di leher Dion, merasakan tekstur kulit pria itu yang basah dan hangat di bawah jemarinya. "Aku merasa seperti sedang bermimpi," bisik Maya, suaranya nyaris hilang di antara suara air yang beriak kecil. Dion tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan. Napas mereka memburu, menciptakan uap kecil di udara. Dengan lembut, Dion mencium kening Maya, lalu turun ke kelopak matanya, dan akhirnya mendarat di bibir Maya dengan penuh kerinduan yang tertahan. Cup. Ciuman itu lembut namun mendalam, sebuah pertukaran janji tanpa suara bahwa mereka tidak akan membiarkan jarak memisahkan mereka lagi. Di bawah permukaan air yang berpendar biru, tangan Dion mengusap punggung Maya dengan gerakan melingkar yang menenangkan, memberikan rasa aman yang selama ini Maya cari. "Rumah ini tidak akan pernah terasa lengkap tanpa kamu di dalamnya, Maya," bisik Dion dengan suara serak yang penuh kejujuran. "Sebentar lagi, aku akan selalu ada di sini. Menunggu mu pulang dan kita akan selalu menikmati malam yang panjang seperti ini," kata Maya kepada Dion. Dion mengangkat tubuh Maya dengan lembut, membawanya ke tepi kolam yang lebih dangkal sehingga mereka bisa duduk berhadapan. Air yang hangat terus mendekap mereka, namun tatapan Dion jauh lebih membara daripada suhu air di sekitar mereka. Tanpa memutuskan kontak mata, Dion meraih handuk tebal yang tergeletak di kursi santai tak jauh dari sana. Namun, bukannya segera mengeringkan diri, ia justru menyelimuti bahu Maya yang basah dengan handuk itu sambil tetap mendekapnya erat. "Ayo masuk," bisik Dion, suaranya kini lebih berat dan dalam. "Aku tidak ingin kamu berlama-lama di kolam ini, aku lebih suka kalau kita di dalam kamar yang hangat lebih dari ini." Mereka melangkah kembali ke dalam rumah dengan jejak air yang tertinggal di lantai kayu, namun tak satu pun dari mereka peduli. Dion menuntun Maya menuju kamar utama yang lampunya sengaja diredupkan. Di sana, aroma sandalwood dan lilin aromaterapi yang menenangkan telah memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang jauh lebih privat. Dion membantu Maya mengeringkan rambutnya dengan gerakan yang sangat lembut, hampir seperti sebuah pemujaan. Setiap sentuhan tangannya di kepala dan leher Maya membuat wanita itu merinding bukan karena dingin, melainkan karena getaran emosi yang meluap-luap. Malam semakin larut, dan dinding-dinding kamar itu menjadi saksi bisu dari penyatuan dua jiwa yang telah lama merindu. Tidak ada lagi keraguan, hanya ada rasa percaya yang mengalir dalam setiap sentuhan kulit yang saling bergesekan. Dion menciumi pundak Maya dengan ritme yang teratur, sementara jemari Maya menyisir rambut Dion yang masih lembap, menariknya lembut untuk memastikan bahwa ini semua nyata. "Dion, ah." "Panggil namaku lagi, Babe. Aku rindu suaramu ya g memanggil ku seperti malam itu," bisik Dion. "Dion, ini benar-benar gila." Beberapa jam berlalu, hingga hanya tersisa suara napas yang mulai tenang dan detak jam dinding yang samar. Mereka berbaring berdampingan di bawah selimut tebal, dengan kaki yang saling bertautan. Dion menarik Maya ke dalam dekapannya, membiarkan kepala wanita itu bersandar di dadanya yang bidang. "Kamu tahu," bisik Dion sambil mengelus lengan Maya, "Saat aku memilih rumah ini, aku sudah membayangkan posisi tidur kita seperti sekarang." Maya mendongak, menatap rahang Dion yang tegas di bawah cahaya remang. "Jadi ini semua sudah kamu rencanakan sebelum aku datang?" godanya dengan senyum tipis. "Ehm, benar sekali. Rencana yang sangat mayanh untukmu, dan khususnya untuk kita berdua." Maya tertawa pelan, ketika bersama dengan Dion entah mengapa ia bisa menikmati kehidupan yang lebih baik dibandingkan ketika bersama dengan Reno. Ia dulu membayangkan ketika menikah dengan Reno, hidupnya bahagia namun ternyata Maya salah besar. Sejak dulu sampai sekarang Dion adalah pria ha h mengerti dirinya, tanpa harus meminta apa yang tidak bisa ia berikan sebagai seorang istri yang sebenarnya seperti apa yang diinginkan oleh Reno. "Sebentar lagi, Dion. Kita akan hidup bersamamu, tanpa beban seperti pernikahan aku dan Mas Reno."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN