Mencurigai Laras.

1304 Kata
Happy reading. Maya menyesap tehnya perlahan di meja makan, namun matanya tetap tertuju pada pintu kamar Laras yang tertutup rapat. Sebagai kakak, Maya punya insting yang tajam. Rumah mereka yang biasanya ceria dengan celotehan Laras, kini terasa penuh dengan rahasia yang menggantung. "Kenapa sejak tadi Laras sangat mencurigakan? Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?" Keanehan itu dimulai sejak matahari baru saja memancarkan sinarnya. Maya sering terbangun karena suara mual dari Laras yang berasal dari kamar mandi, membuat ia semakin curiga dengan apa yang terjadi dengan adik satu-satunya itu. "Ciri-cirinya itu seperti wanita sedang hamil, walaupun aku nggak akan hamil tapi aku tahu betul kalau itu ciri-ciri wanita hamil." Kecurigaan semakin mengarah kepada pemikiran Maya, siang harinya ketika Maya sedang menumis bawang putih dan terasi untuk sambal kesukaan Laras. Biasanya, Laras akan langsung lari ke dapur dan langsung menyantap sambal yang dibuat olehnya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Suara langkah kaki Laras terdengar terburu-buru, disusul suara pintu kamar yang dibanting keras. Dari balik pintu, Maya mendengar suara Laras yang sedang berusaha mengatur napas, seolah aroma sambal itu menusuk indra penciuman Laras. "Laras? Kamu nggak mau makan? Ini sambal terasi kesukaanmu." "Nggak, Mbak Maya. Aku mual bau sambal terasi itu. Simpan aja di kulkas, aku nggak tahan baunya," sahut Laras dengan suara serak. "Mual? Kenapa semakin mencurigakan anak ini?" Maya melangkah maju ke dalam kamar Laras, ia membuka pintu dengan kunci cadangan yang dimilikinya. Kecurigaan yang ia rasakan harus segera diutarakan kepada Laras, agar ia tidak berpikir bahwa memang benar Laras sedang hamil. "Laras, kenapa akhir-akhir ini kamu begitu mencurigakan?" tanya Maya lembut. "Eh, Mbak Maya. Mencurigakan bagaimana, aku masih sama seperti biasanya. Mbak Maya, nggak perlu memikirkan bagaimana keadaan aku." Maya melangkah masuk, mengabaikan kegugupan adiknya. Ia melihat di atas nakas ada sebotol vitamin asam folat yang labelnya sengaja dikelupas, namun Maya sangat mengenali bentuk botolnya. "Kenalan ada botol vitamin asam folat? Bukankah itu untuk ibu hamil?" "Mbak Maya, keluar dari kamarku. Aku mau istirahat saja," kata Laras sedikit teriak kepada Maya. *** Beberapa jam kemudian. Maya menunggu sampai suara napas Laras terdengar berat dan teratur. Di bawah temaram lampu tidur, wajah adiknya itu tampak begitu lelah, dengan sisa-sisa guratan kecemasan yang bahkan tidak hilang saat Laras sudah terlelap. Maya melangkah perlahan menuju nakas. Di sana, ponsel Laras tergeletak. Jantung Maya berdegup sangat kencang, seolah-olah detaknya bisa membangunkan seisi rumah. Ia ragu sejenak, ini adalah privasi, tapi kecurigaannya terhadap Laras sudah berada di titik puncak. "Aku harus cek ponsel milik Laras, semoga semua kecurigaan aku terbukti." Ia mengambil ponsel itu. Beruntung, Laras tidak mengubah kata sandinya masih sama sejak dulu yaitu tanggal lahir ibu mereka. Begitu layar terbuka, hal pertama yang Maya periksa bukan galeri foto, melainkan aplikasi pesan singkat. Seorang nama dengan emoticon love sebanyak tiga kali, berada di daftar paling atas, namun tidak ada pesan baru di sana. Hanya beberapa pesan lama yang masih tersimpan di folder tersebut. "Mas sayang sama Laras, kapan nikahin Laras." "Secepatnya, setelah perceraian aku akan menikahi kamu." "Laras mau Mas nikahin Laras sebelum perut Laras semakin membesar." Degh. Maya beralih ke folder lainnya, di galeri foto yang sudah sebelumnya dihapus. Di sana terdapat satu foto yang belum terhapus permanen. Foto itu diambil di dalam sebuah mobil dimana Laras sedang memeluk seorang pria, tampak pria itu membelakanginya. Mungkin seperti sedang mencium Laras. "Mobil ini kenapa mirip seperti mobil Mas Reno?" Maya melangkah keluar menuju kamarnya, ia tidak lupa mengembalikan ponsel Laras ditempat semula. Agar, Laras tidak curiga jika ia telah membuka ponsel miliknya. "Aku harus cek mobil Mas Reno, akan aku pastikan semua ini memang benar." Baru saja Maya ingin keluar menuju pintu utama, Reno memanggil Maya yang baru saja keluar dari kamar Laras. "May, kamu nggak tidur? Sudah malam, bukankah besok kamu ada kerjaan di Bandung?" "Oh s**t! Aku hampir saja lupa, besok aku ke Bandung bertemu Dion. Tapi, aku harus mencari bukti tentang Laras." "May, kenapa melamun? Kamu sedang memikirkan apa sih?" Maya menggeleng kepalanya cepat, ia mendekati Reno dan perlahan memeluk pria yang baru saja mandi malam ini. "Mas Reno, aku mencurigai sesuatu mengenai Laras." Reno terdiam, ia tidak ingin terburu-buru mengatakan sesuatu yang menyangkut Laras kepada Maya. Bagaimanapun, juga ia belum siap untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi dengan Laras. "Kamu mencurigai Laras tentang apa?" "Aku curiga kalau Laras sedang hamil, dan pria yang menghamili Laras itu suami orang." Degh. Keesokan harinya. Suasana di meja makan terasa lebih menyesakkan bagi Maya daripada kepulan uap kopi di depannya. Matanya tak lepas dari Laras yang duduk di seberangnya, tampak sedikit lebih pucat dari biasanya, sedang menyesap teh jahe dengan gerakan yang menurut Maya sangat aneh. Maya yakin ada sesuatu di balik perubahan sikap Laras belakangan ini. Mual di pagi hari yang tertahan, penolakan mendadak terhadap aroma parfum favorit mereka, hingga cara Laras yang berkali-kali menyentuh perutnya dengan gerakan protektif. "Laras hamil, aku berani bertaruh. Semua bukti sudah aku dapatkan , pesan singkat di ponsel Laras yang aku sudah baca. Namun, masalahnya Laras belum mengatakan sepatah kata pun kepadaku. Seharusnya, Laras berterus terang saja jika sedang hamil." Maya melirik jam tangannya. 06.15 WIB. Kereta ke Bandung berangkat pukul 07.30, dan ia sudah dipesan taksi sejak sepuluh menit lalu. "Mbak Maya, mau menginap di Bandung berapa hari? Tiga hari, empat hari atau satu Minggu seperti biasanya Mbak Maya lakukan." "Ehm, mungkin satu Minggu kedepan. Minggu ini banyak kerjaan di sana," jawab Maya pelan. "Kenapa pekerjaan Mbak Maya nggak dibawa ke Jakarta aja? Kenapa harus di Bandung? Apa Mbak Maya menyimpan sesuatu rahasia yang sangat penting, sehingga harus dilakukan disana?" "Bukan aku yang menyimpan rahasia Laras, tapi kamu dan pria yang menghamili kamu." "Mbak Maya nggak-" Saat Laras ingin mengatakan sesuatu, suara klakson taksi terdengar di depan pagar, Laras merasa kalah. Ia harus pergi ke Bandung untuk urusan yang menurutnya sudah biasa, selama tujuh hari ke depan. Maya akan menunggu apa yang terjadi dengan Laras dan pria itu. Maya menarik kopernya menuju pintu. Di ambang pintu, ia berbalik dan menatap Laras dengan tatapan penuh. "Ras, kalau ada apa-apa atau kalau ada berita darurat, jangan lupa kabarin Mbak." pancing Maya, matanya menyipit mencari kilatan gugup di mata sahabatnya. Laras hanya tersenyum tipis, senyum yang bagi Maya tampak sangat penuh rahasia. "Iya Mbak Maya, nanti akan aku kabarin kalau terjadi sesuatu dengan aku. Hati-hati di jalan, Mbak Maya. Fokus kerja aja di sana." Begitu suara mobil taksi yang membawa Maya menghilang di ujung jalan, ketegangan yang sedari tadi membungkus pundak Laras runtuh seketika. Ia mengembuskan napas panjang, sebuah kelegaan yang terasa begitu murni. Laras tidak berbalik untuk masuk ke dalam kamarnya. Sebaliknya, ia melangkah cepat menuju seseorang yang sejak tadi ia rindukan. "Mas Reno, kangen." "Mas juga, kangen sama kamu dan calon anak kita." "Mumpung masih pagi, ke kamar aku yuk!" ajak Laras cepat. "Disini aja, Mas mau merasakan bagaimana rasanya pelukan ditempat ini." Laras membenamkan wajahnya di d**a bidang pria itu, menghirup aroma maskulin yang begitu ia rindukan. Reno, pria itu, membalas pelukannya dengan erat, satu tangannya mengusap rambut Laras dengan protektif. "Sayang, Maya mencurigai sesuatu?" bisik Reno rendah. "Tentang apa?," tanya Laras pelan, suaranya sedikit bergetar. Reno melepaskan pelukannya hanya untuk menangkup wajah Laras. Matanya menatap Laras dengan campuran rasa bersalah dan cinta yang mendalam, Reno sudah terlanjur mencintai adik iparnya sendiri. Memang benar ia salah, tapi Reno tidak bisa memungkiri bahwa Laras yang telah membuatnya bahagia berbeda dengan Maya yang terlalu sibuk dengan dunianya. "Tentang kehamilan kamu, sepertinya Maya sudah tahu kalau kamu sedang hamil. Dan, semalam Maya mengatakan bahwa ingin mencari tahu pria itu." "Lalu, kita harus apa Mas? Aku nggak mau menunggu terlalu lama, kapan kamu menceraikan Mbak Maya?" tanya Laras "Sabar sayang, sebentar lagi aku akan bercerai dengan Maya. Dan, kita akan menikah." Di tempat lain. "Kamu harus mendapatkan bukti tentang pria yang selama ini dekat dengan Laras, satu Minggu ini aku ingin mendapatkan bukti itu. Setelah itu, uang 100 juta akan aku transfer ke rekening kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN