Happy reading.
"Laras? Kamu kenapa? Tadi Dinda telepon katanya kamu pingsan di kampus," ujar Maya sambil berdiri,
Laras menatap kakaknya, wajah Maya terlihat. Seingatnya, Maya sedang berada di luar kota untuk urusan proyek penting hingga akhir bulan. Namun, di hadapannya sekarang, Maya berdiri dengan raut wajah yang merupakan campuran antara cemas dan amarah yang tertahan.
Maya mendekat, meletakkan tasnya di kursi plastik dengan bunyi bug yang cukup keras, lalu menatap Laras tajam.
"Laras, jelaskan ke Mbak," suara Maya rendah namun menuntut. "Kenapa kamu bisa sampai pingsan di kampus? Dinda bilang kamu pingsan karena belum makan."
"Aku, aku memang pingsan, Mbak," bisik Laras parau. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Tiba-tiba gelap saja."
Maya menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang Laras. "Jangan bilang kamu diet aneh-aneh lagi? Atau kamu begadang seminggu penuh buat kuliah? Dinda bilang tekanan darahmu rendah sekali, Ras. Mbak sampai harus pulang dari Bandung nih khusus untuk kamu," kata Maya kepada Laras.
Laras terdiam. Ia merasa kali ini Maya tidak berbohong dengannya, wajah Maya benar-benar menggambarkan sikap seorang kakak kepada adiknya.
"Aku tidak apa-apa, Mbak Maya nggak perlu mengkhawatirkan aku. Lagi pula, untuk apa Mbak Maya pulang secepat ini. Toh, biasanya Mbak Maya pulang lama kalau sedang ke Bandung."
Kali ini Maya yang terdiam, ia tidak bisa memberikan jawaban atas apa ya g baru saja diucapkan oleh Laras. Memang benar jika ia sedang berada di Bandung, Maya akan kembali ke Jakarta dalam waktu yang cukup lama. Dan, baru saja tiga hari Maya pergi ia harus pulang lebih cepat karena kabar Laras pingsan ke kampus.
"Kamu itu adik Mbak satu-satunya, kalau kamu sakit atau sedang sedih Mbak pasti bakal pulang. Walaupun, Mbak lagi di luar kita sekalipun."
"Kalau begitu aku mau istirahat dulu, Mbak Maya juga jangan lupa istirahat."
Maya mengerutkan keningnya, bingung dengan kelakuan adiknya. Padahal ia benar-benar memikirkan keadaan Laras yang pingsan di kampus, akan tetapi Laras bahkan seperti tidak memperdulikannya.
"Mas Reno, kenapa Laras seperti itu? Apa yang terjadi dengannya?"
"Aku tidak tahu, kenapa kamu bertanya kepadaku? Bukankah kamu itu kakaknya, seharusnya kamu lebih peka."
***
Malam harinya, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Maya melangkah perlahan menuju kamar Laras, membawa nampan berisi segelas s**u hangat dan obat yang harus diminum adiknya. Ia berniat memberikan sedikit wejangan lembut sebelum mereka tidur, berharap Laras mau lebih terbuka soal kondisinya.
Namun, langkah Maya terhenti tepat di depan pintu yang sedikit terbuka. Dari dalam kamar, terdengar suara Laras yang merendah, nyaris berbisik, namun nadanya terdengar begitu emosional.
"Aku nggak bisa terus-terusan begini, Mas." ucap Laras. Ada jeda sejenak, seolah ia sedang mendengarkan seseorang di seberang telepon. "Tadi itu hampir saja. Mbak Maya sudah mulai curiga. Kalau dia tahu soal aku sedang hamil anak ini sebelum perceraian, aku bisa dibuang sama Mbak Maya.
"Laras hamil? Anak siapa?" Maya terpaku. Gelas di atas nampannya sedikit bergetar.
Suara berat seorang pria sayup-sayup terdengar melalui pengeras suara ponsel Laras. Meski tidak jelas setiap katanya, nada pria itu terdengar posesif dan menekan.
"Kamu tenang saja, sayang," sahut pria itu. "Sebentar lagi aku akan menceraikan Maya, dan kita akan menikah secara sah dimata hukum dan negara."
"Ya, Mas. Aku akan menunggu waktu itu, waktu dimana kamu akan menceraikan Mbak-"
"Laras, minum obat dulu."
Laras buru-buru menutup panggilan telepon dari Reno, ia tidak menyangka jika Maya datang ke dalam kamarnya tanpa ia ketahui.
"Mbak Maya, kenapa masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk pintu?"
Maya masuk begitu saja, menghiraukan ucapan Laras yang terlihat begitu kesal kepadanya.
"Sudah malam Laras, Mbak hanya ingin memberikan obat dan s**u untuk kamu. Dan, besok Mbak mau ajak kamu kedokter untuk periksa apa yang terjadi dengan mu."
"Aku baik-baik saja, jadi nggak perlu ke dokter."
"Dengarkan apa yang Mbak katakan, kamu harus menuruti perintah Mbak."
Maya pergi begitu saja tanpa mendengarkan jawaban dari Lara, ia tidak lupa menutup pintu kamar Laras. Besok ia sudah meminta waktu untuk pertemuan dengan dokter yang kebetulan adalah sahabatnya sendiri.
"Besok, aku harus tahu apakah benar Laras hamil atau tidak."
Lampu kamar yang temaram biasanya memberikan rasa nyaman bagi Maya, namun malam ini, keheningan itu justru terasa menyesakkan. Saat ia baru saja masuk ke dalam kamarnya, pintu kaca balkon bergeser pelan.
"Mas Reno, kenapa dari balkon kamar?"
Udara malam yang dingin seolah ikut menyelinap masuk bersamanya, menyapu kulit Maya. Di tangan kanannya, Reno menggenggam ponsel dengan erat—terlalu erat untuk seseorang yang hanya sekadar memeriksa jam atau cuaca. Layar ponsel itu baru saja meredup, menyisakan kegelapan yang seolah menyembunyikan rahasia.
"Belum tidur?" suara Reno memecah kesunyian. Nada suaranya mencoba terdengar kasual, namun ada getaran halus yang tak bisa ia sembunyikan.
Maya hanya menatapnya, mencari kejujuran di mata pria yang telah menemaninya selama lima tahun itu. "Tadi menelepon siapa, Mas? Malam-malam begini di balkon?"
Reno tertegun sejenak. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang tidak sampai ke mata. "Hanya urusan kantor, May. Biasa, klien dari luar negeri yang tidak kenal waktu. Tidurlah, ini sudah larut."
Maya tahu Reno sedang berbohong. Kantor Reno tidak pernah menangani klien internasional sesibuk itu, apalagi di jam dua pagi.
Ia memperhatikan jemari Reno yang gemetar saat pria itu berpura-pura merapikan bantal. Di balik bantal itu, ponsel Reno kembali bergetar pelan sebuah notifikasi masuk yang membuat Reno sekejap menegang.
"Suruh klien kamu tidur Mas, sudah malam."
"Ehm, aku akan mengatakannya."
Maya menarik napas panjang. Ia tidak bisa membiarkan keraguan ini membunuhnya perlahan. Saat Reno tampak mulai memejamkan mata, Maya menyambar ponsel yang menyembul dari saku suaminya.
Reno tersentak bangun, wajahnya menunjukkan ketakutan yang nyata. "May, kembalikan! Itu privasi kerja!"
Maya tidak peduli. Ia menyalakan layar ponsel itu. Tidak ada kata sandi yang mengunci layar ponsel, Reno terlalu panik untuk mengingatnya tadi. Namun, bukannya menemukan nama wanita lain atau aplikasi pesan rahasia, layar itu menampilkan sebuah aplikasi perbankan dengan notifikasi peringatan berwarna merah.
"May, kembalikan ponselku. Kamu nggak berhak untuk mengambilnya," teriak Reno sedikit keras.
"Kenapa aku nggak boleh lihat ponselmu? Apa selama ini kamu merahasiakan sesuatu dari aku?"
Reno benar-benar kewalahan, ia lalu berdiri dan mengambil ponsel miliknya yang berada ditangan Maya dengan cepat sebelum Maya membaca pesan-pesan yang belum sepenuhnya terhapus.
"Mas Reno, kenapa sih? Aku hanya lihat ponselmu, bukan untuk memilikinya."
"Tidur May, sudah malam. Jangan buat aku semakin kesal dengan ulahmu yang kekanak-kanakan seperti ini," jawab Reno cepat.
Maya menghembuskan nafasnya, ia menatap wajah Reno yang sudah tertutup dengan selimut tebal. Tidak menyangka jika Reno begitu berbeda dari biasanya.
"Banyak teka-teki yang belum aku ketahui, akan aku cari tahu setelah ini."