Sebuah kesepakatan.

1579 Kata
Happy reading. Dua bulan kemudian. Siang itu, matahari di atas kampus seakan sedang menunjukkan kekuatan. Laras mempercepat langkahnya menyusuri lorong fakultas yang panjang, mengabaikan rasa pening yang mulai berdenyut di pelipisnya. Ia belum sempat sarapan, dan dua gelas kopi hitam sejak subuh tadi adalah satu-satunya hal yang menjaganya tetap tegak demi mengejar tenggat revisi skripsi. "Laras! Tunggu!" suara miring Dinda terdengar dari kejauhan, tapi pendengaran Laras tiba-tiba tidak terdengar. Laras mencoba menoleh, namun dunia di sekitarnya mendadak miring. Lantai semen yang tadinya kokoh tampak bergelombang seperti cairan. Ia mencoba berpegangan pada pilar terdekat, tapi jemarinya hanya menggapai udara kosong. "Kepalaku? Kenapa pusing sekali?" Pandangan Laras mulai menyempit. Cahaya matahari yang tadi menyilaukan berubah menjadi bintik-bintik putih yang menari-nari, lalu perlahan memudar menjadi abu-abu. "Perutku mual, rasanya ingin muntah." Tubuhnya limbung. Lalu, tidak lama kemudian ia merasakan seluruh tubuhnya tak berdaya dan akhirnya ambruk di tengah-tengah lorong kampus. Bruk! Bahunya menghantam lantai lebih dulu, disusul suara gumam panik orang-orang di sekitarnya yang perlahan menjauh menjadi sunyi total. Laras tidak lagi merasakan panasnya lantai; ia hanya merasakan kegelapan yang dingin dan tenang. "Laras, bangun! Kenapa jadi pingsan gini?" Satu jam kemudian. Bau khas minyak kayu putih adalah pertama yang menyapa indra penciumannya saat matanya terbuka sedikit demi sedikit. Langit-langit putih dengan lampu neon yang berkedip memberi tahu Laras bahwa ia tidak lagi berada di lorong melainkan di atas tempat istirahat. "Pelan-pelan, Ras. Jangan langsung bangun," suara Dinda terdengar cemas di samping brankar UKS. Laras mengerang pelan, memegangi kepalanya yang terasa seberat batu. Ia menatap langit-langit, mencoba mengingat mengapa ia bisa berakhir di sini. Rasa malu mulai menjalar di pipinya saat ia menyadari bahwa ia baru saja menjadi pusat perhatian di tengah kampus karena ambisinya yang mengabaikan kondisi fisik. "Minum dulu," Dinda menyodorkan segelas teh hangat. "Kamu pucat banget tadi, untung nggak kena ujung meja." Laras menghela napas panjang, menyesap tehnya perlahan. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia dipaksa untuk benar-benar berhenti sejenak. Ternyata, skripsi memang penting, tapi makan di pagi hari jauh lebih penting menurutnya. "Minum teh ini, agar kamu lebih baik lagi." Bukannya merasa tenang, Laras malah menutup mulutnya rapat-rapat dan memalingkan wajah, merasa mual yang luar biasa menusuk ulu hatinya. Dinda mengerutkan kening, menatap sahabatnya dengan tatapan penuh selidik. "Ras, kamu beneran cuma belum makan? Bau teh biasanya bikin enak, tapi kamu malah kayak mau muntah gitu." Laras tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghitung siklus bulanannya di dalam kepala yang kini terasa berputar. Ia sudah terlambat dua minggu. "Seharusnya, aku sudah datang bulan. Tapi, sudah dua Minggu kenapa belum datang juga." Dinda mendekat, merendahkan suaranya agar tidak terdengar oleh petugas medis di depan. "Ras. jujur sama aku. Terakhir kamu datang kapan?" Laras membuka mata, sudut matanya sedikit berair. Ia tidak sanggup berbohong lagi. Ia menyentuh perutnya yang masih tampak rata dengan tangan yang gemetar. Di sana, di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus yang menuntut nilai sempurna, ada sebuah kehidupan kecil yang baru saja mengubah seluruh rencana masa depannya. "Aku lupa, Din. Tapi, seingat aku seharusnya dua Minggu yang lalu." bisik Laras lirih "Lalu, siapa pria itu? Apa aku mengenalnya?" Laras menarik napas panjang, mencoba menekan gejolak di perutnya saat ia perlahan turun dari brankar UKS. Ia harus bertindak cepat sebelum desas-desus pingsannya berubah menjadi investigasi yang lebih dalam oleh teman-teman seangkatannya. "Din, bantu aku. Jangan sampai ada yang tahu," bisik Laras sambil merapikan kemeja oversize miliknya yang sengaja ia pilih untuk menyamarkan bentuk tubuh, meski sebenarnya kandungannya masih sangat muda. "Lalu, setelah ini kamu mau kemana? Sebaiknya, kamu istirahat dulu di sini." "Aku harus pulang, lebih baik beristirahat di rumah dibandingkan aku ada di sini dan mereka semua bertanya-tanya tentang keadaanku." *** Dua jam setelah kejadian di UKS, Laras memberitahukan kepada Reno agar secepatnya menjemputnya di kampus. Ia menunggu di tempat yang sedikit jauh dari kampus, agar teman-teman kampusnya tidak melihatnya. "Sayang, are you ok? Kenapa wajahmu pucat sekali?" "Mas Reno antar aku ke apotik, aku mau beli sesuatu." "Kamu sakit?" "Lebih dari itu? Dan setelah ini kamu harus bertanggung jawab," jawab Laras pelan. Setelah membeli beberapa alat test kehamilan yang menurutnya lebih akurat, Laras lalu masuk ke dalam ruang kerja Reno. Tujuan utamanya adalah toilet yang berdiri tepat di dalam ruang istirahat tempat mereka berdua selalu bersama dalam beberapa bulan belakangan ini. Degh. "Aku beneran hamil? Hamil anak Mas Reno?" Laras mencobanya kembali dengan tiga alat test kehamilan yang berbeda, dan semua hasilnya sama. Saat ini ia benar-benar sedang hamil, dan pria yang menjadi ayah biologis nya adalah Kakak iparnya sendiri. "Mas Reno, aku-" "Tadi aku dengar kamu pingsan di kampus? Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Reno, suaranya terdengar tulus namun penuh perhatian. Ia mencoba meraih tangan Laras, tapi Laras hanya diam membeku. "Sayang, bicaralah. Kenapa kamu jadi pendiam gini?" Laras menatap mata Reno, memberanikan diri untuk memberitahukan bahwa saat ini ia sedang hamil. Dan, Reno Samudera adalah ayah dari calon anaknya. "Mas Reno, aku hamil. Hamil anakmu," ucap Laras lirih. "Kamu hamil? Beneran sayang?" Laras menarik napas panjang, membiarkan udara sore yang dingin mengisi paru-parunya sebelum mengeluarkan kalimat yang akan mengubah hidup mereka selamanya. "Ya, Mas Reno. Dan, ini anakmu." "Kamu, kamu serius?" suara Reno pecah, nyaris berbisik. "Akhirnya, aku sebentar lagi punya anak. Dan, anak yang selama ini aku inginkan dari kamu." "Hasilnya garis dua, Mas Reno. Tiga kali aku tes," potong Laras, suaranya bergetar namun tegas. "Dan, sekarang aku mau kamu ambil keputusan yang tepat. Menikah aku dan segera menceraikan Mbak Maya," kata Laras tegas. Reno menarik Laras ke dalam pelukannya sebuah pelukan yang terasa berbeda dari biasanya. Laras merasakan Reno yang begitu menginginkan seorang anak dari pernikahan antara Reno dengan Maya, namun ternyata yang terjadi berbeda. Saat ini, ia sedang hamil dan pria dari calon anaknya kelak adalah Reno kakak iparnya sendiri. "Mas Reno beneran mau nikahin aku?" "Ya, sayang. Aku akan menceraikan Maya, laku kita menikah setelah itu. Aku bahagia atas kabar ini, akhirnya aku bisa merasakan apa yang selama ini belum pernah dirasakan di pernikahan dengan Maya." "Maksud Mas Reno apa?" "Sebenarnya, Maya itu mandul. Dan, sampai kapan pun tidak akan hamil." Degh. Laras terdiam, ia baru mengetahui sebuah rahasia yang tersembunyi selama ini. Laras sama sekali tidak tahu bahwa Maya kakak kandungnya sendiri ternyata mempunyai rahasia yang sangat besar, padahal ia mengira jika Maya sehat seperti wanita lainnya. Namun, kenyataannya sangat berbeda. "Jadi, Mbak Maya itu mandul. Pantas saja berselingkuh dengan orang lain, dan tidak memikirkan perasaan Mas Reno." Sore harinya. Cahaya matahari sore yang mulai menguning masuk melalui jendela besar, menyinari area ruang kantor yang sepi. Laras menyandarkan punggungnya di sofa abu-abu yang empuk, menghela napas panjang sambil melepaskan sepatu hak rendahnya. Di sampingnya, Reno duduk cukup dekat, membiarkan Laras menyandarkan kepala di bahunya. "Akhirnya bisa duduk tegak," gumam Laras sambil mengusap lembut perut nya Reno meletakkan tangannya di atas tangan Laras, ikut mengusap lembut perut Laras. Akhirnya, ia bisa melakukan apa yang pernah ia lihat ketika bersama salah satu sahabatnya yang terlebih dahulu menjadi seorang ayah. Reno bisa merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya kala itu. Laras terkekeh pelan. "Mas Reno, kalau aku sudah hamil besar. Nanti, tubuhku gendut karena terlalu banyak makan. Apakah kamu masih cinta aku?" Reno terdiam sejenak, menatap lurus ke depan dengan senyum tipis yang tulus. "Jujur, aku bahkan suka dengan bentuk tubuh seperti itu. Kamu akan gendut karena sedang hamil anakku, aku nggak peduli itu. Yang, terpenting aku akan menjaga kamu dan calon anak kita agar selalu sehat." "Aku cuma berharap dia sehat, Mas Reno," suara Laras melembut, ada nada haru di sana. "Tapi, bagaimana dengan Mbak Maya?" Reno menoleh, mengecup kening Laras dengan lembut. "Tenang, aku yakin Maya akan menerima semua ini. Perceraian memang akan terjadi, karena aku dan Maya pernah buat kesepakatan." "Kesepakatan?" beo Laras. "Ehm, benar sebuah kesepakatan. Dan, kita berdua kala itu benar-benar menandatangani kontrak kesepakatan yang dibuat Maya." Dua tahun lalu. "Mas Reno, aku mau mengatakan sesuatu." "Katakanlah, aku akan mendengarkan kamu." "Ini surat kesepakatan yang aku buat untuk kita berdua, dan aku harap kamu bisa menandatangani surat kesepakatan ini." Reno mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Maya. Membuat surat kontrak kesepakatan katanya, padahal pernikahan mereka baru saja satu tahun berjalan. "Surat kesepakatan?" Reno membaca surat dengan seksama, ada lima point yang menurutnya tidak masuk akal. Dan, salah satunya berisi ketika salah satu berselingkuh dan dalam perselingkuhan itu akhirnya bisa mendapatkan hasil yang diinginkan. Maka mereka berhak bercerai dan mendapatkan harta gono-gini sebesar 100%. "Maya, kamu gila? Kenapa harus membuat kesepakatan seperti ini? Aku nggak akan mau menandatangani ini," kata Reno dengan suaranya yang keras. "Mas Reno, aku tahu kamu menginginkan seorang anak bukan? Dan, aku nggak bisa mendapatkannya. Jadi, kesepakatan ini sangat menguntungkan kamu. Jika, suatu saat kamu berselingkuh dibelakang aku dan wanita itu pada akhirnya hamil anakmu. Aku akan meminta cerai dan mendapatkan harta gono-gini 100%." Reno kembali terdiam, Maya benar-benar sudah gila menurutnya. Ia sama sekali tidak membayangkan jika kesepakatan ini benar-benar terjadi, dan bercerai dengan Maya suatu saat nanti. "Baiklah, aku akan menandatangani kesepakatan ini. Jika suatu saat nanti aku berselingkuh dan memiliki apa yang aku inginkan, aku berharap kamu bisa menerima semuanya. Walaupun, kelak wanita itu adalah orang yang paling dekat dihidupmu." Kembali ke masa kini. "Jadi, waktu itu Mba Maya mempunyai ide untuk membuat kesepakatan itu?" "Ehm, sepertinya aku sudah tahu bahwa Maya mempunyai ide itu karena memang sudah mempunyai ide untuk berselingkuh dibelakang aku. Dan, anehnya sekarang aku yang berselingkuh dibelakangnya." "Bukan, bukan seperti itu Mas Reno. Mbak Maya, yang lebih dulu berselingkuh dengan pria muda itu. Dan, aku mempunyai bukti perselingkuhan mereka." kata Laras dalam hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN