Maya Prastini.

1102 Kata
Happy reading. Udara sore di lobi stasiun itu terasa gerah, namun Maya tidak memedulikannya. Matanya terus terpaku pada pintu kedatangan, mengabaikan hiruk-pikuk penumpang lain yang berlalu-lalang. Jantungnya berdegup lebih kencang setiap kali pintu otomatis itu terbuka, mengirimkan semilir angin dingin dari dalam gedung yang membawa aroma khas kereta api. Setelah penantian yang terasa seperti berjam-jam, sosok yang ia tunggu akhirnya muncul. Dion Laksmana pria muda yang telah membuat ia lupa dengan suaminya berdiri di sana, tampak lebih gagah dari terakhir ia bertemu. Dengan memakai kemaja hitam favorit Maya, Dion tersenyum tipis menatap Maya. Tanpa aba-aba, Maya berlari kecil menembus keramaian. Sebelum Dion sempat menyapa, Maya sudah menghambur ke pelukannya. Ia melingkarkan lengannya erat-erat di leher Dion, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu. Dion terhuyung selangkah ke belakang, terkejut oleh serangan tiba-tiba itu. Namun, detik berikutnya, sebuah senyuman lebar terkembang di wajahnya. Ia menjatuhkan tasnya begitu saja ke lantai, lalu membalas dekapan Maya tak kalah erat. Tangan Dion mengusap punggung Maya pelan, seolah sedang meyakinkan kekasihnya bahwa ia benar-benar sudah pulang. "Kangen kamu Dion, kangen banget." "Aku juga kangen kamu, Beb," bisik Dion lirih, tepat di telinga Maya, sambil memejamkan mata dan menikmati aroma parfum Maya yang selama berbulan-bulan hanya bisa ia bayangkan. Di tengah bisingnya stasiun siang ini, bagi mereka tidak menghalangi untuk saling berbagi pelukan. Seolah olah dunia hanya milik mereka berdua. Hanya ada detak jantung yang saling bersahutan dan kehangatan yang akhirnya tuntas tersampaikan. "Akhirnya, kamu datang ke Bandung lagi." "Aku akan datang ke sini kapan pun, tidak ada yang bisa menghalangi keinginanku." "Kamu sudah memikirkan tentang hubungan kita kedepannya?" "Ehm, aku sudah yakin untuk hubungan kita kali ini. Aku mau kita menikah Dion, karena aku sudah yakin untuk melepaskan Mas Reno untuk orang lain." Dion melonggarkan pelukannya, namun tidak benar-benar melepaskan Maya. Ia menatap wajah kekasihnya yang masih tampak sedikit sembab karena haru. Bukannya mengarahkan Maya menuju area parkir biasa atau pangkalan taksi, Dion justru menggenggam tangan Maya erat dan menuntunnya menuju sebuah mobil sedan hitam yang sudah menunggu di lobi. "Kita nggak langsung ke kantor kan?" tanya Maya heran saat melihat arah jalan yang mereka tempuh. Dion hanya tersenyum misterius. "Aku mau kita istirahat dengan benar hari ini. Tanpa gangguan, tanpa pekerjaan model." Mobil itu berhenti di depan lobi megah sebuah hotel bintang lima yang menjulang tinggi di pusat kota. Maya terpana melihat arsitektur bangunan yang didominasi kaca dan lampu-lampu kristal yang berkilauan. Seorang bellboy dengan sigap mengambil alih tas Dion, sementara Dion menuntun Maya masuk menuju lift khusus. "Kita menginap malam ini di sini?" "Ehm, ada sesuatu yang ingin aku berikan untukmu. Baby, kamu tunggu saja." Begitu pintu kamar terbuka, Maya tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya. Ruangan itu sangat luas, dengan jendela besar setinggi langit-langit yang menyuguhkan pemandangan lampu-lampu kota dari ketinggian lantai 45. Di atas meja kayu jati, sudah tersedia sebotol minuman dingin dan sepiring buah-buahan segar. "Dion, ini indah sekali." bisik Maya, masih merasa bahagia ketika ia berada di dalam kamar hotel mewah bersama pria yang ia cintai Dion mendekat dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang Maya sambil ikut menatap gemerlap kota di luar sana. "Selama tidak ada aku di sini, apa kamu ingat aku?" Dion membalikkan tubuh Maya agar menghadapnya. Kelembutan di matanya meruntuhkan sisa-sisa kegelisahan Maya. "Malam ini cuma milik kita," lanjut Dion lembut. Ia kemudian mengecup kening Maya lama, seolah ingin menyerap semua rindu yang tersisa. "Kamu mau mandi air hangat dulu? Aku sudah pesankan layanan spa yang bisa langsung datang ke kamar kalau kamu mau." Maya tertawa kecil, rasa lelahnya mendadak menguap digantikan perasaan hangat yang menjalar di dadanya. Ia kembali memeluk Dion, kali ini dengan lebih santai, menikmati aroma maskulin kekasihnya yang bercampur dengan kemewahan suasana di sekitar mereka. "Aku ingin kamu yang pijat, bukan orang lain." Dion melepaskan pelukannya perlahan, lalu meraih sebuah kartu akses berwarna emas dari saku celananya. Ia menuntun Maya menuju sebuah pintu ganda di sudut ruangan yang sejak tadi tertutup rapat. "Aku punya satu hal lagi untukmu," bisik Dion sambil mengedipkan sebelah mata. Saat pintu itu terbuka, Maya tertahan di ambang pintu. Kamar tidur utama itu telah disulap menjadi ruang penuh memori. Lantai marmer menuju tempat tidur ditaburi kelopak mawar merah yang membentuk jalan setapak kecil. Aroma mawar yang segar dan menenangkan langsung menyeruak memenuhi indra penciuman. Di tengah tempat tidur yang luas, terdapat sebuah kotak kecil berwarna biru tua dengan pita perak yang cantik. Maya melangkah masuk dengan perasaan campur aduk antara tidak percaya dan terharu. Ia menyentuh salah satu foto polaroid yang memperlihatkan dirinya sedang tertawa lepas saat mereka piknik setahun yang lalu. "Kapan kamu sempat menyiapkan semua ini?" suara Maya sedikit bergetar. "Aku minta bantuan staf hotel sejak kemarin," jawab Dion yang kini berdiri tepat di belakangnya. "Aku mau kamu tahu kalau setiap hari aku jauh dari kamu, aku selalu mengingat momen-momen ini. Foto-foto ini yang bikin aku bertahan." Dion kemudian mengambil kotak beludru di atas bantal dan menyerahkannya kepada Maya. Dengan tangan gemetar, Maya membukanya. Di dalamnya melingkar sebuah gelang emas putih yang simpel namun elegan, dengan liontin kecil berbentuk inisial nama mereka berdua yang saling bertautan. "Ini bukan cuma hadiah, Beb," ujar Dion dengan nada serius namun lembut. "Ini janji. Mulai besok, nggak akan ada lagi jarak ribuan kilometer di antara kita. Aku sudah mengurus mutasiku kembali ke sini selamanya." Mendengar itu, Maya tidak lagi bisa menahan air matanya. Kali ini, ia bukan hanya memeluk Dion karena rindu, tapi karena perasaan lega yang luar biasa. Baginya, hanya Dion yang bisa memahami kekurangan yang ia miliki. Dion tidak menuntut apapun dari sebuah hubungan, dan ia sangat yakin jika bersama Dion akan selalu bahagia. "Setelah ini kita mau apa?" "Sabar, Beb. Kamu akan tahu setelah ini, tutup matamu dulu ini akan menjadi kejutan." Dion menuntun Maya menuju balkon pribadi yang luas. Di sana, sebuah meja bundar telah tertata sempurna dengan taplak putih bersih dan lilin-lilin kecil yang menari ditiup angin malam. Pemandangan indah dari lantai 45 terlihat seperti hamparan permata yang tumpah, lampu-lampu kendaraan di bawah sana tampak seperti aliran sungai cahaya yang tak terputus. "Dion, ini benar-benar sempurna," gumam Maya saat Dion menarikkan kursi untuknya. Sesaat kemudian, seorang pelayan mengetuk pintu dengan sopan, membawakan hidangan pembuka yang aromanya langsung membangkitkan selera. Sambil menikmati hidangan, suasana yang tadinya penuh haru berubah menjadi lebih santai dan penuh tawa. "Scallop panggang dengan saus lemon mentega yang meleleh di mulut, aku yakin kamu pasti suka." "Wah, ini semua makanan favoritku." "Dan ini, dua porsi wagyu steak dengan tingkat kematangan sempurna, disajikan dengan truffle mashed potato yang lembut untuk wanita cantik yang ada di ruangan ini." "Terima kasih Dion, makanan ini sempurna." Cup. "Ada yang lebih sempurna dari kedua makanan ini, yaitu kamu Maya Prastini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN