Keinginan Reno

1041 Kata
Happy reading. Reno menatap gelang di pergelangan tangan Laras, lalu melirik jam tangannya. Ada binar tekad di matanya yang lelah namun lembut. "Ras, aku harus ke kantor sekarang untuk beresin pekerjaan hari ini. Tapi aku mau kamu ikut aku sekarang, seperti kemarin." Laras tersenyum, genggaman tangannya pada jemari Reno mengerat. "Ikut Mas, aku mau seharian sama kamu di kantor." Perusahaan milik Reno sudah berdiri sejak ia masih kecil, Reno mewarisi perusahaan yang telah dibangun dari nol dari orang tuanya. Begitu masuk, suasana mendadak berubah menjadi sangat domestik. Reno melepaskan kemejanya, menyisakan kaos hitam polos, sementara Laras dengan inisiatifnya sendiri meletakkan tasnya di kursi samping dan mulai menyeduh dua cangkir kopi di pantry kecil kantor tersebut. Mereka bergerak dengan ritme yang sangat sinkron, seolah sudah terbiasa bersama tanpa ada gangguan dari siapapun. "Kopi tanpa gula buat Mas kesayanganku," ucap Laras sambil meletakkan cangkir di samping laptop Reno. Reno menarik pinggang Laras sebentar, mengecup keningnya sebelum fokus kembali ke layar yang penuh dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Cup. "Mas Reno sekarang nakal ya, cium aku tanpa izin dulu." "Memangnya aku harus izin cium kamu, bukankah aku ini kekasih baru kamu." "Kekasih baru aku yang baik, sopan dan tentunya suami orang." Laras dan Reno tertawa kecil, mereka tidak peduli dengan apa yang diucapkan oleh Maya. Keduanya larut dalam suasana siang hari yang sepi tanpa ada gangguan dari siapapun. "Mas Reno, aku boleh tidur?" "Boleh, kamu boleh tidur dimana aja." Alih-alih tidur, Laras justru duduk di pangkuan Reno. Ia membantu merapihkan rambut Reno yang sedikit berantakan dan sesekali memijat bahu Reno yang tampak kaku. "Laras, aku mau sesuatu dari kamu." "Apa Mas, katakan saja. Semua keinginan kamu akan aku berikan," balas Laras. "Mau cium sama peluk." Reno memeluk bahu Laras erat, mencium puncak kepalanya berkali-kali. Sore ini , di tengah sunyinya suasana kantor, mereka bukan lagi sekadar dua manusia yang mempunyai hubungan adik serta kakak ipar. Mereka adalah dua orang yang sudah benar-benar saling jatuh cinta. "Kita pulang, malam ini Maya nggak pulang ke rumah. Katanya, ada kerjaan Bandung. Jadi, kita bisa bersama malam ini." "Bandung? Ternyata, Mbak Maya ada pertemuan lagi sama Dion." *** Langkah kaki mereka terdengar bergema di lorong rumaj yang sepi saat jam menunjukkan pukul delapan malam. Begitu pintu rumah milik Reno tertutup dan terkunci, suasana sunyi yang tadinya menenangkan berubah menjadi medan magnet yang penuh ketegangan. Reno tidak langsung menyalakan lampu utama. Ia hanya membiarkan cahaya lampu dapur menerangi ruangan dengan sedikit penerangan. Ia berbalik, mendapati Laras masih berdiri di dekat pintu, menatapnya dengan binar mata yang tidak lagi mengantuk, melainkan penuh dengan debar yang sama kuatnya. Reno melangkah mendekat, perlahan namun pasti. Ia meletakkan kedua tangannya di dinding, mengunci posisi Laras di antaranya. "Tadi di kantor, aku hampir nggak bisa fokus karena kamu terus-terusan di sampingku," bisik Reno dengan suara rendah yang serak, mengirimkan getaran halus ke seluruh saraf Laras. Laras mendongak, jemarinya perlahan merayap naik ke d**a Reno, merasakan detak jantung pria itu yang berpacu cepat di balik kaos hitamnya. "Sekarang nggak ada Mbak Maya di sini, jadi kita bisa melakukan apa saja Mas." Mendengar itu, pertahanan Reno runtuh. Ia menunduk, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang awalnya ragu namun dengan cepat berubah menjadi penuh tuntutan dan kerinduan yang telah lama mereka pendam sepanjang hari yang melelahkan itu. Setiap sentuhan terasa lebih intens, tangan Reno menyusuri lekuk pinggang Laras dengan posesif. Pria itu mengendong Laras bak anak koala. Mereka bergerak menuju kamar dalam kegelapan yang akrab, meninggalkan segala beban dunia luar di balik pintu. Di kamar Laras itu, status mereka sebagai adik dan kakak ipar melebur menjadi satu. Hanya ada dua orang yang saling mendamba, di mana setiap hembusan napas dan kontak kulit ke kulit menjadi bahasa komunikasi yang jauh lebih jujur daripada kata-kata yang mereka ucapkan di restoran mewah tadi. "Mas Reno, ah. Sentuh aku dibawah sana, aku suka." "Ya, sayang. Malam ini aku akan menyentuh semua milikmu, hanya untuk aku." Malam itu, di bawah selimut yang hangat, mereka tidak hanya berbagi ruang, tetapi juga memberikan seluruh diri mereka satu sama lain. Sebuah kedekatan yang mengukuhkan bahwa mereka bukan lagi sekadar dua orang yang berjalan beriringan, melainkan dua jiwa yang telah benar-benar menyatu. Dalam keheningan kamar yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalanan di luar, batas-batas antara mereka seolah menguap. Reno menjauhkan wajahnya sejenak, hanya beberapa sentimeter dari wajah Laras, menatap mata gadis itu untuk memastikan semuanya terasa benar. "Laras." bisiknya, suaranya lebih berat dari biasanya, mengandung kombinasi antara kasih sayang dan gairah yang tertahan. Laras tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik tengkuk Reno, membawa pria itu kembali ke dalam dekapan hangatnya. Sentuhan Reno yang biasanya hanya berupa tepukan di kepala atau genggaman tangan di kampus, kini terasa jauh lebih eksploratif. Jemarinya yang terampil dalam menggambar garis-garis presisi, kini dengan penuh perasaan memetakan setiap inci kulit Laras, seolah sedang menghafal sebuah karya seni yang paling berharga dalam hidupnya. Setiap napas yang menderu dan bisikan lembut yang terucap di antara mereka menjadi pengakuan yang lebih dalam daripada janji apa pun. Ada rasa saling memiliki yang mutlak sebuah kepercayaan yang dibangun sejak beberapa Minggu lalu. Reno bergerak dengan kelembutan yang sangat kontras dengan pembawaannya yang tegas di luar. Ia memperlakukan Laras seolah gadis itu adalah hal paling rapuh sekaligus paling kuat yang pernah ia miliki. Di sisi lain, Laras menyerahkan seluruh kendalinya, membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan asing namun sangat ia inginkan yang diberikan oleh Reno. "Malam ini Mas Reno hanya milikku, bukan milik Mbak Maya. Suruh siapa Mbak Maya selingkuh dibelakang Mas Reno, aku akan menjadi satu-satunya wanita dihati Mas Reno." "Maya, maafkan aku. Aku sudah terlanjur jatuh karena pesona Laras, dan semua ini karena kamu." Di sela-sela pergulatan rasa itu, Reno sesekali mengecup pergelangan tangan Laras, tepat di tempat gelang perak pemberiannya melingkar. Inisial mereka yang terukir di sana seolah menjadi saksi bisu penyatuan mereka malam itu. Malam yang panjang itu bukan hanya tentang pelepasan hasrat, melainkan tentang eksplorasi emosi yang selama ini tersembunyi di balik tawa dan obrolan santai mereka. Saat semuanya perlahan mereda, mereka tetap berpelukan erat, kulit mereka masih bersentuhan, membiarkan detak jantung masing-masing yang mulai tenang menjadi pengantar tidur. Di ruangan itu, mereka benar-benar menemukan rumah pada satu sama lain. "Laras, aku punya satu keinginan sama kamu. Apakah kamu mau menerima keinginanku?" "Iya, Mas Reno. Aku mau menerima keinginan kamu,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN