Happy reading.
Satu bulan berlalu.
Udara di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta terasa lebih dingin dari biasanya, setidaknya bagi Laras. Di tengah hiruk-pikuk calon penumpang yang mengejar jadwal, ia hanya berdiri mematung, menatap punggung Reno yang sedang merapikan tali tas ranselnya.
Ini bukan sekadar perjalanan dinas biasa. Kali ini, Reno akan bertolak ke London untuk waktu yang tidak sebentar enam bulan.
"Mas Reno jangan lupa pulang, aku pasti bakal kangen sama Mas."
Reno berbalik, menyadari tatapan kosong Laras. Ia tersenyum tipis, jenis senyum yang berusaha menyembunyikan rasa bersalah sekaligus kecemasan.
"Cuma tiga bulan, Ras. Setelah itu aku langsung pulang ke Jakarta," ucap Reno lembut, melangkah mendekat untuk mengikis jarak di antara mereka.
Laras hanya mengangguk pelan. Ia tidak ingin menjadi beban, tapi bayangan rumah yang mendadak sepi mulai menghantuinya. "Jangan lupa makan tepat waktu. Di sana dingin, Mas Reno. Jaket yang aku masukkan ke koper jangan cuma jadi pajangan."
Reno terkekeh, lalu menarik Laras ke dalam pelukannya. Aroma parfum Reno yang maskulin bercampur sedikit wangi kopi seolah ingin Laras simpan dalam memorinya selama mungkin. "Aku akan telepon setiap hari. Biarpun di sini sudah tengah malam, aku bakal tetap cari waktu buat dengar suara kamu."
Suara pengumuman keberangkatan menggema, memecah momen hening di antara keduanya. Reno melepaskan pelukannya perlahan, menatap mata Laras dengan intensitas yang sulit dijelaskan.
"Aku mencintaimu" dengan gerakan tangan yang hanya mereka berdua yang tahu.
"Aku lebih mencintaimu, dan anak kita."
Laras tetap berdiri di sana sampai sosok Reno hilang di balik kerumunan. Saat itulah, realitas menghantamnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu terakhir, tidak akan ada Reno yang membukakan pintu rumah, tidak ada Reno yang mengeluh tentang macetnya Jakarta di meja makan, dan tidak ada Reno yang menemaninya menonton film di akhir pekan.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. Bandara tetap bising, namun bagi Laras, dunia mendadak menjadi sangat sunyi.
"Aku pasti merindukanmu, Mas Reno."
Hari-hari pertama Laras tanpa Reno terasa seperti film bisu yang diputar berulang-ulang. Ruang tamu yang biasanya penuh dengan suara tawa atau sekadar denting sendok dari arah dapur, kini hanya menyisakan deru mesin kulkas dan detak jam dinding yang mendadak terdengar sangat nyaring.
"Harus semangat, walaupun nggak ada Mas Reno."
Di hari kedua, Laras terbangun dan secara refleks menyeduh dua cangkir kopi. Baru saat uap panas menyentuh wajahnya, ia tersadar bahwa kursi di hadapannya kosong. Tidak ada Reno yang sibuk menyisir rambut dengan jemari sambil membaca berita di ponsel.
Laras menghela napas, menatap cangkir kedua yang tak bertuan itu. Daripada membuangnya, ia membiarkan kopi itu mendingin di atas meja dan tidak lupa Laras menatap dengan tatapan kosong.
"Kangen Mas Reno, kapan baliknya?"
Untuk mengusir rasa sepi yang mulai merayap, Laras mencoba mengubah rutinitasnya. Ia mulai mengisi malam-malamnya dengan aktivitas yang selama ini belum pernah ia lakukan, yaitu merajut.
Dengan melihat video tutorial cara merajut, tidak terlalu susah bagi Laras yang memang sangat menyukai hobi barunya itu.
Satu persatu ia lakukan, demi hasil yang membanggakan. Dan, setelah hampir enam jam berlalu. Laras berhasil membuat topi rajut mungil yang akan ia berikan kepada calon anaknya nanti.
"Cantik sekali, aku akan buat dua sampai tiga lagi topi seperti ini. Nanti, setelah anakku lahir akan aku pakaikan semua ini."
Laras menghela nafas panjang, sudah hampir jam 12 malam. Laras telah menyelesaikan kegiatan barunya, namun Reno masih belum memberikan kabar sampai saat ini.
"Apa Mas Reno lupa denganku? Sampai-sampai sudah melewati waktu yang seharusnya menghubungi aku," ucap Laras dalam hatinya.
Tidak berselang lama, saat layar ponselnya menyala dan menampilkan nama Suamiku dengan tambahan emoticon love, Laras bersorak gembira. Seperti menemukan harta Karun yang sangat banyak.
"Laras? Kamu belum tidur?" suara Reno terdengar sedikit pecah karena sinyal, tapi tetap hangat.
"Belum Mas Reno, lagi nungguin kamu," jawab Laras singkat, mencoba menahan getar di suaranya. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil, cuaca London yang abu-abu, atau tentang kucing tetangga yang masuk ke teras rumah mereka.
Namun, saat sambungan telepon terputus, kesunyian itu kembali lagi. Lebih berat dari sebelumnya. Laras menyadari bahwa meskipun teknologi bisa mendekatkan jarak, ia tetap tidak bisa menggantikan kehadiran fisik seseorang yang biasanya mengisi separuh dari dunianya.
"Sepi lagi, jadi aku harus lebih sabar dari sebelumnya."
Hari berganti hari, memasuki minggu ketiga di bulan yang sama. Laras menyadari bahwa menunggu dering ponsel setiap malam adalah cara tercepat untuk membuat dirinya merasa bahagia. Ia butuh sesuatu yang bisa membuat tangannya sibuk dan pikirannya berhenti menghitung hari.
Secara tidak sengaja, saat membersihkan gudang belakang, ia menemukan satu set peralatan melukis lama milik mendiang ibunya yang belum pernah ia sentuh. Di gudang tersebut juga ada foto-foto miliknya yang telah usang, dan itu membuat Laras semakin rindu dengan suasana dulu.
"Sepertinya bukan ide yang buruk untuk memulai kembali melukis seperti dulu, nanti kalau Mas Reno pulang akan aku persembahkan untuknya."
***
Sementara itu ditempat lain.
Reno sedang menatap kalender digitalnya. Seharusnya, ia masih memiliki waktu beberapa Minggu lagi untuk menyelesaikan pekerjaan inj. Namun, karena efisiensi kerja timnya dan percepatan proyek di lapangan, manajernya memberikan kabar tak terduga. Reno bisa pulang beberapa
minggu lebih awal.
"Sebentar lagi aku pulang, Ras. Tunggu aku dirumah, kita akan bersama kembali."
Bukannya langsung memberi tahu Laras, Reno justru memutuskan untuk menyimpan kabar ini rapat-rapat. Ia ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar pesan teks.
Reno mulai mengatur strategi. Ia tetap melakukan video call seperti biasa, bersikap seolah-olah ia masih akan tertahan lama di Inggris dalam waktu yang cukup lama.
"Duh, Ras, kayaknya ada tambahan kerjaan nih. Mungkin bakal sibuk banget minggu depan," ucapnya sambil menahan senyum saat melihat wajah Laras yang sedikit kecewa di layar.
"Jadi, aku harus menunggu lebih lama lagi dari ini?"
"Ehm, kamu harus sabar. Kita pasti akan bersama dalam suasana yang berbeda," kata Reno diseberang sana.
Selasa sore itu, Jakarta diguyur hujan rintik. Laras baru saja pulang dari studio lukisnya dengan apron yang masih menyisakan noda cat biru di ujungnya. Ia merasa sedikit lelah, tapi puas karena baru saja menyelesaikan sebuah kanvas besar bertema kebahagiaan.
Saat ia memasukkan kunci ke lubang pintu rumah, ia merasa ada yang aneh. Aroma kopi yang sangat familiar menusuk indra penciumannya, jenis kopi yang selalu Reno bawa dari kedai favoritnya tercium samar dari balik pintu.
Laras mengernyit. "Aku lupa matiin mesin kopi?" gumamnya sendiri.
Begitu pintu terbuka, matanya langsung tertuju pada sebuah koper besar yang tergeletak di dekat sofa. Di atas meja makan, ada sebungkus cokelat London dan sebuah buket bunga tulip putih yang masih segar.
"Surprise," bisik Reno di telinga Laras, mengeratkan pelukannya seolah tidak ingin melepaskannya lagi. "Aku lihat lukisan kamu di ruang tamu. Kamu benar, dinding kita jadi jauh lebih indah sekarang."
"Katanya minggu depan bakal sibuk banget?"
"Ini kejutan, dan aku suka akan kejutan untukmu."
Tanpa berkata apa-apa, Laras menghambur ke pelukan Reno. Kali ini, bukan aroma perpisahan yang ia hirup, melainkan aroma kepulangan yang nyata.
Laras melepaskan pelukannya sebentar, menatap Reno dengan mata berkaca-kaca namun penuh tawa. "Kamu curang, Mas Reno! Aku belum sempat mandi dan masih bau cat!"
Reno tertawa renyah, mencium kening Laras lama. "Nggak apa-apa. Kamu yang sekarang, jauh lebih bercahaya daripada Laras yang aku tinggalkan di bandara waktu itu."
"Aku kangen kamu, Mas. Sudah lama sekali kita nggak bertemu," ucap Laras sedih.
"Aku yang sekarang akan selalu ada bersamamu, menemanimu sampai anak ini lahir."
Laras mengerutkan dahinya, apa maksud dari ucapan Reno. Mengapa suaminya mengatakan bahwa dirinya sekarang akan selalu menemaninya sampai anak kita lahir.
"Mas Reno, nggak akan pergi lagi?"
"No, aku akan tetap di sini dengan versi yang berbeda-"
Laras tergelak, tangannya baru saja hendak menyentuh pipi Reno untuk memastikan ini bukan mimpi, namun tiba-tiba suara bising yang memekakkan telinga menghantam kesadarannya.
Tit... tit... tit.
Laras tersentak. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Tidak ada aroma kopi, tidak ada buket tulip putih, dan yang paling menyesakkan tidak ada Reno di ambang pintu dapur.
Laras meraba sisi tempat tidur di sampingnya. Dingin. Ia menoleh ke arah jam digital di nakas yang menyala terang menunjukkan pukul 03.00 pagi. Suara bising tadi ternyata hanyalah alarm ponselnya yang lupa ia matikan.
Ia duduk bersandar di kepala ranjang, mencoba mengatur napas yang sedikit memburu. Kecewa itu datang seperti ombak, menyapu sisa-sisa kebahagiaan yang baru saja ia rasakan di alam bawah sadar.
"Ternyata cuma mimpi," bisiknya lirih, suaranya serak khas orang bangun tidur.
Laras meraih ponselnya. Ada satu notifikasi masuk dari Reno sekitar dua jam yang lalu tepat saat Reno seharusnya baru memulai jam istirahat sorenya di London.
"Tadi aku lihat foto lukisan yang kamu kirim lagi. Keren banget, Ras. Rasanya pengen cepat pulang buat lihat langsung, tapi di sini mendadak ada audit proyek. Mungkin kepulanganku bakal mundur lagi. Maaf ya, Sayang. Keep painting, okay?"
Laras memejamkan mata rapat-rapat. Mimpi tadi terasa begitu nyata hingga ia bisa merasakan tekstur jaket Reno di kulitnya. Fakta bahwa kepulangan Reno justru tertunda, bukannya lebih awal, terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka.
Laras tahu jika ia tetap di tempat tidur, kesedihan akan menelannya bulat-bulat. Ia menyalakan lampu kamar, bangkit, dan berjalan menuju ruang tengah.
Di sana, kanvas besarnya yang berjudul kebahagiaan masih berdiri tegak. Di bawah lampu remang, warna-warnanya tampak melankolis namun kuat.
"Aku harus menyelesaikan lukisan ini, sebelum Mas Reno pulang."
Laras tidak mencoba tidur lagi. Ia mengambil kuas paling kecilnya, menambahkan setitik cahaya putih di ujung cakrawala lukisannya sebuah simbol harapan kecil di tengah ketidakpastian.
"Nggak apa-apa, Mas Reno. Lanjutkan pekerjaanmu, semangat ya. Lukisan ini juga butuh sedikit waktu lagi buat benar-benar selesai. Kayak kita."