Hans saat ini tengah mengepalkan tangannya kuat. Matanya menatap tajam pada gadis bercadar yang duduk bersebrangan dengannya. Darahnya mendidih seketika saat mengetahui kebenaran yang ada.
Benar, gadis dengan cadar hitam yang melekat itu adalah Hikmah Anindya. Gadis culun yang selalu ia bully di masa SMA. Ia sendiri heran, kenapa ia harus bertemu lagi dengan gadis culun yang berhasil membuat masalah besar untuknya, kenapa?
Ya, hanya itu yang ada dalam pikiran seorang Hans. Dia sama sekali tidak mempedulikan sekitarnya selain alasan kenapa Hikmah kembali bertemu dengannya. Masa bodo dengan para warga yang masih melakukan unjuk rasa.
Dengan tubuh yang masih setengah telanjang, Hans duduk di bangku kayu kantor polisi dengan enggan, rasanya ia jijik dan ingin segera pulang menetralkan segala amarahnya yang membara. Dituduh berbuat m***m, digelandang ke kantor polisi seperti hewan, dan kini dimintai keterangan atas perbuatan yang tidak ia lakukan.
Hans benci itu! Sangat benci!
Lagipula, kenapa warga tak berakal itu menuduh dirinya? Kenal daerah itu saja tidak. Lebih sialnya lagi, kenapa harus dengan Hikmah ia terjebak permasalahan.
Dari sekian banyak wanita, kenapa ia harus dituduh berzina dengan gadis bercadar itu, Kenapa tidak dengan wanita seksi saja? Bukankah wanita seksi akan jauh lebih mendukung suasana, akan lebih membakar hawa nafsu seorang pria. Tapi ini, ia justru dituduh m***m dengan gadis yang bahkan wajahnya saja tak dapat ia lihat secara normal.
Aneh.
"Hey, kamu!" panggil seorang petugas dengan perut buncitnya pada Hans yang terus menatap tajam Hikmah.
Hans enggan menengok. Malas sekali ia menengok dan melihat rupa yang akan membuat matanya iritasi itu! Katanya abdi negara, perut kotak saja dia tidak punya! Rasa sombong terselip dalam hati Hans saat ini, setidaknya ia memiliki body yang sangat cocok untuk dijadikan panutan para abdi negara. Perut kotak yang terbentuk sempurna dan d**a yang bidang membuatnya merasa senang karena telah berhasil menyaingi abdi negara yang sempat mengejarnya tadi.
Mengingat aksi kejar-kejaran bak film action yang ia tonton, Hans jadi teringat dengan awal mula ia digelandang ke kantor polisi.
Jujur saja, hatinya was-was bukan main saat ia dengan tidak manusiawinya digelandang ke kantor polisi. Ia takut polisi itu akan mengenalinya karena jaket sialan yang ia gunakan itu. Namun, saat sampai di kantor polisi, semua tidaklah sesuai ekspetasinya. Para polisi itu seakan tak mengenalinya, apa karena kasus yang menjeratnya kali ini lebih berat, mungkin?
Para polisi itu tidak mengenalinya, dalam hati ia mengucap syukur karena ide brilian yang mendadak muncul saat melihat sawah. Ia membuang jaket yang merupakan akar dari permasalahan, jaket yang dijual temannya dengan harga mahal itu ternyata bermasalah dengan hukum.
Huft, entah teman seperti apa yang ia miliki, yang jelas Hans sama sekali tidak berniat untuk memaafkannya, niat pesta melepas penat setelah beberapa hari sibuk bekerja justru merujung menjadi pelaku m***m. Naas.
"Kamu!!" teriak petugas itu geram, dari tadi ia panggil-panggil lelaki setengah telanjang yang setengah jam lalu digelandang warga ke kantor polisi ini justru mengabaikannya, tidak takutkah lelaki m***m ini padanya.
Hans menengok dengan malas. "Kenapa?" tanyanya santai, toh ia tidak salah, jadi kenapa ia harus gugup dan takut.
"Masih bisa tanya kenapa? Kamu tidak sadar, ya?!"
"Sadar apa sih, Pak? Saya itu tidak salah!" kekeh Hans dengan tajamnya. Biar saja ia debat dengan aparat.
"Ckckckck, baru kali ini saya ketemu pelaku semacam kamu!"
"Sudah digelandang oleh warga, setengah telanjang, tapi masih berani melawan?"
"Hebat sekali kamu, kamu pikir kamu siapa?" tanyanya ketus membuat Hans mendelik. Amarahnya semakin berkobar saat secara tidak langsung polisi gendut itu merendahkannya. Hey, dia ini kaya, bahkan lebih kaya dari petugas yang sekarang berdiri di depannya.
"Saya adalah Hans Julian Radipta. Pewaris keluarga Radipta yang bergerak di bidang properti, makanan, dan pariwisata."
"Sekarang Bapak sudah tahu siapa saya, kan?" balas Hans telak membuat petugas itu terdiam seketika, nama keluarga Radipta sudah tersebar luas dan terkenal karena besarnya bisnis dan luasnya jangkauan mereka. Namun ia sama sekali tidak mengetahui bahwa lelaki dengan tampang nakal ini adalah pewaris keluarga kaya raya itu.
"Saya tidak peduli siapa kamu!" tegas seorang Polisi yang berdiri gagah tak jauh dari Hans duduk, ia memandang Hans dengan enggan.
"Salah tetap salah, entah kamu kaya atau tidak. Bagi saya semua sama. Dan kamu harus dihukum atas perbuatanmu!" putusnya lalu menarik Hans agar duduk di depan seorang polisi yang siap mencatat keterangannya.
"Berikan keteranganmu jika benar kamu tidak bersalah!" titahnya pada Hans yang langsung Hans turuti, entah kenapa aura petugas yang satu ini membuatnya tidak berkutik. Baru kali ini kekayaannya tidak berlaku sama sekali.
"Kenapa kamu bisa sampai ditangkap warga?" tanya seorang polisi yang matanya tetap fokus menatap komputer.
Hans terdiam, berusaha menyusun kata-kata yang tak akan menyudutkan dirinya. "Saya sedang berada di rumah kosong itu."
Polisi itu mengernyit. "Kamu pasti tidak sendirian, bukan?"
"Ya, saya bersama Hik—" ucapannya mendadak terhenti, jika ia mengucapkan nama Hikmah, maka mereka akan merasa janggal karena ia mengatakan pada warga bahwa ia tak mengenal Hikmah.
"Hikmah Anindya? Gadis yang digelandang bersama kamu tadi?" tebak polisi itu tegas.
Hans mengangguk pasrah, ia benar-benar tidak bisa mengelak dari ucapan polisi yang ia ketahui bernama Dewa ini.
"Bukankah kamu bilang pada warga bahwa kamu tidak mengenal gadis itu?" tanyanya heran.
Hans terdiam, tak dapat menjawab. Karena memang benar, tetapi itu terjadi sebelum ia mengetahui kebenarannya.
"Kamu tidak dapat menjawabnya? Maka akan saya catat sebagai kebohongan!" sudut Dewa membuat Hans menggeleng keras.
"Jangan, Pak. Ja—jangan!" ucapnya gagap.
"Kalau begitu, berikan keterangan yang jelas!" sentaknya membuat Hans gelagapan, Hikmah yang mendengarnya pun ketakutan, ia belum dimintai keterangan dan hanya diminta memberi tahukan nama, ia yakin bahwa Hans sudah mengetahui bahwa yang sebenarnya.
"Saya ditangkap warga karena berada di rumah kosong bersama Hikmah, saat itu Hikmah jatuh di atas saya secara tiba-tiba. Saya sendiri tidak menyadari hal itu. Saya hanya reflek menangkapnya," jelas Hans cepat, daripada ia terus-terusan disudutkan seperti ini, lebih baik ia segera menjelaskannya, hawa di sini semakin pengap.
Polisi bernama Dewa itu mengangguk, lalu menatap Hikmah tajam.
"Berarti gadis itu yang memulainya?" tebaknya yang langsung diangguki oleh Hans, biar saja kebenarannya tertutupi, yang penting ia selamat terlebih dahulu. Ia sendiri tidak tahu sebenernya kenapa bisa ada Hikmah di sana dan menimpa tubuhnya.
Hikmah menggeleng keras, ia tidak pernah memulai apapun. "Ti—tidak, Pak. Saya tidak memulai apa pun," elaknya pelan, sangat takut pada tatapan-tatapan tajam yang dilayangkan padanya.
"Lalu kalau bukan kamu, siapa lagi?" tanyanya malas, dimintai keterangan sedari tadi, dua anak muda ini justru selalu berbeda penjelasan membuatnya heran, entah kekompakkan seperti apa yang mereka sepakati.
"Saya ta—tadi sedang berte—teduh, hujan mendadak datang dan saya sedang dalam perjalanan pulang," jelas Hikmah cepat, jika dibiarkan berlarut-larut maka akan semakin rumit permasalahannya.
"Bohong, Pak Polisi!!" sentak seorang warga yang tadi ikut membawa Hikmah dan Hans ke kantor polisi.
"Mereka sedang berbuat m***m, Pak. Jangan percaya!" kekehnya membuat Hans berdecak malas, ia kemudian bangkit berdiri dan menarik kerah baju warga tersebut hingga seisi kantor dibuat gaduh dengan ulahnya.
"Apa maksudmu?! Saya tidak berbuat m***m, ya! Jangan mengada-ngada!" marah Hans yang sekarang mencoba untuk memukul lelaki dewasa di depannya, para polisi bergerak cepat mencegah kekacauan yang terjadi.
"Apa yang kamu lakukan?!"
"Kamu bisa terancam melakukan tindak kriminal!"
Hans ditarik oleh Dewa untuk duduk di bangku yang sama dengan Hikmah, Hikmah masih berdiri meminta belas kasihan polisi itu untuk membebaskannya, ia sama sekali tak bersalah.
"Kamu panggil RT-mu sekarang juga!" perintah Dewa pada lelaki dewasa yang masih menetralkan napasnya, napasnya mendadak sesak saat Hans menarik kuat kerah bajunya. Lelaki itu menengok lalu mengangguk cepat.
"Baik, Pak." lelaki itu perlahan berjalan memanggil Pak RT yang sedang bersama warga lainnya.
"Pak, Pak RT dipanggil polisi!" ucapnya pada seorang pria paruh baya dengan kumis besar di wajahnya.
"Iya-iya, Bapak ke sana." segera saja ia bergegas masuk ke dalam dengan tergopoh-gopoh.
"Bapak memanggil saya?" tanyanya saat sudah sampai di dalam, Dewa langsung mengangguk dan mempersilahkan Pak RT untuk duduk.
"Duduk di situ, Bapak akan dimintai keterangan sebagai saksi dan penanggung jawab di daerah itu."
Pak RT pun mulai menceritakannya dengan detail.
"Awal mula kejadian ini sudah lama sekali, Pak. Sudah beberapa bulan yang lalu sejumlah warga memergoki ada sepasang remaja yang memadu kasih di rumah kosong, biasanya mereka datang saat gelap atau hujan, tapi warga selalu gagal memergoki mereka, Pak."
"Karena saat mereka berusaha menangkap basah pelaku m***m itu, pasangan remaja yang sedang asik memadu kasih mendadak hilang dan meninggalkan bekas perzinahan mereka. Kami tentu tidak ingin daerah kami tercemar karena bukan sekali dua kali ini terjadi, melainkan ini adalah kejadian yang kesekian kalinya, hal ini meresahkan warga, Pak, hingga puncaknya kami menyusun rencana untuk menangkap dua sejoli yang biasa berbuat m***m di rumah kosong itu."
"Kami sepakat untuk menangkap basah mereka dan menyerahkannya ke kantor polisi. Akhirnya, malam ini menjadi malam yang kami sepakati untuk menangkap mereka. Dua orang warga sudah menjaga di sana sedari maghrib tiba, mereka bersembunyi di bagian belakang rumah. Awalnya tidak ada yang datang dan hampir saja kami memutuskan untuk mengganti lain waktu, tapi dua orang warga itu mendadak mendengar suara langkah kaki, mereka lalu mengintip dan melihat ada seorang lelaki bertubuh putih dalam keadaan setengah telanjang."
"Mereka saat itu langsung lari, Pak, untuk memanggil kami dan menangkap basah pelaku m***m itu, dan benar saja saat kami tiba di sana terdengar teriakan, saat dilihat ternyata mereka sedang dalam posisi yang sangat tidak baik."
"Mereka sebenarnya mengelak, Pak. Tapi kami tidak percaya karena di sekitar mereka banyak sekali bekas a**************i yang habis dipakai."
Hans dan Hikmah terdiam mendengar penjelasan itu, sangat menyudutkan mereka. Itu bukanlah yang terjadi sebenarnya, itu hanya sebagian dari kebenaran yang ada.
Hikmah meneteskan air mata, matanya terasa perih karena terlalu banyak menangis saat sadar nasib dirinya ke depannya, bagaimana dengan orang tuanya?
Orang tua? Ouh, ya ampun, Hikmah bahkan baru mengingat mereka, ia sama sekali belum memberi kabar pada Ibu dan Ayahnya yang mungkin sekarang sedang menunggu kedatangannya dengan cemas.
Ia ingin memberi kabar, tetapi ia lupa bahwa ia berada di kantor polisi sekarang dan tidak tahu dimana ponselnya, mungkin hilang saat di rumah kosong tadi. Ia kemudian melirik pada Hans yang memejamkan matanya, lelah.
"Ouh begitu, baik, terimakasih atas penjelasannya!"
Pak RT kembali berlalu keluar, menunggu keputusan selanjutnya bagi orang yang mencemari daerahnya itu.
Seorang polisi lalu menghampiri Hans dan Hikmah yang duduk dengan kepala tertunduk.
"Berikan nomor orang tua kalian, saya akan menghubunginya," ucapnya lugas.
Hikmah dan Hans melotot, Hikmah langsung berdiri dan mendekati polisi itu, ia berusaha melakukan negosiasi.
"Ja—jangan, Pak! Jangan hubungi orang tua saya," mohon Hikmah pada Dewa yang langsung ditolak keras. Tidak akan ia beri keringanan pelaku tindakan asusila ini.
"Tidak! Bukankah tadi kalian bilang bahwa kalian masih kuliah? Dan itu berarti keluarga kalian perlu mendapat kabar ini. Agar mereka tahu kelakuan kalian!"
"Saya tidak melakukan itu, Pak. Percayalah, jangan hubungi orang tua saya, mereka akan terkejut."
Dewa tersenyum sinis, harusnya sepasang anak muda di depannya memikirkan hal ini sebelum bertindak gegabah.
"Mau nanti atau sekarang mereka akan tetap terkejut, sekarang saya minta nomor orang tua kalian atau saha datangi dan jemput orang tua kalian dari rumah!" ancamnya membuat Hans dan Hikmah diam tak berkutik.
___________________________
Allah, aku tersudutkan, kesalah pahaman yang terjadi demi menyelamatkan hidup orang lain membawaku pada kehancuran.
Allah, fitnah itu begitu kejam, menuduhku sebagai wanita yang tak pandai menjaga harta sebagai wanita, aku tersakiti.
Awalnya aku pikir mengalah dengan keadaan membawa kita pada kebahagiaan, namun aku rasa tidak, karena nyatanya sekarang hanya akan ada tangis kecewa dan sakit yang mendera raga dan jiwa.
Allah, kuatkan hatiku agar terus mampu berdzikir atas namamu di dalam hatiku, aku tidak ingin berprasangka buruk padamu. Namun, rasanya sulit untuk memikirkan kebaikan yang kau selipkan padaku lewat segala fitnah yang dilayangkan padaku.