8. Fitnah

2604 Kata
Dua orang lelaki paruh baya tampak bersembunyi di bagian belakang rumah, mereka sengaja menjalankan rencana ini guna menjebak pelaku m***m yang selalu berbuat tak senonoh di rumah yang sudah tak berpenghuni ini. Dengan langkah pelan dua lelaki itu berjalan keluar melalui pintu belakang, mereka hendak memberi tahu para warga yang sudah menunggu dengan harap-harap cemas. Tindakan sejoli yang seringkali berbuat m***m itu meresahkan mereka. "Pak, bener ya ternyata, ada yang zina di sana, pantes aja banyak a**************i!" bisik seorang pria paruh baya dengan sarung yang tersampir di pundaknya. "Iya Pak bener, banyak banget, warga harus tahu nih, nanti kita beri tahu pak RT juga!" pria paruh baya dengan celana training itu ikut menyahuti. "Iya Pak, tadi aja anak cowonya udah buka baju, harus cepet ini mah!" "Hayuk atuh, buruan!" Mereka pun mempercepat langkah guna menangkap basah pelaku m***m itu. Kemudian, mereka menuju pos keamanan yang mana pos itu telah penuh oleh warga yang sedang membawa senter. Mereka sudah sepakat akan menangkap basah pelaku m***m itu. Mereka ini warga yang bersih, menolak dengan tegas perzinahan, ada anak tetangga bawa kekasih ke rumah saja mereka marah dan langsung menegurnya, apalagi ini? Tidak jelas siapa orangnya, tetapi selalu saja ada bekasnya. Biasanya pelaku m***m itu akan datang di saat hujan ingin mengguyur atau menjelang malam. Namun, karena hari kerja sehingga mereka baru bisa melaksanakan rencana itu sekarang. Bukan tanpa alasan mereka menduga seperti ini, beberapa warga ada yang tak sengaja memergoki dua sejoli tengah memadu kasih, tetapi ketika mereka ingin menangkap basah selalu saja gagal. Maka dari itu, sekarang adalah kesempatan emas bagi mereka! Apalagi jika tak salah dengar dari salah satu orang yang bertugas di rumah kosong, anak lelaki yang sudah siap berbuat m***m itu sudah membuka baju, badannya yang putih bersih menjadi sangat kontras dengan rumah tak berpenghuni itu. "Ayo Pak, mereka ada di sana!" aba-aba itu terucap dengan lancar membuat para warga dengan amarah membara dan senter di tangan mereka mengacungkannya tinggi-tinggi, merasa kesal bukan kepalang. "Ayo, Pak! Tangkap pelaku m***m itu!" ucap seorang Ibu dengan wajah yang memerah menahan marah. "Bener, tangkep aja, biar malu sekalian!!" Ibu-ibu dengan gelang besar di tangannya turut menyahut. Tak lupa ia acungkan tangannya yang membawa senter sekaligus memamerkan gelang, lumayan, setidaknya tidak terlalu nampak jika ia berniat pamer dalam kekalutan. "Anak muda zaman sekarang, bener-bener!!!" seorang Ibu dengan kerudung yang terpasang rapih di kepalanya itu berucap dengan geram. Semasa ia muda, tidak ada kata untuk berzina karena hanya ada menikah, tetapi semakin majunya zaman, perzinahan justru merebak begitu saja. Tak lama mereka sampai di depan rumh kosong itu. Para warga mendadak diam dan suasana menjadi hening sesaat karena telinga mereka mendengar teriakan yang berasal dari dalam rumah, mereka mendengar jelas suara lelaki dan perempuan membuat mereka semakin yakin, pasti ini pelaku mesumnya! "Tuh, kenceng banget suaranya!" ucap seorang pria. Warga sudah ingin masuk, tetapi dicegah oleh seorang tetuah di sana. Dia yang akan membimbing warga lain untuk masuk dan menangkap basah mereka. "Ibu-ibu sama bapak-bapak, ikutin saya, ya. Biar saya yang di depan!" ucap tetuah itu dan mereka mengangguk. Perlahan pria paruh baya yang ternyata bernama Darman itu masuk, lalu berjalan mengendap-endap menuju ruang dimana ia melihat lelaki yang berkulit putih mulus itu membuka baju, warga pun mengikutinya dari belakang. Matanya membulat kaget saat melihat siluet orang dengan posisi tak senonoh di depannya. Segera saja ia memusatkan cahaya senter berukuran jumbo miliknya ke arah dua orang yang sedang asik saling menempel itu. "ITU PAK! PASANGAN YANG BERZINA SELAMA INI!" teriak Pak Darman yang datang sambil membawa senter besar yang menyorot ke arah Hikmah yang ternyata terjatuh di atas Hans yang tengah bertelanjang d**a. Mereka terkejut, sangat terkejut karena semua ini terjadi secara mendadak. "MANA?!" teriak seorang pria dengan kumis besar menghiasi wajahnya. Ia kemudian meminta para warga yang lain agar menyorot dengan senter yang mereka bawa ke arah Hans dan Hikmah yang masih terdiam kaku dalan keadaan yang tidak bisa dibilang baik-baik saja. "Astagfirullah! Jadi ini yang suka zina itu?!" pekik seorang wanita paruh baya histeris. Ia benar-benar terkejut melihat adegan dua sejoli yang akan memadu kasih langsung di depannya. "Ihh, ngeri banget. Bercadar padahal!" sorot seorang wanita muda yang turut bergabung dalam investigasi ini. Begitu ia masuk dan melihat yang terjadi, perhatiannya langsung berpusat pada cadar yang dikenakan Hikmah. "Astagfirullah ... orang mana ini?!" seorang lelaki muda memekik histeris, tak menyangka di kampungnya akan terjadi hal memalukan dan menjijikan seperti ini. "Dasar tukang Zina!" tukas para warga mengejeki Hikmah dan Hans yang belum merubah posisinya. Hikmah masih terdiam. Posisinya saat ini berada di atas Hans yang tengah memegang tangannya, berniat menopang tubuhnya yang jatuh tadi. Hans yang sudah setengah telanjang dan menampakkan perut berototnya itu juga turut kebingungan, ada apa ini? Dan siapa perempuan bercadar yang sekarang berada di atas tubuhnya? Kenapa mereka dikelilingi banyak orang? Dan .... Kenapa ia dituduh sebagai pelaku m***m? "Heh! Bangun tukang zina! Jangan enak-enakan aja!" seorang wanita mendekat pada Hikmah dan menunjuk wajahnya membuat Hikmah terkesiap. Hikmah tersadar, ia kemudian bangkit dari tubuh Hans dengan pandangan kosong dan bingung. Ia masih tak dapat memahami apa yang terjadi saat ini. Kenapa semua orang berkumpul mengelilinginya? Dan yang paling penting adalah kenapa ia bisa berada di atas lelaki dengan keadaan setengah telanjang itu? "Ada apa?" ia bertanya dengan polosnya sehingga membuat para warga semakin marah. Mereka berteriak merendahkan Hikmah yang justru semakin bingung karena tiba-tiba mendapat amukan warga. "Dasar enggak tahu malu!!" ucap warga spontan saat mendengar pertanyaan Hikmah. "Halah sok-sokan pakai cadar, nyatanya suka m***m di rumah kosong!" Hikmah sedikit merengut, ia tak suka cadarnya dibawa-bawa, lagi pula yang ingin m***m? "Heh, perhatikan itu lelaki tercintamu udah hampir telanjang!" tunjuk seorang warga pada Hans yang hanya mengenakan celana jeans hitam dan kalung berbandul huruf H yang menggantung indah di lehernya. "Masih nanya ada apa?! Buta atau mendadak bodo kamu?!" ucapnya remeh, merasa tak habis pikir dengan dua orang remaja yang ketahuan berbuat m***m ini justru tiba-tiba kebingungan. "Maaf, tapi saya enggak paham, Bu." ucap Hikmah pelan, otaknya masih belum mampu mengolah kejadian saat ini. "Kamu mau m***m di sini kan?! Masih pura-pura enggak tahu lagi!!" semprot mereka. mesum? Pura-pura tidak tahu? Oh, ya ampun! Hikmah sadar sekarang. Mulai dari ia yang berteduh di rumah kosong ini. Lalu, ia yang jatuh terjerembab dan para warga yang mendadak mengelilinginya membuat Hikmah paham. Kepalanya lalu memutar ulang kejadian dimana ia jatuh tepat di atas tubuh Hans, sosok yang membullynya dulu. Jantungnya berdetak cepat, tanpa sengaja ia telah menjatuhkan harga dirinya sendiri dengan jatuh di atas tubuh Hans yang setengah telanjang. Matanya berkaca-kaca saat ia menyadari kesalahan yang ia buat, ketakutan menggerogoti hatinya. Takut pada Allah karena ia tanpa sengaja telah membuka fitnah untuk dirinya sendiri dan telah menyentuh non mahrom, takut pada para warga yang mungkin saja akan mengamuknya, dan takut pada Hans yang mungkin saja mengetahui identitasnya yang sebenarnya. "Heh anak ganteng! Bangun cepetan!" titah seorang warga pada Hans yang masih asik menidurkan badannya di lantai yang dingin itu. Berusaha tak peduli. "Tanggung jawab! Jangan mau enaknya aja!" desak seorang lelaki dewasa. Sebagai lelaki yang sudah memiliki istri dan anak, ia tentu marah melihat hal ini, di mana para perempuan sekarang hanya dijadikan alat mainan untuk memuaskan nafsu b***t para lelaki. "Enggak ada malunya sama sekali dia!" Hikmah masih terdiam. Bukan karena ia yang masih tidak paham, tetapi karena ia masih ingin memilih kata untuk membela dirinya sendiri. Berada dalam situasi sepelik ini tidak boleh dihadapi dengan gegabah. Hans lalu bangun dengan kasar. Perlahan ia menatap kumpulan orang yang kini menunjuknya sebagai pelaku m***m. Nakal-nakal begini Hans tak pernah mau untuk berbuat m***m karena baginya m***m akan menurunkan harga dirinya sebagai lelaki. Tatapan Hans yang tajam, dingin, dan sombong itu seolah menantang warga untuk semakin menyudutkan dan mengamuk dirinya. Dengan berani Hans menatap tajam dan menguliti para warga dengan matanya yang berwarna hitam pekat. "Maksud kalian itu apa?!" teriaknya marah sambil maju beberapa langkah. Ia tidak peduli dengan tubuh setengah telanjangnya dan Hikmah yang mulai menangis sesenggukan karena merasa takut pada Hans dan merasa buntu mencari pembelaan. Dituduh berzina bukanlah hal yang mudah. Disudutkan para warna bukanlah yang yang menyenangkan. Terlebih, saat menyadari ia bersama seseorang yang tak pernah diharapkannya. Pembullyan yang berhasil merampas kebahagiaan di masa bangku abu-abunya, merampas kebebasannya dan orang yang memimpin atau bertanggung jawab atas semua yang terjadi padanya di masa lalu adalah orang yang kini terjebak tuduhan fitnah dengannya. "Siapa yang berbuat m***m?!" tanya Hans keras, tangannya mengepal dan matanya semakin tajam, ia tak terima dituduh yang tidak-tidak. Siapa mereka hingga berani menuduh Hans?! "Ayo jawab! Siapa?!!" Hans marah, benar-benar marah terlebih saat melihat manusia tak tahu diri itu mengelilinginya, siapa memangnya yang berbuat m***m? Tidak ada, tuh! "Heh anak ganteng, yang mesumnya itu kamu lah!" seorang ibu berucap dengan santainya sambil menunjuk Hans dengan jari telunjuknya. "Jangan ngelak atuh!" "Posisi kamu aja udah enggak bener, eh, malah ngelak!!!" "Heran saya, mah, ada orang bodoh begini!" Hans menggeram kesal, ia membanting ponsel yang berada dalam kantung celananya hingga hancur di lantai. Orang-orang itu kaget dan terdiam, wajah Hans sangat mengerikan sekarang hingga membuat Hikmah yang berada di sampingnya semakin ketakutan. Hikmah sedikit bergeser, tetapi kakinya tanpa sengaja menginjak sesuatu yang ia rasa mungkin balon, tapi bukankah ini rumah kosong? Bukankah balon tidak mungkin sekecil ini, iya, kan? Ia pun lebih menginjak-injak lagi dengan kakinya secara pelan dan mengernyit saat merasakan balon ini sepertinya diisi air. Tak berani melirik ke bawah akhirnya membuat Hikmah terdiam, ia kemudian berusaha menjelaskan hal yang terjadi sebenernya meski sekarang kondisinya tidak bisa dibilang baik-baik saja. "Te—tenang dulu," "Kami tidak berbuat m***m, sungguh. Kami bahkan tidak saling kenal," elak Hikmah yang malah memancing para warga semakin marah karena bisa-bisanya pasangan m***m itu kompak tidak mengaku! "Dia benar! Kami tidak ada hubungan, tidak saling kenal dan kalian main tuduh saja!" dukung Hans dengan nada yang keras. "Sa—saya tadi hanya sedang berteduh!" ucap Hikmah. Lalu ia mulai menjelaskan hal yang terjadi sebenernya, belum sampai selesai ia menjelaskan, para warga justru memberikan respon yang sangat tidak ia harapkan. Sementara Hans mendengarkan dengan seksama, kepalanya memutar memori lama saat mendengar suara wanita bercadar di sampingnya. Suara yang lembut, tetapi tertutupi oleh ketakutan, isakan yang dulu selalu ia jadikan nyanyian kesukaan, ini mirip seperti .... Gadis yang ia bully semasa SMA. Tidak mungkin! Dia pasti bukan Hikmah gadis culun itu! Tidak! Walau mereka berada dalam keadaan yang bisa dibilang ramai, tetapi Hans tidak akan pernah lupa dan gagal mengenali suara yang selalu ia dengar setiap hari saat masih sekolah. Ia tak akan lupa! Suara yang menjadi teman sehari-harinya itu seolah sudah membuat album kenangannya sendiri di dalam ingatan Hans. Hans terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga tak menyadari bahwa para warga semakin marah. Lalu, para warga dengan cepat berjalan mendekat ke arah Hikmah dan Hans yang kini saling berdempetan, mereka dikepung dan tak yakin bahwa kondisi fisik mereka akan utuh setelah ini. Air mata Hikmah langsung nengalir deras, ia ketakutan, sungguh. Dia dikelilingi banyak orang yang entah siapa ia tidak kenal, lalu dituduh dengan kejamnya, dan disudutkan dengan berbagai hinaan. "Ouhh, enggak saling kenal? Tapi berada dalam posisi m***m, namanya apa?" "Mereka terlalu banyak ngeles!" "TUNGGU!" Teriak Hans saat melihat para warga semakin mendekatinya, ia yang merasa gadis di sampingnya ketakutan pun berdecak kesal. Bukannya menjelaskan dan membantu meluruskan kesalah pahaman, malah menangis tak karuan. Entah siapa gadis ini, semoga saja bukan 'dia' yang sejak tadi Hans pikirkan! "Jangan nangis!" titahnya pada Hikmah yang kini semakin ketakutan. Masa lalu kembali berputar dalam benaknya. "Tunggu apa ganteng? mau kasih alasan lagi, iya?!" "IYA!" Jawab Hans lantang. Para warga pun memasang tampang malas dan konyol lalu mempersilahkan Hans menjelaskan yang terjadi sebenarnya. Dengan gagah Hans menjelaskan, senyumnya mengembang sinis karena merasa sebentar lagi ia akan bebas dan juga bisa memberi pelajaran pada orang-orang tak tahu diri di sekelilingnya ini. "Kemana baju kamu?!" tanya seorang warga menginterogasi. Hans menjawab dengan lancar, "Tadi saya menggunakan jaket, tapi saya buang di sawah. Dan bajunya saya gunakan untuk membersihkan tempat yang akan saya duduki, itu baju saya," tunjuk Hans pada kaus berwarna hitam dan putih yang berada di dekat kakinya. Warga mengernyit heran, alasan macam apa itu? "Kenapa bisa? Dan kenapa kamu bisa di sini jika memang kamu tidak berbuat m***m?!" "Tadi saya berlari mendadak ke sini karena dikejar po—" Hans seketika menutup mulutnya. Gawat! Hampir saja ia keceplosan. Jika ia mengatakan bahwa ia lari ke sini karena dikejar polisi maka warga yang tengah dibakar amarah itu akan menyeretnya seperti hewan ke kantor polisi, tidak, tidak bisa! Sudah bersusah payah ia kabur, lalu sekarang harus diserahkan karena mengaku sendiri? Tidak, ia tidak akan melakukan itu! Hans yang tadinya ingin menjelaskan pun terdiam, lebih baik ia diam dibanding berbicara yang menyebabkan ia masuk penjara. Terserah apa yang akan terjadi selanjutnya, setidaknya tidak akan seberat masuk penjara. "Kenapa berhenti?" tanya Hikmah pada Hans yang kini menatapnya dengan tajam. Mata Hans berusaha mengenali iris mata lawan bicaranya. Ia seperti pernah melihatnya, kepalanya lalu menggeleng saat sosok Hikmah si gadis culun semakin membayang dalam benaknya. Tidak, tidak mungkin! Meski ingatan dan hatinya mengatakan 'iya', tetapi Hans masih tak dapat menerimanya. Otak Hans seakan bekerja dan mendesak Hans agar mengakui bahwa gadis bercadar itu adalah Hikmah. "Enggak mungkin! Gue udah enggak pernah lihat dia lagi, ngga mungkin!" ucap Hans dalam hati sambil menggeleng keras. Bukan tanpa alasan ia berusaha keras menolak kebenaran. Pembullyan yang ia lakukan terhadap Hikmah dulu adalah hal terparah yang pernah ia lakukan. Senakal-nakalnya seorang Hans, ia tak akan mau membully, tetapi entah kenapa saat ia bertemu Hikmah, keinginan membully itu mendadak muncul dan bahkan ia sendiri yang memimpin pembullyan itu. Karena bully yang ia lakukan dulu berhasil membuatnya mengorbankan banyak hal, terutama perihal harta. Banyak mulut yang harus ia sogok dan sudutkan agar kasus tak naik ke ranah hukum, banyak orang yang menjadi saksi kebejatannya, dan banyak kebohongan yang ia lakukan. Hans memang nakal, tetapi hanya sebatas tidak mau diatur dan keras kepala, tidak untuk hal lainnya. Biasanya ia menggunakan harta orang tuanya yang juga sebagian dari penghasilannya selama bekerja itu untuk foya-foya, pamer sana dan sini. Hans mungkin anak orang kaya. Namun, otak cerdasnya tak pernah ia sia-siakan. Karena itu ia ikut terjun ke dalam dunia bisnis keluarganya dan semakin membuat bisnis itu maju. Setelah lulus SMA, ia semakin sering terjun ke dalam dunia bisnis dan dari sana ia berniat kuat untuk fokus pada bisnis dan kehidupannya, enggan melakukan kebodohan di masa lalu lagi. Namun, bagaimana jika gadis bercadar itu adalah orang yang sama dengan gadis yang ia bully dulu? Dia sudah aman sekarang, sudah memilih fokus terhadap karir dan kekasihnya—Dinda—orang yang turut membully Hikmah dulu. "Dikejar apa?!" Hans diam, bibirnya ia bungkam serapat mungkin. Kepalanya menggeleng tidak ingin menjawab. "Wahhh, bener! Udah ngaku aja kalian! Sok-sokan cari alasan!" "Iya huuuuhhh!" Para warga kembali menyoraki mereka membuat Hikmah dengan spontanitas berteriak. "Tunggu!" Warga kembali terdiam, terlalu banyak drama, begitu pikir mereka. "Apalagi?" "Tapi kami tidak berbuat m***m!" "Kami tidak berbuat apa pun!" Seorang warga dengan tampang malasnya lalu menunjuk sesuatu di bawah kaki Hikmah. "Eh neng, kalau enggak m***m, apa itu yang ada di bawah kakimu?" Sontak saja semua orang langsung mengikuti arah telunjuk lelaki dewasa tadi yang mengarah pada kaki Hikmah. Lalu terdengar pekikan riuh dari mereka semua, tak terkecuali Hans yang terkejut melihatnya. Bagaimana bisa ada benda laknat itu di sini? Dan kenapa bisa ada tepat di bawah kaki Hikmah?! Sial, ini akan semakin memberatkan mereka. Hikmah terkejut dan juga kebingungan, ia menyesal sekarang karena tak melihat dari awal benda empuk apa yang ia injak. "Hey, itu buktinya! Jangan ngeles lagi!!!" Hikmah ketakutan, kepalanya menggeleng ribut, tidak, ia tidak melakukan ini semua! "Udah pak, bawa aja ke polisi!!!" "Jangan!" "Alahhh! Berisik!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN