Tak Tahan

1448 Kata

Bismillah, mudah-mudahan daganganku laris. Afsana melajukan motor yang difasilitasi oleh keluarga suaminya. Ia melihat Asih lewat spion. Wajah itu terlihat mencemaskan menantunya. “Ibu sebaik itu, kalau aku nggak sopan sama beliau, jadi ada yang mengganjal di dalam hati. Tapi, aku nggak mau jadi menantunya terus. Aku nggak mau jadi istrinya Mas Deryl yang nggak bisa mendidikku ke agama yang diridai. Melakukan kewajibannya saja nggak pernah. Bagaimana bisa disebut sebagai imam yang baik?” Di perjalanan menuju pasar yang tak memakan banyak waktu, rutukan yang bisa dikatakan sebagai beban hidup kian menumpuk. “Kalau bertobat dan memperbaiki diri, mungkin aku akan mempertimbangkan semuanya. Allah saja Maha Pengampun, selalu memberikan kesempatan untuk bertobat untuk para hamba-Nya, kalau a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN