Afsana mendapatkan gambar seseorang yang disinyalir sebagai suaminya. Ia hendak mengejarnya, tetapi langkahnya begitu lebar. Juga, ada banyak orang di jalan yang akan dilaluinya hingga tak bisa mengambil langkah cepat. “Setidaknya, aku punya bukti foto ini. Kalau benar dia Mas Deryl, buat apa dia ada di sini? Bukankah bibirnya masih sakit?” Ponsel kembali disimpan. Ia mengayunkan kaki perlahan menuju ke motor yang ada di parkiran. *** “Nduk, sudah pulang?” tanya Asih ketika tahu menantunya sedang menyimpan motor di garasi. “Alhamdulillah, Bu. Ada yang borong dagangan Afsa. Katanya, buat acara. Afsa jadi pulang cepat begini.” “Oh, syukurlah. Eh, Alhamdulillah maksudnya.” “Ini, motornya Mas Deryl kok, nggak ada, Bu? Bukannya bibirnya masih sakit, ya?” tanya Afsana ketika tidak meliha

