“Oh, kamu, De. Sini, duduk. Gimana? Punya istri, enak kan?” tanya Lingga tanpa memedulikan pertanyaan yang Deryl lontarkan. Senyumnya mengembang begitu lebar. Deryl berdecap. Wajahnya berubah kusut. “Enak itu kalau kayak kamu. Nggak dijodohin. Bapak itu nggak adil,” ketus Deryl. “Sini, duduk,” pinta Lingga lagi. Deryl menuruti meski wajahnya tetap ditekuk. “Aku nggak sembarangan milih calon istri buatmu, De. Sebelum melakukan perjanjian, aku melihat dulu, apakah anaknya pantas bersanding dengamu? Aku pikir, Afsa orangnya alim. Pasti, gampang diatur.” Salah satu ujung bibir diangkat. Deryl mengejek perkataan Haribowo yang salah besar di matanya. Walau tadi, saat di pasar, ia melihat Afsana yang berusaha menjaga diri saat ada lelaki lain yang meminta bersalaman. “Gampang diatur giman

